Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Pesan / Mai


__ADS_3

" ayo ".


" Kau mau ikut makan siang bareng? ". Langkah Laras terhenti saat sadar Ardi mengikutinya dari belakang.


" Tidak! ". 'pak Andra bisa marah kalo aku ikut makan siang sama kalian'.


" Aku ada urusan sama Alan ".


" Ohh.. Baiklah ayo kita masuk bersama ". Dan Ardi mengangguk menanggapi.


Ceklek...


Laras perlahan-lahan membuka pintu. Matanya melongo melihat adegan di depannya. Bag pepper yang di pegangnya jatuh.


Ia terkejut. Entahlah apa ia harus marah atau tidak. Bagaimana tidak, Suaminya sedang bermesraan dengan asistennya sendiri.


Bukan! Bukan itu yang membuat nya syok, tapi asistennya kan seorang pria. Apa Suaminya itu seorang guy. Tapi, jika berhubungan badan dengannya, suaminya sangat perkasa.


Ia mematung. lagi-lagi ia syok, bukan karena apa. Tapi 'kenapa mas Andra harus dibawah, ini tidak bisa di biarkan'. Eh!.


" Mas Andra.. aku gak nyangka... ". Suara Laras membuat Andra mengalihkan pandangannya.


" Sayang.. ". Kagetnya. Andra langsung mendorong Alan yang ada di atasnya. " Minggir brengsek! ".


Alan terhuyung ke belakang akibat dorongan Andra. Sedangkan Ardi! Ardi harus mati-matian menahan tawanya di belakang Laras.


Andra bangkit dari tidurnya dan mendekati Laras yang masih mematung. Pikirannya dibuat kalang kabut, bagaimana jika istri nya salah sangka kalau dirinya belok. Tidak! Bukan dugaan lagi, tapi Laras sudah salah paham.


" Ini bukan seperti yang kau pikirkan sayang, ini salah paham ". Ucapnya menenangkan Laras.


Laras menatap suaminya " mas... Aku gak nyangka.. ". Lirih Laras. Ia terlihat masih syok.


" Bukan sayang.. ini benar-benar bukan seperti yang kau lihat tadi ". Andra semakin dibuat kalang kabut.


" Mas... Aku gak nyangka kalau mas Andra suka dibawah ". Ucapnya polos


Brakk..


Andra langsung terjatuh ke lantai. Jawaban istri nya sungguh tidak terduga. Sebenarnya apa yang ada di pikiran Laras.


" Hahahaha... ". Ardi yang sudah dari tadi menahan tawanya, akhirnya mengeluarkan nya.


" Hahahah ras.. gue kira lo mau bilang apa hahaha ". Alan juga ikut tertawa.


Andra bangkit " Astaghfirullah sayang.. jangan buat suami mu ini jantungan ". Kalau Andra punya riwayat jantung, sudah pasti sekarang Andra sudah berada di rumah sakit.


" Tapi mas.. kamu belum jawab pertanyaan aku tadi ". Laras tetap kekeh.


Andra mengambil bag pepper yang di jatuhkan Laras, lalu menarik tangan Laras untuk duduk di sofa.


" Udah jangan di pikirin ". Ucap Andra " kalian berdua keluar dari sini hush... Hush.. ". Beralih ke dua lelaki yang sedang memperhatikan mereka.


Karena tidak ingin terlibat masalah yang terlalu jauh, Mereka berdua hanya menurut dan pergi dari ruangan Andra.


Setelah melihat kepergian dua orang itu, Andra mulai membuka bag pepper yang di bawa Laras. " Wahh ada makanan kesukaan saya nih. Kamu yang buat ini sayang? ".


Laras mengangguk " mas.. mas benar-benar belok yah ". Tanya Laras dengan wajah polosnya. Rupanya kejadian tadi belum di terima nalar Laras. Apalagi saat melihat suaminya di bawah, bukan di atas.


" Ya Allah sayang.. enggak, tadi Alan gak sengaja kesandung. Lalu jatuh ke atas mas ". Dan itu benar. Mungkin karena Alan kelelahan lembur semalaman dan hanya tidur tiga jam saja, membuat nya lunglai dan tidak bisa fokus. Belum lagi ia terlalu senang karena akhirnya tugas yang menumpuk segunung sudah ia kerjakan semuanya.


" Beneran? ".


" iya ".


" Oh.. ". 'haisss aku kira bisa melihat real bl'. Yah malah kecewa. Seharusnya kan senang karena rupanya Suaminya bukan guy.


" eitsss tunggu dulu! Siapa yang mengizinkan mu datang ke kantor! Dan siapa yang membawa mu kemari! Kenapa tidak pake kursi roda!??? ". Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan Andra.


" Satu-persatu mas.. astaga.. aku datang kesini tidak ada yang mengizinkan, aku naik taksi kesini. Dan untuk kursi roda tidak mungkin kan aku bawa kursi roda. Akan lama nanti sampai nya ". Jawab Laras panjang kali lebar, melebihi panjangnya pertanyaan Andra.

__ADS_1


" Ckckck mas udah bilang agar tidak terlalu banyak berjalan. Nanti kamu kelelahan sayang... ". Nasehat Andra lembut.


" Aku cuman mau kasi mas kejutan ". 'juga biar mau liat mas tidak macam-macam'.


" Aku mau makan siang sama mas ". Ucapnya manja nan memelas. Memperlihatkan keluguan yang beracun, dan pasti akan meracuni pikiran Andra agar tidak memarahi nya.


" Baiklah sayang... Kita makan siang sama-sama. Oke!? ". 'padahal tadi gue mau pulang buat makan siang bareng. Ahhh sudahlah istri gue juga udah datang'. Sebenarnya Andra senang karena Laras datang membawakan nya makan siang. Hanya saja melihat kondisi Laras yang sedang mengandung membuatnya jadi serba was-was agar Laras tidak kenapa-kenapa.


Sedangkan di sisi lain, tepatnya di luar ruangan.


Ardi melihat Alan intens, seperti menuntut penjelasan dari adegan yang dilihatnya tadi.


" Ketawa ajah Ardi... Gue tau lo pengen ketawa, gak usah ditahan, pake buat raut wajah kaya gitu lagi! ".


" Hahahaha sorry Lan.. aku gak nyangka ajah. Kamu beneran gak belok kan ".


" Menurut lu.. ".


" Entahlah ". Mengedikkan bahunya " kasian loh Mai kalo kamu belok ".


" Ck.. gue gak belok santoso.. ". Keluarlah nama-nama random dari mulut Alan. " Eh! Astaghfirullah ". Menepuk jidatnya


" Ada apa Lan? ".


" Gue lupa ngasih kabar sama Mai ".


" Kabar apa? ". Memangnya akan ada perayaan! Tidak kan.


" Yah kabar cinta untuk penyematnya lah ". Mengedipkan sebelah matanya


Ardi memutar bola matanya 'dasar lebay'. Seharusnya Ardi tidak pantas mengatakan nya. Lihat dulu Istri nya baru mengatai orang lain.


Alan segera merogoh ponselnya yang ada di kantong celananya. Setelah mendapatkan apa yang di inginkan kannya. Ia mulai membuka dan mengirim pesan singkat padat dan jelas pada Mai, itu sih menurut nya.


Setelah mengirim pesan tersebut, tanpa menunggu Jawaban. Karena ia memang tahu Mai tidak akan menjawab nya, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


" Gue pergi dulu yah ".


" Bukan, ada meeting di luar. Mau ikut? ". Siapa tahu Ardi yang akan menggantikan nya dalam meeting ini. Sedangkan Alan hanya melihat bagaikan dialah bos nya disitu. Sungguh khayalan yang pasti membuat Ardi jengah, dan tentu tidak akan pernah terjadi.


" Enggak ah.. bukan aku yang disuruh ". Kenapa harus repot-repot mencari masalah, padahal ada jalan lain yang jika di lalui tak akan ada masalah.


" Ck, kalo gitu gak usah nanya. Udah ah gue pergi. Assalamualaikum ". Pergi begitu saja, tanpa mendengar jawaban dari Ardi.


" Wa'alaikum salam ". Menggeleng kepalanya. " Pergi ajah! Kalo perlu gak usah kembali. Eh! Astaghfirullah.. ngomong apa lagi aku.. udah deh mending pergi makan siang ajah dulu ".


.........


Mai yang baru saja mengecek kondisi salah satu pasien nya, kini kembali ke ruangannya karena jam makan siang Memang sudah tiba.


Ceklek..


Wajah Mai yang tadi sedikit berbinar akan harapan yang di nanti nya, kini ambyar seketika. Saat melihat ruangan nya kosong, biasanya sudah ada yang menyambutnya.


" Sebenarnya Alan kemana sih ". Masuk dan duduk di sofa ruangan tersebut. Ie melepas jas berwarna putih kebanggaan nya.


Ting..


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dengan cepat Mai melihatnya. Wajahnya kembali berbinar melihat sebuah pesan masuk. Pesan yang memang sudah di tunggu-tunggu nya. Yap pesan dari Alan.


"Assalamualaikum Maimunah ku😘". Biasanya Mai hanya akan membalasnya dengan spam saja. Tapi setelah menyadari perasaannya ia tidak akan mengabaikan nya lagi.


" Wa'alaikum salam ". Jawab Mai dalam pesannya. Mai senyum-senyum sendiri melihat ia membalasnya.


Sedangkan Alan..


Brakk..


Alan yang saat ini di sebuah cafe setelah bertemu kliennya, tidak sengaja mendorong meja di depannya sangking kaget dan tidak percayanya dengan apa yang dilihatnya. Mai membalas pesannya.

__ADS_1


Ting..


Dengan cepat Alan melihat pesan yang masuk. Dan yah itu dari Mai.


"Ada apa?". Isi pesan dari Mai.


Alan menutup mulutnya tidak percaya " M..Mai mengirim pesan padaku. Ya Allah mimpi apa aku semalam ". Alan sama sekali tidak merasa risih saat di tatap aneh oleh orang-orang di dalam cafe. Bahkan pelayan ataupun manager cafe tidak ada yang berani menegur Alan, mereka tahu siapa Alan jadi tidak ada yang berani cari masalah.


Ting...


"Apa kau baik-baik saja?". Mai mengirim pesan lagi.


Dengan sigap Alan membalasnya "tidak.. aku tidak apa-apa. Oh yah.. apa yang sedang kau lakukan?". Balasnya basa basi. Kebahagiaan nya benar-benar membuat nya jadi canggung dan tak tahu harus apa.


Sedangkan di sisi Mai..


Mai mengerutkan keningnya " Kenapa tiba-tiba Alan jadi aneh kek gini ". Ucapnya " tunggu.. dia memang aneh kan hahah ".


"Aku sedang makan siang. Memangnya kenapa?". Balas Mai.


"Ah.. iya.. yah 😁. Maaf yah aku gak kirim kabar dari kemarin pada mu. Dan sekarang aku juga gak bisa temanin kamu makan siang. Soalnya aku lagi sibuk bangat nih 😔".


" Oh.. jadi karena itu Alan gak kasi kabar ke aku yah. Syukurlah dia baik-baik saja ". Entah mengapa Mai merasa senang Alan baik-baik saja, dan rupanya masih mengingat nya.


"Iya gak pa-pa. Kamu bisa datang lain kali". Balas Mai.


Brak..


Sekarang ponsel yang di pegang Alan jatuh. Dirinya mematung 'apa itu berarti gue bisa datang kapan ajah'.


" Astaghfirullah.. hp gue ". Segera mengambil ponselnya di lantai.


" Alhamdulillah.. gak rusak ". Di usap-usap nya layar ponselnya.


" Ahkk.. pesan dari Mai. Gue belum balas ". Segera membuka ponselnya. Alan jadi sedikit low kalau soal Mai. Bukan sedikit lagi tapi banyak, dan Sangat banyak. Sampai mempermalukan dirinya sendiri.


Alan ingin membalas pesan dari Mai.


Ting..


Belum sempat Alan membalas nya, ada satu pesan yang masuk Dari akun Mai lagi.


"Maaf nanti kita lanjut lagi. Ada pasien yang harus ku urus". Isi pesan dari Mai. Dan terlihat online 3 menit lalu.


" Hah!! Ini artinya gue bisa kirim pesan lagi dan pasti di balas ". Lagi-lagi Alan tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


" Tunggu dulu.. apa jangan-jangan ada yang memegang ponsel Mai dan mengerjaiku yah. Tapi siapa? Dan tidak mungkin kan Mai membalas pesanku ". Ingin rasanya Alan segera berlari ke rumah sakit. Namun sayang pesan dari atasannya langsung masuk dan segera menyuruh nya kembali ke perusahaan.


" Haissh dasar bos kejam ". Dengan berat hati Alan keluar dan kembali ke perusahaan. Tanpa melihat sekeliling nya yang melihat dirinya aneh.


...---...


Alan kembali ke perusahaan dengan wajah datar yang sulit di artikan. Bagaimana tidak ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Bukannya ia tidak senang, malah sangat senang. Tapi ia takut terlalu berharap dan akan jatuh di akhir nanti.


Apalagi di saat-saat ia memikirkan nya, bosnya malah menyuruhnya cepat-cepat kembali ke Perusahaan, mengurus beberapa pekerjaan lagi. Bagaimana tidak kesal. Mana bos nya mengatakan kalau ia ingin pulang lebih cepat bersama istrinya. Dan membebankan semua pekerjaan untuk hari ini pada Alan dan cuman di bantu oleh Ardi, padahal Ardi punya pekerjaan yang cukup banyak.


" Assalamualaikum Alan ". Sapa Ardi saat melihat Alan datang.


" Hmm wa'alaikum salam ". Jawabnya acuh


Ardi mengerutkan keningnya " kamu kenapa?Tidak terjadi apa-apa saat meeting tadi kan?! ".


" Enggak gue gak pa-pa. Oh yah si bos mana? ".


" Udah pulang ".


" Haaaah ". Helaan nafas panjang berhasil keluar dari mulut Alan. " Gue balik mau kerja dulu ". Terlihat tidak ada semangat dalam kata-kata nan suara Alan.


" Hmm Baiklah ". Balas Ardi. Ia tidak mau terlalu mencampuri urusan Alan, daripada nanti malah membuat nya repot. Tapi kalau sudah keluar batas, maka Ardi akan ikut turun tangan membantu.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2