
Sayup-sayup Andra membuka matanya " eughh.. ". Legukan keluar dari mulutnya saat dia merasa badannya seperti di timpa sesuatu. Menyesakkan, ia tidak bisa bergerak. Apa gue ketindihan? Masa sih.
Awalnya dia memang merasa ketindihan, tetapi ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di dadanya sangat erat yang membuat nya kesusahan bernafas. Belum lagi kakinya yang berat karena seperti di timpa sesuatu. Tenaganya belum terkumpul semua untuk menahannya.
Andra akhirnya membuka lebar-lebar matanya. Seketika dia tersenyum lebar, melihat jika istri kecilnya lah yang menjadikannya guling. Laras benar-benar memeluknya sangat erat, seperti takut akan kecolongan.
Inginnya dia memindahkan tangan istrinya itu, tapi inikan kesempatan yang langka, bukan Andra namanya jika tidak mengambil kesempatan yang langka ini. Andra memperhatikan wajah istrinya yang terlelap, sangat nyenyak. Rupanya karakter Laras yang tenang, tidak berlaku saat dia tidur. Buku memang tidak bisa dinilai dari sampulnya saja.
Andra mengelus-elus surai panjang istrinya itu, sambil tersenyum lebar. " Manisnya istriku ". Masih betah mengelus-elus surai lembutnya.
Karena tidak ingin membuang kesempatan yang sangat langka ini, Andra kemudian menghujani surai Laras dengan ciuman nya, Bahkan sampai ke wajah istrinya.
Karena perlakuan Andra yang seperti itu, membuat Laras terganggu dan harus bangun dari tidurnya. Andra yang menyadari pun langsung menutup kembali matanya. Pura-pura tidur. Ingin melihat reaksi istrinya.
" Eughh hmm, nyenyak banget tidur ku ". Ucapnya yang masih belum membuka matanya. Untuk sadar akan kelakuannya saja butuh waktu.
Laras meraba-raba dada suaminya itu yang dikiranya guling. Semakin lama, guling yang di rabanya semakin keras dan lebar. Karena penasaran, Laras akhirnya membuka matanya.
Mata Laras seketika membulat melihat nya. Wajahnya langsung berubah merah, inginnya dia berteriak, tapi di urungkan nya. Karena pasti jika ia berteriak Andra pasti akan terbangun karena suaranya, dan tentu yang akan dapat masalah dan malu adalah Laras sendiri.
Sesaat Laras terpana melihat wajah suaminya, bahkan saat tidur saja mukanya sudah sangat menggoda. mukanya benar-benar sempurna, kalau tidak dijaga sudah pasti kecolongan. Dengan perlahan Laras menarik tangannya. Belum sempat dia Menarik nya tiba-tiba tangannya di cegat oleh lengan kekar suaminya. Andra menghimpit tangan Laras di ketiaknya dan juga mengunci kaki Laras.
melihat Laras yang dapat mengontrol reaksi nya membuat Andra bangga. Artinya istrinya itu dapat berpikir secara logis dan tenang, dan juga tidak dapat percaya sesuatu jika tidak dia lihat secara langsung.
Sekarang posisinya yang terbalik, Andra lah yang sekarang menguasai pergerakan Laras.
" Hmmm apa seenak itu menjadikan saya sebagai guling? ". Mengangkat satu alisnya. Masih subuh sudah menggoda. minta di terkam.
" Eh.. hmm hmmm ". Gelagapan Laras. Sudah Tidak tahu apa yang harus dilakukan nya. Dan terpaksa ia memilih menunduk. Mukanya sudah Semerah tomat, kulitnya yang putih sangat mudah memerah.
Andra yang melihatnya menjadi gemas sendiri " haha ". Tertawa kecil, lalu mencium pucuk kepala istrinya.
Setelah itu dia pun melonggarkan himpitan nya, Laras yang sadar dengan segera menarik kembali tangannya dan juga kakinya. Lalu lebih memilih untuk duduk. Harus cari aman dulu.
Andra juga ikut terduduk " kamu bangun karena ingin Sholat subuh kan ". Dan diangguki Laras. " Kalo gitu saya yang masuk duluan di dalam kamar mandi ". Ucapnya dan langsung pergi masuk kedalam kamar mandi. Pertanyaan pertama nya dan pernyataannya yang berikutnya sangat tidak nyambung.
Laras masih mematung di tempatnya, saat mengingat tingkahnya tadi, benar-benar membuat dirinya malu sendiri.
" ya Allah... kok kebiasaan aku ini harus kebawa-bawa sih. malu sendiri kan ". memegangi kedua pipinya yang masih memerah. Yah, begitulah jika kita sudah menjadi suami istri, tidak ada yang dapat disembunyikan.
" Ah.. **** ". Meninju tembok kamar mandi pelan.
" Sabar de, ini belum waktunya. Pasti ada saatnya kamu bahagia ". Ucapnya sambil mengelus-elus adiknya.
__ADS_1
Pantas saja Andra langsung melengseng ke kamar mandi, rupanya dede nya bangkit lagi yah.
setelah mereka membersihkan dirinya masing-masing. Laras dan Andra pun sholat subuh berjamaah di dalam kamarnya. ingat! kamar bukan hanya tempat untuk yang anu-anu saja, tapi juga harus di sholati.
Dalam sholat nya, Laras tak henti-hentinya bersyukur, karena Allah telah mengabulkan doanya. Untuk memiliki seorang suami sholeh dan lulusan pesantren. Tapi, sekali lagi apa itu hal baik atau tidak, masih menjadi tanda tanya.
Sedangkan Andra juga sangat bersyukur, akhirnya cinta yang selama ini mengganggu di setiap mimpi nya, yang selalu di rindukan nya. Akhirnya menjadi istrinya, yah walau caranya memang tidak biasa.
Selesai berdoa, Laras menyium tangan suaminya itu, dengan sengaja Andra mencium kening Laras. Kebiasaan nya jadi menambah. Laras juga tidak bisa menolak, jadi harus dia terima saja.
...----------------...
" saya keluar joging dulu, nanti kamu turun sarapan, oke ". menasehati Laras, seperti menasehati anak kecil saja. Tidak mungkin kan Laras tidak sarapan, apalagi dia juga sudah cukup akrab dengan beberapa pelayan di mansion itu.
" iya mas ". jawabnya mengangguk
" Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". mencium tangan kanan Andra. padahal cuman keluar joging dekat rumahnya, tapi ini sudah seperti berangkat kerja
Setelah itu, Laras pun turun menggunakan lift dan langsung menuju kedapur.
" Selamat pagi semuanya ". ucapnya yang sudah ada di tengah-tengah kerumunan pelayan yang sedang membuat sarapan.
" Ah.. no.. nona ". kompak mereka. Bukan hanya suaranya yang kompak, tapi juga keterkejutan nya juga ikut kompak.
" nona apa yang anda lakukan disini? ". Tanya bi Siti. padahal sebenarnya bi Siti sudah tahu apa tujuan Laras datang ke dapur.
" aku mau bantu buat sarapan nya bi ". kan.. sudah di duga. Apalagi tadi Andra juga sudah mengatakannya pada bi Siti agar membiarkan nona nya itu, jika ingin membantu membuat sarapan.
Tanggapan bi Siti benar-benar santai " baiklah nona, tapi nona jangan sampai terlalu capek ". bi Siti pun terpaksa mengizinkan nya. Rasanya Laras seperti wanita hamil saja kan. Berbeda dengan bi Siti, keempat pelayan disitu malah kaget dengan pernyataan nonanya itu, apalagi pas bi Siti tidak melarang nya melainkan malah mengizinkannya.
" Tenang saja bi, aku udah biasa kok ". menggulung lengan bajunya sampai siku. Laras pun maju dan membantu mereka berperang dengan alat-alat dapur.
Setelah selesai membuat sarapan nya, Laras kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Setelah nya dia pun turun. Disaat bersamaan Andra juga sudah pulang.
" Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Mencium tangan kanan Andra. Semua pelayan yang melihatnya menjadi senang sendiri 'syukurlah tuan muda masih normal'. Pelayan nya saja mengira kalau Andra tidak normal, bagaimana dengan orang lain yang bahkan bisa melihat Andra sekali saja sudah bersyukur,
Memang kebanyakan dari orang-orang yang mengenal Andra mengira dia tidak normal dikarenakan ia sama sekali tidak pernah melirik perempuan-perempuan diluar sana, bahkan mungkin jika perempuan-perempuan itu sujud-sujud berhimpu di kakinya, sudah suatu kehormatan jika mereka disentuh atau mungkin sekedar diliriknya saja. Apalagi Andra hanya dekat dengan Alan dan juga Rasya yang semuanya lelaki. Semakin kuatlah persekualisasi mereka jika tuan mudanya itu tidak normal.
Sampai-sampai mamanya juga berpikiran seperti itu.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan papanya yang memang mengerti sifat anaknya itu, karena dia pun juga sama. Sama-sama setia lah pasti nya.
" Aku udah siapin air buat mandi mas, di atas kamar ". Harus biasa Melayani suaminya.
" Kalo gitu saya mandi dulu, tunggu saya di meja makan. Kita sarapan sama-sama ". Mengelus rambut hitam Laras. Dengan senyuman manisnya, yang tentu saja hanya untuk Laras dan juga mamanya. Semua pelayan disitu yang melihatnya terkejut, sudah bisa dipastikan sebagaimana sayang dan berharganya nona mudanya itu untuk tuan mudanya.
Sudah tidak terhitung berapa kali, Andra melakukan nya. Tapi tetap saja membuat wajah Laras memerah.
Diam-diam Pak Rin memotret nya dan mengirimkan nya ke nyonya Ani dan tuan besar Rangga, yap mereka adalah orang tua Andra.
...****************...
Sarapan nya pun berjalan dengan tenang. Setelah sarapan, Andra lebih memilih untuk membaca buku di ruang keluarga yang di sampingnya ada Laras dengan cemilannya.
Karena tidak enak dengan duduknya, Laras pun memilih untuk selonjoran di lantai. " Apa yang kamu lakukan? jangan duduk di lantai ". Langsung menutup bukunya, saat melihat Laras lebih memilih duduk di lantai. 'apa sofanya tidak membuat nya Nyaman yah'. Dan mulailah Andra menyalahkan sofa, yang bahkan tidak bisa membela diri.
" Ah.. lebih enak duduk selonjoran kaya gini mas ". Jawabnya tidak melihat Andra melainkan fokus dengan drakor nya.
Andra yang melihat Laras sangat fokus pun tidak mau mengganggu nya lagi. Jadi bukan salah sofa nya, melainkan salah tv nya yang terdapat banyak chanel dari luar negeri.
" Haaah... ". Helaan nafasnya berhasil keluar dari mulutnya, tapi tidak terlalu terdengar.
Andra pun lebih memilih mangelus-elus rambut Laras dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengambil bukunya kembali dan membacanya. Tentu saja perlakuan Andra membuat Laras terkejut, tapi tidak ditepisnya. Bukan karena tidak bisa, tapi dia menikmati nya. Wa... Sudah ada percikan-percikan sesuatu.. nih. Tapi bukan api, melainkan yang lain.
Dan kejadian itu, tidak luput dari kamera ponsel pak Rin, yang setia memotretnya untuk di kirimkan kepada nyonya dan tuan besarnya.
Drrt.. drrt.. drrrt..
Getaran ponsel seseorang berbunyi, Andra yang merasakannya pun melihat ponselnya, tapi bukan punya dia yang bergetar. Matanya kini teralih pada meja di samping nya, dan mendapati ponsel istrinya yang bergetar, tapi yang punya tidak merasakannya karena sudah fokus dengan drakor nya. Yah, begitulah Laras jika sudah fokus tidak akan memikirkan yang lainnya, jadi bukan hanya pekerjaan rupanya.
Andra melirik melihat Laras yang asik dengan drakor nya, dia pun mengambil ponsel Laras dan memeriksa siapa yang menelfon nya. Jika itu laki-laki, sudah di pastikan akan berurusan langsung dengan pawangnya, eh ralat maksudnya suaminya yang over protektif. Apalagi jika laki-laki itu tertarik pada istrinya, besoknya pasti sudah tidur di jalan.
" Mai ". Gumamnya, untung namanya wanita, jadi tidak harus mengorbankan seseorang lagi. Ha?? Lagi?. Iya, korban pertama nya yah dokter Ilham yang harus merantau ke pelosok. Kekuasaannya seperti di salah gunakan, tapi kalau itu untuk Laras tidak akan tanggung-tanggung.
" Ras , ponselmu bunyi ". Menyodorkan ponselnya
" Ah.. mana mas ". Padahal baru juga satu hari mereka menikah, tapi sudah sangat akrab begini.
" Mai? ". Gumamnya " ada apa nih, Mai nelfon ".
" Halo Mai? ". Menaruh ponselnya di daun telinganya.
" Larasati.... ". Teriak seseorang dari seberang, suaranya benar-benar keras, yang membuat Laras harus menjauhkan ponselnya dari telinganya. Bahkan Andra juga mendengar suara cempreng wanita itu, yang membuat nya menutup kembali buku yang dibacanya, lebih penasaran dengan wanita yang berani meneriaki istrinya itu.
__ADS_1
TBC
jangan lupa like, kome, dan votenya. jujur aku udah capek nulis nih kata-kata 😌