
Tak lama Andra beserta keluarga kecilnya menunggu di luar ruangan bu Aminah. Rasya pun keluar, ia terkejut melihat siapa yang duduk di kursi tunggu.
'gimana aku ngomong nya yah'. memikirkan apa kata-kata yang tepat untuk memberitahu Andra dan Laras yang sebenarnya.
Melihat Rasya keluar Andra langsung berdiri di ikuti Laras. Mereka langsung menghampiri Rasya untuk menanyakan keadaan bu Aminah.
Terlihat wajah sedih dan menyesal Rasya. Sungguh ekspresi yang diperlihatkan Rasya membuat kedua orang itu memikirkan hal yang tidak-tidak.
" Dokter Rasya apa yang terjadi pada ibuku? ". Air mata Laras terua keluar tanpa henti, Andra hanya bisa menenangkan Laras dengan mengelus-elus bahu Istri nya.
Rasya diam, ia tak tahu harus mengatakan apa. Apalagi mengingat Laras yang baru sudah melahirkan tiga hari yang lalu pasti tubuhnya masih lemah.
" Rasya apa yang terjadi pada mertuaku. Dia baik-baik saja kan ". Andra ikut bertanya
Rasya menunduk " maafkan aku ". Lirihnya
" Dokter katakan dengan jelas ". Tangan Laras lemas. Dengan cepat Andra mengambil baby Adhan agar tidak jatuh.
" Rasya ibu baik-baik saja kan ". Suara Andra tertahan. Hatinya semakin sakit melihat istrinya menangis.
" Ma... Maafkan aku.. bu.. bu Aminah____ ". Laras semakin tidak sabar, ia menggoyang-goyangkan tubuh Rasya.
" katakan yang jelas dok! ". Bentak Laras, pikiran nya sudah kemana-mana.
" Sayang... Sabar yah ". Andra mencoba untuk menenangkan. Baby Adhan semakin menangis di gendongan Andra.
" Rasya tolong katakan dengan jelas ". Andra masih mencoba untuk sabar dan tenang.
Rasya mengambil nafas lalu membuangnya pelan. Ia mempersiapkan dirinya " maafkan aku tapi kami sudah berusaha... Namun bu Aminah.. tidak bisa diselamatkan ". Kata-kata ala sinetron pun keluar.
Yaps sekarang setting lagu 'ku menangis'.
Laras diam. Ia syok, tubuhnya lemas sampai jatuh kembali ke kursi roda dengan tatapan kosong namun air matanya tak henti-henti keluar.
" Rasya jangan bercanda ! ". Andra membentak Rasya membuat baby Adhan semakin menangis.
Rasya hanya menggeleng.
" Huaaa.... Ibu... ". Laras menangis tersedu-sedu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Punggung nya bergetar.
Andra memberikan baby Adhan ke Rasya, Rasya menerima nya dengan senang hati. Setelah nya Andra langsung memeluk tubuh Laras yang bergetar.
Laras mendongak " kamu bercanda kan Dokter ". Laras masih tidak bisa menerima kenyataan yang ia hadapi sekarang.
'ya Allah apa lagi ini'. Andra tidak tahu harus apa lagi. Dari dalam hatinya ia selalu beristighfar, agar tidak shuzzon kepada pemilik alam semesta ini.
" Istighfar sayang... ".
Rasya mengambil baby Adhan dari gendongan Andra, karena ia tahu kalau bosnya itu pasti ingin memeluk istrinya. Dan benar saja setelah baby Adhan pindah dari gendongan nya, Andra langsung memeluk tubuh Laras yang bergetar. Terlihat Andra menghapus sesuatu dari sudut matanya yang belum sempat membasahi pipi.
" Hiks.. mas aku pe.. pengen hiks liat ibu hiks... ". Lirih Laras, Andra melonggarkan pelukannya ia melihat mata Istri nya yang bengkak. Sungguh hatinya teriris melihat hal itu.
Andra mengangguk dan menuntun Laras masuk kedalam ruangan bu Aminah. Ia sangat berhati-hati agar sang istri tak sakit hati melihat jasad ibunya yang sudah tak bernyawa, walaupun ia tahu itu tidak mungkin.
Laras dan Andra masuk kedalam ruangan bu Aminah. Terlihat seorang tubuh yang di selimuti sampai ke atas kepalanya hingga tak terlihat.
Dengan sangat hati-hati mereka melangkah, langkah kaki Laras bergetar, ia seperti akan tumbang disitu. Untung ada Andra yang akan selalu siap menenangkan dan menyemangati sang istri.
Mereka telah sampai tepat di samping tempat tidur. Dengan tangan yang bergetar Laras mulai membuka selimut yang menutupi wajah tubuh seseorang tersebut, di dalam hati Laras berharap agar saat membukanya bukan ibu yang ia lihat.
__ADS_1
Selimut baru sampai ke bagian mata yang tertutup, tapi Laras sudah tidak tahan lagi. Ia menangis dalam pelukan sang suami. Mata itu, ia sangat mengenali mata itu. Mata yang selalu menemaninya selama 26 tahun ini.
Laras sesegukan, kenapa! Kenapa hal ini terjadi pada dirinya. Disatu sisi ia bahagia karena kelahiran sang buah hati, namun di sisi lain ia harus kehilangan sang ibu. Apa yang harus ia lakukan! Berbahagia? Atau bersedih?.
Ia tahu hidup dan mati semua makhluk di dunia ini tidak ada yang tahu. Jika memang ajal telah menjemput, maka siap atau tidak harus siap.
Dengan perlahan Andra membuka selimut yang menutupi wajah ibu mertuanya. Terlihat di wajah bu Aminah senyuman lega. Entahlah apakah ia lega karena akhir dari perjuangan nya di dunia telah berakhir? Atau kah ada alasan yang lain.
'ibu, kenapa ibu tersenyum lega seperti itu?'. Batin Andra
Laras ikut melihat wajah ibunya untuk terakhir kali. Wajah teduh dengan senyuman yang mengukir di bibir nya. Seperti mengatakan bahwa tidak ada penyesalan yang ia tinggalkan. Anaknya telah bahagia bersama suami yang sangat mencintai. Ia juga dapat melihat cucunya untuk yang terakhir kali, walaupun ia sudah tak bisa bermain bersama sang cucu, biarlah yang penting ia tahu kalau anaknya telah bahagia dan tak lagi menderita seperti dulu.
Laras tersihir melihat senyuman ibu, ia berhenti menangis. Entah lah rasanya air mata tiba-tiba tidak mau turun saat melihat senyuman sang ibu yang melegakan. Ia tak mau menghalangi sang ibu untuk pergi, karena terlihat bahwa ibunya memang telah iklhas.
Tak lama kemudian... Alan datang, ia membuka pintu perlahan dan Melihat bosnya bersama nyonya muda saling berpelukan melepas tangis. Alan kembali menutup pintu perlahan.
Ia beralih Melihat seseorang yang menelponnya tadi, yang sekarang berada di kursi tunggu depan ruangan sembari menggendong bayi yang terlihat kelelahan sehabis menangis dan memilih untuk tidur.
" Rasya sebenarnya apa yang terjadi? ". Wajah Alan menampilkan kekhawatiran.
Rasya mendongak, ia mengembuskan napasnya pelan. Setelah menarik nafas, Rasya mulai bercerita apa yang telah terjadi. Seketika wajah Alan berubah pias. Apa yang harus ia lakukan! Istrinya pasti akan sangat bersedih mendengar berita ini! Dan bagaimana dengan bosnya? Ia berharap agar sang bos tidak terpuruk melihat nyonya muda menangis seperti itu.
Alan duduk di samping Rasya. Ia mengusap kasar wajahnya, menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. " Apa yang harus kulakukan ". Ia putus asa. Tiba-tiba kecerdasan yang selalu ia banggakan, menghilang begitu saja.
" Alan mending kamu telpon nyonya besar dan tuan besar. Mereka harus tahu hal ini. Dan jangan lupa untuk menghubungi Ardi agar membantu proses pemakaman. Oh iya, Istrimu juga harus kau hubungi ". Melihat sahabatnya yang tak tahu harus apa, Rasya pun memberikan saran.
Rasya memilih pergi dari situ untuk menempatkan baby Adhan ke ruangan yang layak.
Alan melihat sekilas Rasya, dan ia membenarkan hal itu. Di rogoh nya ponsel Android di kantong kemeja. Ia mulai me-nscrool dan mencari nomor telepon papa Rangga.
Setelah menemukan nya, Alan menarik nafas perlahan untuk menekan nomor ponsel papa Rangga. Ia mempersiapkan hatinya dulu, menyusun kata-kata yang pas untuk dikatakan. Setelah merasa sudah siap, Alan pun memencet nomor ponsel tersebut.
Tit.. tit.. dua kali berbunyi, akhirnya ada yang mengangkat.
" Wa'alaikum salam... Nyonya besar ".
" Hmm ada apa Alan? ".
" Ehmm.. i.. itu.. bu.. bu Aminah .. ".
" Ada apa sih Alan? Bilang yang benar, ada apa sama mbak Aminah? ".
" bu Aminah... Dia___ ". Alan pun menceritakan tentang hal yang sebenarnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi, ia mengatakan sama persis dengan apa yang dikatakan Rasya padanya tadi.
" A.. apa.... ini tidak benar kan ". Suara mama Ani bergetar
" Maaf ".
Terdengar isakan di seberang telpon, dan tanpa aba-aba tiba-tiba ponsel ditutup sepihak di seberang telpon.
" Gimana Lan? ". Rasya kembali, ia duduk di samping Alan.
Alan hanya menunduk. Ia kembali menaruh ponselnya di depan telinga. Hanya satu kali bunyi dan yang disebrang pun menjawab.
" Assalamualaikum Alan ".
" Wa'alaikum salam ".
" Ada apa Lan? ".
__ADS_1
" Gini Di. Bu.. Aminah dia.... __ ". Alan pun menceritakan semuanya, sama dengan apa yang tadi ia katakan pada Mama Ani.
Hening... Ardi tidak membalas.
" Ardi kau masih disitu kan? ".
" Ah iya. Baiklah nanti aku sampaikan pada Nisa, aku juga akan datang kesitu ". Suara Ardi melemah.
" Baiklah, gue tutup Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum salam ".
Rasya mengelus punggung Alan.
.........
Tak lama kemudian, Mama Ani dan papa Rangga datang dengan buru-buru. Melihat mama Ani dan papa Rangga datang, Alan dan Rasya sontak berdiri.
Tanpa menyapa mama Ani langsung masuk kedalam ruangan. Sedangkan papa Rangga memilih untuk mencari penjelasan terlebih dahulu.
" Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum tuan besar ". Jawab Alan dan Rasya
" Apa itu benar? ".
Mereka berdua terdiam dan menunduk. Rasya mendongak, ia yang akan menjelaskan nya. Karena memang dialah orang pertama yang mengetahui hal ini.
" Iya tuan besar, itu benar ". Menunduk " Maafkan aku ". Lirihnya. Ia benar-benar menyesal tak bisa menyelematkan bu Aminah. Padahal Andra memanggil Rasya pulang ke tanah air dan meninggalkan negara kincir angin itu agar menyembuhkan bu Aminah, tapi ia malah tak bisa memenuhi harapan dan kepercayaan Andra.
Papa Rangga menepus pundak Rasya " angkat kepala mu! Kamu sudah berusaha, ajal tidak ada yang tahu jangan menyalahkan dirimu sendiri ". Papa Rangga beralih ke Alan
" Kamu juga Alan! Sekarang mending kamu siapkan pemakaman almarhumah besanku. Panggil Ardi agar membantu ". Papa Rangga tahu, Andra tak akan ada waktu untuk mengurusnya, bukan karena tidak mau. Tapi Andra pasti sibuk menenangkan sang istri, dan mengurus baby Adhan.
" Baik tuan besar ". Alan pun mulai menelpon anak buahnya untuk segera mengurus semuanya.
Mama Ani masuk kedalam ruangan, hal pertama yang ia lihat, adalah dimana Andra memeluk istrinya yang bergetar dan menangis dalam diam. Tak terasa air mata mama Ani juga ikut mengalir.
Dengan perlahan ia berjalan mendekat, dan satu hal yang membuatnya sakit hati, namun lega. Wajah bu Aminah yang memucat tak ada tanda kehidupan namun masih tetap tersenyum senang.
" Assalamualaikum ".
Laras melepas pelukan Andra " wa'alaikum salam ". Jawab mereka
" Ma... ". Suara Laras bergetar, perlahan Laras mendekati mama Ani.
" Sayang... Sabar yah ". Memeluk Laras dengan erat, Laras membalas pelukan yang di berikan mama Ani.
" Ma.. ibu.. ma... ". Merengek, seperti mengadu.
" Iya sayang... Sabar yah ". Sebisa mungkin mama Ani menguatkan Laras, walaupun dirinya juga tidak baik-baik saja.
Mama Ani sangat akrab dengan bu Aminah setelah Laras dan Andra menikah. Pasti tiap hari mama Ani menyempatkan untuk menjenguk bu Aminah. Mama Ani menganggap bu Aminah sebagai kakaknya sendiri, kelembutan yang diberikan bu Aminah membuat mama Ani nyaman dan senang bersama bu Aminah.
Kesabaran, keikhlasan. Hanya itu yang dibutuhkan dalam menjalani ujian dari Allah. Orang beriman tak akan luput dalam ujian-Nya.
Saat orang-orang yang dicintai pergi, maka ikhlaskan dia, agar ia tenang dan senang untuk meninggalkan kita. Perjuangan dia hanya sampai disini saja, bertahanlah untuk dirinya juga. Waktu tak dapat diputar, kata 'seandainya' akan selalu terucap, namun sayang itu sudah terlambat.
TBC
__ADS_1
aku gak bisa buat adegan yang sedih-sedih bangat. jadinya kaya gini deh, kalo kalian tersentuh Alhamdulillah, kalo enggak yah Astaghfirullah 🙃
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya