Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Kebaikan Laras


__ADS_3

Laras pun duduk di kursi yang ditarik pak Rin tadi untuk nya. Duduk dengan tenang sambil memperhatikan makanan di depannya dan menunggu suaminya turun. Pak Rin memilih untuk mengundurkan diri nya.


Karena terlalu bosan menunggu, Laras berinisiatif untuk jalan-jalan ke dapur melihat para pelayan membuat makanan. Siapa tahu dia dapat berkenalan dengan mereka. Dan dapat membantu nya pikir nya. Sungguh pikiran naif bukan? mana mungkin pelayan akan mengizinkan nya untuk membantu nya, mengingat bagaimana perlakuan tuan mudanya memperlakukan Nona mudanya itu.


" Bi, ada yang bisa aku bantukan bi? ". Tanya Laras yang datang tiba-tiba di belakang bi Siti yang sedang mengangkat nampan dengan gelas berisikan air putih di atasnya.


" Astaghfirullah nona... Apa yang anda lakukan disini? ". Hampir saja nampan yang dipegang nya jatuh, untung dengan sigap Laras menahan nampannya agar tidak jatuh, dan al hasil sekarang nampan itu harus pindah ke tangan nya. Para pelayan disitu yang mendengar bi Siti mengatakan nonanya ada disitu pun, dengan refleks melihat kearah sumber suara. Mereka dibuat terkejut melihat nona nya itu dengan santainya berdiri di dapur dengan memegang nampan. Padahal jujur saja, nyonya nya saja, maksudnya mama nya Andra sekalipun tidak pernah mereka lihat pegang nampan bahkan kedapur pun hanya untuk mengambil keperluan saja.


Sebenarnya bukannya mama nya Andra atau nyonya rumah disitu tidak ingin membantu para pelayan, hanya saja suaminya atau papa dari Andra sangat melarang keras. Bukannya ada pelayan, untuk apa kita harus turun tangan, yah begitulah kamungkinan pikirannya. Dan otomatis sifat papa nya yang seperti itu menurun ke Andra. Dan para pelayan tahu itu, 'aduh kalo tuan muda melihat nya bisa habis kita'.


" Tidak perlu nona, anda tunggu saja di meja makan ". Keringat bi Siti mulai turun.


" Masa sih?.. tapi aku liat kalian sedang sibuk tuh ". Sungguh keras kepala Laras. Laras memperhatikan para pelayan yang bekerja di dapur itu. Ada tiga pelayan wanita di tambah bi Siti dan satu laki-laki yang mungkin dia adalah kokinya, dilihat dari pakaian nya yang berbeda. Hanya bi Siti yang dia kenal.


" Ti.. tidak nona, kami bisa melakukannya sendiri ". Ingin mengambil nampan yang di pegang Laras, tapi langsung di tepis olehnya.


" Kalo gak ada yang bisa aku bantu, setidaknya biarkan aku bawa nampan ini di meja makan ". Laras tidak enak dan tidak terbiasa di perlakukan istimewa seperti itu. Masa iyya harus tinggal dengan gratis disitu tanpa harus berkontribusi, pikirnya. Minta ditabok kan, padahal dia nona muda disitu Yah, terserah dia dong harus melakukan apa saja.


Laras selama ini hidup dengan tidak mudah, tidak ada yang gratis didunia ini, pasti selalu ada imbalan yang sepadan untuk mengganti nya. Laras selama ini hidup dengan menggunakan pikiran semacam itu.


" Bi, tadi yang buat makanan yang ku makan siapa bi? ". Mengalihkan pembicaraan adalah satu-satunya cara Laras, agar nampan yang diperjuangkan nya tidak direbut.


Seketika pelayanan yang ada didapur itu menelan susah salivahnya. Apa mungkin makanan yang di makan nya tadi tidak enak, pikir mereka.


Bi Siti melirik kearah seorang lelaki, yang bisa dibilang masih muda, mungkin umurnya baru kepala tiga. Laras kemudian mengikuti arah mata bi Siti.


" Sa... Saya nona ". Jawabnya menunduk, keringat dingin membasahi keningnya.


'kenapa sih, semua orang selalu keringat kalo bicara sama aku sih. Apa salah ku coba?'. Bukan salah mu Laras, tapi salah suami mu yang terlalu over protektif padamu.


" Wah... Masih muda yah, pantasan makanannya juga sangat enak ". Membandingkan umur dan juga makanan nya. 'Sama-sama enak dipandang'


Mereka yang mendengar penuturan Laras langsung mendongak dan mendapati nonanya yang entah mengapa seperti terlewat bahagia.


" Te.. terima kasih nona, syukurlah anda menyukai nya ". Ucap sang koki bangga dan sedikit lega. Kalau nonanya sampai tidak menyukai makanan yang dibuatnya bisa di depak dia bersama istrinya.


" Baru pertama kali loh, aku memakan makanan seenak itu. Bahkan makanan yang aku buat tidak mungkin bisa sepadan dengan makanan yang kau buat. Oh iya.. nama mu siapa? ". Memuji dengan sangat tulus.


" Terima kasih nona. Nama saya Dilan nona ". Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tersipu karena telah dipuji oleh nona mudanya. Ketiga pelayan wanita disitu juga ikut lega akan reaksi dan tingkah nonanya itu yang sangat ramah dan bersahabat. Hingga perasaan tegang dan juga perasaan kikuk mereka seketika hilang.


" Hahaha Dilan, jangan-jangan nanti pasangan mu namanya milea ". Tebak nya. Entah kenapa Laras tiba-tiba tertawa terbahak bahak.


" A.. anu nona, saya memang milea ". Ucap salah seorang pelayan di antara ketiga pelayan disitu. Laras refleks berhenti tertawa dan melihat kearah pelayan yang berbicara tadi.


" Tunggu dulu... Jangan-jangan kalian ada hubungan yah? ". Rupanya tebakannya kena sasaran. Tepat sekali.


" Milea itu istri saya nona ". Sahut Dilan dan melirik melihat Milea dan di angguki olehnya.


" Hahah ya ampun, kalian itu dilan dan juga Milea versi real life yah ".


" Hahah nona bisa saja ". Ucap Dilan dan juga Milea bersamaan dan di sambut tawa oleh semua orang didapur itu. Dan mereka tidak sadar jika sedari tadi ada yang mengawasi nya dengan senyum yang tidak dapat di artikan.


" Hahaha udah yah, aku mau bawa nampan ini dulu, nanti kita lanjut oke ". Sela Laras di sela-sela tawanya. Barulah kelima orang itu tiba-tiba sadar akan kelancangan mereka. Padahal Laras malah senang jika mereka bersikap biasa saja.

__ADS_1


" Iya nona ". Jawab mereka menunduk kembali. Karena Laras tidak terlalu ingin memikirkannya, dia pun melangkah sambil membawa nampan yang dipegang nya ke arah meja makan.


Sesampainya di meja makan, rupanya Andra sudah duduk manis di salah satu kursi disitu, sambil menatap Laras yang baru sudah keluar dari dapur. Mungkin saja Andra sudah dari tadi melihat Laras, karena dari meja makan bisa sangat terlihat apa yang dilakukan di dapur.


Laras meletakkan nampan yang di pegang nya di meja makan. " Dari mana kau? ". Tanya nya basa basi, padahal sudah tahu dia dari mana.


" Dari dapur ". Ucapnya


" Buat apa? ".


" Hmmm buat nawarin bantuan ". Tiba-tiba dia menjadi gugup, bagaimana jika dia terlalu lancang? Pikirnya.


" Diterima tawaran nya? ".


" Ti.. tidak ".


" Terus? Kok bawa nampan segala ". Menunjuk kasar nampan yang sudah ada di meja.


" Hmmm ". Keringatnya tiba-tiba bercucuran. Mungkin seperti itulah perasaan para pelayan saat berbicara padanya.


" Maksa? ". Mengangkat sebelah alisnya.


" I.. iya, maaf.. saya sudah lancang ". Meremas ujung bajunya.


" Haaah... Sudah lah ayo duduk, kita makan ". Andra sungguh tidak tega memarahi Laras. Padahal Andra hanya tidak ingin Laras capek, tapi karena dia memang memaksa, bagaimana lagi.


" Ba..baik ". Akhirnya duduk di seberang Andra. Tapi sebelum itu, dia menyempatkan mengambilkan makanan untuk suaminya itu, siapa tahu dengan begitu kemarahan nya bisa mereda. Dan tentu saja itu berhasil, di berlakukan seperti itu membuat Andra benar-benar sudah seperti suaminya.


" Segini ajah mas? ". Meletakkan makanan di depan Andra.


Sekarang Andra benar-benar menjadi suaminya, tapi sayang Laras belum dia genggam sepenuhnya. Pelan-pelan saja.


Andra tersenyum " iya, segini saja. Terima kasih ".


Laras sempat tertegun melihat Andra tersenyum seperti itu, dia pun ikut tersenyum juga. " Tidak perlu berterima kasih mas, ini memang sudah tugas ku ". Memakan makanannya dan tak lupa dia berdoa sebelum memulainya.


Mereka pun makan dengan tenang, aman dan damai. Tidak ada yang membuat suara, hanya ada deningan sendok dan piring yang berbunyi, karena begitulah adab makan dalam agamanya. Sesuai perkiraan Laras, kalau makanan disitu sangat banyak yang tidak tersentuh.


'apa mungkin selama ini mereka memasak sebanyak ini, saat akan makan?'.


Setelah selesai makan, Laras hendak merapikan meja makan. " No... Nona biar saya saja ". Tiba-tiba bi Siti datang dan menahan tangan Laras.


" Gak pa-pa bi, biar aku bantu ". Ucapnya tersenyum.


" Tapi nona.. ".


" Biarkan saja bi, terserah dia saja. Walau bagaimanapun dia nona dirumah ini ". Sebenarnya Andra sudah terlalu malas melihat Laras yang selalu ingin bekerja seperti itu. Tapi sebenarnya dia juga senang melihat nya. Wajahnya yang bergembira saat bekerja, itulah yang disukainya.


Bi Siti akhirnya mengalah.


Laras tersenyum melihat Andra " terima kasih ". Lirihnya. Andra hanya mengangguk mengiyakan.


" Saya pergi ke ruang kerja dulu, terserah kamu apa yang mau kamu lakukan. Karena sekarang ini juga rumah mu ". Katanya sebelum pergi, sambil mengelus kepala Laras, yang sontak membuat wajahnya memerah.

__ADS_1


Bi Siti dan juga Pak Rin yang melihatnya senyum-senyum sendiri. 'tuan muda sangat romantis'. Batin keduanya.


" Hmmm ". Mengangguk menanggapi. Kemudian Andra pun naik tangga menuju ruang kerjanya di lantai dua. Rupanya ada tangga toh.


" Bi, biasanya makanan sisa memang sebanyak ini yah? ". Mengangkat salah satu makanan sisa disitu. Sebenarnya itu belum bisa disebut makanan sisa, karena makanan itu bahkan belum disentuh.


" Tidak nona, biasanya tidak ada makanan sisa ".


" Tapi ini bi, kok banyak banget kek gini? ".


" Itu karna kami memasak lebih dari biasanya ".


" Kenapa lebih bi? , Kenapa enggak masak kaya biasanya ajah ".


" Karna tuan muda biasanya menyuruh kami memasak dengan porsinya saja, tapi karena sekarang ada nona muda, jadi kami disuruh memasak lebih dari biasanya ". Menjelaskan Dengan sejelas-jelasnya.


" Tapi ini kebanyakan loh. Kalo gitu makanan sisa ini bawa ke rumah belakang ajah, kasi sama teman-teman pelayan yang lainnya. Gimana bi? ". Usulnya.


" Baik nona ". Tersenyum dia. Nona mudanya benar-benar baik pada mereka.


Setelah semuanya sudah dibereskan. Laras inginnya langsung ke kamarnya, tapi ada satu yang harus dilakukan. Walau dengan harga dirinya yang menjadi taruhannya, yaitu apalagi kalau bukan nonton drakor. Lebay...


Untung di ruang keluarga ada tv besar yang sempat di lihatnya tadi.


Laras kemudian ke ruang keluarga, untuk memastikan kalau tv nya masih ada Disitu. Rupanya memang masih ada, ya iyalah tv nya tidak punya kaki untuk jalan.


Laras kemudian kembali ke dapur dan memeriksa lemari bagian atas di dapur itu, seperti mencari sesuatu.


" Nona.. apa ada yang bisa saya bantu ". Ucap tiba-tiba seseorang di belakang Laras.


" Astaghfirullah... Milea, ngagetin ajah kamu yah. Ada cemilan gak yah? ". Tanya nya dan kembali melihat-lihat di lemari.


" Cemilan nona? ". Bertanya untuk memastikan


" Iya cemilan, buat nemenin nonton drakor ". Katanya dan berbalik menatap Milea.


" Oh tunggu dulu nona, aku panggil bang Dilan dulu, soalnya dia yang tau dimana di simpan cemilannya ".


" Oke ".


Tak lama kemudian Dilan pun datang dan segera mengambilkan Laras setoples cemilan. Dengan senang hati Laras menerimanya.


" Maaf, yah jadi ganggu waktu kalian berdua ".


" Tidak apa-apa nona, ini memang tugas kami ".


" Hmm ayo kita nonton drakor sama-sama ". Ajak Laras


" Eh.. maaf nona, tapi kami masih ada urusan ". Ucapnya berdusta. Tidak mungkin kan mereka lancang kepada nonanya. Terlihat wajah kecewa Laras.


" Ya sudah, kalo gitu aku ke ruang tv dulu. Lain kali kita nonton bareng-bareng yah ". Mereka berdua hanya tersenyum. Tidak bisa janji juga.


Laras pun pergi sambil memeluk toples cemilannya meninggalkan mereka berdua yang tersenyum melihat nonanya yang sangat baik.

__ADS_1


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen, dan votenya. banyakkin yah... oke.. oke.. oke..., oke-in ajah yah 😗


__ADS_2