
Lalu Andra, bagaimana reaksinya? Yah dia tidak mungkin memikirkan nya. Menurut nya masalah percintaan temannya, harus di selesaikan sendiri. Karena ia yang akan menjalani nya bukan Andra. Tapi, kalau sudah berlebihan tentu Andra akan turun tangan.
" Sudah.. sudah.. sebaiknya kalian duduk dulu ". Laras menengahi. Laras juga ingin berdiri, tapi tangan Andra sudah melarang nya.
Mereka pun duduk dengan tenang.
Laras bersama Andra duduk di satu sofa, Nisa dan Ardi juga duduk bersama di salah satu sofa disitu. Sedangkan Mai duduk di antara Alan dan juga Rasya. Terlihat sekali kalau dua orang itu bersitegang, memperebutkan Mai.
" Hmm Mai.. ".
" Aku tau ". Mai berdiri lalu beralih duduk di salah satu kursi sofa tunggal disitu. hmm sepertinya Mai sadar akan perselisihan di anatara Alan dan Rasya. Berarti Mai juga sadar akan perasaan Rasya pada nya? Entahlah.
" Jadi kenapa kalian datang kesini? ". Laras membuka suara
" Tentu saja untuk menjenguk mu ras ".
" Memangnya aku kenapa? Aku gak sakit ". Andra terkekeh mendengarnya.
Sedangkan mereka yang mendengar nya bengong. Sejak kapan Laras menjadi bodoh dan low seperti ini.
" Karena kamu hamil sayang.. ".
" Oh... ". Laras ber-oh ria
" Ras... Kamu gak pa-pa kan? ".
" Kayanya kepala mu habis kebentur deh Ras ".
" Enggak.. apa-apaan sih kalian ".
" Itu faktor kehamilan namanya... Semua yang mengalami nya berbeda-beda ". Rasya menjelaskan.
" Sudah lah.. istriku mau istirahat, kalian nikmati saja rumah ini ". Andra berdiri lalu mengangkat Laras.
" Ahhk.. mas.. ".
" Woi.. tunggu dulu.. kami baru datang ".
" Iya mas.. mereka baru datang ". Laras menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Entahlah sekarang baru ia merasakan malu.
Sedangkan Nisa menatap tak percaya... 'Sepertinya Laras benar-benar di manja. Syukurlah..'.
" Itu urusan mereka.. sekarang kamu harus istirahat.. Assalamualaikum ". Pergi dari ruang tamu, tanpa beban ataupun dosa.
Sedangkan mereka yang di ruang tamu menatap kepergian Andra dengan tatapan tak percaya. Andra benar-benar pergi meninggalkan tamu-tamu tak di undang nya.
" Please.. kalo bukan bos, udah gue buang di laut tuh orang ".
" Aku setuju ". Rasya menimpali
" Huuuh kali ini aku juga setuju ". Bahkan Ardi juga menyahut.
" Tapi syukurlah Laras dimanja ". Nisa tidak sepikiran dengan mereka.
" Iya ". Mai menimpali.
" Tenang saja... Kaka ipar Andra sangat menyayangi Laras. Bahkan aku sendiri kadang iri.. huuuhh kita yang sahabatnya dari kecil ajah gak pernah di baik-baik-in ".
" Yoi.. lo benar bangat Rasya... ".
Ardi hanya geleng-geleng melihatnya. Jujur saja Ardi juga sedikit iri, tapi dia bukanlah Rasya ataupun Alan yang suka cari perhatian. Menurutnya, di anggap ada oleh tuan muda nya sudah membuatnya senang.
" Oh ya kita ke dapur yuk ". Rasya berdiri
" Dapur? ". Mai mengerutkan keningnya. Untuk apa ke dapur, bukannya mereka datang untuk menjenguk Laras! Bukan bahan dapur.
" Cik pasti makan tuh ". Alan juga ikut berdiri
" Yoi... Kamu tau ajah, Mai ke dapur yuk ". Mai adalah orang pertama yang harus di ajaknya.
" Aku? Baiklah ayo ". Mai mengikuti langkah Rasya.
Alan yang melihatnya langsung lari mengikuti mereka berdua. Sedangkan Nisa dan Ardi masih asik duduk di sofa.
Karena sudah tidak ada orang. Yap inilah kesempatan. Ardi langsung memeluk Nisa dari samping.
" Pah... Apa-apaan sih lepasin, ini rumah orang ". Menggoyang-goyangkan tubuhnya
" Ini memang rumah orang.. bukan rumah anjiing ". Masih memeluk Nisa
__ADS_1
" Cik.. ayo kita ke dapur juga ". Berdiri dan otomatis pelukan Ardi terlepas.
" Haiissss baiklah ayo ". Ardi menggandeng tangan Nisa
............
Dua Minggu telah berlalu sejak mereka tahu kehamilan Laras, dan sudah tujuh Minggu umur kandungan Laras. Tidak seperti dugaan, mama Ani dan papa Rangga baru akan pulang lusa. Karena ada urusan mendadak dan tidak bisa di tunda, membuat mereka harus lebih lama di luar negeri. Mana mama Ani sudah merengek minta pulang, ingin melihat menantunya yang sedang hamil.
ceklek
" Assalamualaikum ". Andra masuk kedalam kamarnya dan melihat istrinya yang sedang terlelap. Akhir-akhir ini istri nya memang banyak menghabiskan waktu di tempat tidur.
Saat melihat Laras tertidur pulas, Andra berjalan mendekati nya dengan jalan perlahan. Takut membangunkan Laras.
Andra tersenyum melihat wajah damai istrinya saat tidur, tidak akan ada yang menolak wajah tidurnya. Dan begitu pun dengan Andra, ia mencium pipi Laras, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Andra keluar dan terlihat Istri nya masih tertidur.
Karena memang sudah tengah malam, setelah ganti pakaian nya, Andra naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di sebelah Laras.
" Ada yah orang se imut istriku hehe ". Terkekeh, lalu Mencium semua inci di wajah Laras.
" Hmm eugghh ". Laras menggeliat, dan tak lama ia membuka matanya. " Hmm mas, kamu udah pulang? ". Katanya dengan suara serak khas bangun tidur.
" Iya. Lanjut tidur ajah sayang ".
Laras menggeleng, ia mengangkat wajah nya agar menatap wajah suaminya yang sedang memeluknya. Dan yang dilihat memberikan senyuman manis. Laras membalas senyumannya. " Hehehe ". Terkekeh.
Andra mengerutkan keningnya. Laras langsung membalas pelukan Andra erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
" Ada apa sayang? ". Membelai lembut rambut Laras
Laras menggeleng " gak pa-pa ". Ucapnya " hanya saja mas Andra kok harum bangat sih.. ganti parfum ya mas? ". Mengendus-endus dada Andra.
" Enggak tuh, mas gak ganti parfum. Mas pake Seperti yang biasanya ".
" Beneran? Tapi mas harum bangat loh ". Semakin mengendus-endus dada suaminya.
" Eughh ". Lenguhan berhasil keluar dari mulut Andra 'Astaghfirullah... Tahan... Jangan dimakan sekarang. Istri lo lagi hamil muda Andra, kandungan nya masih lemah.. de.. tahan'.
" Hmm sayang.. ".
Andra berusaha menahan hasratnya. Andra tidak sengaja melihat ke arah nakas, dan dilihatnya sebuah kertas. Entahlah tidak ada yang tahu kertas apa itu.
Andra mencoba meraihnya, walaupun itu sulit. Hasratnya harus ditahan, ia tidak ingin melarang Laras. Takut nya Laras malah salah mengartikan nya.
Setelah perjuangan yang menguras keringat, gara-gara harus menahan hasrat. Akhirnya kertas yang ada di nakas berhasil berpindah ke tangannya.
Andra membacanya baik-baik " ini... ".
" Sayang.. coba deh liat ini ". Andra mencoba untuk menghentikan aksi Laras, sebelum ia benar-benar lepas kendali.
Dan yap berhasil. Laras menghentikan aksinya yang membuat Andra menghela nafas halus. Laras mendongak. " Ada apa mas? ".
Andra memberikan kertas tersebut, Laras menerimanya dengan senang hati. Laras membacanya baik-baik. " Ini kan surat perjanjian pernikahan kita ". Menunduk. Nada suaranya berubah menjadi sendu. Ia mengingat bagaimana ia menikah dengan sangat-sangat sederhana dan yang lebih parah, Laras menikah karena terpaksa.
Andra mengambil kertas itu, lalu merobek nya hingga potongan yang sangat kecil.
" Mas.. apa yang mas lakukan? ". Laras Terkejut. Apalagi saat Andra menghempaskan potongan-potongan kertas tersebut ke udara dan mendarat ke atas kasur.
" Merobek hal yang tak penting ".
" Hal yang tak penting? ".
" Iya ".
" Oh ". Jawab singkat Laras. Tanpa beban sama sekali. " Tapi itu kan emang gak penting mas... aku ajah sempat lupa keberadaan surat itu ".
" Eh! Lupa, kenapa? ". Kenapa bisa lupa, padahal Andra tidak melupakan nya. Hanya tidak terlalu memikirkan nya.
" Ya iyalah mas... Mas masih gak sadar yah sama isi nya ".
" Memangnya kenapa dengan isi nya ". Tanya Andra polos.
" Pfffhh hahahaha mas lupa yah waktu aku sama Alan ketawa di rumah sakit pas mau tanda tangan surat itu ". Tertawa terbahak-bahak.
" Hei.. jangan ketawa gitu sayang.. kamu lagi tidur loh ini ". Tegur nya.
" Ihh mas jawab dulu ". Akhirnya berhenti tertawa
__ADS_1
" iya.. iya.. mas ingat kok waktu itu. Memangnya kenapa? ". Sebenarnya Andra malas mengingat nya, apalagi saat itu Andra merasa ter-abaikan. Lihat di episode Perjanjian
" Haiiisss kami waktu itu ketawa soalnya ngakak liat isi suratnya hahahaha ". Tawa Laras kembali saat mengingat isi surat perjanjian tersebut.
Andra mengerutkan keningnya, ia semakin heran " Memang nya ada yang salah dengan isi nya? ". Padahal Andra memikirkan isi nya sampai berkali-kali.
Laras berhenti tertawa, ia menatap datar wajah suaminya sambil mendongak. " Haiiisss " menggeleng kan kepalanya. Sejak kapan suaminya jadi polos seperti ini. Pikir Laras.
" Mas ingat-ingat lagi deh dengan isi nya ".
" Mas udah lupa, soalnya udah di robek ". Jawabnya asal.
" Huuufhh ". Laras duduk dan di ikuti oleh Andra.
Laras meraih ponselnya di atas nakas dan membukanya. Sedangkan Andra hanya memperhatikan nya, ia ingin melihat apa yang di lakukan Istri nya.
Tak lama Laras mengutak-atik isi ponsel nya, ia menyodorkan ponsel tersebut ke Andra tanpa berucap sama sekali. Dengan senang hati Andra menerimanya.
" Ini kan surat perjanjian itu ".
" Memang, yaudah baca ".
" Untuk apa? Mas hapus yah ". Bersiap akan menekan tombol delete.
" Eiitss!! Janga mas.. baca dulu ". Menghentikan tangan Andra
" Untuk apa? ". Jawab bingung Andra. Bukannya surat itu sudah tidak di perlukan lagi, jadi untuk apa di baca lagi.
Laras menepuk jidatnya. Entah apa yang merasuki suaminya, hingga ia benar-benar menjadi bodoh bin polos. " Udah mas.. mending baca ajah deh dulu. Tapi harus teliti yah ".
Karena Andra tak mengerti dengan apa yang terjadi, ia akhirnya hanya bisa menurut. Andra mulai membaca surat perjanjian yang sempat di potret Laras.
Satu detik...
Dua detik..
Tiga detik..
Dan seterusnya... Semakin bertambah detiknya, semakin berkerut pula kening Andra.
" Gimana mas? ".
" Ini beneran surat perjanjian waktu itu ". Andra heran melihatnya. Masa iyya dia yang membuat surat aneh seperti itu.
" Ya iyalah mas.. coba liat disitu ada tanda tangan mu kan ". Andra kembali menunduk melihat ponsel Laras, dan benar saja ada tanda tangannya di foto tersebut.
" Ini beneran tanda tangan mas? ".
" Menurut mas? ". Tidak mungkin kan Andra melupakan tanda tangan nya sendiri.
" Jadi mas udah ngerti kan kenapa waktu itu aku sama Alan ketawa melihat surat itu ".
Andra diam, ia tidak menjawab. Karena apa yang di katakan Laras benar adanya. 'kok gue kaya bodoh bangat yah waktu itu... Wahai diri gue di masa lalu, situ waras?'. Malah menyalahkan dirinya di masa lalu.
" Mas.. hello.. ". Mengibas kan tangannya di depan wajah Andra yang sedang melamun
" Ah! Iya kenapa? ". Akhirnya sadar.
" Hahahaha mas Andra lagi ngelamunin apa? Apa tentang surat itu yah hahahaha gak usah di pikirkan soalnya udah lewat hahahah ". Bicara nya sih seperti itu, tapi tawanya tak berhenti.
" Oh... Udah pintar yah ngetawain suami sendiri hmmm ". Mencubit gemas pipi Laras. 'ahhkk bodoh! Malu bangat gue'. Menetralisir kan perasaan nya yang sedang malu kepayang.
Bagaimana tidak? Seorang Muhammad Andra Ansari, yang katanya sangat di segani di kalangan pengusaha sukses. Orang yang sangat dingin dan arogan. Pria yang pasti di kagum-kagumi oleh siapa pun yang mengenalnya. Pria yang terkenal sangat cerdas bin jenius, teliti dan jeli. Bisa-bisanya membuat surat perjanjian yang tidak masuk akal ( baca di eps Perjanjian).
" Hahaha isshh hahah mas lepasin ". Mencoba mencabut cubitan gemas Andra.
" Hahaha coba lihat wajah mu sayang... Merah loh... Mana ini pipi kok tembem bangat sih ". Kembali mencubit pipi Laras. Memang, semenjak Laras hamil pipi nya semakin gembul.
" Issh mas Andra lepasin deh... Bilang ajah aku gemuk kan. Cik ". Berbalik sembari bersedekap dada. Ia enggan melihat suaminya.
" Haha enggak sayang... Malah tambah manis loh ". Rayu Andra
" Gak usah pake rayu-rayu an. Gak bakalan mempan ". Memanyunkan bibirnya.
'wahhh ngambek nih kayaknya. Mampus gue'.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya
__ADS_1