Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Kesedihan dan penyesalan Rasya


__ADS_3

Flash back on


Di ruangan ini tepatnya di ruangan Andra. Terlihat dua pria yang tampan nan gagah sedang fokus dengan pekerjaannya masing-masing. Tidak ada yang menyapa atau bahkan bersuara sedikit pun.


Keheningan nya menjadi satu, sampai akhirnya sang bos bersuara.


" Oh yah Lan. Jadi gue punya rencana nih ". Ucapnya


Yang di sebut namanya, menghentikan pekerjaannya dan mendongak melihat Andra. " Rencana? Rencana apa? ".


" Jadi kan hubungan gue sama Laras udah banyak orang yang tau nih. Jadi, gue mau mempublish kepada dunia tentang istri gue. Nurut lu gimana? ".


" Kalo gue sih terserah lu ajah, gimana baiknya ajah. Yang penting bini lu senang dan gak tertekan ".


" Iya gue tau, kalo gitu lu atur ajah yah ".


" Hmm gimana kalo di acara talk show gitu. Kan entar host nya yang ngasih pertanyaan, terus lu atau Laras yang jawab ".


" Oke deh gitu ajah. Jangan lupa ama jumpa pers nya buat konfirmasi nya ".


" Iya.. iya gue tau, kalo soal jumpa pers cuman sebentar doang. Tapi gue harus cari penata rias yang bagus yah ".


" Penata rias? Untuk apa? ". Yah.. tidak mungkin kan mereka akan tampil tanpa make up sedikit pun.


" Yaelah... Buat nyonya muda lah, kan entar bakalan masuk tv. Mana di acara talk show nya pasti lama kan ". Dan tentu akan banyak orang yang menonton nya.


'tunggu dulu! Jadi semua orang bakalan ngeliat wajah cantik Istri gue. Ehhh enak ajah'. " Enggak batalin ajah. Mending Laras gak usah ikut ke acara talk show nya ". Ucapnya bersungut-sungut.


" Ha!! Ngomong apaan lo. Kenapa tiba-tiba ".


" Enggak ada! Pokoknya biar gue ajah yang tampil ".


" Gak bisa gitu lah Andra.... Entar apa kata para netizen kalo cuman lo yang tampil. Pasti nyonya muda bakalan di gunjing kan. Di katai yang tidak-tidak ".


Andra diam. Dia membenarkan apa yang di katakan Alan. Netizan zaman sekarang, tidak memerlukan fakta untuk berita yang beredar. Yang pasti jika itu menarik, walaupun itu baik atau buruk. Pasti mereka akan membicarakan nya dan menyebarkan rumor yang tidak-tidak. Dan nanti, rumor itulah yanh di anggap faktanya, sedangkan yang sebenarnya akan tenggelam di dalam rumor.


" Gini ajah. Gimana kalo saat acara talk show, gak usah bawa Laras. Tapi pas jumpa pers baru lu ama Laras harus ada disitu. Gimana? ".


" Hmm Baiklah... ". Sebenarnya Andra mengadakan acara ini, karena agar Istri nya dihormati di masyarakat. Tidak ada yang menindas nya atau mengatakan hal-hal buruk terhadap nya. Biarlah Laras menggunakan nama atau wibawa Andra, asalkan tidak ada yang berani mengatai atau mengganggu Laras.


Flash back off


Kita kembali ke masa sekarang. Masih di tempat yang sama yaitu di dalam mobil.


Andra masih bergelayut dalam pikirannya. Masih sama, ia tidak rela membiarkan orang-orang melihat wajah menggemaskan istri nya.


'haaahh rasanya gua gak rela orang-orang liat wajah menggemaskan istri gue'.


Kalo bukan karena apa yang dikatakan Alan itu benar adanya, sudah pasti Andra tidak akan membiarkan orang-orang melihat wajah istrinya. Menurut nya wajah Laras yang menggemaskan, yang kata Andra cantiknya bak bidadari, senyumannya yang dapat melelehkan hati Andra. Hanya untuk Andra seorang, ia tidak rela jika harus ada yang melihat nya selain dirinya.


" Jadi nanti aku harus tampil cantik yah mas, di jumpa pers nya ".

__ADS_1


" Gak usah! Yang biasa-biasa ajah! ". 'entar mata laki-laki keluar lagi ngeliat cantiknya istri gue'.


" Eh! Tapi kenapa? ".


" Mana ada yah, laki-laki yang rela memperlihatkan kecantikan wanita nya di depan publik sayang.. nanti mas yakin mata laki-laki di luar sana keluar melihat bidadari di dalam tv ". Jelasnya serius. Namun di anggap lelucon oleh Laras.


" Hahah mas.. mas.. mana ada lah. Yang ada itu pasti para wanita-wanita yang melotot melihat pria pujaan mereka bersanding dengan wanita biasa kaya aku ". Lirih Laras


Andra menangkup kedua pipi Laras. " Wanita biasa! Enggak tuh! Wanita yang saya pilih itu, adalah wanita luar biasa ". Andra mengatakannya dengan wajah yang serius. Sangat serius, sampai-sampai tidak ada yang berani mematahkan keseriusan nya.


" Hmm terima kasih mas. Cuman mas yang anggap Laras luar biasa ". Matanya berkaca-kaca.


" Udah sayang... Jangan nangis ". Membelai pipi Laras


Laras hanya mengangguk. Yah walaupun air matanya tetap jatuh. Ia sangat terharu, tidak pernah Laras menyangka akan ada suatu hari orang datang dan memberikan cinta yang sangat berlimpah padanya. Semenjak ayahnya pergi meninggalkan nya, tidak pernah lagi Laras merasakan kehangatan seorang laki-laki.


Laras selalu bertanya-tanya, apakah ia memang pantas mendapatkan cinta yang di berikan Suaminya ini kepada nya? Apakah ia pantas bersanding dengan orang sebaik Andra? Apakah derajatnya pantas bersanding dengan orang hebat seperti Andra?. Ia takut jika Suaminya akan pergi meninggalkan nya, karena mendapatkan pengganti nya yang lebih darinya.


Tapi, seperti nya kekhawatiran nya sudah tidak di perlukan. Andra sudah mengatakan kalau Laras adalah orang yang luar biasa, orang yang hebat dan tidak akan tergantikan.


Diberi limpahan cinta seperti ini, membuat Laras sangat senang. Tapi tidak lupa cangkangnya. Dari mana ia berasal, ia masih mengingat nya.


...***...


Satu Minggu berlalu...


Akhir-akhir ini Mai sangat jarang mendapatkan pesan dari Alan. Terakhir Alan mengirimi nya pesan dan mengatakan dirinya akan sangat sibuk karena mengurusi acara talk show dan Jumpa pers Andra.


Huhhh


Lalu memasukkan nya kedalam tas. Mai melangkah menyusuri lorong rumah sakit sampai ke tempat parkiran.


Sesampainya di tempat parkiran, rupanya sudah ada Rasya yang menunggu nya sembari melemparkan senyuman manis dan lambaian tangan. Mai membalas dengan anggukan serta lambaian tangan juga.


Mai menghampiri Rasya " Assalamualaikum senior ".


" Wa'alaikum salam.. udah pulang Mai? ".


" Iya. Apa senior punya urusan disini? ".


" Iya, tapi bukan disini. Melainkan sama kamu ".


" Aku? Urusan apa? ".


" Hmm sebenarnya ada yang pengen aku omongin sama kamu. Tapi gak disini, bagaimana kalo ikut aku? ". Menunjuk ke arah mobilnya yang ada dibelakang nya menggunakan jempolnya tanpa berbalik.


Mai berfikir sejenak. Sebenarnya Mai sudah tahu apa yang akan di katakan Rasya padanya. Ia membulatkan tekadnya untuk segera mengakhiri hubungan yang tidak jelas dan dia tidak ingin memberikan harapan lebih pada seniornya.


" Baiklah.. tapi kita pake mobil masing-masing. Bagaimana? ".


" Ehmm baiklah ". Canggung Rasya.

__ADS_1


Akhirnya mereka masuk kedalam mobil masing-masing. Rasya melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sedang ramai dengan berita yang baru saja di posting oleh salah satu petinggi perusahaan Anastasia Corp, tentang kesediaan sang CEO untuk hadir di salah satu talk show tv terkenl. Mai mengikuti mobil Rasya dari belakang.


Sesampainya mereka di sebauh restoran yang cukup besar. Rasya dan Mai masuk beriringan ke dalam restoran. Di sepanjang jalan Rasya sudah menetapkan hati nya, membulatkan tekadnya. Di tolak atau di terima semuanya adalah pilihan terbaik yang ia pilih sendiri.


Mereka berdua duduk di salah satu kursi tersebut. Setelah memesan makanan nya, keadaan hening. Mai masih menunggu Rasya berbicara terlebih dahulu. Sedangkan Rasya masih menata kata-kata yang akan di katakan nya.


Tak ada pembicaraan, sampai sang pelayan kembali membawa makanan mereka. Setelah memberi tip pelayan tersebut pun pergi dengan rasa canggung yang ikut menyelimuti nya melihat kedua orang di depannya.


Rasya meremas jari-jarinya di bawah meja. Mencoba untuk menyembunyikan kegugupannya.


" Senior? ". Mai mencoba membuka suara


" Ah! Iya ? ". Tersentak kaget


Mai mengerut kan keningnya. Bukannya tadi yang bilang akan berbicara padanya adalah Rasya, kenapa malah Rasya sendiri yang tersentak seperti itu. Sungguh aneh!


" Oh maaf.. ". Memperbaiki posisi duduknya. Ia mulai menampakkan wajah seriusnya. Sama! Mai juga sedari tadi menampakkan wajah seriusnya, sebenarnya hanya sebuah muka datar biasanya.


Rasya merogoh kantong nya. Dicarinya di kantong depannya, tapi tidak ada! Wajahnya mulai panik. Tangannya turun ke kantong celananya dan sepertinya disana lah ia menaruhnya.


Rasya mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah kecil. Ia menaruhnya di atas meja, tapi belum di bukanya.


" Aku memang bukan pria yang sempurna dan luar biasa, ada banyak kekurangan ku.. ". Ucapnya ingin menggenggam tangan Mai, Namun sayang sepertinya dewa jodoh tidak sedang berpihak padanya. Karena tangan Mai tidak sedang ia letakkan di atas meja.


" Tapi...__".


" Tunggu dulu senior! ". Mai memotong perkataan Rasya. Ia sudah tahu apa yang akan di katakan oleh Rasya.


" Sebenarnya sudah ada orang yang aku sukai.. maaf ". Katanya, dan melirihkan suaranya di akhir kalimat. Mai tidak ingin seniornya yang baik hati di depannya ini sampai harus mengatakan perkataan 'aku suka kamu' atau 'aku cinta kamu'. Atau mungkin kata-kata yang bersaudaraan Dengan kata-kata tersebut.


Rasya kaget. Bukan karena perkataan Mai tapi karena Mai tiba-tiba memotong perkataan nya dan bahkan menolak nya, apalagi ia belum sempat mengungkapkan perasaan nya. Ia sudah tahu kalau Mai tidak menyukainya dan sudah ada seseorang yang di sukai nya, mirisnya ia tahu siapa yang di sukai pujaan hatinya.


Rasya menunduk, ia menertawai dirinya sendiri. Kalah sebelum bertanding. Mungkin itulah kata-kata yang pas untuk dirinya sekarang. Sangat menyedihkan.


Sedangkan Mai, ia juga merasa bersalah. Tapi sayang wajahnya tidak dapat dikondisikan. Kelakuan Mai memang jahat, bahkan itu sangat kejam untuk seorang yang sudah rela menghabiskan waktu nya hanya untuk mengejarnya. Namun, bagaimana lagi. Ia tidak menyukai orang di depannya, tidak ada rasa istimewa sedikit pun.


" Maaf senior, aku memotong perkataan mu. Tapi sebaiknya kata-kata yang akan senior katakan sebaiknya katakan lah pada orang yang berhak, dan orang yang memang mencintai senior. Wanita yang akan menemani senior sampai tua ".


Rasya mendongak Dengan wajah lesu " tapi kenapa wanita itu bukan dirimu? ". Sebisa mungkin Rasya menahan tangisnya.


" Maaf.. ". Lirih Mai. Ia langsung berdiri " aku harus pergi ". Katanya lagi.


Rasya hanya diam. Dewa jodoh benar-benar tidak berpihak padanya sekarang.


" Assalamualaikum ". Mai langsung pergi


" Wa'alaikum salam ". Ucapnya pelan, sambil menunduk. Meratapi nasib, ingin menangis? Ia malu karena ada banyak orang di dalam restoran. Untung langit tidak menambah kesedihan nya dengan turun nya hujan.


Sangat sakit, tapi mau bagaimana lagi. Ia sudah kalah. Namun mirisnya ia harus kalah perjuangan demgan seseorang yang hanya berjuang selama tiga bulan, sedangkan dirinya? Ia berjuang selama tiga tahun. Ia menyesali keputusan nya yang tidak langsung mengungkapkan perasaan nya tiga tahun lalu. Nasi sudah menjadi bubur.


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2