
" Assalamualaikum ". Salam Andra dan diikuti oleh Alan. Mereka berdua masuk kedalam ruangan bu Aminah layaknya seorang model yang berjalan di atas panggung, ingat! Imej harus dijaga.
" Waalaikum salam ". Jawab Laras dan bu Aminah bersamaan. Mereka berdua menoleh kearah kedua orang yang baru masuk tadi. Sempat mereka terpana melihat nya, tapi langsung sadar. Laras sadar kalau yang di depannya itu adalah bosnya, sedangkan bu Aminah sadar kalau dia sudah tidak muda lagi, untuk melirik brondong.
Andra kemudian mengambil tangan kanan bu Aminah dan menyiumnya yang diikuti oleh Alan. Bu Aminah dan juga Laras tertegun melihat nya, bahkan bu Aminah tidak bergeming saat tangannya di cium. Deg... Ah.. semoga bu Aminah tidak jatuh cinta. Itu bukan karena bu Aminah jatuh cinta, dia hanya terharu. Terharu karena rupanya Masih ada yang menghormatinya.
Sedangkan Laras terkejut melihat seorang CEO Anastasia Corp menyalami ibunya.
" Ah..! Pak Andra, selamat pagi ". Saat Laras tersadar atas keterkejutannya, dia langsung berdiri dan membungkuk. Layaknya seorang sekretaris. Bu Aminah terkejut mendengar, jika lelaki tampan di hadapannya itu adalah bosnya yang sudah membantu Laras, seketika gambaran bosnya yang buncit dan botak itu hilang tersapu angin.
" Ini bukan di kantor, duduklah ". Andra risih dengan perlakuan Laras. Bagaimana jika bu Aminah malah memandang tidak suka padanya.
Laras pun duduk seperti yang dikatakan Andra tadi, sedangan Andra dan juga Alan lebih memilih duduk di sofa. " Kami duduk disini saja, ada yang ingin saya urus dulu ". Kata Andra dan diangguki oleh Laras dan bu Aminah. Siapa sih yang berani membantahnya.
" Ras, dia pak Andra bos mu itu? Yang ngajakin kamu nikah? ". Bisik bu Aminah, dan sebenarnya masih bisa di dengar oleh Andra dan Alan.
" Iya bu ". Balas bisik Laras
" Wah ... Tampan nya ras ". Bangga Andra mendengar nya. " Ibu kira, bosmu itu om-om, terus botak sama buncit ". Hilang sudah kebanggaan Andra.
" Astaghfirullah bu... Jauh itu mah ". Jangan khayalkan yang tidak-tidak.
" Hahaha lo dikira om-om ". Bisik Alan di telinga Andra, inginnya dia mengejeknya.
" cik, berisik lo ". Untung calon mertuanya, kalo tidak sudah di buang di laut bu Aminah.
Setelah beberapa saat, akhirnya Andra membuka suara.
" Mungkin, ibu sudah mengatahui apa maksud saya datang kesini ". Apalagi kalo bukan menjenguk orang sakit, seharusnya sih begitu. Tapi, karena ini Andra tentu saja dia datang karena ingin minta restu. Siapa tau langsung nikah disitu juga, karena kemarin tidak jadi.
Andra berdiri dan berjalan mendekat kearah ranjang bu Aminah
" Saya kesini ingin menjenguk ibu Aminah, tapi juga saya ingin meminta restu bu Aminah untuk merestui pernikahan saya dan juga Laras, anak ibu ". Kini Andra sudah berada di samping Laras. Seketika Laras langsung berdiri.
Bu Aminah terdiam, dia menelisik ke netra Andra, dan yang dilihatnya hanya ada ketulusan. Entah itu ketulusan apa. tapi dia bisa tau kalau Andra adalah lelaki yang baik-baik. Pengalaman hidupnya yang panjang dan sudah pernah merasakan pahit manisnya hidup, memberikannya pencerahan, kalau Andra adalah lelaki yang baik. Sebenarnya bu Aminah tidak ingin menyerahkan anaknya dengan lelaki yang hanya mengasihaninya saja, tetapi dia juga tidak bisa menolak karena Laras sudah berjanji.
" Bagaimana bu? ". Tanyanya lagi
" Itu tergantung Laras saja, walau bagaimanapun dia yang akan menjalani pernikahan ini ". Melirik kearah Laras, yang diikuti oleh Andra. Lebih tepatnya semua mata disitu melirik melihat Laras. Rasanya tertekan, pandangan mereka seperti meminta jawaban. padahal semua orang sudah tahu apa jawaban Laras.
" Ba.. baik pak, Insyaallah saya bersedia ". Jawabnya, ingin menolak juga tidak bisa, yah terpaksa harus disetujui bukan?.
__ADS_1
Andra tersenyum tipis mendengar nya.
" Alhamdulillah ". Ucap Alan. Dia seperti mewakili bosnya itu, karena dia yakin tidak mungkin bosnya itu akan mengatakan nya secara terang-terangan, tapi di dalam hatinya pasti sudah berapa kali dia mengucapkan nya.
" Tapi, bagaimana dengan ayah atau ibu mu nak Andra? ". Sungguh berani bu Aminah memanggilnya dengan sebutan 'nak'. Karena dia calon mertua maka harus di maklumi.
" Orang tua saya sedang berada di London bu, mereka sedang sibuk ". Sibuk honeymoon lebih tepatnya. " Tapi, mereka sudah mengetahui tentang pernikahan saya bu, jadi tenang saja ". Seperti mengetahui kekhawatiran bu Aminah.
" Oh... Alhamdulillah... ". Bersyukur bu Aminah, karena anaknya tidak dijadikan simpanan nya.
" Kalau begitu saya akan menghubungi penghulu dulu ". Sudah dia siapkan jauh-jauh hari. Dengan Entengnya dia mengatakan nya, sama sekali tidak melihat kearah sekeliling nya yang menatapnya dengan wajah tidak percaya dan terkejut.
" Penghulu pak? ". Terkejut Laras
" Iya ". Jawabnya enteng. Andra mendekat ke telinga Laras dan berkata " no 5 perjanjian ". Bisiknya.
Laras membeku dan mengingat no. 5 dalam perjanjian yang di berikan nya. 'ah.... Jadi langsung nikah nih, ceritanya'. Batinnya
" Bagaimana Laras, apa kau setuju kalau kita menikah hari ini? ". Tanya nya dengan menaikkan satu alisnya.
" I.. iya pak ". Jawabnya gugup.
......................
Penghulu sudah ada disini dan ijab qobul akan di laksanakan sebentar lagi. Seperti yang diakatakan Laras jika pernikahannya tidak akan ada resepsinya hanya ada ijab qobul saja.
Pak penghulu sudah duduk di atas kursi dan di seberang ada Laras dan Andra yang duduk bersebelahan. Sedangkan yang jadi saksi nya ada Alan, bu Aminah dan juga dokter Rasya.
" Apa kalian sudah siap? ". Tanya pak penghulu
" Sudah ". Jawab Andra, tidak biasanya dia menjawab. Sudah dikatakan bukan, kalau dia yang akan paling senang dengan pernikahan ini. Sedangkan Laras hanya mengangguk pelan.
" Muhammad Andra Ansari ".
" Iya ".
" Saya nikah kan engkau dengan saudari Nur Larasati Hidayah binti Almary Hidayah dengan maskawin tersebut di bayar tunai ". Ucapnya dengan menggenggam tangan Andra di atas meja dan di saksikan oleh semua orang yang ada diruangan itu.
" Saya terima nikahnya, saudari Nur Larasati Hidayah binti Almarhum Hidayah dengan maskawin tersebut tunai ". Dalam satu tarikan nafasnya Andra mengatakan nya.
" Bagaimana? Sah? ".
__ADS_1
" Sah..". Ucap para saksi
" Alhamdulillah.... ".
Deg..
Detik itu juga Laras sudah menjadi tanggung jawab Andra, rasanya dia ingin menangis bagaimana tidak dia sama sekali tidak mencintai bosnya itu. Bahkan dia hanya satu kali melihat nya, itu sih menurut Laras.
Sedangkan Andra berbeda. Dia sangat-sangat senang. Kalau tidak ada orang disitu sudah guling-guling dia.
Menikah di rumah sakit bukanlah keinginan mereka berdua, tetapi karena keadaan yang memaksa, bukan ralat Maksudnya karena sang CEO yang memaksa, maka harus dituruti. Apalagi di dalam perjanjiannya juga tertulis.
Andra kemudian memakaikan cincin di jari manis Laras, begitu pun sebaliknya. Cincin itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Entah mengapa saat akan membeli cincin nya dia punya perasaan kalau akan segera menikah. Dan rupanya itu benar.
Laras kemudian mencium tangan kanan Andra dan diikuti oleh Andra yang kemudian mencium kening Laras, dan membacakan doa-doa di keningnya.
Setelah itu mereka disodorkan oleh dua buah buku berwarna merah dan juga hijau. Yap, buku nikah. Uang memang hebat, hanya dalam satu hari saja sudah bisa membuat buku nikah itu. Seperti Semudah membalik telapak tangan saja.
Laras dan Andra menandatangani buku nikah itu.
Tak lama setelah ijab qobul, pak penghulu dan juga dokter Rasya keluar dari ruangan tersebut. Dan yang tinggal di dalam hanya ada Alan, Andra, Laras dan juga bu Aminah.
" Jadi, kamu akan tinggal bersama saya ". Inginnya dia mengajak bu Aminah, tetapi itu tidak mungkin. Bu Aminah tidak bisa bertahan jika tidak ada peralatan rumah sakit. Dan jika dilihat dari kondisi dan penyakit bu Aminah, lebih baik jika dia di rawat di rumah sakit untuk menghindar dari luka gores dan lecet sekalipun.
" Baik pak, tapi saya harus mengambil barang-barang saya dulu ".
" Tidak perlu, nanti saya akan menyuruh bawahan saya untuk mengemasi barang-barang mu ". Andra tidak ingin membuat Laras capek.
" Baik pak ". Tidak punya keberanian dia melawan.
Laras mendekati ibunya " Laras bakal sering-sering datang kesini bu ". Katanya
" Iya, ibu tunggu ". Mengusap-usap tangan Laras
" Ingat, harus nurut sama suami mu, bagaimanapun sekarang, surgamu ada di suami mu ". Nasehat bu Aminah.
" Iya Bu, insyaallah ".
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen, dan vote nya. yg banyak, biar tambah semangat 😗
__ADS_1