Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Menunggu


__ADS_3

Deru mobil terdengar berhenti di halaman rumah Andra. Setelah memarkirkan mobilnya, turun lah Ardi diikuti oleh Nisa.


" Waaaaw besar rumahnya pah... Indah lagi ". Mata Nisa terbalalak Melihat rumah Andra. Walaupun rumahnya juga besar, tapi interiornya tidak seindah milik rumah Andra. Mulutnya menganga memandang rumah itu. Sembari menarik-narik ujung baju di lengan Ardi.


" Awas mah... Nanti kemasukan lalat tuh mulut ". Goda Ardi


" Hehe mana ada lalat yang bakal singgah dirumah sebagus ini pah.... Matanya tidak mampu untuk melihatnya hahhah ". Malah dibalas dengan candaan.


" Udah mah, ayo kita masuk ". Menarik tangan Nisa


" Tapi gak pa-pa, apa! kita masuk begitu ajah ".


" Gak pa-pa ". Iyya memang tidak apa-apa. Lagipula Ardi sudah sering masuk kedalam. Bahkan sampai mengenal semua detil-detil dirumah itu. Dan tidak mungkin juga kan Ardi akan mencuri.


Nisa hanya mengangguk saja.


Mereka berdua pun masuk. Saat pintu rumah Andra dibuka, rupanya sudah ada bi Siti yang siap menyambut mereka.


" Selamat datang Ardi dan Istri nya ". Ucap bi Siti


" Eh! Bi Siti. Iya bi makasih ". Ardi membalas, Nisa hanya mengangguk membalasnya.


" Silahkan masuk ". Bi Siti mempersilahkan


" Iya bi, sekali lagi makasih ". Bi Siti mengangguk.


Ardi menarik tangan Nisa dan masuk menuju ruang tamu. Nisa benar-benar tidak habis fikir dengan interior rumah Andra. Megah tapi kelihatan minimalis.


Saat sampai diruang tamu, rupanya sudah ada Alan yang duduk sembari memainkan ponselnya. Mana senyum-senyum sendiri lagi, fixs dia sudah tidak tertolong. Kalau di bawa ke rumah sakit, mungkin dokter akan bilang. Maaf dia sudah tidak tertolong, kata-kata ala sinetron pun keluar.


Sangking fokus nya Alan, ia sampai tidak mengetahui kalau Ardi dan Nisa sudah duduk di salah satu sofa itu.


" Ehem... Assalamualaikum Alan ".


Alan mendongak 'Astagfirullah, sejak kapan mereka ada disitu'. " Waalaikum salam ". Salah sendiri yang terlalu fokus dengan ponselnya


" Serius amat Alan ". Nisa membuka suara. Nisa memang sudah mengenal Alan, secarakan Alan lah yang menjadi saksi pernikahan nya.


" Hahaha ". Canggung Alan lalu meletakkan ponselnya di atas meja " ngapain kalian berdua kesini? ". Setahu nya tidak ada pekerjaan yang harus dibahas. Mana bawa-bawa istri pula. Mau pamer! Pikir Alan.


" Laras tiba-tiba mau ketemu ".


" Oh... Nyonya muda, kalian sahabatan kan ".


Nisa tidak percaya kalau temannya yang nota betnya tidak terpisahkan dari SMP, bisa jadi ratu hanya karena semalam. Mimpi apa dia.


" Iya, tiba-tiba ajah. Gak seperti biasanya ". Biasanya juga lebih suka ketemu di luar.


Alan mengedikkan bahunya. Pertanda kalau ia juga tidak tahu.


Tak lama kemudian....


Seorang wanita cantik, dengan memakai jas putihnya datang. Sepertinya ia baru saja pulang kerja.


" Assalamualaikum ". Ucapnya


" Waalaikum salam ". Jawab ketiga orang tersebut. Tapi dikarenakan Alan memunggunginya, jadinya ia tidak tau siapa sebenarnya yang datang.


" Baru pulang dari rumah sakit Mai? ".


" Iya ". Alan yang merasa tak asing dengan suara tersebut, dengan slow motion... Ia berdiri sembari berbalik.


" Maimunah!!? ". Pekik Alan. Kenapa pujaan hatinya yang cuma dipandang fotonya dalam ponsel. Bisa berada di depannya.


" Kau... ". Sama, Mai juga terkejut melihat nya. Orang yang selama ini mengganggu nya, baik di real life maupun di alam mimpinya, bisa ada di depannya. Ini kesialan atau keberuntungan? . Yang pasti untuk Alan ini adalah keberuntungan.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan disini ".


" Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini? ". Alan mendekati Mai.


" Ini rumah sahabat ku ".


" Ini rumah atasanku ".


Mereka berdua terdiam, mencoba untuk mencerna kejadian ini.


Sedangkan Nisa dan Ardi ikut bingung melihat tingkah kedua orang tersebut.


" Kalian saling kenal? ". Ardi membuka suara. Pertama kalinya ia melihat Alan begitu terkejut atas kehadiran seseorang.


Suara Ardi memecah keheningan sesaat disitu. Alan akhirnya mengerti apa yang terjadi.


" Iya... Dia calon istriku ". Bangga Alan sembari memeluk pundak Mai.


" Apa!!!! ". Pekik Ardi dan Nisa. Hmm benar-benar kompak bukan? Kedua pasutri itu.


Mai menepis nya kasar " jangan di dengarin omongannya ". Ia duduk di sofa dan diikuti oleh Alan.


" Maksudnya, ini apa yah? Mai, kamu beneran calon istri nya Alan? ". Sebenarnya Nisa tidak terlalu yakin. Sifat Mai yang datar, bisa mempunyai seorang calon suami seperti Alan? Sungguh tidak dapat ia percaya. Nah ini nih, ciri-ciri teman laknat.


" Enggak lah... Dia cuman ngada ". Datar Mai. Bukan! Sebenarnya bukan seperti itu, inginnya di tanggapi dengan berlebihan, tapi sifat Mai kan memang datar. Mau bagaimana lagi


" Terus tadi? ". Ardi ikut angkat bicara. Ia memang tahu kalau Alan punya seseorang yang disukainya, ingat waktu ia menebarkan aura kebahagiaan nya sampai-sampai terlihat bunga-bunga di sekelilingnya.


" Tidak untuk sekarang, tapi dimasa depan Insyaallah... ". Jawab Alan. Percaya diri sekali bukan.


" Oh.. ". Hanya itu yang bisa di katakan Ardi Melihat kepedean pria satu didepannya itu. Akhirnya Ardi tahu kalau mungkin saja cinta Alan bertepuk sebelah tangan, apalagi melihat wajah Mai yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Pasti Mai tidak menerimanya. Pikir Ardi


Eh!! Bukannya wajah Mai memang seperti itu yah? Jadi pertanyaannya, Mai senang atau tidak nih?


" Wah... Cie... Aku doain deh ". Nisa mulai menggoda Mai.


Sedangkan Ardi tidak mau ikut-ikutan. Bukannya ia tidak bahagia melihat nya, hanya saja kalau berurusan dengan Mai yang mulut nya pedas sepertinya ia angkat tangan deh. Pasti repot.


Mai yang mendengarnya lagi dan lagi hanya berwajah datar. " Bi, punya karung gak? ". Beralih melihat ke bi Siti yang sedang berdiri di samping sofa


" Ada nona... Tapi mau diapakan? ". Tiba-tiba minta karung. Bukan untuk di pake memulungkan.


" Bisa tolong masukkan aku kedalam karung bi? Bawa pulang ajah aku ". Ucap Mai datar, dan padat. Kaya jalan raya di Jakarta ajah, lurus dan padat.


" Hahah nona bisa saja ". Malah bi Siti yang ketawa. Oh.. Nisa juga ikut tertawa sepertinya, dan tak lupa pula Ardi yang selalu setia di samping Nisa.


" Jangan bi. Biar aku ajah, biar langsung bisa ku ajak ke pelaminan ". Ea.. ea.. Ucap Alan dengan tawanya.


Ketiga orang disitu juga ikut tertawa, kecuali Mai yang hanya memutar bola matanya. Sudah! Mending buang ajah Mai ke laut.


" Oh yah bi. Laras kok belum turun, padahal dia yang suruh kami datang ". Mai mencoba mengalihkan pembicaraan


" Benar juga yah ". Nisa ikut menimpali. Laras tidak mungkin membuat kedua temannya itu menunggu.


" Tunggu biar bibi panggil ". Dan mereka hanya mengangguk.


Bi siti pun naik ke lantai dua untuk memanggil nyonya muda nya.


" Laras benar gak apa-apa kan? ". Walau bagaimanapun Mai tetap khawatir, apalagi mengingat perkataan papanya yang mengatakan bahwa Andra kemungkinan terlibat dalam dunia hitam.


" Memangnya kenapa sama nyonya muda? ". Setahu Alan, Laras tidak apa-apa.


" Ehem.. enggak... enggak pa-pa ". Nisa yang menjawab, menggantikan Mai. Tidak mungkin kan Nisa membiarkan Mai menjelek-jelekkan Andra di depan bawahannya.


Nisa mengode Mai menggunakan matanya " iya bukan apa-apa ". Untung Mai mengerti.

__ADS_1


Sebenarnya Nisa ingin mencari penjelasan tentang Mai yang bisa berkenalan dengan Alan. Mana Alan bilang kalau dia calon istrinya lagi!


Tapi karena mereka tidak sendiri, jadi di urungkan nya. Nanti saja, kalau kondisinya sudah mendukung.


Bi Siti turun buru-buru " maaf semua nya, sepertinya nyonya muda dan tuan muda sedang ada urusan ". Kata bi Siti


" Ha?! Kenapa tiba-tiba. Dia yang manggil kenapa tiba-tiba ada urusan ".


" Urusan? ". Gumam Alan disamping Mai. Ia terlihat berfikir.


" Oh iya bi, makasih. Kami menunggu saja ". Sepertinya Ardi mengerti apa yang sedang dilakukan tuan muda dan nyonya muda nya.


Bi Siti mengangguk dan pergi dari situ.


" Pah.. memang nya Laras ngapain? ".


" Ada deh mah.. ".


" Ha!? Apa-apaan, aku udah buru-buru datang. Tapi yang manggil malah sibuk ". Nah Mai mulai naik pitam


Alan masih berfikir dan... 'tuh kan... Sih bos gak liat suasana kalau sedang bersama istrinya'. " Hmm gak usah di ganggu, palingan Andra sedang main kuda-kudaan ".


" Oh... Astaga.... ". Nisa akhirnya mengerti


Sedangkan Mai terlihat bingung, apaan sih main kuda-kudaan, memangnya Andra pelihara Kuda.


" Apa sih... Memangnya kudanya lebih penting dari pada teman-teman nya yang udah nunggu ".


" Bukan gitu Maimunah.... Kamu gak ngerti? ". Mai menggeleng


Rasanya Alan ingin tertawa melihatnya. Sedangkan Nisa sudah tertawa dari tadi. Sungguh polos temannya itu.


" Kalo gitu kita praktekkin ajah ". Goda Alan


" Astagfirullah Lan... Nyebut ". Ardi angkat bicara, ia tidak menduga seorang dokter seperti Mai tidak mengerti dengan jalan pembicaraan ini.


" Hmmm praktekkin? Ayo! ". Mai malah mengiyakan.


" Hahaha sabar Maimunah ku, kita nikah dulu baru kawin ". Kan tidak lucu, kalau kawin baru nikah.


" Astagfirullah... Laras tuh benar-benar yah ". Akhirnya Mai mengerti. Ia beralih Melihat Alan yang memberikan senyuman manisnya.


" Ada sandal gak? ".


" Ha? Untuk apa? ".


" Kalo gak ada sandal, yang lain ajah. Pengen aku tabokkan ke orang disamping ku ini ". Kesal Mai, tapi masih menggunakan wajah datarnya.


" Hahahah " mereka semua tertawa mendengar Mai. Setidaknya berikan lah ekspresi saat berkata.


............


Saat di ruang tamu, mereka tertawa gara-gara perkataan Mai. Lain halnya dengan kedua pasutri yang sedang di mabuk cinta yang ada di dalam kamar.


Suara de*ahan terdengar memenuhi kamar nya. Belum lagi keringat yang membasahi keduanya, entah siapa yang paling banyak berkeringat. Apakah pria nya, yang selalu bergerak sana sini? Atau wanitanya yang hanya bisa menerima nya saja.


Ranjangnya yang sudah seperti terkena gempa, untung ranjang mahal, kalau yang murahan seperti di tanah abang. Pastinya sudah rubuh dari tadi itu ranjang.


Terdengar suara cinta yang terus menerus terdengar keluar dari mulut kedua orang itu, apalagi pria nya.


Mereka sama-sama mengerang di puncaknya. Andra terdiam sesaat, menetralisir tubuhnya dulu. Di ciumnya kening Laras berkali-kali.


" I Love you sayang... Terimakasih ". Mencium kembali kening Laras, lalu ambruk di sebelah nya.


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2