
" Astaghfirullah Nis... Salam dulu ". Nis? Bukannya yang menelpon Mai.
" Oh iya, lupa, Assalamualaikum ". Akhirnya suaranya berubah menjadi lebih tenang.
" Nah, bagus kan kalo gitu. Ada apa? ".
" Ras, kamu yah kalo nikah tuh bilang-bilang dong. Apa kamu balas dendam karna waktu aku nikah gak kasih tau kamu? ". Ucapnya, terdengar dengan jelas kalau dia marah. Kembali lagi ke mode awalnya.
" Oh.. itu yah, lain kali aku ceritakan deh ". Inginnya Laras menceritakan sekarang, tapi melihat jika suaminya masih disitu mengurungkan niatnya. Apalagi hal seperti ini lebih bagus jika di bicarakan dengan tatap muka.
" Kenapa harus lain kali?, Sekarang ajah! ". Ketus Nisa.
" Titik gak pake koma. Gak pake nego-nego ". Lanjut wanita di seberang telfon dengan dingin.
Andra yang mendengarnya, menjadi bingung. Tadi suaranya cempreng, sekarang jadi dingin. Apa wanita itu punya sifat ganda?.
'eits.. tunggu dulu, dari mana wanita itu tau kalo Laras udah nikah? Perasaan paparazi itu udah gue bungkam deh, terus gak ada berita-berita di tv juga'. yah, baru sadar. Andra kemudian Melihat ke arah tv, dan yang dilihatnya malah oppa-oppa korea. Bukannya berita. Terpaksa deh, Andra mengambil ponselnya dan memeriksa nya, tapi tetap saja tidak ada.
Tak lama kemudian, Laras pun membunuh telfonnya, Untung tidak berdarah, kalau berdarah penjara sudah penuh, Bahkan tidak akan muat lagi. Dan otomatis manusia-manusia di bumi ini akan hilang.
" Siapa Ras? ". Tanyanya, bukan basa basi, karena dia memang tidak tahu.
" Sahabat-sahabat aku mas ". Kata sahabatnya dua, berarti sahabatnya bukan hanya satu.
'pantas saja suara nya tadi beda-beda'.
" Oh.. tadi saya dengar mereka bilang pernikahan ". Andra mencoba untuk memancing Laras, ingat yah, memancing perkataan bukan Laras nya yang dipancing.
" Iya, mereka udah tahu kalo Laras udah nikah. Katanya ibu yang kasi tau ". Terpancing lah Laras.
" Oh.. ". Akhirnya mendapatkan jawaban.
" Oh yah mas, aku.. ". Menggantungkan perkataan nya, gugup Laras
" Hmm? Kenapa? ". Sudah tahu kalau istrinya itu pasti ada sesuatu yang ingin dikatakan nya tapi takut. " Ngomong ajah, gak usah takut. Saya gak gigit kok ". Goda nya.
" Hahaha mas lucu deh, emang nya mas vampir apa ". Tawa Laras, Entah keberanian dari mana yang menghampiri nya lagi.
" Eh.. maaf mas ". Menunduk, menyesal? Pastinya. Berani sekali dirinya seperti itu di depan bosnya.
" Kenapa harus minta maaf, kan saya mengatakan nya memang untuk membuat mu ketawa. Jadi gak pa-pa, lagian sekarang saya kan suami mu ". Jelasnya panjang lebar. Heran sendiri melihat Laras yang masih takut padanya, padahal sudah jelas jika dia tidak akan melukai Laras.
Laras mendongak dan menatap Andra tidak percaya. Lalu ia tersenyum manis kepada Andra " iya mas, makasih ". Katanya.
'ah... Manisnya istri ku'.
" Jadi? Apa yang ingin kamu katakan tadi? ". Kembali mengingatkan Laras akam topik awalnya.
" Hmmm apa aku boleh keluar, ketemu sama teman-teman ku mas? ". Meremas ujung bajunya. Takut jika tidak diizinkan.
Sebenarnya Andra memang kurang setuju jika Laras keluar, bagaimana jika paparazi itu kembali mengikuti nya? Secara ia telah melihat wajah istrinya itu. Jika saja di dunia ini membunuh tidak berdosa, sudah hilang paparazi itu dari dunia.
" Boleh.. ". Ucapnya, yang sontak membuat Laras mendongak dengan wajah berbinar. " Tapi... Harus diantar sama pak Supri, kalo gak mau yaudah gak usah pergi ". Jaga-jaga kalau saja ada apa-apa terjadi pada istrinya itu. Tapi semoga saja tidak ada.
Laras langsung mengangguk dengan cepat dan masih tersenyum lebar. 'lagian pak Supri juga udah menyukai ku'. Ternyata masih salah paham Laras.
'wa... Senang banget dia.. padahal baru satu hari gak keluar. Gimana kalo gue gak ngizinin dia keluar selama nya yah. Pasti udah meracau dia'.
" Kalo gitu aku pergi siap-siap dulu yah mas ". Ucapnya semangat
" Iya ". Mengangguk. Laras pun dengan cepat pergi ke kamarnya bersiap untuk bertemu sahabat-sahabat nya itu.
Setelah Laras sudah tidak terlihat lagi, Andra mengambil ponselnya di sampingnya dan mulailah menelfon.
" Awasi istriku ".
__ADS_1
" ... "
" Pastikan agar tidak ada yang mengikutinya atau melukai nya, jika dia tergores sedikit saja. Kamu tau apa yang akan terjadi pada mu kan ". Meminta bantuan tapi dengan cara mengancam. Untung yang di telfonnya adalah bawahannya sendiri.
" ... " .
Andra kemudian menutup telfonnya sepihak.
Tap.. tap.. tap..
Laras berjalan mendekati Andra. Dengan rok berwarna cream panjangnya sampai betisnya dan ditambah dengan kaos oblongnya berwarna putih berlengan pendek. Rambutnya yang panjang lurus berwarna hitam dibiarkan tergerai begitu saja. Sepatu warna putih nya juga tak luput dari dirinya, ditambah dengan tas sampingnya yang menambah kesan dewasa dan modisnya.
Andra tertegun melihat pemandangan didepannya itu, benar-benar indah di pandang. 'ah.. cantiknya ustriku'. Rasanya dia tidak ingin mengizinkan Laras keluar jika penampilan nya secantik itu.
" Mas, aku pergi dulu yah ".
" Tunggu dulu ".
" Ada apa mas? ". 'moga ajah mas Andra gak berubah pikiran'. Berdoalah agar memang tidak berubah pikiran.
" Pak Rin, tolong ambilkan mantel saya di kamar ".
" Baik tuan ". Dengan sigap pak Rin mengambil kan mantel Andra.
'mantel? Untuk apa?'. Pikirannya belum tersambung dengan apa yang akan dilakukan suaminya.
Tak lama kemudian Pak Rin kembali dengan sebuah mantel coklat di tangannya. " Ini tuan, mantel anda ".
Andra menyambut nya dan memakaikan nya untuk Laras. Mantelnya benar-benar kebesaran untuk Laras, sampai-sampai mantelnya juga ikut menutup sampai betisnya. 'mana mungkin kan gue biarkan istri cantik gue diliatin orang'. Bersungut-sungut dalam batinnya.
" Mas.. ini? ". Memegang kerah mantel. Bahkan telapak tangannya sudah tidak terlihat karena ditutupi oleh mentelnya.
" Pakai saja, kalo masih mau pergi. Tapi kalo gak mau pergi, yaudah lepas ajah mantel nya ". Ucapnya.
Dengan terpaksa Laras pun tetap memakai nya. Walaupun dia tahu mantel itu tidaklah murah. Pasti harganya bisa sampai puluhan juta atau bahkan ratusan juta.
" Iya, ingat jangan sampai terlalu lama berpisah sama pak Supri ". Inginnya Andra pergi ikut, hanya saja sebenarnya pekerjaan Andra sangat banyak dan tidak bisa ditinggal kan. Dia juga sebenarnya terpaksa menemani istrinya dirumah hari ini, untuk lebih dekat dengannya. Tapi, karena sekarang Laras akan keluar, maka kerjaannya juga harus dikerjakan nya.
'ha?? Kok aku kaya anak kecil ajah yah dinasehatin agar gak jauh-jauh sama ibunya'.
" Iya mas ". Tapi tetap harus disetujui. " Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Mencium keningnya, dan lagi-lagi adegan itu tak luput dari kamera ponsel pak Rin.
Laras juga harus terbiasa dengan perlakuan Andra yang seperti itu padanya, walaupun dia masih bingung kenapa Andra memperlakukan nya dengan sangat manis. padahal pernikahan mereka tidak luput dari adanya kontrak. Pikiran Laras benar-benar low kalo soal percintaan.
Pak Supri sudah menunggu Laras di depan pintu mansion.
" Silahkan nona ". Membukakan pintu mobil. Laras benar-benar jadi ratu. Laras pun masuk ke dalam mobil, setelah nya barulah pak Supri melakukan mobilnya menuju ke cafe tempat Laras dan juga sehabat-sahabat nya janjian.
Nisa Angraini, adalah sahabat Laras dari bangku SMA sampai sekarang. Wanita cantik yang Sifatnya yang periang, luwes, semangatan. Ciri khasnya kalo bukan lagi suara cempreng nya. Dan satu lagi dia orangnya lebay plus alay. Seorang guru SMA di salah satu sekolah SMA terpopuler di kotanya, sifatnya saat berhadapan dengan murid-murid nya sungguh berbeda dengan sifat aslinya. Sudah bersuami dan memiliki anak satu yang masih berumur empat bulan. Nisa menikah memang baru sekitar enam bulan lalu. Dan pernikahannya juga di adakan di kampung halamannya dan tidak sempat memberitahukan kepada Laras, karena dilakukan dengan buru-buru.
Siti Maimunah Rasyad, biasa di panggil Mai. Dia juga sahabat karib Laras dari bangku SMA bersama Nisa. Sifatnya berbeda dengan Nisa yang periang dan semangatan. Mai selalu dijuluki si ratu es. Bagaimana tidak, dia sama sekali tidak pernah tersenyum. Jika ditanya kenapa dia jarang senyum? Jawabannya karena mukanya memang seperti itu dari lahir. Wajahnya memang cantik apalagi di tambah dengan wajah dingin dan juga sifat dingin nya kesannya menambah kedewasaan nya, tapi tidak ada yang ingin berteman dengannya. Kecuali Laras dan juga Nisa. Bukan hanya karena sikapnya yang dingin makanya tidak ada yang mau menjadi temannya, tetapi karena sifat blak-blakkan nya dan juga perkataan kasarnya tidak akan luput, jika menilai seseorang. Dia seorang dokter anak. Wa... Sifatnya benar-benar tidak sesuai dengan profesinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Laras melirik kesana-kemari mencari sahabat nya. Setelah beberapa kali melirik, akhirnya senyuman nya mengembang melihat seorang wanita dengan ponselnya sedang duduk di pojok cafe. Dan terlihat di samping kursi sandaran nya terdapat jas berwarna putih. Mungkin dia baru pulang dari rumah sakit? Atau mungkin baru akan pergi?.
" Assalamualaikum ". Salam Laras dan duduk di salah satu bangku disitu. Wanita itu mendongak.
" Waalaikum salam ". Jawabnya dengan wajah dingin dan datar, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
" maaf yah aku lama, tadi macet. Oh yah, Nisa masih belum datang? ". Melepas mantelnya dan menaruhnya di sandaran kursi yang di duduki nya.
" Iya dia belum datang ". Jawabnya masih dengan datarnya. Kemudian Mai mengetuk-ngetuk meja menggunakan telunjuknya. " Jadi, bisa di jelaskan. Tentang pernikahan dadakan mu? ". Beh... Langsung ke intinya dong.
__ADS_1
" Ah.. soal itu, nanti aku kasi tahu kalo Nisa udah datang, biar gak usah ku ulang lagi nanti. Kan capek ".
" Haaah benar juga, oke kalo gitu pesan ajah dulu ". Dan diangguki Laras. Setelah nya Laras pun mulai memesan.
" Ras, aku gak tau kalo kamu punya mantel limited edition itu. Itu harganya sampe ratusan juta loh ". Melirik kearah mantel, dan menunjuknya menggunakan dagunya.
" Haa??! Ratusan juta?. Aku memang udah tau kalo mantel ini mahal, tapi sampe ratusan juta? Gak salah tuh? ". Terkejut sendiri Laras, dan dengan sigap mengambil mantel itu dan lebih memilih menaruhnya di pangkuannya.
" Kok kaget sendiri sih, itu kan mantel mu ".
" Kalo aku punya uang beli mantel seharga ratusan juta ini, mending aku pake buat biaya rumah sakit ibu ".
" Benar juga sih. Jadi, punya siapa tuh?. Gak nyuri kan? ". Memicingkan matanya melihat Laras.
" Astaghfirullah enggak. Ini punya suamiku ". 'aduh... Mas Andra kasi beban seberat ini sih. Gimana coba kalo mantelnya jadi kotor? Kan sayang, dan pasti aku kudu ganti rugi'.
" Oh.. jadi suami mu itu kaya yah, aku kira kere ". Mulailah keluar kata-kata pedas dan kasarnya Mai.
" Hahaha Mai.. Mai.. sifatmu itu gak berubah-ubah yah ". Malah di sambut tawa oleh Laras.
" A.. ". Perkataan Mai terpotong, karena mereka mendengar keributan di cafe itu. Mereka berdua sebenarnya tidak terlalu perduli, hanya saja saat mendengar suara yang tidak asing di dalam kerumunan membuat mereka berdua menoleh melihat nya.
Seorang pria tampan, sedang mengejar seorang wanita cantik yang berjalan cepat. dan beberapa kali memanggil namanya, tapi tidak digubris oleh wanita itu. Pria itu kemudian memegang lengan wanita itu, dan langsung di tepis kasar olehnya.
" Jangan sentuh aku!!.. aku jijik sama mas.. aku benci!! ". Keluarlah kata-kata dari seorang korban sinetron.
" Iya.. iya.. mas tau. Tapi jangan marah-marah yah sayang ". Ucap lembut pria itu. Pria yang sabar.
" Kalo gitu jangan dekat-dekat, biarkan aku pergi ".
" Iya, mas kan juga gak sengaja tadi ".
" Biarin ". Kelakuan kedua pasutri itu tertonton jelas oleh para karyawan dan pelanggan di cafe itu.
" Nanti mas cuci tangan yah, supaya tangannya gak kotor lagi ". Dikira keributannya karena memang berantam gara-gara ada api dalam hubungan nya, rupanya hanya ke lebay-yan istrinya. Benar-benar mengganggu saja.
" Iya, tapi jangan dekat-dekat ". Melambai-lambaikan tangannya, cara mengusir nya kasar sekali.
" Iya, tapi kita duduk dulu yuk, kan Malu diliatin banyak orang ". Istrinya malu-maluin. 'untung sayang'. Kata-kata yang selalu di lontarkan dalam hatinya.
Wanita itu kemudian melirik kearah dua wanita yang sedang duduk sambil memalingkan wajahnya, bukan! Tapi menyembunyikan wajahnya.
" Aku gak kenal... Aku gak kenal ... Kumohon semoga tidak kesini ". Mantra-mantra yang diucapkan Laras dan juga Mai sedari tadi.
" Assalamualaikum ". Salam tiba-tiba wanita tadi dan diikuti oleh suaminya. Dramanya tadi seperti tidak pernah terjadi saja.
Dam doa Laras dan juga Mai seperti nya tidak terkabul kan.
" Waalaikum salam ". Jawab keduanya masih menyembunyikan wajahnya.
" Ras.. Mai.. kok jawab salam ku kek gitu sih ". Langsung duduk, tapi suaminya masih setia di belakang nya.
Laras dan Mai akhirnya memperlihatkan wajahnya. " Maaf, anda siapa yah? ". Tanya Laras. Dirinya benar-benar tidak percaya melihat temannya yang tingkah nya terlalu lebay. Entah bagaimana suaminya itu bisa bertahan.
" Iya, kami tidak kenal dengan wanita yang cerewet, lebay plus alay. Seperti anda ". Ikut Mai menggoda Nisa.
" Cik.. kalian yah... Selalu ajah kek gini ". Mencubit masing-masing pipi mereka berdua.
" Aduh.. aduh.. lepasin sakit Nis ". Memegang tangan Nisa.
" Nah kan baru ngaku kalo kalian kenal aku ". Melepas cubitannya.
" Lagian kamu lebay banget. Rasanya pen karungin ajah, gak usah di keluarin sekalian buat malu-maluin ajah ". Mulailah kata-kata pedas Mai.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen dan vote nya. lebih banyak lebih baik 😉