
Sekarang di tempat ini, tepatnya di restoran.
Terdapat empat orang yang sedang duduk di satu meja.
Tiga wanita dan satu pria.
Sebenarnya Risa yang kekeh ingin satu meja dengan mereka.
Dan Laras juga tidak enak untuk menolaknya, sedangkan Andra hanya ikut kemauan Istri nya.
Setelah mereka memesan makanan nya, tidak ada lagi yang bicara.
Semuanya diam, kecuali Risa yang selalu mencuri-curi pandang melihat Andra. Tapi, sekali lagi Andra tidak memperdulikan nya. Lain halnya dengan Laras yang di buat tambah kesal.
" Oh yah, kamu ". Risa membuka suara, dan melihat Laras yang ada disamping Andra.
" Iya? Saya bu? ". Menunjuk dirinya sendiri 'ada apa nih?'. Apa mungkin Risa akan mengibarkan bendera perang nya. Oh tapi tenang saja, Laras sudah dari dulu mengibarkan nya.
" Kamu sudah lama jadi sekretaris pak Andra? ".
" Ah.. baru berjalan dua Minggu ". Itu benar.
" Oh.. baru rupanya ". 'cik padahal gue mau gali informasi, tapi masih baru rupanya'. Memang, informasi mengenai Andra sangat-sangat rahasia. Tidak ada yang bisa mendapatkan nya.
Karena itu, informasi sekecil tentang Andra Sangat berharga.
Sedari tadi Andra hanya memperhatikan saja. Jaga-jaga kalau Risa melakukan sesuatu, maka ia akan bergerak.
'kenapa nih cewek, main nanya-nanya mulu'.
Dan percakapan pun berakhir.
Tak lama kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka.
Dan tentu saja mereka melahapnya dengan tenang.
Lagi dan lagi, mata Risa selalu melirik kearah Andra, ia terang-terangan memperlihatkan kalau dia tertarik dengan Andra. Matanya minta di colok. Tapi siapa sih yang tidak tertarik dengan khrisma Andra.
Kita skip ...
Malamnya...
Risa yang memang ada di hotel yang ditempati Andra, ia diam-diam pergi ke kamar Andra.
Niatnya ingin menggoda Andra, tadi siang sudah dia kasih kode yang sangat jelas pada Andra .
" Biar sedingin bagaimanapun seorang pria, dia gak akan nolak wanita cantik di depannya. Apalagi kalo sudah pake lingerie kaya gini ". Ucap percaya diri Risa. Ia menutupi tubuhnya yang menggunakan pakaian haram, eh ralat maksudnya lingerie dengan mantel.
Aksinya sudah seperti pela*ur.
Tok... Tok.. Tok...
Diketuknya pintu kamar hotel Andra. Tapi tidak ada jawaban.
Sudah berapa kali ia mengetok tapi tetap saja tidak ada jawaban.
" ncik, ini Andra kok gak buka-buka pintu sih. Memangnya tadi kode gue gak jelas apa! ". Risa mencebikkan bibirnya.
Saat diluar, Risa kesal karena pintu tak kunjung dibuka, ia beberapa kali menghentakkan kakinya di lantai.
Sedangkan di dalam kamar Laras.
Kini kedua pasutri itu sedang menyantap makan malamnya.
" Hmm mas... Kayanya ada yang ngetok pintu mas deh ". Melihat Andra yang asik dengan makanannya. Rupanya Andra sedang berada di kamar Laras, makan berdua. Menggantikan waktunya tadi siang.
" Biarin ajah ". Andra sebenarnya tahu siapa yang datang malam-malam ke kamarnya dan mengetok-ngetok pintu sampai berkali-kali.
__ADS_1
Jujur saja, Andra Sangat Melihat jelas kode yang diberikan oleh Risa. Tapi ia tidak menggubrisnya, malah jijik melihat tingkah nya yang sudah seperti berpengalaman.
Bukan hanya Andra yang sadar akan kodenya, tapi Laras dan juga Gita pasti sadar akan itu. Dan itu benar.
" Itu bu Ris loh mas, bukannya tadi siang dia su.. ". Lagi-lagi Laras kesal. Kekesannya tadi siang, masih terbawa sampai sekarang.
" Gak usah dipikirin. Makan ajah ". 'Dari pada memikirkan kuntilanak diluar, mending gue habisin waktu gue sama istri tercinta'. Dan itu keputusan yang tepat. Kuntilanak, eh maksudnya Risa yang bukan siapa-siapa, hanya menjadi pengganggu saja.
" Emangnya mas gak mau ambil kesempatan apa ". Ketus Laras, ia masih dongkol
" Saya sudah punya istri ras. Dan istri saya sedang ada di depan saya sekarang ini ". Ucap Andra dengan mencoba selembut mungkin. 'apa Laras cemburu yah? Heheh bagus tuh'. Bukannya kesal, ia malah senang.
" Tapi itu cuman di atas kontrak mas ". Sudah dilembutin malah melunjak. Hei... Laras yang dulu sangat takut sama suaminya sudah hilang tertelan bumi.
Andra meletakkan sendoknya dengan sedikit keras di atas meja kaca, dan tentu saja itu menimbulkan bunyi yang lumayan nyaring. Auranya langsung berubah menjadi menyeramkan.
Laras terkejut melihatnya, dia sudah salah bicara. 'aduh bodoh.. bodoh.. bodoh, kenapa aku ungkit lagi sih. Mas Andra kan udah bilang gak suka'. Laras hanya bisa pasrah, ia berkomar-kamit dalam hatinya.
" Saya sudah bilang, jangan bahas kontrak nya lagi. Kalau kamu bahas lagi beneran kubakar ". Inginnya ia marah, tapi saat melihat wajah Laras yang sepertinya mulai takut pada tatapan tajamnya. Ia mencoba untuk memberikan peringatan lembut dulu.
Deg...
Saat Andra mengatakan akan membakar kontrak nya, hati Laras langsung sakit. Karena hanya itu yang menghubungkan dan membuktikan kalau mereka adalah suami istri. Dia melupakan buku nikahnya.
" Baik mas ". Ia menyetujui, tapi dengan nada ketus. Dongkolnya bertambah.
'ha!! Salah apa lagi gue'. Padahal tadi Laras sudah melunak.
" Ras... Sebenarnya mas salah apa? ". Terlontar lah pertanyaan yang memang dari tadi siang ia simpan dan pendam sendiri.
" Ha? Kenapa mas nanya kaya gitu? ". Ketus Laras.
" Nah pasti marah kan. Ada apa? Mas bikin salah? ".
" Kalo emang mas tau kalo mas salah. Yah pikiran ajah sendiri ". Wah... Keberanian nya sekarang sudah melimpah.
" Udah mas. Aku mau tidur ". Beranjak dari duduknya 'kalo tau aku marah, kenapa di tambah coba!'. Wanita memang merepotkan, ditanya kenapa marah, malah balik bertanya. Pikir Andra.
" Tapi ini baru jam delapan loh ras ". Ikut beranjak.
" Emangnya salah kalo Laras tidur cepat ". Dengan gerakan cepatnya, Laras masuk kedalam selimut nya.
Lalu menutup matanya, di dalam selimut ia susah-susah menelan salivahnya.
'wa..... aku Gak bakalan di depak kan'. Jerit Laras di balik selimut.
Andra masih bengong melihat gerakan cepat sang istri.
Jika ia bisa mengartikan tingkah Istri nya itu adalah kodenya untuk. Ehm... Ehem..., Tapi sayangnya karena itu bukan sebuah kode yang dipikirkan Andra, malah itu tanda jika dirinya benar-benar marah.
Andra naik ke atas ranjang ia berbaring di belakang istri nya itu, lalu melingkar kan tangan nya di pinggang Laras.
Tentu saja, Laras kaget tapi ia juga tidak menepis lengan kekar suaminya itu. Baginya ini adalah saat-saat yang di tunggu nya.
" Maafin mas ". Lirih Andra didekat telinga Laras. Nafas nya bisa terdengar oleh telinga Laras.
" Saya gak tau apa yang sudah saya perbuat, Sampai membuat mu kesal ". Terdengar penyesalan dalam kata-kata nya.
Laras masih diam. Ia ingin melihat sampai sejauh mana suaminya akan membujuknya. Ia juga penasaran dengan kelanjutan kata-kata Andra.
" Kalo kamu gak suka sama sih.... Siapa yah? Oh iya, sih Risa. Kamu boleh bilang kok. Mas gak akan marah ". Yah rupanya masih belum mengingat nama Risa.
" Ke.. kenapa malah bawa-bawa bu Risa. Aku gak benci kok sama Bu Risa ". Tidak ada yang mengatakan kalau kau membencinya.
'nah pasti gak suka nih. Apa Laras memang cemburu yah? Hihihi... Jadi pengen ngeliat selanjutnya gimana. Mungkin Laras juga udah cinta sama gue'.
" Iya, kamu gak benci sama dia. Tenang ajah mas bakalan jaga jarak sama dia ". Padahal selama ini Andra memang tidak pernah menggubris Risa, bahkan terang-terangan menjauhinya.
__ADS_1
Tentu saja Laras yang mendengar nya menjadi senang.
" Kenapa harus jaga jarak? Kan memang bu Risa itu bekerja sama dengan perusahaan mas ". Nada bicara Laras sudah tidak ketus lagi. Tapi tetap saja Laras tidak ingin memperlihatkan kecemburuan nya, walau sebenarnya sudah sangat terlihat.
" Yah kan sekarang lagi banyak virus yang mendunia. Dan terserah saya lah, suka-suka saya mau jaga jarak sama siapa saja ".
'istri gue cemburuan. Jadi gemes'. Semakin mengeratkan pelukannya.
" Ta.. "
" Sudahlah, katanya mau tidur. Yaudah cepat tidur ". Sudah menutup mata nya.
" Kenapa mas tidur disini? Kalo ada yang liat gimana? ". Sangking senangnya Laras. Otaknya belum bisa mencerna kalau sekarang mereka ada dimana.
" Gak akan ada yang liat, ini di dalam kamar ". Andra masuk kedalam selimut Laras dan kembali memeluk Laras dari belakang. 'lagian semua karyawan disini juga sudah tau'. Ingat! Pernikahan mereka sebenarnya sudah banyak yang tahu, apalagi mengingat bawahan Andra yang cukup banyak.
Tapi, itu tidak berlaku di kantornya. Para karyawan belum ada yang tahu, kecuali Ardi dan Alan.
" Oh iya yah. Kita sedang ada di kamar. Tapi nanti pagi?.. ". Rupanya Laras masih belum puas
" Subuh-subuh mas Akan pindah ke kamar sebelah. Sudah tidur ". Menegaskan kata-katanya.
Laras diam, dan menyetujui perkataan suaminya. Ia juga rindu di peluk seperti itu.
Semoga saja bagian-bagian tubuhnya tidak kemana-mana saat bangun nanti, mengingat kemarin malam saat ia tidur sendiri lagi, sebelum tidur dan saat bangun tidur, posisi tubuhnya sangat berbeda jauh. tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.
Mereka berdua pun akhirnya tertidur dalam satu ranjang dan satu selimut lagi. Dimana kemarin malam mereka sempat terpisahkan dalam tembok kamar hotel.
...****************...
Pagi harinya, Laras sudah bersiap-siap dengan pakaian kantor nya.
Sesuai dengan yang diakatakan Andra. Tadi subuh Andra harus pindah kembali ke kamarnya, walaupun dengan gerakan yang sangat malas.
Laras juga sudah tidak kesal lagi dengan Andra, ia percaya kalau suaminya itu tidak akan tergoda.
Pagi ini adalah hari kedua mereka memantau perkembangan proyek nya, dan itu artinya nanti malam adalah saat-saat yang ditunggu-tunggu Andra. Yaitu ia akan mengungkapkan perasaan nya kepada Laras dan melamar nya kembali dan memintanya menjadi istrinya dengan cara yang baik.
Pemantauan berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan sama sekali. Kecuali Risa yang selalu ingin dekat-dekat Andra, tapi sekali lagi Andra menolak nya.
Laras juga sudah tidak cemburu lagi, ia percaya dengan suaminya.
Laras juga memaklumi sifat Risa yang memang mines dalam hal karakter. Itu yang di katakan Gita kepada Laras.
Sekretaris nya saja sudah muak melihat tingkah bosnya itu, bagaimana dengan yang lainnya?.
Di sela-sela kesibukan mereka, ponsel Andra berbunyi. Saat Andra melihat nya ia segera menjauh dari ketiga wanita itu dan seorang lelaki paruh baya yang bertugas memantau proyek saat mereka tidak ada.
" Halo? Ada apa? ".
" Semuanya sudah siap bos ". Ucap seseorang dari seberang. Suaranya terdengar melegakan.
" Bagus. Kalo gitu nanti malam, semuanya sudah bisa dilakukan kan? ".
" Bisa bos. Tenang saja ".
" Baguslah, kalo gitu saya tutup ". Dan Andra pun memutus sambungan nya.
Ini pertama kalinya Andra memberi peringatan sebelum menutup teleponnya, mungkin sekarang suasana hatinya sedang baik.
Sedangkan yang di seberang, melongo tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi.
" Tanggal berapa nih? Hari apa ini? Ah... Catat-catat, sejarah ini ". Heboh sendiri dia. Semua pelayan-pelayan yang bekerja mendekor tempat nya, hanya bisa geleng-geleng.
Tapi, itu memang sejarah sih. walaupun para pelayan geleng geleng kepala, mereka tetap mencatat hari bersejarah ini.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya, jangan lupa dengan hadiahnya 🙂