
" Di, ayo makan siang? ". Alan datang mengajak Ardi, biasanya sih mereka makan bertiga. Tapi sekarang Andra lebih memilih makan siang bersama Laras.
" Lo kenapa? Kaya habis liat setan ajah ".
" Ah.. Alan, bukan setan lagi... ". Akhirnya berdiri.
" Kenapa? Habis liat apa si? ". Melihat wajah Ardi yang pucat pasi seperti itu, membuat nya bertanya-tanya, sebenarnya ada apa?.
" Pak Andra kayanya sayang banget ama Laras ".
" Wiss berani bener lo sebut-sebut nama nona muda Ansari dengan santainya ".
" Hee? Memangnya kenapa? Aku udah kenal lama ama Laras ". Itu benar kan
" Ha!! Lo udah kenal lama ama Laras? ". Percaya? Tentu tidak, siapa sih Ardi sampai bisa mengenal seorang nona muda Ansari.
" Iya aku udah kenal, Laras itu sahabatnya istriku ".
" Gak usah pake aku-kamu deh. Pake lo-gue ajah, biar lebih nyaman ". Sudah tidak terhitung ia mengatakan nya. " Haa?! Yang bener? Kalo Laras itu sahabat istri lo? ". 'yang galak itu'. Tidak bisa ia lanjutkan. Keterkejutannya sempat tertunda.
" Aku gak biasa pake bahasa-bahasa gaul kaya gitu ". 'entar aku di bambat lagi sama Nisa'.
" Iya, Laras itu sahabat Istriku ".
" Gue gak nyangka.... Udah deh kita ke kantin ajah, terus ceritain semuanya ". Alan adalah seorang kepo-pers.
" Baiklah ". 'padahal aku yang butuh penjelasan dari Laras, malah aku yang harus menjelaskan ke Alan'.
Mereka berdua pergi ke kantin kantor. Hal yang sangat langkah.
Sedangkan di dalam ruangan Andra.
Terlihat dua orang pasangan, yang sedang duduk di sofa.
" Ah saya lupa belum memesan makanan ". Karena terlalu buru-buru untuk memanggil Laras makanya dia sampai teledor.
" Gak pa-pa mas, itu malah bagus. Soalnya Laras bawa bekal ". Memperlihatkan sebuah pupper bag, yang entah datang dari mana.
" Kamu bawa bekal? ". Matanya mulai berbinar. Bekal buatan Istri nya, itulah yang di nanti-nantinya. Walaupun saat di rumahnya ia juga memakan makanan Istri nya, hanya saja saat di rumah makanan yang dibuat Laras punya banyak campur tangan dari beberapa pelayan yang ikut memasak. Nah kalau bekal yang dibuat Laras pasti masakan Laras sendiri pikirnya. Padahalkan bumbu-bumbu yang digunakan Laras semuanya bi Siti yang membuatnya.
" Iya mas.. ayo kita makan ". Laras mulai mempersiapkan makanannya untuk Andra dan juga dirinya.
Andra sudah tidak sabar ingin memakannya.
" Kayanya enak banget ". Bersemangat sekali dia. Laras sampai heran melihatnya.
Kekesalan Andra juga sudah ia lupakan, hilang entah kemana. Mungkin terbawa bau bekal yang dibuat Laras.
Andra sudah seperti anak tk saja. " Haha ini cuman masakan sederhana yang Laras buat mas ". Laras merendah.
Setelah semuanya siap, mereka pun makan dengan sangat lahap. Apalagi Andra
'apa masakan ku se-enak itu yah' heran sendiri melihat Andra yang makannya sangat lahap, seperti orang yang tidak makan tiga hari saja. Mungkin makanan apapun yang dibuat Laras, tetap enak di mata Andra.
__ADS_1
'enak banget. Sumpah!'.
Andra melirik melihat Laras, yang porsinya lebih sedikit dari dirinya. Ia kemudian mengambil beberapa lauknya dan menaruhnya di piring Laras.
" Makan yang banyak, saya baru sadar saat beberapa kali memeluk mu. Ternyata pinggang mu sangat ramping, kamu terlalu kurus ". Padahal kan tubuh Laras adalah tubuh ideal.
" Ta.. tapi mas.. ".
" Sudah jangan banyak tapi-tapi, ayo makan ". Melanjutkan acara makannya.
Laras bengong, memangnya ia sekurus itu? Padahal banyak yang bilang tubuh Laras adalah tubuh ideal. 'Bukan.. bukan itu!.. kenapa mas Andra malah memberikan lauknya.. padahal ia makannya lahap banget. Bukan! ... bukan itu, ahhkk malu banget kenapa mas Andra malah ungkit-ungkit soal memeluk sih'.
Setelah makan, sebenarnya Andra ingin menanyakan tentang hubungan nya dengan Ardi, kenapa mereka bisa se-akrab itu. Tapi dia takut! Bagaimana jika Laras sebenarnya menyukai Ardi? Dia belum menyiapkan hatinya untuk mendengar jawaban nya. Kini pikirannya sudah melayang kemana-mana.
Dan ia memutuskan untuk tidak menanyakan nya.
Ardi dan Alan berjalan memasuki kantin kantornya, yang biasanya di tempati para karyawan untuk makan siang.
Dengan gaya coolnya mereka berdua melanjutkan langkahnya, seperti dalam cover noah yang berjudul 'yang terdalam', mungkin mereka mengikuti jejak ikbal.
Tadinya yang di kantin ricuh-riuh bagai di kantin sekolah anak sd, tiba-tiba Kericuhan nya langsung lenyap, bersamaan saat Ardi dan juga Alan memasuki kantin.
Shuuuus...
Angin berhembus sepoi... Mengiringi langkah kedua pria itu, semua karyawan bengong melihat nya, sedangkan Ardi dan Alan malah masih berjalan sok coolnya, benar-benar sudah seperti film saja, hanya kurang daun-daun gugur nya dan musiknya saja.
Para karyawan Ada yang kagum, ada yang takut, kenapa tiba-tiba dua orang penting di perusahaan Ansari Corp datang ke kantin, tempat para karyawan biasa.
Biasanya tiga orang penting di dalam perusahaan itu makan siang bersama di luar kantor. Tiga? Iyya tiga, ada Andra sang CEO dingin plus angkuh, si asisten Alan yang humoris tapi tegas dalam urusan pekerjaan dan Ardi si sekretaris pematah hati para karyawan hawa yang mengaguminya, karena ia sudah menikah.
Apalagi mereka bertiga mempunyai wajah yang rupawan nya di atas rata-rata, ditambah ketiga orang itu juga plus-plus.
Kedua pria itu pun duduk ke tempat duduk di pojok, setelah memesan makanan nya.
Para karyawan tidak ada yang berani berbicara, hanya ada suara dentingan sendok yang terdengar.
'haaahhh risihnya, gimana kalo Nisa liat? Aduh, bisa abis aku'. Monolog Ardi. Sebenarnya dia tidak terlalu ingin berjalan cool seperti yang dilakukan nya tadi, hanya saja Alan yang menyuruhnya dan Andra juga tidak melarangnya, yang artinya ia harus menurut.
" Jadi Di? Bisa lu ceritain? ". Mulailah Alan membuka suara, ia sama sekali tidak risih dengan tatapan para karyawan disitu. Karena ia sudah terbiasa.
Terbiasa mencari perhatian
" Seperti yang aku bilang tadi, Laras itu.... ". Dan Ardi menceritakan yang ia ketahui tanpa ada yang tertinggal, kecuali saat Nisa mengatakan kalau suami Laras itu gendut dan botak. Mungkin Alan akan terbahak mendengarnya, tapi Andra? Entahlah tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan nya.
Jam makan siang pun berakhir... Para karyawan kembali ke tempat nya masing-masing. Kantin pun kosong... Hening... Tinggal penjaga kantin nya saja, dan beberapa karyawan yang baru ingin makan siang karena terlambat.
Ardi dan Alan juga ikut kembali ke tempatnya masing-masing.
Saat sudah sampai, rupanya Laras baru keluar dari ruangan suaminya.
Setelah nya barulah Alan masuk kedalam ruangan.
" Hai Ras.. gimana makan siangnya? ". Menyempatkan untuk bertanya. Sudah dikatakan bukan? Kalau Alan itu kepo-pers.
__ADS_1
" Biasa ajah ". Singkatnya, karena memang seperti itu.
" Oh.. kalo gitu aku masuk yah ".
" Iya ".
Alan pun masuk, sedangkan Laras kembali ke tempat nya dan disana sudah ada Ardi yang berdiri dengan profesional nya.
" Assalamualaikum mas Ardi ". Berjalan ke samping Ardi, tempat duduknya.
" Waalaikum salam ras, gimana makan siangnya? ". Pertanyaan itu terulang lagi. Semuanya sungguh kepo.
" Biasa ajah. Memangnya kenapa? ". Heran Laras, kenapa Ardi juga menanyakan hal yang sama di tanyakan oleh Alan tadi?.
" Oh ... ". Singkatnya dan kembali ke mode profesional nya.
Tidak menjawab malah mengabaikan
'benar kata Mai, sepertinya mas Ardi kudu di bawa ke segitiga Bermuda kali, lama-lama aku juga muak ngeliat nya. Astaghfirullah... Ngomong apa lagi aku nih'.
" Assalamualaikum bos... ".
Andra yang baru akan duduk di kursinya, dikagetkan oleh suara Alan. " Waalaikum salam... Bisa gak sih gak usah teriak-teriak kaya di hutan ". Mendudukkan pantatnya di kursi kebesarannya.
" Ye... Memang nya kalo masuk hutan itu kudu teriak-teriak sambil bilang Assalamualaikum? Salamin para bintang gitu? ".
" Ya iyalah... Mereka kan kembaran lu ".
" Cik, minta di tampol lo ". Ketus Alan " udah deh padahal tadi gue pengen kasi kabar tentang bini lo, yang pasti buat lo bahagia tapi kayaknya gak jadi deh ". Memancing Andra
" Kabar apa? ". Andra sebenarnya tidak terlalu penasaran, tapi Karena Alan bilang itu berkaitan dengan Istri nya, makanya ia jadi penasaran.
" Gak jadi ". Ketus nya dan langsung duduk di sofa, padahal masih jam kerja.
" Kalo gitu gaji lo juga gak jadi gue kasi ". Nah kena kan.
Alan terkejut " oke... Oke... Bakalan gue kasi tau ". Dia sama sekali tidak bisa menang jika beradu argument dengan bosnya itu.
" Jadi? ".
" Nah katanya sih Ardi, kalo Laras itu rupanya sahabat Nisa, Istri galak nya ". Caranya berbicara seperti ibu-ibu penggosip.
" Nisa? Istrinya Ardi? ". 'kaya gak asing tuh nama'. Andra kemudian mengingat saat Laras menerima telepon dari nomor yang bernama Mai, tapi Laras malah menyebut nama Nisa (di episode 12-13 ).
'oh jadi dia yah'. Lega! Andra lega karena dugaannya salah, Laras tidak mungkin menyukai suami sahabatnya sendiri.
Seketika Senyuman Andra mengembang, ia kemudian kembali ke file yang sempat dibacanya tadi, dengan senyuman yang tidak terlepas dari bibirnya.
" Yaelah... Tiba-tiba senyum kaya gitu, Kaya orang gila ajah ". Sindir Alan.
" Cik, keluar lo. Ganggu ajah ". Benar-benar tidak tahu berterima kasih.
" Udah di bantu malah ngusir. Makanya gak usah ambil kesimpulan yang aneh-aneh. Nyesel sendiri kan! Malu sendiri kan! ". Ucapnya dan langsung keluar. Tidak mau mendengar ancaman Andra, karena pasti Andra akan langsung mengancamnya dengan gajinya, kalau dia masih ada di dalam.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya 😌