
Dan sekarang tinggal mereka bertiga di sofa ruang tamu pastinya. Tidak mungkin kan di kamar.
" jadi, apa yang mama sama papa mau bicarakan. Sampai-sampai mengusir istriku ". Kata-kata 'istriku' sudah tidak pernah luput dari bibirnya.
" Andra, kenapa Laras tadi seperti gak senang saat mama bicarakan tentang resepsi? ". Langsung ke intinya. sifat blak-blakkan juga perlu dalam hidup.
" mending kita bicarakan di ruang kerja baca ajah ". Saran nya 'Kan gak seru kalau imej yang gue bangun sebagai suami yang baik hati dan manis jadi runtuh. Yah, walau gue memang suka ngelakuinnya. Karenakan istri gue tuh gak ada duanya'. Iya, para pembaca juga tahu kalau kau sangat menyayangi istrimu.
" Oke, kita bicarakan di ruang baca ajah ". Papa Rangga juga setuju dengan saran anaknya itu.
Mereka pun pergi ke ruang baca.
Di ruang baca.
Ketiga orang itu kini duduk di sofa dan bersebrangan. Yang lebih tepat nya hanya Andra yang duduk sendiri di seberang dan mama papanya berada di seberang nya. Dengan hanya sebatas meja.
" Jadi? Bisa kamu jelaskan Andra? ". Papa Rangga memulai pembicaraan.
" Iya mama juga penasaran. Apalagi kalian nikahannya kaya buru-buru gitu ". Karena terlalu senang dengan berita jika anaknya menikah, sampai melupakan hal seganjal ini.
Andra menarik nafasnya dan mulai menceritakan semuanya. Dimulai memang dari rencananya yang ingin mendekati Laras tapi karena menurutnya ada kesempatan baik, makanya dia langsung berani menikahinya. Andra menceritakan semuanya kecuali dengan surat perjanjian nikahnya. Karena jika mama dan papanya tahu, entah apa yang akan terjadi pada Andra.
" Jadi kamu memaksa Laras untuk menikah dengan mu? ". Mama Ani benar-benar terkejut mendengarnya. Sedangkan papa Rangga sama sekali tidak bereaksi, karena menurutnya memang ada keganjalan dengan mereka berdua.
" Tapi, sepertinya Laras masih baik sama kamu, walaupun sudah kamu paksa begitu ". Ucap papa Rangga. Yang tidak mengerti kenapa anak mantunya itu sangat baik.
" Iya juga yah ". Mama Ani juga tidak percaya akan itu.
" Karna Laras memang orang baik, yang tidak ada duanya. Dia juga orang paling cantik di dunia ". Andra tiba-tiba tersenyum saat mengingat senyuman istrinya yang dapat menenangkan nya.
Papa Rangga dan mama Ani yang melihatnya menjadi senang sekali dan sangat bersyukur. Semoga Laras dapat membawa kebahagiaan untuk anak satu-satu nya itu, doa kedua orang tua Andra. Tapi sepertinya doa mereka sudah terkabulkan, jika melihat wajah Andra yang begitu gembira hanya dengan mengingat Laras.
" Iya kami tau, tapi apa ibunya Laras tidak marah? ". Kalau mungkin Mama Ani yang jadi ibu Aminah, sudah di tampol Andra.
" Menurut mama, ada yang mau nolak mantu seganteng Andra? ". Wah... Pedenya tingganya sudah setinggi gunung Everest.
'anakku kok sepede ini yah' batin mama Ani dan melirik kearah suaminya. Yang reaksinya datar dan seperti membenarkan perkataan Andra. Seketika mama Ani langsung sadar 'wa... Sepertinya kepedeannya berasal dari papanya'.
" Iya.. iya.. terserah kamu. Gih sana temuin istrimu. Kamu udah gak sabarkan ". Papa Rangga memberikan usulan yang langsung diterima dengan senang hati oleh Andra, tidak perlu nego-nego lagi.
" Baik Andra memang mau kembali, Ah... Istriku benar-benar manis ". Sudah tidak memikirkan sekitarnya jika memuji Laras.
Sedangkan mama Ani dan papa Rangga yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng melihat kebucinan anaknya.
Andra pun melengseng ke kamarnya, bertemu isterinya, tapi baru juga melangkah beberapa langkah, mama Ani mengatakan sesuatu yang membuat Andra menghentikan langkahnya.
__ADS_1
" Andra ingat yah, kamu harus membuat Laras jadi cinta sama kamu ". Mama Ani sudah terlanjur sayang sama anak mantunya.
" Iya Andra tau ". Mengatakan nya tanpa berbalik dan kemudian melanjutkan langkahnya.
Walaupun tidak diberitahu, Andra pasti tetap akan membuat Laras jatuh hati padanya. Bahkan mungkin sampai Laras bergantung padanya dan tidak bisa hidup tanpa Andra.
Tapi mungkin, sekarang Andralah yang tidak bisa hidup tanpa Laras. Padahal Laras sama sekali tidak melakukan apapun.
Tok.. tok... Tok..
Andra mengetuk pintu kamarnya, tapi tidak ada yang menyahut. Dan dengan senang hati Andra membukanya.
Byur..
Terdengar suara shower di dalam kamar mandi menyala. 'oh... Istriku sedang mandi'. ah.. bukannya kata-kata 'istriku' sudah menempel di mulut Andra.
Andra kemudian memilih untuk duduk di sofa. Menunggu Laras selesai makan mandi, karena waktu juga sudah sore, dan mereka belum sholat ashar. Niatnya Andra ingin sholat ashar berjamaah.
Ceklek...
Laras keluar menggunakan baju mendi. Ia kira Andra belum kembali ke kamarnya, makanya tadi dia tidak membawa baju ganti.
Andra yang mendengar pintu kamar mandi terbuka, langsung melirik dan mendapati istrinya dengan rambutnya yang terurai basah dengan memakai baju mandi. Benar-benar menggoda.
" Hmm sudah ". Andra juga tidak berani melihat tubuh Laras. Karena kalau tidak entah apa yang akan dilakukan pada istrinya itu. Walaupun sebenarnya tidak salah sih.
Lagi dan lagi adik Andra bangkit lagi. '****'.
Andra kemudian bangkit dan langsung menuju kamar mandi tanpa melihat Laras. " Kamu belum sholat ashar kan? Tunggu saya, kita sholat berjamaah ". Dan Laras hanya mengangguk saja. Dan Andra pun masuk kedalam kamar mandi.
Setelah nya barulah Laras ke dress room untuk memakai baju.
***
Mereka pun sholat ashar berjamaah. Setelah selesai berdoa, Laras mencium tangan suaminya dan Andra mencium kening Laras. Sudah dikatakan kan kalau kebiasaan Andra Sekaran sangat suka mencium kening istrinya.
Laras masih tidak percaya kalau dirinya akan menjadi istri seorang Andra.
Setelah mereka merapikan mukenah dan sajadah yang digunakannya. Andra kemudian duduk di sofa dan diikuti oleh Laras. Kecanggungan nya sudah berkurang.
" Ras, kan mama sama papa sudah pulang, gimana kalo kita juga ikutan pulang ke rumah kita ". Ia tidak ingin diganggu waktu berdua nya dengan Laras.
" Hmm memangnya ini bukan rumah mas yah? ". Laras mengira jika mereka tetap akan tinggal disitu.
" Bukan, ini rumah mama sama papa kita juga punya rumah sendiri ".
__ADS_1
" Oh... Jadi kita mau pindah mas ". Sebenarnya Laras sama sekali tidak keberatan. Tapi, apa mama sama papa mertuanya bakalan setuju.
" iya, tapi itu terserah kamu saja, kalo gak keberatan kita bakalan pindah ".
" Kalo Laras ikut keputusan mas ajah ". Apapun keputusan Andra tetap akan dia setujui, yang penting tidak merugikannya.
" Oke, kita akan pindah. Tapi setelah kita tanya ke mama dulu yah ". Lembut Andra.
Laras hanya mengangguk. Aneh, kenapa Andra sangat baik padanya, padahal mereka menikah karena terpaksa, itu bagi Laras. Tapi bagi Andra dia malah senang. Kan dia yang memaksa menikah.
" Mas.. kenapa mas baik banget sama Laras? ". Laras tidak habis pikir dengan sifat Andra.
Andra mengerutkan keningnya " karena saya suamimu ". Jelas padat dan jelas. Seharusnya sih seperti itu, tapi Laras tetap merasa aneh.
" Sudahlah saya mau pergi ke ruang kerja dulu, kalo ada apa-apa datang saja ke ruang kerja ".
" Iya mas ". Andra pun pergi ke ruang kerjanya untuk melanjutkan apa yang tertunda tadi.
" Haaaah.. apa sih sebenarnya yang dipikirkan Mas Andra ". Laras masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Andra. Diliriknya jam ponselnya. Sekarang jam menunjukkan 17.05. memang tadi Laras dan Andra terlalu lama mengerjakan sholat nya.
Laras kemudian turun ke dapur, yah apalagi kalau ingin membantu membuat makan malam.
" Assalamualaikum teman-teman ". Pelayan nya sudah di cap sebagai temannya.
" Ah.. waalaikum salam nona ". Jawab mereka bertiga. Bertiga? Bukan berlima?. Yap bukan, mungkin dua Pelayan wanita yang biasanya membantu di dapur punya pekerjaan lainnya. Ada Dilan, Milea dan bi Siti.
" eh Sinta sama Jian kemana? biasanya kalian berlima yang buat makanan ". Laras menengok kesana-kemari tapi tetap tidak ditemukan nya.
ketiga orang itu kaget tidak percaya kalau nonanya bisa mengetahui nama dari kedua pelayan itu, padahal ia sama sekali tidak pernah diberitahu ataupun bertanya.
" Sinta sama Jian ada urusan nona ".
" oh ... yah jadi sepi deh ".
" Apa nona datang membantu lagi? ". Tanya Milea, mereka bertiga sudah mengetahui maksud nonanya itu.
" Boleh? ".
Mile dan Dilan melirik kearah bi Siti, Laras ju ikut menoleh. Dan diangguki oleh bi Siti. " Boleh asal jangan terlalu capek ".
" Oke siap bi ". Mengangkat tangannya dan bergaya seolah hormat kepada bendera. Mereka bertiga yang melihatnya pun tertawa.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya 😙
__ADS_1