
Mobil memasuki halaman rumah Andra.
" Ayo turun ". Titah Alan.
Mereka bertiga pun turun. Saat turun, mereka tidak dapat berkata-kata lagi melihat keindahan rumah Andra, mewah tapi terlihat minimalis. Sepertinya siapapun yang pertama datang ke rumah Andra akan menampilkan ekspresi yang sama.
Menganga dan tak dapat mengatakan apapun lagi. Untung lalat di rumah Andra tidak ada, kalau ada sudah pasti lalat tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk masuk kedalam mulut mereka. Lalat nya sudah bosan dengan tempat sampah.
" Ngapain bengong! Ayo masuk! ". Alan kembali memerintah saat melihat ketiga orang itu yang hanya bengong sambil menganga.
" Ini rumah siapa pak? ". Kevin yang memang baru pertama datang ke rumah yang seperti itu membuat nya tidak dapat menutup mulutnya lagi.
" Sudah tidak perlu bertanya, ayo masuk ".
Mereka bertiga hanya mengangguk dan akhirnya mengikuti langkah kaki Alan untuk masuk.
Nah kalo kalian penasaran, kenapa mereka tiba-tiba sudah ada di mobil... oke kita flash back dulu..
Pagi itu, keaadan di gedung perusahaan Anastasia Corp, tidak seperti biasanya. Ada yang takut, tegang, penasaran, bahkan ada yang kembali bergosip. Tentang apa yang mereka lihat kemarin.
Sedangkan Rina, Kevin dan Aisyah juga ikut penasaran dengan kebenaran berita yang di katakan Ardi kemarin. Tapi tetap mencoba untuk tenang dan mengerjakan pekerjaan nya pekerjaan nya dengan baik.
Sedangkan orang-orang yang terlalu menghina Laras kemarin, sudah tidak terlihat di kantor pagi ini, yang pasti membuat mereka semua bergidik. Dan orang-orang yang tidak memperdulikan kejadian kemarin dan cuman bodo amat, akhirnya bernafas lega karena tidak ikut menghina kemarin. Sikap bodo amat mereka menyelamatkan nya.
Mana CEO mereka tidak datang hari ini lagi! Semua meeting di pending, bahkan ada yang dibatalkan. Walaupun akan rugi sampai ratusan bahkan miliyaran US$.
'apa kak Laras baik-baik ajah yah'. Aisyah tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Ayo Aisyah kamu harus fokus, walau bagaimanapun kamu masih anak magang, jangan sampai di depak duluan.
" Aisyah kamu di panggil pak Alan tuh ". Suara seorang wanita memecah lamunan Aisyah.
" Eh! I.. iya? Ada apa? ". Tidak terlalu mendengar apa yang di katakan wanita tadi.
" Tuh pak Alan....___ ".
" Kamu Aisyah kan? Ayo ikut aku! ". Sudah berjalan duluan, tanpa mendengar balasan dari Aisyah. Memotong perkataan wanita tadi, yang memang hanya berperan sebagai pemeran pendukung yang cuman sekedar lewat saja. Namanya saja di sensor.
" Ba.. baik pak ". Walaupun ada banyak pertanyaan di dalam benak Aisyah, tapi ia tidak sanggup untuk hanya bertanya.
Mereka terus berjalan, sampai di dalam lift. Orang-orang yang melihatnya tidak berani untuk menggosip lagi. Mengingat hal yang kemarin. Apalagi mereka juga masih sayang dengan nyawanya.
" Tunggu aku di parkiran ". Ucap Alan saat pintu lift sudah terbuka.
" T.. tapi saya mau di bawa kemana pak? ". Salah satu dari banyak nya pertanyaan di benak Aisyah berhasil keluar.
Alan melihat malas Aisyah " tidak perlu bertanya ". Ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Aisyah yang masih bingung dan penasaran.
Dengan langkah beratnya, Aisyah pergi menuju parkiran.
Tak lama ia menunggu... Akhirnya Alan turun, dan bukan sendiri tapi ada dua orang di belakangnya yang pasti sangat tidak asing.
" Kak Rina, kak Kevin ". Gumamnya. Sebenarnya mereka mau di bawa kemana? Ah.. kita sudah tau yah, sssttt jangan di beritahu.
Saat ketiga orang itu sudah sampai di depan Aisyah. Kevin dan Rina sempat mematung. Mereka bertiga saling pandang, bertanya-tanya. Apa yang di lakukan nya disitu? Dan akan di bawa kemana mereka?.
Sedangkan Alan sudah membuka pintu kemudi, tapi ketiga orang itu malah bengong sambil saling memandang.
" Hei.. ayo masuk! Kenapa malah bengong! ". Teriak Alan.
Dengan penuh pertanyaan, mereka bertiga pun masuk.
Di dalam mobil hening...
__ADS_1
Hanya Alan yang terkadang bergerutu tidak jelas " kenapa malah gue yang jadi supir sih! ". Hal itu yang selalu ia rapalkan.
Oke.. itulah flash back nya, kita kembali lagi.
Sekarang ketiga orang yang penuh pikiran dan tanya, akan dimana mereka? Dan apa yang akan di lakukan padanya?. Sudah ada di dalam rumah
" Kalian duduk lah dulu ". Titah Alan saat mereka sudah ada di dalam. Dan Alan malah mendapati ketiga orang itu yang hanya bengong, terlihat jika mereka terkesima dengan interior rumah Andra.
" Duduk! ". Tegas Alan. Apa sih mau nya mereka, disuruh duduk malah bengong, nanti disuruh berdiri terus malah berceloteh sakit kaki, pegal kaki.
" Ba.. baik pak ". Walaupun masih ada banyak pertanyaan di benak mereka. Tetap mereka duduk, menuruti keinginan atasan nya. Dari pada gajinya yang jadi ancaman.
Setelah ketiga orang itu duduk, Alan menghampiri bi Siti. " Bi buatin mereka air minum. Kopi ajah, gak perlu tanya mereka ". Kalau di tanya, malah saling pandang lagi yang bisa-bisa membuat mereka jatuh cinta ea... Eh! Kalau di tanya, malah akan lama lagi.
" Baiklah ". Bi Siti pun pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk ketika orang itu, yang seperti di hipnotis saja. Ikut saja tanpa tau mau di bawa kemana atau mau di apakan.
Sedangkan Alan pergi ke lantai dua, untuk memanggil bosnya.
.............
Laras sedang bersandar di dada suaminya di atas tempat tidur dengan posisi Andra Yang bersandar di pan ranjang, sembari mengelus-elus surai Laras.
" Mas.. kok kita gak kerja sih ".
" Sekarang kamu udah gak perlu kerja lagi ". Jawab santai Andra, ia sudah memantapkan hatinya untuk mendengar dan menghadapi tingkah Laras yang pasti protes.
Laras menarik kepalanya dari dada Andra " ha! Jadi aku di pecat? ". Terlihat wajah Laras yang sudah akan menangis.
" Bukan di pecat, itukan perusahaan suamimu. Jadi, itu juga perusahaan mu sayang.. oke?! ".
Dengan sangat berhati-hati Andra menjelaskannya, agar air mata Istri nya tidak keluar, karena pasti akan membuat nya luluh lagi. Tapi sekarang ia tidak mau mengalah, apalagi Istri nya yang sedang hamil dan tentu fisik nya juga lemah, dan perasaan nya yang lebih sensitif. Pending dulu kata-kata, kalau perempuan selalu benar.
" Gak ada tapi-tapi an, kamu sedang hamil sekarang sayang... Gak boleh capek-capek. Rasya yang bilang ". Nama-nama Rasya akhirnya di bawa.
" Hmm baik... ". Walaupun hati yang masih tidak menerima nya, tapi tetap harus disetujui. Walau bagaimanapun sekarang dia sedang berbadan dua.
Andra bangun dari sandaran nya, lalu mendekat ke wajah istrinya. " Jangan ngambek sayang... ". Menangkup wajah Laras, lalu mencium bibir Laras lembut, Laras pun membalas nya lembut juga.
Setelahnya barulah Andra melepaskan nya, lalu menempelkan dahinya dan dahi Laras. Sembari memegang kedua pipi Laras menggunakan tangan nya. Sedangkan jempolnya ia gunakan untuk mengelus-elus wajah Laras.
" Iya mas.. enggak kok.. aku bakalan nurut sama mas ". Ucap Laras yang pasti membuat Andra bahagia.
" Makasih sayang.. ". Mengecup ujung hidung Laras.
" Hahah mas.. kok di hidung sih ". Entah mengapa, tapi Laras seperti ingin tertawa begitu saja.
" Hmm Memang nya maunya dimana? ". Langsung mengecup singkat bibir Laras " disini? ". Memberikan senyuman manis tanpa dosanya.
" Issshhh ". 'dasar suami pengambil kesempatan dalam kesempitan'. Laras mendengus, dengan bibir nya yang di majukan, eaaa.. maju.. mundur.. mundur lagi.. stooop... eh!! Ini bukan parkiran!!.
Tingkah Laras yang seperti itu, semakin membuat Andra gemas. Andra dengan cepat mencium bibir Laras sekilas, yang membuat empunya semakin mendengus kesal.
" Ah.. tau ah.. mas Andra mesum! ". Melipat kedua tangannya di bawah dadanya, dan memalingkan wajahnya ke samping. Tidak ingin melihat wajah suaminya.
'pasti hormon kehamilan nih'.
" Cie... Ada yang ngambek nih.. ". Goda Andra. Ia mendekati Istri nya
Laras semakin kesal. Entah lah, akhir-akhir ini ia merasa cepat kesal hanya karena masalah sepele. Misalkan, saat Andra memakai sepatunya sebelah kiri dahulu lalu sebelah kanan, hal itu juga membuat Laras kesal. Alhasil.. Laras menyuruh Andra untuk mengulanginya. Untung Andra tidak marah dan malah semakin gemas melihat Tingkah Laras yang seperti anak-anak itu.
Andra yang melihat Laras semakin kesal, mencoba untuk mendekati nya. Lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Jangan marah dong sayang... Mas cuman becanda ". Mengecup pipi Laras.
Laras tidak menggubrisnya yang membuat Andra semakin merasa bersalah. Sudah tahu kalau Istri nya sedang hamil yang tentu perasaannya juga semakin sensitif, eh! Malah di goda. Rasakan sendiri akibatnya.
" Sayang... Gak baik loh bagi istri yang mengabaikan ucapan suami, dalam agama di larang loh, apalagi kalo cuman masalah sepele ". Andra akhirnya membawa-bawa agama.
Laras yang memang takut dosa, dan takut akan karma sang maha kuasa. Akhirnya ia berbalik dan menatap suaminya. Andra yang berhasil membuat Laras berhasil berbalik, mencoba untuk kembali membujuknya. Lampu hijau untuk baikan sudah nyala.
" Maaf yah... Mas cuman becanda ". Memperlihatkan puppy eyes nya.
'ihh mas Andra curang.. gemes tau~'
" Ehem.. iya aku maafin ". Laras tidak bisa marah lama-lama dengan sang suami.
Andra Kembali memeluk Laras " hehe makasih yah sayang ". Laras hanya mengangguk.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu membuat Andra melepas pelukannya. Lalu mendengus kesal.
" Siapa sih ganggu ajah! ". Gerutunya
" Hahah udah mas.. bukain ajah, entar pintunya do rusakin lagi ". Apalagi mendengar suara ketukan yang semakin keras. Membuat Laras risih sendiri
Dengan langkah beratnya Andra membuka pintunya. Ia menatap malas seseorang yang sedang ada di depan pintu.
Andra kembali menutup pintunya.
" Woi.. napa ditutup lagi sih!! ". Alan menggedor-gedor kembali pintu tersebut.
" Mas.. bukain gih.. ". Mengambil ponselnya di atas nakas. Lalu mulailah ia me-nscrool sosmed.
Andra kembali membuka pintunya " apa sih! Ganggu ajah! ". Ketus Andra
" Woi.. lo yang suruh gue manggil ketiga orang itu. Nah gue udah bawa kesini. Terus mau di apain tuh? ". Dia yang suruh malah lepas tanggung jawab
" Huuufhh oke, tunggu gue di bawa. Entar gue nyusul ".
" Cepetan! Jangan pake lama ".
" Iya.. iya.. sana!! ". Mengusir Alan Dengan melambai-lambaikan tangannya ke udara.
" Cik... Soplak lo ". Pergi dengan parasaan yang kesal.
Andra kembali menutup pintunya, dan melangkah kembali ke dekat Laras di atas ranjang.
" Ada apa mas? ". Menaruh kembali ponselnya di atas nakas.
" Urusan pekerjaan ".
" Oh.. kalo gitu sana gih.. ngurus kerjaannya ". Nah sekarang Laras lah yang mengusir, untung tidak pake lambai-lambaian bak pohon kepala di pinggir pantai yang terkena angin.
" Haaahhh iya.. iya.. ". Mencium Pucuk kepala Laras.
" Istirahat yah.. mas turun dulu ". Dan di angguki oleh Laras.
Andra pun turun kebawah setelah mengucap salam. Dan kembali mencium bibir Laras singkat. Bibir yang sudah candu baginya.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya
__ADS_1