Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Rumor?


__ADS_3

Andra melakukan nya hanya dua kali pengeluaran. Ia tidak mau membuat istri nya itu kelelahan seperti tadi pagi. Ingin tambah juga, takut. Jadi dia menghentikan nya dan tumbang di samping Istrinya.


Lalu mengambil selimut yang tergeletak di lantai, untuk menutupi tubuh polosnya dan juga istrinya.


" Makasih sayang ". Mencium kening Laras


" Iya mas ". Kali ini Laras masih mempunyai tenaga, untuk tidak tidur.


Andra mendekap tubuh istrinya, Laras membalas pelukannya


" Tadi pagi, maaf yah ". Kembali mencium kening Laras


" Kenapa minta maaf mas? ".


" Tadi pagi mas terlalu menggunakan tenaga, pasti sakit kan ". Memperlihatkan wajah sendu nya. Sudah lama ia menhannya, sekali bercinta langsung mengeluarkan semua hasrat nya.


" Gak pa-pa mas. Namanya juga baru pertama kali, pasti sakit lah ". Laras mencoba agar suaminya itu tidak merasa bersalah.


Andra mengelus perut Istri nya yang berada di dalam selimut bersama dengannya


" Semoga Andra junior bisa cepat jadi disini ".


" Amin ". Mengelus tangan suaminya yang berada di perutnya.


" Sayang, kapan kamu jatuh cinta sama mas? ". Pertanyaan yang sudah dari tadi pagi ia pendam akhirnya terlontar


Laras mendongak melihat suaminya " emang nya kenapa mas? ".


" enggak, penaran ajah ". Dan itu benar


" Hmm aku juga kurang ingat mas. Tau-tau nya udah cinta ajah hehe ". Cinta memang misteri, tidak akan memberi tahu saat akan datang dan pada siapa. Sama, jika ia akan pergi, cinta akan pergi begitu saja.


" Gak pa-pa yang penting udah cinta kan ". Kapan tepatnya, tidak perlu di ungkit-ungkit lagi. Yang terpenting adalah masa-masa sekarang


Laras mengangguk " tapi mas, kapan mas jatuh cinta sama Laras? Padahal hari dimana mas mau ngajuin nikah sama Laras kan, disitu juga hari pertama kita ketemu ". Jangan katakan itu Cinta pertama.


" Udah lama, pas mas baru umur 17 tahun. Kamu cinta pertama mas ". Dan benar, Laras memang cinta pertamanya.


" Ha?! Umur 17 tahun? Waktu itu aku baru umur 13 tahun. Jangan-jangan mas... ". Pikirannya langsung traveling. Bagaimana jika ternyata Suaminya itu seorang pedofil? kan... pikirannya sudah kemana-mana. Laras ingin menjauh.


" Bukan sayang. Emangnya apa salahnya mas suka sama wanita yang jauh lebih muda? Lihat sekarang, tidak ada bedanya kan ". Jelas Andra " dan juga itu bukan waktu pertama kali kita ketemu ". Lanjut nya, Andra langsung mengeratkan pelukannya


" Memangnya dimana kita pernah ketemu sebelumnya? ".


" Kamu ingat gak sama anak cowok gondrong dan cacat, yang sering ada di taman? ". Laras mengangguk


" Itu saya ". Jawabnya yang sempat membuat Laras diam. Ia mencoba mengamati pernyataan yang dikatakan Suaminya.


" Ha?! Jadi itu mas? Kaka yang gondrong itu kamu mas? ". Terkejut nya sungguh lambat


" Hahaha iya sayang. Bedakan yang dulu sama sekarang ". Dulu gondrong sekarang sudah pendek. Tapi tetap saja tidak akan mengurangi kharisma nya.


Laras hanya mengangguk " tapi, kenapa mas Waktu itu selalu sedih? Apa ada hal yang membuat mas sampai seperti itu? ". Tanya nya hati-hati


" Lain kali mas cerita. Saya gak mau acara kita ini di ganggu sama cerita yang sedih-sedih ". Memeluk erat Istri nya, sampai membentu dada bidangnya.


'berarti memang hal yang sedih'.


" Aku mencintaimu sayang... ". Ucap tiba-tiba Andra.


" Hahaha iya mas. Kok tiba-tiba sih ".


" Itu bukan tiba-tiba, udah sering mas bilang ".

__ADS_1


Laras hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak tahu kapan tepatnya Andra sering mengatakan nya. Karena jujur saja ia sama sekali tidak pernah mendengarnya, kecuali tadi pagi.


Yah iyalah, Andra selalu mengatakan nya saat Laras tertidur. Hanya barang-barang di dalam kamarnya yang mendengar kan nya.


" Oh yah mas, besok sepulang dari kantor aku mau jenguk ibu di rumah sakit ". Mengutarakan keinginannya. Ia mendongak.


" Kita pergi sama-sama ".


" Emangnya mas gak sibuk? ". Suaminya itu seorang CEO yang pastinya tidak punya banyak waktu luang, kecuali ia memberikan bebannya kepada asisten atau sekretaris nya.


" Enggak ". Dustanya. Sebenarnya ia sibuk, bahkan mungkin dia bisa-bisa lembur. Entah semburan apa yang akan dikeluarkan oleh Alan padanya, jika ia tidak menyelesaikan pekerjaannya. 'apa sih yang enggak buat kamu sayang'. Kalau soal pekerjaan bisa di bawa sampai ke rumahnya, pikir Andra


" Hm baik kita pergi sama-sama. Besok aku tunggu di parkiran VIP, sepulang dari kantor ". Laras tetap tidak mau hubungan nya di ketahui oleh orang lain


" Kenapa harus di parkiran? Kenapa tidak di lobi saja! ". Kalau di parkiran mereka seperti pasangan yang berselingkuh dengan pasangan sebenarnya. Padahal kan tidak


" Gimana nanti kalo ada yang liat? ". Bisa heboh satu kantor


" Apa salahnya kalo ada yang lihat! ". Mengerutkan keningnya


'duh salah ngomong lagi! Udah marah nih, tapi kan emang kenyataan nya kaya gitu'.


" Yah gak bisa lah mas ". Bisa jadi bulan-bulanan, kalau orang-orang tahu. Belum tahu ajah Laras sebagaimana berkuasanya suaminya.


Berita seperti itu, seharusnya sangat gampang di atasi oleh suaminya


" Haiss terserah kamu saja ". Pasrah Andra, dirinya tidak mau acara yang menurutnya romantis ini jadi acara adu mulut. 'padahal mau gue umumin tentang hubungan kita'.


" Oh yah sayang, mas mau.__ ". Andra terdiam, lalu tersenyum. Rupanya Istri nya sudah tertidur di dalam dekapannya.


Acara romantisnya berakhir sudah. Tapi apa Andra marah? Tentu tidak, dirinya tidak bisa marah pada Istri kesayangannya itu. Apalagi ia suka melihat wajah tidur polos istrinya, serasa tidak ada beban.


Andra mencium kening Laras dan ikut tertidur di samping Istrinya.


Parkiran mobil VIP di kantor


" Kalo gitu aku masuk dulu yah mas ". Mencium tangan suaminya.


" Cium dulu ". Memonyongkan bibirnya, Laras yang melihatnya jadi geli sendiri


" Gimana kalo ada yang liat? ". Lagi-lagi pertanyaan seperti itu yang di keluarkan Laras


" Gak ada! Ini di parkiran VIP, gak ada yang bisa masuk ". Laras diam, ia kemudian melirik melihat pak Supri yang sudah berada di dalam mobil


" Pak Supri gak akan berani ". Lanjut Andra, seperti mengetahui isi pikiran Laras.


Laras kembali diam.


Lalu ia berjinjit " mas... Gak sampai nih ". Niatnya ingin menciumnya diam-diam dan langsung pergi, tapi sayang Suaminya itu terlalu tinggi. Atau dia yang terlalu pendek?.


" Hahaha gemes bangat sih ". Andra pun menunduk untuk menyamai tinggi istrinya yang hanya sebatas antara dada dan juga pundaknya. Memang sepertinya istrinya yang kependekan.


Cup...


" Nah udah, aku masuk yah mas. Assalamualaikum ". Langsung pergi begitu saja


" Hahaha waalaikum salam ". Gemes sendiri Andra melihatnya.


Ting...


Laras masuk kedalam lift, di dalam ada beberapa karyawan. Satu pria dan duanya wanita. Mereka sepertinya sedang menggosipkan sesuatu. Tapi hanya kedua wanita itu saja, sedangkan sang pria berada di depan bersama Laras.


" Iya benar, aku dengad sendiri ". Bisik salah satu wanita disitu.

__ADS_1


" Yah hati ku sakit, padahal udah lama berharap ". Balas salah satunya


" Hahaa percuma selama ini kamu berharap, dilirik saja sudah bahagia ".


Pria yang mendengarnya hanya geleng-geleng saja. Wanita memang sangat suka bergosip.


'sabar pak, begitulah wanita'. Laras seperti mengetahui isi pikiran pria tersebut.


Laras juga tidak terlalu memusingkan rumor-rumor yang biasanya beredar di kantornya. Itu hanya akan mengganggu pekerjaan, pikir Laras.


Ting...


Laras pun keluar dan pergi ke tempatnya.


" Assalamualaikum Di ". Ardi memang karyawan disiplin. Para karyawan baru saja sampai, tapi Ardi sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan nya, sungguh pria rajin bukan?


" Waalaikum salam ". Ardi mengerutkan keningnya. Ia heran, Laras tidak seperti biasanya.


" Wisss udah banyak yang selesai nih Di ". Menaruh tasnya di atas meja


" Udah banyak yang selesai, tapi nanti ada banyak lagi tambahan nya ". Derita menjadi sekretaris utama di perusahaan besar.


" Hahaha di bawa santai ajah Di ". Lagipula dirinya juga tidak akan banyak membantu, mengingat keposesifan suaminya


" Ras, kamu gak seperti biasanya ".


" Maksudnya? ". Membuka laptopnya, ia tidak melihat Ardi yang sedang berbicara pada nya. Melainkan ia hanya fokus pada laptop nya.


" Iya, biasanya kamu selalu panggil aku dengan sebutan mas ". akhirnya terlontar pertanyaan yang disimpannya tadi


Laras beralih melihat Ardi " oh itu karena..__ ".


" Jangan bergosip di kantor ". Tegur tiba-tiba Andra.


" Iya pak ". Jawab mereka berdua.


" Ingat Ras, yang saya katakan kemarin ". Beralih le mode suami pencemburu


" I.. iya mas ".


Andra dan Alan pun masuk kedalam ruangan nya. Alan yang sedari tadi hanya mendengarkan hanya bisa geleng-geleng Melihat keposesifan tuan mudanya.


" Tuh kan, mana berani aku langgar perintah nya ". Kata Laras setelah bosnya masuk kedalam ruangan nya.


" Jadi itu toh ". Ardi mengerti. Tidak ada yang berani melanggar perintahnya.


" Tuan muda benar-benar posesif yah ".


" Hahaha iya, tapi itulah yang ku suka. Walaupun terkadang jadi repot sendiri ". Timpal Laras


" cieee yang udah kasmaran nih... ". Alan sudah memberitahu nya tentang apa yang terjadi kepada nyonya muda dan juga tuan mudanya.


" Ihhh Ardi, jangan gitu ah ". Wajah Laras sudah memerah.


" Lanjut kerja gih ". Melanjutkan pekerjaannya, walaupun wajahnya masih memerah.


Ardi pun melanjutkan pekerjaannya, yang memang banyak. Apalagi ia hanya membagi yang ringan-ringan saja untuk Laras.


'oh yah, apa Laras udah tau tentang rumor itu yah' melirik kearah Laras yang sedang fokus bekerja 'nanti tau sendiri juga'. Hmm rumor apa yah


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2