
Mai masuk kedalam mini market guna membeli perlengkapan di apartemennya. Ia sudah tidak tinggal bersama orangtuanya, sudah punya penghasilan sendiri maka dia juga sudah bisa hidup sendiri.
Karena hari ini akhir pekan, Mai tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk melengkapi kebutuhan nya selagi senggang. Hari-harinya selalu sibuk tidak ada kesempatan untuk hanya membeli kebutuhan nya yang kurang, apalagi untuk bersantai.
Setelah dari mini market, Mai berjalan kaki kembali ke apartemennya yang memang dekat dari situ.
Pakaian nya hanya sebatas piyama dengan gambar beruang lengan panjang untuk celananya, dan lengan pendek untuk bajunya. Sedangkan di luarnya ia menggunakan jaket tipis, hanya untuk menutupi tangannya yang terbuka. Tak lupa dengan sendal jepit nya. Rambutnya ia urai begitu saja. Dirinya terlalu malas hanya untuk sekedar mengikatnya.
Di sepanjang jalan, sepi... Terkadang jika orang lain mungkin mereka akan bernyanyi-nyanyi hanya untuk meramaikan suasana, atau mungkin bermain ponsel untuk menghibur diri. Tapi inikan Mai, si datar seperti dadanya.
Eh!! Iya yah, dada Mai memang datar mirip ekspresi wajahnya. Cantik-cantik tapi datar.
Diam.... Mai tidak tertarik untuk melakukan aktivitas yang sempat di sebutkan di atas tadi.
Hingga...
Ckittttttttttt
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya, menghalangi jalannya. Mai menatap nya datar lalu hendak memutari mobil tersebut.
Namun, mobil sedan hitam itu tiba-tiba terbuka dan keluar lah seorang pria tampan yang sedang tersenyum kearah Mai. Yap siapa lagi kalau bukan Alan.
Sehabis mengantarkan Risa dan keluarga nya kembali ke rumah gubuknya, Alan tidak sengaja melihat Mai yang sedang berjalan dengan menenteng kresek.
'hahhh orang merepotkan datang nih'. Belum apa-apa Mai sudah malas melihat kedatangan Alan.
Mai hendak berbalik saat Alan sudah mulai mendekati nya, namun sebuah tangan menahan lengannya yang membuat Mai berbalik dengan wajah datarnya dan tatapan malasnya.
" Assalamualaikum calon ibu dari anak-anakku ". Menampilkan senyuman manisnya.
" Haisss Waalaikum salam ". Memutar bola matanya mendengar perkataan Andra.
" Dari mana Maimunah ku? ".
" Aku bukan milik siapa-siapa ". Ketus Mai
" Sekarang masih belum, tapi sebentar lagi pasti iyya ". Ucap percaya diri Alan
Mai mendelik kesal. Lalu melanjutkan langkahnya, tapi lagi-lagi langkah nya harus terhenti karena lengannya lagi-lagi di tarik oleh Alan.
" Kenapa lagi sih ". Kesal Mai. Hari ini akhirnya ia dapat libur, tapi liburannya malah di ganggu sama kedatangan orang yang merepotkan baginya.
" Mau pulang kan? Ayo aku antar ". Membuka pintu mobilnya
" Terimakasih, tapi tidak perlu ". Tolak Mai dengan mengangkat salah satu tangannya setinggi dada
" Tidak! Tidak ada penolakan ".
Mai menatap nya dengan tatapan malas. Memangnya siapa Alan yang perintah nya harus di turuti? Memangnya Alan yang menafkahi nya? Memangnya Mai akan kena azab kalau tidak menuruti perkataan Alan? Tidak kan!! Jadi, untuk apa di turuti.
" Kamu tidak berhak memaksa ku. Terserah aku mau naik atau tidak! ".
__ADS_1
" Yaudah kalo gak mau naik. Aku Pergi ajah ke rumah keluarga Rasyad. Bilang mau ngelamar anaknya, 1000% Pasti mereka langsung setuju, walau tanpa persetujuan dari anaknya ". Masih memegang pintu mobil agar tetap terbuka
" Papa ku tidak mungkin seperti itu ".
Alan tersenyum licik " kau yakin? Hmm ". Menaikkan sebelah alisnya
Mai terlihat berfikir. Bagaimana kalau rupanya papanya menjualnya kepada orang kaya di depannya ini? Pikirannya meracau kemana-mana. Padahal papanya tidak mungkin melakukannya, tapi karena kebanyakan baca novel tentang CEO atau drama, membuat nya berpikiran yang tidak tidak.
Lagi-lagi Mai berdelik, ia menatap tajam Alan dan yang di tatap malah memberikan senyuman manis.
Mai langsung masuk kedalam mobil, karena pintu mobil memang masih terbuka di tahan Alan.
Setelah Mai masuk barulah Alan menutup nya. Dengan senyuman kemenangan nya, ia memutari mobil nya dan masuk kedalam. Ancamannya berhasil, seperti yang dikatakan Alan. Sebenarnya sangat mudah bagi Alan untuk sekedar menikahi Mai dengan bantuan papa Mai sendiri. Siapa sih yang tidak mau punya mantu seperti Alan, sudah tampan, latar belakang nya oke, pekerjaan juga oke, hartanya jangan ditanya lagi. Tapi, Alan tidak mau mengambil raganya saja, ia juga mau hati dan cinta nya Mai.
Setelah masuk mobil, Alan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat pelan, bahkan pesepeda lebih cepat dari pada Alan yang tengah membawa mobilnya.
" Cik, kenapa pelan sekali sih. Cepatin dong ". Mai mendelik. Mending jalan kaki dari pada naik mobil, tapi serasa jalan kaki.
" Duduk tenang ajah, aku yang bawa mobil jadi suka-suka aku ".
Lagi dan lagi Mai berdelik. Sudah! Tidak mau lagi ia membantah.
" Kok telepon ku gak di angkat semalam? ". Alan sudah mendapatkan nomor ponsel Mai dengan cara curang nya. Ia menyogok salah satu perawat di rumah sakit tempat Mai bekerja agar memberikan nomor ponsel Mai. Dan Mai tahu itu, tapi tidak bisa apa-apa.
" Aku kira orang iseng, makanya ku blokir ". Dusta Mai. Ia sengaja memblokir nya karena tidak mau berhubungan dengan Alan.
Alan tahu akan hal itu, tapi tidak terlalu memusingkan nya. Tinggal ganti nomor ponsel untuk menelponnya balik, gampang kan. Lagi pula nomor ponsel Mai sudah ia hapal.
Mai memutar bola matanya " yah tinggal ku blok lagi ". Nah itu juga gampang.
" Hahaha tinggal ganti nomor ponsel jadi baru ". Alan tak mau kalah
" Please deh, gak usah ganggu aku bisa kan?! ".
" Sayang seribu sayang... Itu gak mungkin. Kalo kamu nerima cinta ku, yah nanti yang dirasa gangguan jadi candu loh ".
Lagi dan lagi Mai memutar bola matanya " terserah ajah deh ". Kesal Mai. Kesabarannya sudah di ambang batas. " Sabar... Sabar... Orang sabar di banyak rezekinya ". Sambil mengatur nafasnya.
Alan yang mendengarnya Terkekeh geli " bukan gitu Maimunah ku.... Kalo kamu sabar di tambah di sayang aku ". Ucapnya tapi masih fokus pada jalanan.
'apa aku selamat kalo lompat dari dalam mobil keluar yah'.
...
" Aaaa... Pintar anak mama. Lagi sayang.... ". Kembali menyuapi Rani, anaknya Nisa dan juga Ardi bubur.
" Pa.... Laras kan tinggal di rumah tuan muda kamu kan ". Tidak melihat Ardi yang ada di atas sofa, tapi masih fokus pada anaknya.
Ardi mengalihkan pandangannya dari koran ke Istri dan anaknya
" Iya.... Terus? ". Tidak biasanya Istri nya itu bertanya
__ADS_1
" Aku mau deh ke rumahnya, mau ketemu Laras, sekalian pengen liat tampangnya suaminya ". Memberikan air minum pada Rani menggunakan sendok.
" Kalo penasaran sama wajah tuan muda Andra, kan bisa liat di majalah ".
" Iya udah aku liat, tapi masih penasaran ajah ". Menggendong anaknya dan ikut duduk di sofa samping suaminya.
Ardi mengambil anaknya lalu memangkunya.
" Tanya Laras ajah.... Kan itu rumahnya Laras sama tuan muda ".
" Iya juga yah ". Menyengir " wajah suaminya Laras ganteng banget yah pa... ". Membayangkan wajah Andra. Apalagi saat buka mata, eh! Tau tau di samping sudah ada Andra. Uhhhh mantap deh. Astagfirullah... Nisa ingat suamimu yang sekarang mukanya sudah memerah karena marah.
" Jangan mikirin laki-laki lain yank. Aku hukum tau rasa ".
" Hehehe enggak lah suamiku sayang.... Kan kamu yang paling ganteng di mata mama ". 'bisa encok aku kalo kena hukum'. Suami kalau hukum istri, pasti di atas ranjang. Kaya gak ada hukuman lainnya.
" Gak ada! Nanti malam mama dapat hukuman. Siap siap ajah! ". Tersenyum devil yang membuat Nisa bergidik.
Sudah masuk sarang harimau, akan susah untuk keluar. Lagi pula, salah sendiri membangunkan harimau tidur. Anggap saja hukumannya sebagai malam berkah, yah untung-untung. Siapa tau adiknya Rani tumbuh gara-gara hukuman nya.
Nisa mencebikkan bibirnya. Lagi-lagi suaminya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Nah menyesal sendiri kan, membahas tentang suami orang.
Cup
Ardi menyosor bibir istrinya yang di manyun-manyunkan
" pa.....!! ".
" iya ma.... ".
" issssh ". delik kesal Nisa
" hahaha jangan ngambek yank ".
Rani yang mendengar Papa nya tertawa, ikut tertawa juga. Gadis berusia belum hampir setahun itu ikut memukul-mukul wajah papanya sembari tertawa.
" hahhaha ada apa anaknya papa... hmmm ". mencium gemas wajah anaknya.
Nisa ikut nimbrung " anaknya mama cantik banget sih... ".
" ya iyalah cantik... kan papanya ganteng ".
" mamanya yang cantik! ". Nisa tak mau kalah. Rani kan perempuan, jadi Nisa yang seharusnya cantik. Apa bedanya? kalo salah satu di antara mereka ada yang good looking, Insyaallah anaknya good looking. Apalagi kalau dua-duanya good looking, udah deh! pasti mah anaknya juga ikut good looking.
" sama ajah mah. kan papa ganteng, mama juga cantik ". menengahi. Dari pada nanti terjadi perang antara panci dan kawan-kawannya berterbangan memburunya. Disertai teriakan membahana dari Istri nya dan kicauan mulut tetangga yang pastinya tidak akan diam melihat ataupun mendengar panci-panci nya terbang.
" haha iya yah pah ". untung mengerti. Kalau tidak bay... bay... panci dan kawan-kawan. Kegunaan kalian sudah di alihkan.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen, dan vote nya
__ADS_1