
halo guys, aku mau minta maaf dulu. soalnya sempat khilaf lupa buat episode yang iniš¤.
kalian pasti penasaran kan dengan malam pertama Mai dan Alan. jadi kali ini author pengen ceritain nih walaupun gak hot-hot soalnya bulan Ramadhan.
...*Happy reading...
Setelah acara resepsi yang menguras tenaga dan keringat, Mai memilih untuk ke kamar presiden suite room lebih dulu meninggalkan Alan yang masih mengobrol dengan para kolega bisnis.
Setelah berbincang dengan para kolega nya, Alan memilih untuk ke presiden suite room yang di tempati Mai yang baru beberapa jam ia halalkan.
Di depan pintu, Alan mondar-mandir tidak jelas. Terlihat dari wajahnya ekspresi khawatir dan gugup. Sama sekali tidak seperti Alan yang biasanya.
" Masuk gak yah? ". Lirihnya, entah sudah berapa kali ia katakan hal seperti itu.
Alan menggenggam ganggang pintu, sebelum membukanya ia menarik nafas terlebih dahulu lalu menghembuskan nya pelan. 'lu bisa Alan'.
Satu detik... Dua detik.. tiga detik.. tapi Alan sama sekali tidak berniat untuk membukanya, dia malah mematung di tempat, wajahnya terlihat sangat gugup. Padahal hari ini adalah hari yang di nanti-nanti kannya, tapi coba! Apa yang dia lakukan.
Alan menarik kembali tangannya dari ganggang pintu, ia duduk jongkok sembari menyugar rambutnya kebelakang. " Waktu itu gimana yah Ardi masuk kamar di malam pertama? Atau Andra mungkin? ". Gumamnya. " Ekspresi apa yang di pasang mereka waktu itu! ".
Ia berfikir " ahhkk bodoh! Gue berbeda dengan mereka! ". Mengacak-acak rambutnya.
Yah benar apa yang dikatakan Alan, dia bukanlah Andra yang memang berwajah dingin dan arogant, dia bukanlah Ardi yang mempunyai wajah tegas, dia juga bukan Rasya yang mampu menyembunyikan wajah gugup dan selalu tenang di saat-saat genting. Dia hanya Alan, iyya Alan yang memang selalu ceria di setiap saat. Pikir Alan.
" Tunggu kok gue jadi ngerasa gak istimewa yah. Ahhkk dasar author! ". Yah malah salahin author.
Alan berdiri kembali, kali ini ia benar-benar memantapkan hatinya. Di tariknya nafas panjang.... Hingga tak di hembuskan, eh! Ralat di hembuskan kok. Kalo tidak mati dong.
Alan kembali memegang ganggang pintu. " Kali ini gue harus bisa! ".
Ceklek...
Alan membuka pintunya, akhirnya dia berhasil. Bayangan malam pertama yang indah dan untuk pertama kalinya membuat dia ingin terbang melayang. Dimana saat-saat Alan menarik resleting baju pengantin Mai. Mai yang membantunya membuka kancing tuxedo nya. Ahh khayalan nya sungguh indah.
Seperti kata pepatah, ekspetasi tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Yah itulah yang di alami Alan, bayangan-bayangan yang sempat dia bayangkan tadi hilang di terpa angin yang entah dari mana datangnya.
Bagaimana tidak, Mai rupanya sudah mengganti bajunya dengan piyama selutut, sekarang ia terlihat memainkan ponselnya di atas kasur.
" Eh! Lan, ada apa? Ayo masuk ". Mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Alan.
'kok dia kaya ngerasa gak ada sesuatu yang bakalan terjadi sih. Huhhff udahlah! Kan emang istri gue ini kaya gitu'. Dan itulah salah satu apa yang di sukai Alan pada Mai.
" Aku mandi dulu ".
Mai menanggapi dengan mengangguk. Alan pun masuk kedalam kamar mandi. Setelah Alan masuk kedalam kamar mandi, Mai kembali fokus dengan ponselnya yang rupanya ia sedang chatting dengan Laras.
Mai memarahi Laras karena cepat pulang, namun Laras memberikan alasan yang jelas dan masuk akal yang akhirnya membuat Mai mau tidak mau menerimanya.
Dua puluh menit berlalu.
" Alan ngapain yah? ". Gumam Mai. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas.
" Dia gak pa-pa kan. Semoga gak pa-pa deh, tapi apa iyya Alan mandinya lama kek gini ". Lanjutnya, tapi karena tidak ingin terlalu memikirkannya Mai tetap acuh dan kembali pada ponselnya.
Sedangkan di dalam kamar mandi, setelah beberapa menit ia mandi dan memakai jubah mandi nya. Alan akhirnya selesai, namun ia masih mengurung kan niatnya untuk keluar, sedari tadi ia hanya mondar-mandir di balik pintu kamar mandi.
" Huh! Semangat! ".
__ADS_1
Ceklek...
Alan membuka pintu kamar mandi, sontak Mai menoleh dan langsung menaruh kembali ponselnya di atas nakas, Mai tidak menyiapkan piyama untuk Alan. Entahlah ia mempunyai perasaan kalau piyama itu akan dilepas juga nanti. Tapi jujur dia sendiri tidak tahu kenapa sampai berpikiran seperti itu.
Dengan perasaan gugup, Alan duduk di sebelah Mai. " Ehmm kayanya tadi kamu asik banget main hp, lagi liat apaan sih? ". Mencoba untuk basa basi.
" Itu aku lagi tanya penjelasan dari Laras, Kenapa tadi pulang tiba-tiba ". Kalau kalian merasa Mai sangat tenang, oh tentu sangat tenang di luar, Tapi jangan ditanya jantungnya yang sudah berdisko di dalam. Apalagi saat ia mencium aroma Alan yang baru sudah mandi.
" Oh.. ".
Hening.....
'canggung'. Batin kedua pasutri
'duh.. kenapa gue canggung gini sih. Padahal dari dulu gue yang udah kebelet kawin, nah kok sekarang di kacangin sih'.
'suasana nya canggung bangat. Haisss mana nih Alan yang biasanya tidak pernah canggung. Ck, kok aku kaya berharap bangat sih'.
Alan kembali berfikir. 'benar juga gue harus garcep'. Menyemangati dirinya. Benar saja Alan bukanlah Andra yang mempunyai gengsi tinggi, Alan sudah tidak punya malu terhadap Mai.
Alan berbalik dan di saat itu juga Mai juga ikut berbalik, otomatis wajah Alan dan Mai saling berhadapan.
Dan detik berikutnya " hahahahaha ". Tawa mereka berdua pecah.
" Hahah kok jadi kaya gini sih, sejak kapan kita canggung-canggung an gini ".
" Haha benar juga ". Mai ikut menimpali.
Alan menaruh tangannya di pipi Mai. " Kamu udah siapkan Mai ". Mengangkat satu alisnya dengan senyuman menggoda.
Mai menelan susah-susah salivahnya.
Mai mengangguk malu, wajahnya memerah. Ia tidak ingin durhaka pada suaminya yang akan meminta hak nya. Lagi pula mereka menikah Memang karena cinta dan tanpa paksaan.
'yes'. Wajah Alan langsung berbinar.
Tanpa basa-basi lagi, Alan mendekatkan bibirnya dan bibir Mai. Mai menahan nafasnya, ini pertama kali baginya. Alan mulai me*umat bibir Mai, walaupun kaku, Mai juga membalas yah walaupun kaku juga.
Beberapa saat mereka saling memanggut, hingga akhirnya Alan melepas pagutannya karena nafas yang ngos-ngosan. Alan menempelkan dahinya ke dahi Mai, wajah mereka berdua memerah.
" Hehe ". Kedua orang itu terkekeh.
Alan membelai pipi Mai, terlihat di wajah kedua pasutri baru itu gairah dan hasrat yang sudah tak tertahan. " Beb boleh kan ". Masih membelai pipi Mai. Alan kembali meminta izin untuk memastikan kalau istrinya itu bersedia.
" Issh kok tanya lagi sih ". Kesal Mai, ia terlalu malu hanya untuk mengangguk.
" Hehe iya deh, aku mulai yah ". Mai akhirnya mengangguk kembali.
Dengan cepat Alan me*umat bibir Mai dengan penuh perasaan, awalnya sih penuh cinta, tapi lama-lama ciuman itu semakin menuntut hingga Alan mencium ke leher Mai.
Alan mengikuti naluri sebagai pria, tangannya mulai menjelajah ke buah kembar sang istri. Di ***** nya dan di gigit buah dada Mai.
" Ah... ". Lenguhan berhasil keluar dari mulut Mai yang membuat Alan semakin bersemangat.
Hingga Alan sampai kebawah, dan entah sejak kapan mereka berdua sudah sama-sama polos dan saling tatap penuh kekaguman tubuh pasangannya masing-masing.
" Kamu cantik bangat sayang... Ah.. ". Ucap Alan.
__ADS_1
Alan mulai memasukkan goloknya kedalam lembah Mai.
" Ahhkk sakittt ". Pekik Mai kesakitan
" Maaf.. maaf.. apa aku lepas ajah ". Wajah khawatir Alan terlihat. Ia takut malah melukai sang istri.
Mai menggeleng " lanjutkan ".
" Tapi.. ".
" Gak pa-pa... ". Menahan sakit dan hasratnya.
Alan kembali memulai aksinya " ahkkk ".
Dan penyatuan di antara mereka tak terhindarkan lagi. Kini Mai sudah menjadi mantan perawan begitu pun Alan yang sudah menjadi mantan perjaka.
Kamar hotel itu hanya terisi suara-suara laknat yang datang dari kedua pasutri yang sedang memadu kasih.
...***...
Mentari di uhuk timur mulai menampakkan diri, menggantikan bulan yang masa kerjanya sudah habis. Dengan malu-malu sang mentari mencoba untuk membangunkan kedua pasutri yang semalam habis memadu kasih di ikatan halal.
Alan membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam mata.
Hal pertama yang ia lihat adalah sang kekasih hati dan sudah ia ikat dalam hubungan halal. Alan mengecup kening Mai, ia sama sekali tidak berniat untuk membangunkan Mai ataupun ia sendiri yang bangun. Rasanya seharian ini ingin ia habiskan di dalam kamar.
Alan tak sengaja melihat nakas dan terlihat ponselnya yang menganggur. Padahal biasanya sang bos sudah menelpon.
Bos? Mengingat Andra membuat Alan tersenyum menang. " He! Gue menang! Malam pertama yah emang harus malam pertama. Bukan kaya sih bos yang gantung. Telpon ah.. ". Di ambilnya ponselnya dan mulai me-nscrool ponsel yang di pegang, setelah mendapat kan apa yang di carinya, Alan pun memencet nomor telepon Andra.
" Assalamualaikum Andra ". Suara Alan bersemangat
" Hmm wa'alaikum salam. Ada apa? ". Suara Andra juga terdengar segar, karena memang sekarang sudah jam 8.30
" Gue menang Andra! ". Ucapnya percaya diri
" Menang? Menang apaan! ".
" Semalam gue malam pertama ".
" Nah trus.. hubungan nya gue ama lu yang malam pertama apaan? ". Terdengar suara Andra sudah jengah.
" Ya iya adalah. Lu kan waktu malam pertama di punggung-in Laras, nah gue malam pertama dapat kenikmatan dunia hahahah ". Tawa Alan pecah.
" Cih. Pamer lu, lagi pula lu baru satu kali, nah gue udah gak kehitung ".
" Ah yang penting gue yang menang!! ". Alan tak mau kalah.
" Serah! ". Tanpa aba-aba Andra langsung menutup sambungan telepon.
" Ck di tutup. Bilang ajah iri, ah yang penting gue menang ". Tersenyum puas. Ia kembali menaruh ponselnya di atas nakas dan kembali tidur memeluk sang istri dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
...----------------...
Dan itulah malam pertama merekaš. Othor sengaja gak buat terlalu hot soalnya lagi puasaš¤
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya
__ADS_1