Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Semakin Dekat


__ADS_3

Laras duduk di sofa depan tv, dan toples cemilannya dia taruh di atas meja depannya.


Mulailah Laras menonton, tapi entah mengapa dari tadi Laras tidak bisa berhenti merubah posisi duduknya. Rasanya tidak ada yang nyaman, pikirnya.


Hingga ia memilih untuk selonjoran di lantai, untung ada karpetnya. Dengan bersandar di sofa berduduk sila sambil memeluk setoples cemilannya. Barulah nyaman dia rasakan.


" Nona, apa yang anda lakukan ". Tiba-tiba suara Pak Rin mengagetkan Laras yang sedang asyik menonton.


" Astaghfirullah pak Rin, sejak kapan disitu pak ". Bukannya menjawab malah balik bertanya.


" Saya disini sedari tadi nona, tapi apa yang anda lakukan. Sebaiknya duduk di sofa saja ". Terlihat wajah khawatir nya. 'jangan-jangan nona Laras tidak suka dengan sofanya'. Pikirannya sudah kemana-mana. sudah dia bayangkan perusahaan yang memproduksi sofa itu harus gulung tikar.


" Gak pa-pa pak, aku lebih biasa duduk selonjoran kek gini. Apalagi sofa nya empuk buat di jadiin sandaran ". Ucapnya tanpa melihat pak Rin. Sedang asyik menonton drakor dengan santainya memakan cemilannya.


Pak Rin hanya hanya bisa pasrah, nonanya itu sangat keras kepala. Tetapi Sangat baik dan ramah. untung bukan sofanya yang salah. jadi perusahaan nya tidak jadi gulung tikar.


Sesekali Laras tertawa, marah memaki pemeran-pemeran di drakor yang dia tonton. Padahal mereka tidak bersalah. Bahkan terkadang Laras juga terlihat menyeka sudut mata nya yang basah karena menangis. Harga dirinya benar-benar sudah tidak ada.


setelah drakor yang ditontonnya habis, Laras kemudian mematikan tv nya dan berdiri.


" Astaghfirullah pak Rin, sejak kapan disitu ". lagi-lagi pertanyaan yang terulang. benar kan, orang-orang sangat suka mengagetkan nya.


" apa nona sudah akan tidur? ". tidak menjawab, malah balik bertanya. karena kalau di jawab, pasti ujung-ujungnya akan kemana-mana.


" iya pak, kalo gitu aku naik dulu. assalamualaikum ".


" iya nona.. waalaikum salam ". mengangguk


Laras pun pergi meninggalkan pak Rin. yang masih melihat nya hingga pintu lift tertutup.


sesampainya didepan kamar nya. Laras mencoba untuk mengetuknya, siapa tahu suamianya sudah ada di dalam.


tok.. tok.. tok...


tidak ada yang menyahut nya. akhirnya Laras memberanikan dirinya untuk membukanya. dan benar saja, tidak ada orang di dalam.


Laras kemudian masuk kedalam kamar mandi. Cuci muka, cuci kaki dan gosok gigi adalah hal yang selalu di suarkan ibunya ketika akan tidur.


Setelah selesai dengan aktivitas di dalam kamar mandi, ia kemudian keluar kamar mandi dan sudah mendapati Andra yang duduk di sofa memainkan ponselnya.


Mendengar suara kamar mandi terbuka, sontak Andra menoleh dan mendapati istrinya yang mukanya masih basah. Sesaat netra kedua insan ini bertemu.


Deg..


Jantung Laras seakan di pompa dengan cepat. Dengan cepat Laras menundukkan kepalanya " mas, kerjaannya sudah selesai? ". Ucapnya basa basi.


" Iya ". Berdiri dan mendekati Laras, sontak membuat ia panik. Bagaimana jika dirinya di apa-apain? Bukannya Laras tidak ingin. Hanya saja dia masih belum siap. Bahkan pernikahan nya saja serasa tidak nyata.


" Ada yang bisa saya bantu mas? ". Masih menunduk, tidak berani melihat wajah Andra.


" Gak ada, saya mau masuk kedalam kamar mandi ". Melangkah melewati Laras begitu saja. Yang membuat Laras mematung. Rupanya yang dilakukan Andra tidak sesuai dengan apa yang di khayalkan Laras. Benar-benar membuat dirinya menjadi bahan tertawaan dirinya sendiri. Malunya Sudah ada di ubun-ubun.


" Apa yang kamu lakukan? ". Tanya Andra yang melihat Laras hanya mematung. Untung Andra tidak mengerti apa yang dipikirkan Laras tadi.


" Ah.. sa.. saya ". Membalik tubuhnya mengarah kearah Andra. 'aduh bodoh banget sih. Kenapa coba aku mikirin hal-hal gak senonoh itu'. Mengutuk dirinya sendiri.


" Ras ".


" I.. iya mas ".


" Saya inikan suami mu ".


" Iya? ". 'terus?..'.


" Jadi, bisa gak. Gak usah pake bahasa formal kalo bicara sama saya ".

__ADS_1


" eh?! ba.. baik,. akan saya...". Ucapnya terpotong " hmm? ". Andra mengangkat satu alisnya. " Akan ku usahakan ". Gugup Laras, yang membuat mukanya memerah karena malu. Andra yang melihatnya menjadi gemas sendiri 'ah.. lucunya istriku'.


Andra tersenyum mendengarnya " bagus ". Ucapnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.


Tak berapa lama kemudian, suara air kran di dalam kamar mandi pun berbunyi.


......................


Ceklek...


Andra keluar kamar mandi, dan melihat istrinya yang sedang duduk di pinggir ranjang, sambil memainkan ponselnya.


Tapi saat Laras mendengar suara langkah kaki mendekati nya, membuatnya melihat kearah sumber suara, dan didapatinya suaminya yang sedang berjalan kearahnya dengan coolnya sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang masih basah menggunakannya tangannya. Benar-benar pemandangan yang sangat enak dipandang. seperti melihat aktris k-pop saja. Bedanya Andra versi macho nya. Sesaat Laras terpaku melihatnya, hingga suara Andra mengagetkan nya.


" Ada apa, kenapa melihat saya seperti itu ? ". Duduk dengan santai di dekat Laras.


" Eng.. enggak.. aku gak liat kok ". Langsung mengalihkan pandangannya. Mukanya sudah berubah menjadi merah. Semerah tomat.


Andra tersenyum tipis " Oh.. gak liat saya nih ceritanya. Kalo tadi saya vidio mungkin akan jadi buktikan ". Goda Andra. Ia sangat menyukai wajah sang istri kalau saat sedang malu.


Perkataan Andra sontak membuat Laras menoleh padanya " A... " Deg... Jarak di antara wajah mereka benar-benar dekat. Tatapan mereka berdua beradu cukup lama hingga..


Cup...


Satu kecupan manis mendarat di bibir Laras. Yang sontak membuat wajahnya memerah dan langsung menutup mulutnya.


Andra yang melakukan nya hanya bisa menahan salivahnya, karena yang dibawa sudah bangkit. Padahal niat nya tadi hanya ingin menggodanya, eh.. malah kebablasan. Tapi, siapa sih yang tidak akan mencium nya di saat moment seperti tadi. Walaupun kesannya mengambil kesempatan dalam kesempitan.


'wa.... Ciuman pertama ku'.


Dengan susah payah, Andra mencoba mengatur nafasnya agar adik nya bisa tenang kembali.Dan benar saja adiknya kembali tidur. Laras yang melihat Andra serasa tersiksa seperti itu menjadi bingung sendiri. Padahal sudah mengambil keuntungan darinya. Ingin marah? Mending jangan deh, karena pasti Laras tidak akan berani.


" Ada apa mas? Apa mas sakit? ". Walau bagaimanapun Laras tetap khawatir akan Andra, apalagi saat melihat Andra yang keringat dingin.


Andra menggeleng " gak.. gak ada yang sakit ". Untung dedenya bisa diajak kompromi saat ini.


Hingga...


Plak.. tangan Andra meraba-raba paha Laras yang ditutupi celana tidurnya, yang sontak membuat Laras terkejut bukan main. Ingin di tepis, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak.


" Ras.. "


" I.. iya mas.. ". Ucapnya gugup dan masih menatap lekat tangan Andra yang mengelus-elus pahanya, kalau naik lagi mungkin tangan Andra akan tersisa satu setelahnya.


" Kalo misalnya sekarang saya minta hak saya, apa Kamu mau? ". Sungguh blak-blakkan Andra, tidak tahu saja bagaimana takutnya Laras.


Diam, Laras terkejut dengan perkataan Andra 'bukannya di isi perjanjian tidak perlu minta izin yah'.


" M.. mas gak perlu tanya, bukannya di perjanjian nya mas bisa ambil sesuka hati yah ". Bibir Laras bergetar mengucapkan nya. Sebisa mungkin dia harus tegar menjalani nya.


Andra yang melihatnya dibuat serba salah


" Baiklah ". Ucapnya dan mendekat kerah Laras.


'apa sudah saatnya aku harus memberikan sesuatu yang ku jaga selama ini kepada suami ku'. Itu tidak salah sih, hanya saja Laras masih belum siap.


Andra melepas tangannya yang berada di paha Laras, dan meraih kepala Laras. Laras hanya bisa mencengkram sprei dengan mata nya yang terpejam.


Cup..


Lagi-lagi satu kecupan manis mendarat, tapi bukan dibibir melainkan di kening Laras.


" Sudah tidak perlu takut, saya tidak akan memaksa kok ". Ucapnya dan langsung mendekap tubuh Laras.


" Eh.. ta.. Tapi perjanjian nya ".

__ADS_1


" Tenang saja, saya akan menunggu mu ". Lagi-lagi mencium pucuk kepala Laras. Ah... Benar-benar dapat membuat jantung Laras melemah diperlakukan seperti itu.


Andra mengerti kalau Laras masih belum bisa menerima nya, dia tahu akan itu. Apalagi pernikahan mereka baru terlaksana tadi pagi kan.


" Sudah ayo tidur ". Melepas dekapannya dan mengusap-usap surai panjang Laras.


Andra pun berbaring di ranjang, dan diikuti oleh Laras. Tapi tentu saja Laras memunggungi Andra.


Saling berjauhan pastinya. Kalau lebih tepatnya, Laras yang menjauh dan membuat Andra harus membuang nafas kasarnya.


" Mas ". Laras membuka suara, tapi tetap memunggungi Andra.


" Hmm ". Singkat Andra yang memjamkan matanya


" Besok aku masuk kerjakan ".


" Enggak, besok kamu libur, saya juga libur ". Masih memejamkan matanya


" Emangnya kenapa mas, Harus libur? ". Bukannya Laras tidak mau Libur, hanya saja dia merasa aneh jika harus libur padahal dia tidak ada kesibukan yang lain.


" Karna saya bilang libur, yah libur ". Ucapnya tegas. Oke. Sebaiknya tidak usah membantah perkataan tuan muda yang satu ini.


Hening...


Tidak ada yang membuka suara, padahal mereka berdua masih terjaga, dan saling mengetahui satu sama lain.


" Mas ". Lagi-lagi Laras memecah keheningan. Entah keberanian dari mana Laras mendapatkan nya. Mungkin karena sikap Andra kepadanya satu hari ini sangat berbeda dan memperlakukan nya sebagai istrinya menurut nya. yah, memang istrinya kan.


" Hmm ". Benar-benar jadi kata-kata legend bagi laki-laki yang dingin.


" Mas kan yang bilang sama Laras, kalo bicara itu gak usah formal-formal. Tapi kenapa malah mas yang bicaranya kaya gitu ". Satu tarikan nafasnya Laras mengatakan nya. Mungkin sekarang nyawa Laras ada banyak, makanya keberanian menghampirinya.


Laras yang menyadari perkataan nya yang lancang langsung membekap mulutnya 'wa... Cari mati aku. Aduh... Gimana nih'.


" Eh.. aku cuman bercanda, gak usah dijawab ". Katanya.


" Jujur saja, sebenarnya saya memang tidak biasa berbicara kasual seperti itu ". Membuka matanya. Dibilang tidak usah dijawab, ini malah ngejawab. Tapi bisa buat tenang juga.


" Tapi, tadi aku liat mas bisa bicara santai sama dokter Rasya ". Itu benar kan.


" Oh.. itu karna waktu di pesantren, cara bicara mereka yah, gaul-gaul gitu. Gak mungkin kan saya harus bicara formal dengan mereka ".


" Oh... ". 'jadi mas anak pesantren yah'. Pernyataan yang tidak sengaja itu membuat Laras menjadi girang. Doanya yang dia ucapkan selalu akhirnya tersampaikan. Tapi? Apakah itu hal baik atau tidak, masih menjadi tanda tanya. " Tapi kalo sama aku kok bicara formal mas? ". Kembali ke topik


" Memangnya kamu mau saya bicara pake cara gaul kaya gitu?. Lagian saya juga bicara enggak terlalu formal kan ". Memberikan penjelasan.


'iya juga sih'. Laras terdiam


" Udah, tidur ajah ". Kembali memejamkan matanya.


" Maaf mas, udah nanya sana sini ". 'aduh.. gak jelas banget aku'. Memang tidak jelas kan.


" Gak pa-pa, saya tidak marah. Malah saya senang kalo kamu bicara panjang lebar dengan saya. Tapi ingat! Bicara dengan orang itu harus liat mukanya ". Tetap saja menyindir.


" Maaf mas ". Hanya itu yang bisa di katakan nya.


" Hmm ". Dan tak lama kemudian terdengar suara Andra yang tertidur dan diikuti juga oleh Laras.


...----------------...


" Eughhh ". Rengekan keluar dari mulut Andra saat merasa tubuhnya seperti di timpa sesuatu. Padahal masih subuh.


Matanya kemudian pelan-pelan membuka dan mendapati istri kecilnya yang ternyata menjadikannya bantal guling. Nyenyak sekali tidurnya.


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen, dan vote nya😗.


__ADS_2