
Laras turun kebawah, tepatnya ke dapur. Karena ia tidak sholat, jadi nya waktu nya juga sedikit lebih banyak.
Laras menyempatkan ke kolam ikan di dekat kolam renang. Untuk menjenguk para koi-koi nya.
" Assalamualaikum semuanya ". Seperti orang gila saja memberi salam pada ikan ikan. Dan pastinya tidak ada yang menyahut, malah para koi-koi itu menjauhinya, yah begitulah rata-rata sifat alami para hewan.
Laras mengambil makanan ikan di lemari dekat kolam, memang tempat untuk menyimpan makanan para ikan.
" Bismillah.. ". Menaburkan makanan ikan itu di kolam, dan tentu saja para ikan langsung berkerumun mengambil makanan nya, padahal tadi menjauh, sekarang malah berebut untuk lebih dekat. untung bukan manusia, kalau manusia sudah dibuang di laut.
para koi itu mengerumuni makanan yang ditaburkan Laras, Sudah seperti warga-warga yang berkerumunan membeli sembako murah, tidak ada antri-antrinya sama sekali.
Laras malah asik memberi makan para koi itu, sampai dia bersenandung segala. Melupakan tujuan utamanya tadi yang turun untuk memasak. Bahkan melupakan suaminya yang sudah akan pergi joging.
Andra turun dan pergi ke dapur melihat istrinya sebelum pergi joging, tapi tidak di dapatinya. Ia ke luar untuk mencari istri nya, tapi tetap tidak ditemukan nya.
Dirinya mencoba untuk tetap tenang, tidak ingin memikirkan yang tidak-tidak seperti sebelumnya.
Ia kemudian berfikir, tempat yang membuat Istri nya pagi-pagi mendatanginya sebelum kedapur.
" Ah.. pasti disitu ". Andra segera berlari kecil ke tempat yang ada di pikirannya, dan sesampainya dia. Benar saja Istri nya sedang bersenandung riang , berjongkok sambil memberikan makanan kepada ikannya.
" Kayanya saingan gue sekarang ini para koi itu. Apa seharusnya gue gak usah taruh koi yah disitu, jadinya kan perhatian Laras jadi terbagi ". Gumamnya, memangnya kapan Laras terlalu perhatian dengan dirimu.
Andra mendekat " Assalamualaikum ras.. ".
Laras mendongak dan mendapati suaminya, yang sudah lengkap dengan pakaian olahraga nya.
" Waalaikum salam mas ". Ia berdiri.
" Mas mau joging? ". Mau apalagi kalau bukan joging, pakaiannya saja sudah seperti atlet profesional saja.
" Iya ". Singkatnya " kalo gitu mas pergi yah, Assalamualaikum ". Oke, dramanya pun dimulai.
Laras mencium tangan Kanan Andra, seperti saat Andra akan pergi kerja. Dan Andra mencium kening Laras, inilah yang ditunggu-tunggu nya saat pagi hari. Itulah mengapa Andra sangat rajin kalau soal urusan joging di pagi hari.
Deg..
Baru pagi-pagi, jantung Laras sudah dipacu seperti ini. Entah mengapa akhir-akhir ini jantungnya sering kali berdetak cepat seperti itu saat Andra mencium kening nya.
" Waalaikum Salam ". Andra pun pergi meninggalkan Laras, dan bergegas keluar rumah untuk joging pastinya.
Laras hanya melihat punggung lebar suaminya itu pergi joging. Ingin ikut? Pasti, itukan dapat membuat sehat, Tapi takut staminanya yang sedikit malah akan menghambat suaminya itu.
" Ah.. benar juga, aku kan tadi mau masak ". Menepuk jidatnya. Koi-koi itu benar-benar mengalihkan dunianya hanya untuk para koi. Ingat Laras, kamu masih punya suami.
Laras bergegas ke dapur, tapi belum sampai di dapur. Ia terhenti karena mendengar ada suara bising didapur nya. Apa ada pencuri? Entahlah. Atau mungkin dedemit? Semoga tidak.
'suara siapa tuh? Perasaan gak ada orang dirumah ini selain aku sama mas Andra, satpam juga gak berani masuk kedalam rumah tanpa seizin mas Andra. Tapi kan, mas Andra baru saja pergi joging'. Monolog Laras.
Laras memberanikan dirinya mendekati dapur, dan suara bising itu kian terdengar. 'kayanya beneran ada orang. Aduh.. mana kayanya bukan cuman satu'.
Keringat dingin membasahi kening Laras, ia melirik sekitarnya dan melihat benda favorit ibu-ibu yang biasa dipakai memukul, eh rakat maksudnya dipakai menyapu lantai yang kotor, yah itulah sapu. Segera diambil sapu ijuk yang kebetulan ada didekatnya.
Sapunya benar-benar pengertian, di cari langsung datang. We are love you sapu..
__ADS_1
'moga ajah bukan pencuri, aduh.. mas Andra cepatan pulang dong'. Pikiran Laras sudah tidak terkendali. Ia sudah panik, bahkan melupakan satpam yang sedia berjaga 24 jam di depan rumah besarnya.
Dia mengunuskan sapu ijuk itu, layaknya seperti pedang. Kalau di film-film samurai, mungkin Laras yang jadi pemeran utamanya. Caranya dia mengunuskan nya benar-benar terlihat profesional.
Ia kemudian berjalan perlahan-lahan.. mendekati dapur.
Namun tiba-tiba....
" Nyonya.... Apa yang anda lakukan? ". Suara dari belakang nya yang tidak asing tiba-tiba mengagetkan Laras.
Laras berbalik " Astaghfirullah.. bi Siti ngagetin ajah ". Mengelus dadanya, otaknya belum singkron.
" Tunggu dulu.. kenapa bi Siti bisa ada disini? ". Belum sempat bi Siti menjawab, Laras langsung melangkah ke dapur, sedangkan sapunya ia langsung taruh begitu saja. Serasa di manfaatkan saja.
Saat sudah sampai di dapur, dilihatnya orang-orang yang dikenal nya.
" Milea.. Dilan.. kenapa? ". Pekik nya ketika melihat kedua pasutri itu sedang asik memasak.
" Nyonya selamat pagi ". Sapa mereka.
" Kenapa kalian bisa disini? ". Tidak membalas sapaan malah memberikan pertanyaan. Apa pelayan disitu marah? Ingin marah juga tidak bisa, lagipula mereka sudah tahu sifat nonanya itu.
" Kami dipindah kan disini untuk menjadi pelayan di rumah ini nyonya ". Jawab bi Siti, yang sudah ada di samping Laras.
" Tapi siapa yang pindah kan kalian? ". Dia senang, tapi ia tetap merasa aneh. Padahal kemarin tidak ada pelayan sama sekali, nah pas bangun pagi sudah ada pelayan dirumahnya.
" Tuan muda nyonya.. ". Sebutan nonanya sudah diganti menjadi nyonya, karena sekarang Laras memang sudah menjadi nyonya rumah disitu.
" Oh.. ". Ber oh ria. 'rupanya mas Andra toh'. Tersenyum Laras. " Tapi kok cuman kalian bertiga? Yang lainnya? ". Celingak-celinguk mencari, namun tidak di dapatkan nya.
" Hanya kami bertiga nyonya ".
Tidak ada yang melarang nya, karena dilarang juga percuma.
Di sela-sela sibuknya mereka, para pelayan disitu, Tidak sengaja melihat tanda merah di leher Laras. Yang membuat mereka tersenyum senang, akhirnya sudah belah duren, pikir mereka. Padahal kan itu hanya tanda dari kebejatan Andra yang dilakukan nya semalam.
'sepertinya sebentar lagi akan ada tangisan bayi dirumah ini' . Batin mereka bertiga, kekompakan nya belum memudar.
" Ada apa? Kenapa kalian melihat ku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku? ". Memegang bagian wajahnya 'memang sih aku belum mandi'.
" Tidak ada nyonya, seperti biasa anda selalu cantik ". Itu sudah.
Tidak ada yang memberitahu Laras, karena Pasti sudah tidak tahu malunya akan bagaimana.
" Hahaha kalian bisa saja ". Seperti itulah Laras saat temannya mengatakan kalau dia cantik, sangking sering nya ia dengar, kata-kata itu sudah tidak terlalu berkenang di hatinya.
" Kalo gitu aku naik dulu yah, ini juga udah beres ". Katanya.
" Iya nyonya ". Sahut mereka bertiga.
Laras pun naik kekamarnya. Lelah menaiki tangga, sudah tidak terlalu dia rasakan. Tubuhnya sangat cepat beradaptasi.
...----------------...
Sekarang Laras tengah melihat dirinya di dalam cermin, memutar-mutar roknya ke kiri dan kanan.
__ADS_1
" Roknya cantik banget, pasti mahal nih ". Masih memegang-megang roknya.
Ia kemudian melihat dirinya sendiri di dalam cermin " eh! Apa ini? ". Meraba sesuatu di lehernya.
" Haa?! Ya ampun... Inikan? ". Pekiknya.
Blush...
Pipinya langsung memerah, saat ia mengingat kejadian semalam. Bukannya takut, marah atau trauma ia malah tersenyum senang dan malu-malu. Seharusnya kalau memang mau kenapa harus ditahan, sampai nangis-nangis segala. Anehkan
" Apa ini sudah ada sejak semalam? Jadi, tadi mereka... Ah!! Ya ampun malu banget, kenapa gak dikasi tau sih ". Menutup mukanya menggunakan kedua tangannya.
" Skincare.. iyya skincare! Harus pake skincare nih buat mudarinnnya ". Mengambil botol skincare nya yang di sediakan oleh Andra. Kalau dirinya mungkin tidak akan membeli skincare semahal itu.
Setelah beberapa kali polesan, tanda merahnya sudah tidak terlalu terlihat, walau memang masih ketanda sedikit. Kalau kena keringat atau air, Pasti bisa langsung terlihat.
" Oke, kayanya ini udah bagus ". Ucapnya, memperhatikan tanda di lehernya.
Ceklek...
Laras sontak beralih melihat pintu yang terdengar terbuka.
" Assalamualaikum ras ".
" Waalaikum salam mas ".
" Udah mau rapi ajah nih ". Memperhatikan dandanan Istri nya. Satu kata 'cantik'.
" Iya mas, Laras juga udah siapin air buat mas mandi. Mas mau mandi kan? ". Pertanyaan nya di belakang, sesudah jawabannya.
" Iya, tunggu mas di bawah ". Ucapnya dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Laras menuruti perintah suami nya, ia turun dan menunggu nya di dalam mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sepanjang perjalanan, Laras selalu risih dengan tanda merah di lehernya, entah mengapa ia masih sedikit malu. Padahal tandanya sudah tidak terlalu terlihat.
Andra melihat istrinya yang selalu gelisah, ingin bertanya. Tapi dilihatnya Istri nya yang duduk di samping nya itu seperti sedang menutupi bagian lehernya.
'oh.. karena itu yah, hahaha tanda gue tuh'. Dia bangga, sedangkan Istri nya yang menanggung malu.
Sesampainya di kantornya
" Laras duluan yah mas, Assalamualaikum ". Ingin cepat-cepat pergi dari situ, itu sudah biasa.
" Waalaikum salam ". Jawabnya. Setelah mencium tangan suaminya, Laras bergegas masuk kedalam kantornya, bahkan sampai ia melupakan kecupan yang biasa di berikan Andra di keningnya.
'ha? Gue belum... Hahhh udahlah'. Pak Supri yang melihatnya hanya bisa menahan tawanya yang melihat tuannya itu bengong.
'kok kaya ada yang kelupaan yah'. Memeriksa tasnya 'kayanya udah aku kasi masuk semua tadi. Kalo gitu apa yah'. Sangking biasanya, itu sudah seperti makanan sehari-hari nya.
Ting..
Laras berjalan menuju mejanya, rupanya Ardi belum datang.
__ADS_1
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya