
'wahh ngambek nih. Mampus gue'. Salah sendiri, mencari masalah.
" Bukan kaya gitu sayang... Sumpah! ".
" Gak usah pake sumpah-sumpahan. Pasti mas Andra pengen cari wanita lain yang lebih seksi kan ". Hati Laras nyut-nyut mengatakan nya. Ia tidak bisa membayangkan suaminya pergi dengan wanita lain.
" Ya Allah.. kenapa malah jadi kesitu... Enggak sayang, cuman kamu yang ada di hati mas ". Memeluk Laras dari belakang.
" Tapi memang kaya gitu kan ". Tidak menolak pelukan Andra. Malah ia senang dengan pelukan suaminya.
" Enggak sayang... ". Mencium pipi Laras
" Beneran? ". Mulai melunak
" Iya sumpah! Beneran ". Memperlihatkan wajah memelasnya.
" Huuufffh baiklah aku maafin ". Laras tidak sanggup melihat wajah bersalah suaminya. Apalagi kalau Andra sudah menunjukkan wajah memelasnya.
'Alhamdulillah.. ngambek nya gak lama'. " Makasih sayang.. ". Mengecup singkat ujung bibir Laras.
Dan Laras mengangguk dengan wajahnya yang memerah. Ia tersipu.
" Kalo gitu ayo kita lanjut tidur ". Membalik tubuh Laras.
" Hmm anu mas... ". Ragu Laras. Tidak! Bukan ragu malah seperti ia malu mengatakannya.
" Ada apa sayang? Hmm ". 'apa ngidam lagi yah.. huufh sabar Andra. Calon anak mu itu'.
• I.. itu.. hmm ". Menempelkan kedua ujung jari telunjuknya di depan dadanya. Lalu memutar-mutar nya. Hal yang dilakukan Laras berhasil membuat Andra gemas.
'ahhkk manis bangat'
" Ada apa sayang? Bilang ajah mas gak makan manusia kok ". Dikira Andra punya taring apa.
" Bukan gitu mas... Tapi janji jangan marah ". Nah pasti ada mau nya.
" Iya janji ". 'pasti ngidam lagi nih. Siap-siap ajah nih kalo di suruh keluar beli makanan lagi'. Andra mengambil ancang-ancang dengan ponselnya.
" Hm e.. hmm ". Dengan ragu Laras mengalungkan tangannya ke leher Andra. Tentu hal itu mengagetkan Andra.
" Hmm Kenapa sayang? ". 'apa ini cara membujuk terbaru'. Sudahlah tidak perlu di pikirkan, Nikmati saja.
Laras menatap bibir Andra. Dan di detik berikutnya, ia langsung mencium bibir menggoda Suaminya. Andra yang mendapatkan serangan tiba-tiba, lagi-lagi di buat kaget. Sejak kapan Istri nya jadi agresif.
Tapi, Andra tidak membalasnya, ia ingin melihat apa yang akan di lakukan Laras. Dan benar saja, Laras me*umat bibir Andra, menyesap bibir tersebut dengan lembut. Caranya berciuman tidak terlalu kaku seperti saat pertama kali. Malahan sekarang ia sangat ahli. Mungkin faktor karena sering bercumbu dengan suaminya.
Hal itu lagi dan lagi membuat Andra kaget. Pertanyaan nya, sejak kapan Laras menjadi ahli dalam berciuman.
Laras melepas ciumannya " kenapa diam ajah mas ". Laras tidak kesal. Bahkan ia tidak melihat suaminya malah melihat bibir ranum merah Amdra dengan tatapan lapar.
" Memangnya kenapa? ". Tanya Andra dengan wajah sok polos nya. Ia ingin tertawa melihat wajah istrinya yang seakan sangat menyukai bibirnya. Tentu hal itu membuatnya senang, bahkan sangat-sangat senang.
Tidak ingin membuang waktu lagi, Laras langsung menyosor kasar bibir Andrai ia kembali me*umatnya dan menyesap bibir Andra dengan kasar.
Andra yang sudah tidak tahan dengan godaan yang di berikan Laras, langsung merengkuh pinggang Laras ke pelukannya. Menarik tengkuk Laras untuk memperdalam ciumannya. Andra mengambil alih pergerakan. Sekarang ia lah yang me*umat dan menyesap bibir Laras.
Tak hanya sampai disitu, Andra memaksa Laras membuka mulutnya. Dan dengan senang hati Laras membukanya. Ia mulai mengabsen semua yang ada di rongga mulut Laras, melilitkan lidah nya dengan lidah istrinya. Berbagi saliva.
Hingga Andra membaringkan tubuh Laras, lalu mengukungnya. Andra melanjutkan acara ciuman panasnya dengan istrinya.
Lama mereka berciuman, akhirnya dengan terpaksa Andra harus melepaskan tautan nya dikarenakan nafas nya yang sudah di ambang batas.
__ADS_1
Ia ngos-ngosan, begitu pula dengan Laras. Mereka memandang satu sama lain, wajah keduanya sudah memerah, ada hasrat yang harus tersalurkan.
Andra membelai pipi Laras dengan lembut " sayang.. mas.. ". Suaranya berat.
" Lakukanlah mas.. ".
" Tapi... Kandungan mu masih lemah sayang ".
" Lakukan dengan perlahan saja mas ". Laras tetap kekeh.
Sebenarnya Andra sangat ingin melakukan nya apalagi dede nya sudah bangun dari tadi. Namun, ia mencoba menahan nya mengingat kandungan Laras yang masih lemah. Apalagi saat mengingat dirinya yang tidak akan bisa tahan terhadap tubuh istrinya, pasti dede nya akan menuntut lebih.
" Tapi mas takut sayang, kalau mas.. ".
" T.. tapi a.. aku pengen mas.. ". Ucap Laras dengan wajah memerah serta suaranya yang gagap akibat kegugupannya. Wajah nya ia palingkan ke arah samping. " B.. bayi nya minta di jenguk ". Lanjut nya.
'sepertinya ngidam yah, makasih nak'
Seperti mendapatkan angin segar, Andra langsung sumringah. Berarti tidak apa-apa kan, karena yang minta anaknya sendiri. Pikir Andra.
Andra kembali membelai wajah Laras, ia memalingkan kembali wajah Laras mengarah kepada nya.
" Baiklah.. ". Ini adalah kesempatan yang sangat langkah. Mungkin hanya akan terjadi setiap se-abad sekali. Lebay....
Setelah mengatakan nya, Andra langsung menyambar bibir Laras. Kembali me*umatnya. Tangannya yang sudah tidak bisa di kondisikan.
Tangan Andra mulai meremas dada Laras, ia melepas pengait braa yang digunakan Laras dengan masih me*umat bibir Laras.
Andra melepas lu*matannya, dan berdiri untuk melepas bajunya sehingga memperlihatkan tubuh kotak-kotak nya, bak kardus yang di susun rapi.
Setelah tidak ada sehelai benang pun di tubuh nya, ia membantu Laras untuk membukakan piyama yang di gunakan istri nya.
Mereka berdua kembali ke posisi awalnya, tapi dengan tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh kedua insan tersebut.
" Eughh ah~.. ". Lenguhan berhasil keluar dari bibir Laras yang membuat Andra tambah bersemangat.
Andra semakim turun ke buah dada kesukaan nya. Andra meremasnya, serta mengesap ****** Laras.
" Ah.. m.. mas.. ".
Andra turun dan memegang alat ******** istrinya. Dan tentu yang di pegang sudah basah. Tanpa ba bi bu lagi, Andra mengarah kan pusaka milik nya ke dalam milik Laras.
Hanya dengan sekali hentakan, dede milik Andra sudah masuk kedalam tubuh Laras. Memenuhi bagian bawah Laras.
" Ah.. ". Desahh keduanya.
Dengan perlahan Andra mulai menggerakkan nya. Menaik turunkan tubuhnya.
" Ah.. ". Hanya lenguhan dan desahann yang terdengar memenuhi kamar tersebut.
Keringat keduanya membanjiri tubuh masing-masing.
Setelah lama mereka bergulat, akhirnya Andra bersama Laras menggapai puncaknya bersama-sama.
Setelah beberapa saat diam untuk menetralisir keadaan, Andra tumbang di samping istri nya. Ia mengecup kening Laras, lalu mencabut pusakanya.
Sebenarnya Andra masih ingin lanjut, karena Memang tidak biasa mereka main hanya dalam satu ronde. Tapi mengingat keadaan Laras yang tengah mengandung muda, Andra memilih untuk mengalah.
Walau bagaimanapun ia yang sudah menanam sahamnya di dalam rahim Laras. Dan kalai sudah tumbuh harus siap bertanggung jawab, dan jangan menyalahkan keadaan.
" Tidur lah.. ". Kembali mengecup bibir Laras singkat. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh polos istrinya.
__ADS_1
Laras mengangguk dan mulai memejamkan matanya di pelukan suaminya. Andra juga ikut memejamkan matanya.
Kertas yang di robek nya tadi, sudah tenggelam entah kemana. Tidak ada yang terlihat lagi. Ada beberapa robekan nya di tergeletak di lantai. Mungkin akibat dari pertempuran Laras dan Andra.
...ΩΩΩΩΩ...
" Assalamualaikum... ". Mama Ani datang dengan suara lima oktaf nya.
Dengan tergopoh-gopoh bi Siti datang menghampiri mama Ani. " Waalaikum salam nyonya, tuan besar ".
" Andra sama Laras mana bi? ". Celingak-celingukan mencari kedua pengantin tersebut.
" Tuan muda dan nyonya muda ada di belakang nyonya. Sedang bersantai di dekat kolam renang ".
" Baiklah makasih bi ". Sekarang papa Rangga yang membuka suara.
" Ayo pah.. ". Papa Rangga menggandeng tangan mama Ani.
Mereka berdua pun berjalan menuju kolam renang. Dimana Andra dan Laras bersantai. Dan benar saja terlihat Andra dan Laras duduk di kursi santai di dekat kolam renang tersebut.
" Assalamualaikum... sayang-sayangnya mama ". Mama Ani langsung berhambur memeluk Laras, tanpa menghiraukan anak kandungnya.
" Astaghfirullah mama, kapan mama pulang? ". Melepas pelukannya dan melihat wajah mertuanya.
" Jawab dulu dong sayang ".
" Hehe waalaikum salam ".
" Assalamualaikum... ". Papa Rangga datang dari belakang.
Andra menoleh kebelakang " Waalaikum salam " Andra berdiri. Laras yang melihat suaminya berdiri, tentu ingin ikut berdiri. Tapi langsung di tahan oleh Andra. " Gak usah berdiri sayang.. ". Akhirnya Laras mengurungkan niatnya.
Papa Rangga dan mama Ani yang melihat ke posesif-an anaknya hanya terkekeh. Bahkan papa Rangga dulu tidak se posesif itu.
Andra menyalam dan mencium tangan papa Rangga dan mama Ani, diikuti oleh Laras. Papa Rangga ikut duduk di kursi santai disitu bersama mama Ani.
" Bukannya besok baru pulang mah.. pah.. ? ". Tanya Andra
" Seharusnya sih besok, tapi kami sudah gak sabar ngeliat menantu sama calon cucu kami ". Papa Rangga menjawab
" Iya benar... Karena itu ayo Ras ". Menggandeng tangan Laras.
" Eh! Mau kemana ma? ". Laras hanya pasrah di tarik.
Andra langsung menarik tangan Laras " mama lupa kursi rodanya... Harus pake kursi roda! ". Tekannya. Sebenarnya ia keberatan liburannya di ganggu, apalagi saat ia dengan senang-senangnya bersama Laras. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mungkin membantah mamanya.
" Oh iya.. Astaga mama lupa ".
Andra berdiri lalu menyiapkan kursi roda tersebut. Sedangkan Laras dan papa Rangga hanya saling pandang sembari menahan senyumnya, melihat Andra yang terlalu posesif.
Setelah kursi roda tersebut siap, Laras pun duduk di kursi roda tersebut. Mama Ani mulai menjalankan kursi roda Laras menjauh dari dua pria berbeda generasi namum tetap gagah nan tampan.
" Tuan Ahmad Rangga Ansari... Bawa istri mu tuh. Mengganggu acara saja ". Menatap kepergian sang Istri bersama mama Ani.
" Kalo gitu nak Muhammad Andra Ansari... Ingat! Bagaimana sifat mama mu ".
Andra dan papa Rangga menghela nafas berat bersamaan. Mereka berdua saling pandang dan..
" Hahahaha ". Tawa mereka berdua berhasil keluar, saat menyadari Tingkah nya sendiri.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya