
Mobil Laras berhenti di halaman Mansion Ansari.
Pak Supri turun lalu membukakan pintu mobil untuk nona mudanya.
" Trima kasih pak".
" Iya nona ". Selalu saja berterima kasih, padahal itu tidak perlu.
Laras kemudian masuk ke dalam Mansion.
" Selamat datang nona ". Pak Rin sudah siap menyambut kedatangan Laras.
" Iya pak, Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ".
" Sudah pulang nak? ". Mama Ani langsung datang dari belakang Pak Rin
" Iya ma ". Laras mencium tangan kanan Mama Ani. " Ma, katanya tadi mama sama papa pergi jenguk ibu yah ".
" Iya, cuman sekedar nge-jenguk ajah ".
" Oh... Makasih yah mah udah mau nge-jenguk ibu Laras ". Ia sama sekali tidak menyangka kalau seorang nyonya dari keluarga Ansari yang kayanya tidak habis-habis sepuluh turunan itu ingin menjenguk ibunya yang cuman dari kelas bawah. Keterkejutan Laras sungguh terlambat, apa ia tidak merasa terkejut kalau sekarang ialah yang menjadi nona muda dari keluarga Ansari. Seorang istri dari pria idaman di negeri nya dan menjadi mantu paling di sayang.
" Jangan ngomong gitu, walau bagaimanapun sekarang mbak Aminah adalah besan mama ". Mengelus-elus pundak Laras.
" Oh yah, gimana kabar ibu mu? ". Hanya ingin mengetahui pendapat Laras.
Larasa menyerngitkan dahinya 'bukannya tadi mama dari jenguk ibu yah' " Alhamdulillah katanya sehat ". Tapi tetap ia jawab.
" Amin... Alhamdulillah ". 'sepertinya mbak Aminah memang tidak memberitahu Laras keadaan yang sebenarnya'.
" Mas Andra udah pulang ma? ". Mengalihkan pembicaraan nya, ia memang penasaran. Secara sekarang sudah pukul 20.15. gara-gara macet di jalan jadinya ia terlambat sampai mansion.
" Udah, kayanya lagi nungguin kamu. Gih sana samperin ". Sama saja dengan bu Aminah. Sukanya cuman mengusir. Untung dalam maksud yang baik, bukan seperti sinetron yang mengusirnya karena ketidaksukaan.
" Iya mah, kalo gitu Laras naik dulu. Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Laras pun naik kedalam lift dan menuju ke kamarnya.
Di depan pintu.
'aku ketuk ajah yah, siapa tau mas Andra lagi ganti baju atau semacamnya'.
Tok... Tok... Tok...
" Mas, Laras boleh masuk? ". Tanya Laras. Pertanyaannya sungguh tidak masuk akal. Itu tidak perlu ditanyakan lagi kan, karena dengan senang hati Andra akan mempersilahkan nya.
" Iya masuk ajah ". Istrinya ada-ada saja, padahal itu kamar mereka berdua.
Ceklek...
" Assalamualaikum mas ". 'Astaghfirullah, sejak kapan mas Andra ada di depan pintu'. Terkejut Laras yang baru buka pintu tapi suaminya sudah ada di depan pintu.
" Waalaikum salam ". Laras mencium tangan Andra.
" Kok lama ". suara Andra terdengar Kesal karena Laras sama sekali tidak menghubunginya kalau akan pulang terlambat.
" Maaf mas.. tadi dijalan macet ". Laras menyesel, sebenarnya ia lupa menghubungi Andra, dan juga ponselnya kehabisan baterai.
" Haaahhh sudahlah. Udah sholat isya nya? ". Mengingatkan istri untuk sholat, salah satu tugas suami.
" Belum mas, ini baru mau sholat ". Tapi dihadang oleh seseorang, makanya jadi lama.
" Kalo gitu gih sana, mandi trus sholat ".
" Iya mas, sekali lagi Laras minta maaf ". Laras masih menyesal. Sekarang ia sudah bersuami seharusnya sudah wajib baginya untuk menghubungi suaminya jika terjadi sesuatu.
" Gak pa-pa, lagi pula mas juga sudah gak marah. Asal jangan diulangi lagi ". Mengelus-elus surai panjang Laras.
" Mas udah gak marah? ". Mendongak, wajah nya terlihat menyedihkan. Bagai seorang anak-anak yang sedang dimarahi. Satu kata 'imut'.
" Hmm mas udah gak marah. Sana mandi ". Ia sudah tidak tahan melihat wajah istrinya yang imutnya keterlaluan. Untuk menghindari yang namanya khiilaf, ia harus buru-buru mengusir Laras untuk masuk kedalam kamar mandi.
" Iya mas ". Laras berbalik dan masuk kedalam kamar mandi 'emangnya aku sebau itu yah'. Mencium-cium bagian tubuhnya.
__ADS_1
" Haaahh hampir ajah gue khilaf ". Mengusap wajahnya. Gusar. Baru juga dua hari tiga malam mereka menikah, tapi sudah tidak terhitung adiknya bangkit.
...----------------...
Laras telah selesai sholat isya
" Ayo kita turun ". Ajak Andra.
" Ngapain mas? ".
" Kamu belum makan kan? ". Laras mengangguk " saya juga belum ". Lanjutnya, yang membuat Laras terkejut. 'belum? Kenapa? Nunggu aku? Masa sih'. Tidak percaya sendiri.
Laras diam, masih mencerna perkataan Andra.
" Saya menunggu mu, gini-gini sekarang saya sudah menjadi suamimu ". Dan tidak mungkin suami sudah kenyang, tapi istri masih kelaparan. Kan tugas suami untuk menafkahi keluarganya.
" Seharusnya tidak perlu mas ". 'kalo sampe mas Andra sakit, aduh.... Habis aku'. Seorang CEO dari Anastasia Corp sakit gara-gara terlambat makan, mungkin jika masuk berita begitulah isinya.
Andra langsung memegang tangan Laras dan menariknya keluar menuju ke meja makan dibawah. " Saya kan sudah bilang, kalau saya itu suamimu ". Sudah tidak bisa dibantah lagi.
" Baik mas ". Pasrah Laras " tapi mas.... Itu.... ".
Andra berhenti dan berbalik " apa? ".
" Itu mas... Tangan Laras ". Menunjuk tangannya yang di pegang oleh Andra. Mukanya sudah memerah, karena jujur ini pertama kalinya ia di gandeng pria, selain ayah nya.
Andra melihat kearah tangannya dan tersenyum licik. 'he!! Apa-apaan senyuman iblis nya itu, perasaan ku kok gak en.. Auuu'. Andra menarik tangan Laras dan membuat nya jatuh ke pelukannya
" Protes lagi, ku cium ". Bisik Andra
Blusshh
Wajah Laras langsung memerah, Andra yang melihatnya tersenyum menang.
Dan kemudian Laras diam... Takut. Bagaimana jika suaminya itu benar-benar menciumnya, apalagi di hadapan pelayan.
'sumpah jantungku udah gak bisa di kontrol lagi'. Suaminya itu sangat suka menggoda nya. Tapi, ini baru permulaan, masih banyak godaan yang akan di lakukan Andra.
Mereka berdua turun beriringan dengan tangan yang masih terpaut kan ke bawah.
Setelah makan, seperti biasa. Laras akan ke ruang tv berada. Duduk selonjoran di lantai dengan ditemani cemilannya. Yang membedakannya adalah sekarang suaminya juga ikut nimbrung dengan nya. Dan yang mengejutkan nya Andra juga duduk selonjoran di lantai di samping istrinya.
'wah... Nyaman juga yah duduk selonjoran kek gini'. Baru tahu dia. Yah sultan kan tidak mungkin melakukannya, padahal pernah coba jadi gojek, tapi tidak pernah duduk selonjoran.
" Mas... Kenapa mas ikut selonjoran kaya gini ". Mengalihkan pandangannya yang di layar tv ke suaminya.
" Memangnya kenapa? Gak salahkan ". Tidak mengalihkan pandangan nya dari tv.
'yah salah lah. Seorang tuan muda duduk selonjoran. Aduh... Ini gak pa-pa apa'
" Tapi kalo di liat orang lain gimana mas? ". Protes Laras rupanya masih berjalan.
Andra beralih melihat Laras " memangnya ada yang berani menjelekkan seorang Andra? ". Mengangkat satu Alisnya.
'Tidak'. Iyya tidak ada yang berani menjelekkan nya di rumah itu kecuali kedua orangtuanya dan tentunya Alan atau Rasya untung tidak tinggal satu atap
Andra kembali fokus ke layar tv yang menampilkan oppa-oppa 'gantengan gue'. Iya, kamu lebih ganteng. Membandingkan dirinya dengan para aktor yang ditontonnya.
Laras pasrah, rupanya suaminya juga seorang keras kepala. Sama seperti dirinya, hanya saja saat di larang Andra, keras kepala nya sedikit menciut.
Di sela-sela menonton, Andra mulai berbicara.
" Ras besok kamu gak usah masuk kerja ". Santainya. Seharusnya Laras tidak mendengarnya, hanya saja apa yang dikatakan Andra membangkitkan insting was-was Laras.
Sontak Laras berbalik menghadap Andra " kenapa mas? Apa aku ada salah saat bekerja? Tapi perasaan semuanya baik-baik saja. Kenapa mas? ". Tanya Laras bertubi-tubi. Matanya sudah berkaca-kaca.
" Bukan, bukan seperti itu. Besok sekretaris lama saya, yang ambil cuti sudah bisa masuk kembali ". Semoga Laras mengerti.
Laras menunduk , bening-bening air mata nya sudah turun " jadi Laras dipecat? ". Hei.. itu perusahaan suamimu. Sedih? Pastinya, Laras serasa di manfaatkan saja, padahal tidak.
'haa!!? Kenapa nangis! Itukan perusahaan suami mu yang ganteng nya gak ketulungan Ras'. Sumpah minta di tampol, pedenya sangat tinggi. walau memang benar sih.
Andra mengapit kedua pipi Laras dan mengangkatnya. " Jangan nangis ". 'hatiku sakit melihatnya'. Andra mengusap lelehan air mata Laras.
" Saya gak mecat kamu, yaudah kalo kamu masih mau kerja, gak pa-pa ". Tidak tega melihat istrinya itu menangis.
__ADS_1
Laras tersenyum " benar mas? ".
" Iya ". Mengangguk. 'heran gue, biasanya wanita-wanita lain kalo udah dapat suami sultan udah gak mau kerja. Nah ini. Haaahh Istri gue emang beda'
tapi suka
Sedangkan di sisi lain.
Kediaman Arka. Tepatnya di rumah Nisa dan juga suaminya Ardi.
Ardi menghampiri Nisa yang asik menonton di laptopnya " belum tidur yank? ". Duduk di samping istrinya.
" Hmmm ya iyalah, orang masih nonton. Gak mungkin kan ada orang tidur matanya kebuka ". Tidak mengalihkan pandangannya di layar laptop.
" Hahaha iya juga yah ". Ardi juga ikut melihat apa yang ditonton istrinya. " Nonton apa sih, kayanya seru ". Memancing Istri nya. Nisa sangat suka jika apa yang disukainya itu di bahas.
" Ini mas, lagi nonton film yang di angkat dari novel tuh ". Nah... Kan terpancing. Karena Nisa langsung menghadap melihat Ardi.
" Novel? Judul nya? ". Pura-pura tertarik. Ia hanya suka melihat istrinya bersemangat.
" Itu loh mas yang lagi viral. Apa yah judulnya? Aku lupa ". Mengetuk--ngetuk dagunya. Dan itulah Nisa, Suka melupakan sesuatu yang penting.
'hahaha gemesnya'. Sifatnya dengan Andra dalam memuji bidadarinya tidak berbeda.
" Oh iya.. Judul nya Balon Putus. Ceritanya tentang pelakor gitu ".
" Ohh suka sama film yang bau-bau pelakor? ".
" Enggak ".
" Terus? ". 'kok nonton?'
" Cuman ngikutin yang lagi viral ajah. Kan gak seru kalo aku gak tau apa yang lagi viral ". Yah gitulah orang-orang zaman sekarang.
" Oh... ". Ardi sudah tahu bagaimana sifat Istri nya itu, karena itu dia menyukai nya, tapi bukan hanya itu saja. Hanya Ardi yang tahu.
" Oh yah mas. Mas besok cuti mas udah habis kan ".
" Iya, terus? ". Tidak biasanya Nisa menanyakan nya.
" Awas yah mas, kalo mas sampe macam-macam ". Memicingkan matanya.
" Macam-macam? Maksud nya? ". Otaknya belum sinkron.
" Sekretaris yang baru itu wanita kan ".
" Iya terus? ". Masih bingung
" Awas ajah kalo mas sampe punya hubungan dengan wanita itu, atau wanita lainnya ".
" Astaghfirullah enggak sayang ". 'oh jadi itu rupanya'. Korban sinetron memang seperti itu.
" Cuman ngingetin doang, jangan kaya di film ini. Mentang-mentang mas punya banyak duit. Langsung madu-in istri pertamanya "
" Mas gak gitu yank ". Masih membela diri. Karena itu memang tidak mungkin.
" Awas yah.. kalo sampe mas main api. Bakalan ku potong tuh pusaka ". Ardi langsung bergidik ngeri. Karena ia tahu ancaman istri nya itu bukanlah main-main.
" Astaghfirullah enggak sayang, kan mas cuman sayang dan cinta nya sama kamu sama anak kita Rani ". Lembut Ardi, sebisa mungkin ia harus meyakinkan Istri nya. Kalau tidak, bisa-bisa dirinya masuk berita 'gara-gara film Balon putus, istrinya mengikuti nya sampai tempat kerjanya' nah pasti judulnya seperti itu. Langsung viral kan.
" Bener? Janji gak main api? ". Nisa mulai melunak.
" Iya janji ". Tegas Ardi. Nisa yang mendengarnya otomatis Bahagia dan tanpa sadar ia langsung mencium bibir Ardi singkat.
" Jangan menggoda ku sayang ". Ingin mencium lagi, tapi di halang oleh tangan Nisa.
" Ayo yank, kita bikin adik buat Rani ". Berbisik. Hasratnya langsung naik saat dicium.
" Jangan sekarang, aku lagi sibuk nonton-nih ". Fokus kembali pada laptop nya.
" Hahhhhh ". Ardi hanya bisa mengehela nafas 'padahal dia yang mancing, tapi gak bertanggung jawab. Untung sayang'.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya. buanyakin 😙
__ADS_1