Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Restu


__ADS_3

Dokter tengah mengoperasi bu Aminah di dalam, sedangkan Laras dan juga Andra setia menunggu di luar ruangan, berharap semoga operasi nya lancar. Kalau bertanya kemana Alan? Ah, Alan sudah di suruh kembali ke kantor untuk menghandle perusahaan sementara, menggantikan Andra apalagi sekretaris nya yang lain masih cuti.


Jika kalian bertanya bu Aminah sakit apa? Nah, bu Aminah sebenarnya sakit diabetes, sudah lama bu Aminah mengidamnya.


Sudah hampir 5 jam bu Aminah di operasi, dan kedua orang itu masih setia menunggu. Makan? Tentu mereka makan walaupun dalam keadaan hening dan canggung. Menelan makanannya saja rasanya harus dipaksa, walau bagaimanapun mereka tidak ingin tampil lemah di depan bu Aminah itu kalau Laras. Tapi, bagaimana dengan Andra. Yah, sebenarnya sama saja, yang membedakannya hanya dia ingin tenaganya bertambah saat ijab kabul nanti. Gugup? Tentu saja dia gugup saat ingin bertemu calon mertuanya, siapa sih yang tidak gugup. Tapi, apa saat ijab kabul nanti dia gugup? Ah, mungkin lebih tepatnya bukan gugup sih, tapi terlewat bahagia.


Ting..


Lampu merah di pintu ruangan redup, yang artinya operasinya telah selesai.


Ceklek


Dokter keluar, Laras pun mendekat, sedangkan Andra masih setia duduk menunggu. Tentu saja dia juga cemas, hanya saja imejnya harus dijaga. dia tidak boleh terlihat panik.


" Dok, bagaimana operasi ibu saya? " Tanya nya kepada dokter Rasya. Bukan dokter Ilham? Yah, bukan. Dokter Ilham memiliki urusan yang tidak bisa ditunda.


" Alhamdulillah lancar, bu Aminah juga sudah melewati masa kritis nya. Dan kita tinggal memindahkan nya di ruang inap " tersenyum dia mengatakannya, suatu kebanggaan seorang dokter bukan? Jika operasi yang dikerjakannya lancar. Untung lancar, jadi bisa dapat restu kan.


" Jadi saya sudah bisa melihat ibu saya dok? " tanyanya antusias.


" Bisa, tapi setelah dipindahkan ke ruang inap " Rasya tersenyum mengatakan nya. Tidak sabaran sekali bukan


" Sabar ras, kita pindahkan ibu dulu ". Andra tiba-tiba sudah berada di belakang Laras. Lagi-lagi men-cap ibu Aminah sebagai ibunya.


" Baik pak " tunduk kecewa Laras. Mau bagaimana lagi, itu sudah prosedur dari rumah sakit. Pasti harus dituruti bukan.


...----------------...


Kini di ruangan yang besar ini, dimana sudah lengkap dengan televisi nya, sofanya yang berukuran besar, bahkan ada lemari es. Yah, ruangan bu Aminah di rawat sekarang. Tepatnya ruangan VVIP, dan yang memaksa membawanya ke ruangan VVIP ini, siapa lagi kalau bukan sih CEO sombong kita, yap Andra. Seperti semudah membalik telapak tangan saja, benar-benar sultan.


Orang bilang, jika wanita dan pria hanya berdua di dalam suatu ruangan, maka yang ketiganya adalah demit. Eh, ralat maksudnya syaiton. Maka beda halnya dengan kedua orang ini, Laras dan juga Andra. Jika biasanya adalah orang ketiga nya adalah syaiton, maka ini orang ketiga nya yah, bu Aminah yang sedang berbaring di ranjangnya dan di samping ranjangnya terdapat kursi yang diduduki oleh seorang gadis, yap Laras .


Sedangkan Andra lebih memilih duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Hening... Tidak ada yang membuka suara, atau bahkan mencoba memecah keheningan ini, mereka asik bergelayut di dalam pikiran mereka masing-masing.


' haahhhh satu hari yang panjang, baru juga sehari ketemunya, udah di ajak nikah. Baru juga sehari kerja di kantor, udah mau jadi nyonya di kantor. Haaahhhh '. Kalau dicatat dalam buku sejarah perjalanan hidup Laras, mungkin isinya satu hari yang penuh keberuntungan atau satu satu hari yang penuh cobaan?. Helaan nafas Laras selalu keluar walau hanya dalam batinnya. Ya iyalah kalau bukan didalam batin, dan dikeluarkan secara langsung, malah terlihat jika dia tidak senang atas kesembuhan ibunya kan. dan pastinya sudah tidak tau apa yang akan terjadi.


Rasanya beban di pundak nya semakin banyak saja.


Dimana yang melamarnya adalah seorang CEO di sebuah perusahaan terbesar di negaranya yaitu perusahaan Anastasia Corp, namanya bukan plesetan dari Ansari, nama belakang Andra. Tetapi diambil dari bahasa yunani yang artinya kebangkitan. Dimana kakek Andra yang memulai Anastasia Corp dari nol. Bukan, ralat maksudnya memulai kehidupannya dari nol. Dia yang Hanya seorang yatim piatu yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya karena bencana kebakaran dirumahnya. Perjuangannya benar-benar patut diacungi jempol. Tetapi setelah diambil alih oleh cucunya, siapa lagi kalau bukan Andra. Anastasia Corp sudah berkembang pesat bahkan sampai mancanegara.


'wuhhhh bentar lagi nikah nih gue'. ralat maksudnya baru mau minta restu. 'apa gue kudu makan dulu yah, biar stamina gue bertambah gitu, jaga-jaga siapa tau kena tabok gue, udah maksa nikah anak orang' nah, sadar diri rupanya.


Andra melirik kearah Laras yang sedari tadi hanya diam saja dengan memegang erat tangan ibunya. 'kalo gue yang sakit bakalan di pegang juga gak yah,.. Astaghfirullah, malah doain diri sendiri gue sakit nih. Aku tarik kembali kata-kata ku tadi ya Allah' iri melihat Laras yang memegang tangan ibunya.


Laras yang merasa ditatap pun, beralih melihat kearah Andra. Sesaat netra kedua insan ini bertemu,

__ADS_1


🎶dari mata mu.. mata mu.. ku mulai.. jatuh cinta


tiba-tiba terdengar seperti ada nyanyian di antara mereka berdua yang sedang asik tatap-tatapan.


dan entah dari mana datangnya bunga-bunga disekitar mereka, rasanya seperti nonton film romantis saja, tetapi detik kemudian Laras dan juga Andra sama-sama memalingkan wajahnya.


Ah... Satu kata yang mewakili 'canggung'.


Andra kembali menoleh kearah Laras dan dilihatnya telinga Laras yang memerah 'apa dia tersipu' menyunggingkan senyumnya sedikit.


" Setelah ibu mu sadar, baru kita bahas kembali tentang pernikahan kita " mencoba untuk memecahkan kecanggungan didalam ruangan itu.


Laras menoleh dan melihat kearah Andra " ah.. baik pak " jawabnya, ah.. masih terlihat jika dia gugup.


Drrtt.. drrrt.. drrtt..


Ponsel Andra berbunyi, dia pun dengan cepat mengangkat sambungan telponnya dan menjauh dari Laras.


Setelah itu Andra kembali kedalam ruangan " saya ada urusan sebentar. Nanti saya datang lagi, sebaiknya kau beristirahat dulu, makan, dan mandi. Ini sudah malam, kalau ingin pulang, hubungi saya saja. Nanti saya kirimkan sopir untuk membawamu pulang " nasehat nya sebelum pergi, sudah seperti jalan tol saja. sungguh seperti ibunya kan.


Laras sempat tercengang mendengar ocehan dari bosnya yang terkenal irit bicara " ba.. baik pak " hanya itu yang dapat dia ucapkan.


" Yasudah saya pergi dulu, Assalamualaikum "


" Waalaikum salam "


" Alhamdulillah... Kondisi bu Aminah sudah lebih baik ". Dokter Rasya tersenyum mengatakan nya. " Tapi tetap jaga pola makannya yah, dan mungkin tubuh bu Aminah belum se-stamina sebelumnya. Jadi jaga agar tidak terlalu banyak bergerak, dan usahakan agar tidak terkena luka sedikitpun " . Dokter Rasya mewanti-wanti, agar bu Aminah lebih hati-hati.


" Iya dok "


" Kalau begitu saya permisi yah, Assalamualaikum "


" Waalaikum salam " jawab bersamaan bu Aminah dan Laras.


Setelah dokter pergi, bu Aminah melirik kearah Laras dengan wajah penuh tanya, Laras yang menyadari nya mencoba untuk tidak gugup.


" Ibu tidur ajah yah, besok baru kita bicara ". Laras tau jika ibunya punya banyak pertanyaan sekarang. Inginnya dia menjawab, hanya saja melihat kondisi ibunya sekarang takut jika kondisi ibunya semakin parah.


Ibu hanya mengangguk dan akhirnya tertidur kembali.


...----------------...


Keesokan pagi.


Setelah selesai bu Aminah makan,


" Ras, ibu mau tanya " bu Aminah mulai memecah keheningan. Katakanlah apa yang kau pikirkan.

__ADS_1


" Iya bu ada apa? "


" Kamu dapat uang operasi nya dimana nak ? ". Akhirnya keluar juga pertanyaan yang paling ditakuti Laras. Tapi, dengan Hati-hati ibu Aminah mengatakan nya. Walau bagaimanapun dia tidak ingin melukai perasaan anaknya.


" Itu... Dibantu sama bos aku yang baru bu " ucap laras. Terlihat sekali jika dia gugup


" Bos mu? " Terkejut bu Aminah. Dia sudah tau bagaimana bos-bos nya yang terdahulu. Mungkin saja bosnya kali ini juga sama " duh.. nak, gak pa-pa tuh? Ibu takut kalo... " Ucapnya menggantung. Benar-benar seperti sinetron.


" Kalo soal itu... Insyaallah gak pa-pa bu, tapi... " Laras pun ikut menggantungkan perkataan nya.


" Apa nak? ".


" Itu bu.., tapi janji dulu jangan marah yah bu " meremas ujung bajunya.


" Apa nak? Insyaallah ibu gak akan marah " sebenarnya bu Aminah sedikit takut akan perkataan anaknya nanti yang selanjutnya. Pikirannya sudah traveling kemana-mana. Bagaimana jika anak satu-satunya itu dijadikan simpanan? Atau bagaimana jika anaknya akan dijual? Mungkin saja juga jika anaknya jual diri. Ah... Pikiran seperti itu sudah mulai memenuhi kepala bu Aminah


Laras kembali meremas ujung bajunya, keringat dingin mulai jatuh dari pelipisnya. Dia ingin mengatakan nya, tapi takut ibunya marah. Bagaimana jika ibunya malah mengira jika dia jual diri? Tapi, itu juga tidak sepenuhnya salah.


Bibirnya bergetar " bos nya Laras memberikan syarat, kalo Laras harus ni... nikah sama bosnya Laras itu bu ". Ah... Akhirnya keluar juga. Entah bagaimana reaksi yang akan dikeluarkan bu Aminah.


" APA!!?? menikah? ". Oh.. sungguh berita yang entah harus bahagia atau sedih. Pikiran nya lagi-lagi traveling, membayangkan wajah bosnya itu. Dengan umur yang seumuran om-om, berbadan gemuk dengan kalorinya yang tertampung di perut nya, kepalanya yang botak, layaknya profesor. Dan yang paling mengerikan, bagaimana jika bosnya itu hidung belang dan beristri. Pikiran bu Aminah benar-benar sudah melayang jauh. Padahal kalau lihat yang sebenarnya, entah bagaimana tanggapan nya. Andra di samakan sama om-om.


" I.. iya bu " jawab Laras " maafin Laras bu.. sudah mengambil keputusan sepihak dan tidak mengatakan nya sama ibu ". Air mata Laras tak terbendung lagi, di ambilnya tangan kanan ibunya itu dan menciumnya dengan lelehan air matanya. hal yang paling tidak di inginkan nya di dunia ini adalah ibunya yang akan membencinya


Bu Aminah perlahan-lahan mengatur nafasnya.


" Ibu tidak marah nak ". Sebenarnya itu bohong, hanya saja dia tidak ingin membuat anaknya itu merasa bersalah. Bu Aminah mengusap kepala Laras menggunakan tangan kirinya.


Laras mendongak dan melihat bu Aminah, sebisa mungkin bu Aminah mencoba untuk tersenyum


" Ibu beneran gak marah sama Laras? ". Tanyanya


" Insyaallah ibu gak marah ". Masih mengusap-usap surai panjang Laras. Bu Aminah percaya kalau Laras punya alasan sendiri atas keputusan yang diambil nya. Walau sebagian besar alasannya adalah karena dirinya, tapi walau bagaimanapun dia mencoba untuk tetap menghargai keputusan Laras.


" Jadi, mana bosmu? ". Melihat kesekelilingnya, tapi tidak ditemukan nya. Bagaimana jika dia kabur. Kalau itu tidak mungkin, Andra tidak mungkin kabur begitu saja.


" Dia pergi bu, katanya tadi ada urusan ". Jawabnya " pak Andra tadi malam sempat menunggu Disini, katanya dia ingin minta restu bu ". lanjut nya. Setidaknya katakan hal-hal yang baik tentang bosnya dulu.


" Dia ingin minta restu? ". Tak percaya ibu, dia kira orangnya akan sombong, itu tidak salah sih. Dan tidak memikirkan tentang restu-restu.


" Iya Bu ". Sedikit lega Laras, sepertinya rencana membuat bosnya itu baik dimata ibunya berhasil. Bukannya Laras memang menginginkan pernikahan nya ini, hanya saja dia tidak ingin mempersulit bosnya yang sudah membantu nya.


" Siapa tadi namanya? ". Belum sempat Laras menjawab, sudah terdengar suara barinton di balik pintu.


" Assalamualaikum "


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen dan vote nya. yang banyak yah... soalnya author capek nulis 😙


__ADS_2