
Huh!
Cup..
Alan mencium singkat bibir Mai. Membuat Mai Terkejut dan langsung melihat Alan. Tentu yang dilihatnya memberikan senyuman kemenangan yang manis.
" Alan apa-apaan sih Malu tau! ". Kesal Mai saat ia di cium tiba-tiba di tempat umum seperti ini, bagaimana tidak itukan ciuman pertamanya, yah walaupun hanya sekilas. Mai juga menginginkan saat-saat yang indah untuk hal seperti itu.
" Malu apanya! Gak ada yang merhatiin tuh, bukannya kamu tadi yang bilang kalo kita bisa leluasa melakukan apa-apa ". Alan melancarkan serangannya.
Slebb
Mai kena skatmat. Ia termakan perkataan nya sendiri.
" Ckckck benar apa yang dikatakan Andra. Mending langsung bawa ke kamar ajah Lan ". Rasya datang dengan gaya santainya.
Sejak hari dimana Mai menolak Rasya, Mai selalu menghindar dari Rasya. Ia tidak ingin membuat masalah antara Alan dan juga Rasya.
" Cih ganggu lu ". Ketus Alan
" Hehe yaelah ... Tapi selamat bro atas pernikahan nya ". Memeluk Alan dan dibalas oleh Alan.
" Iya sama-sama ". Melepas pelukannya
" Doain semoga aku cepat nyusul ".
" Aamiin ". Ucap Mai
" Emang situ udah punya calon? ". Bukannya mengaminkan malah balik bertanya
" Hehe in syaa Allah baru proses ".
" Alhamdulillah selamat senior ". Ucap Mai ia merasakan bahagia saat mendengar perkataan Rasya barusan. Itu artinya persahabatan antara suaminya dan seniornya baik-baik saja.
" Hehe makasih Mai ". Rasya hendak menyalami tangan Mai tapi langsung ditepis oleh Alan.
" Bini gue!! ". Katanya dengan tatapan tajam.
" Harusnya aku yang disana🎶 ". Suara seorang pria bernyanyi mengalihkan pandangan mereka bertiga ke sumber suara.
" Dampingi mu dan bukan dia...🎶 ". Timpal seorang wanita sembari menggandeng tangan pria tersebut. Sedangkan pria yang di gandeng menggendong bayi perempuan berusia sekitar satu tahun.
" Ardi, Nisa!! ". Seru mereka bertiga bersama
" Hai... Gimana? Cocok gak lagu tadi yang kami nyanyiin dengan keadaan kalian sekarang ini ". Tanya Nisa dengan santai
" Nisa kamu apa-apaan sih ". Gerutu Mai " mas Ardi juga malah ikut-ikutan ". Ardi sudah bukan pria dingin lagi, jika bersama mereka.
" Hehe sorry cuman aku tertarik ajah ngegoda kalian ". Sifat Nisa mulai menular ke Ardi.
" Selamat yah buat kalian berdua. Semoga Samawa ". Nisa menyalami tangan Mai sembari memeluk nya, setelah nya ia beralih menyalami tangan Alan.
" Jangan lama-lama, bukan muhrim ". Ardi menarik tangan Nisa. Padahal belum juga dua detik.
" Ckckck lu yah Di, udah ketularan sama Andra ". Alan berdecak. Apa-apaan padahal mereka juga tudak berbuat apa-apa.
" Haha kamu ajah yang aneh Lan, masa gak tertular sama Andra padahal hampir 24 jam kamu ngekorin Andra ". Sahut Rasya
" Ck sableng lu. Wah.. ini Rani yah.. ". Untuk memperbaiki suasana hatinya, Alan beralih Melihat putri cantik nan menggemaskan yang di gendong Ardi.
" Iya paman... ". Ardi yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil, sembari memegang tangan Rani.
" Halo Rani kita ketemu lagi. Masih ingat paman kan yang gantengnya tak tertara, wibawanya buat orang merinding dan___ ". Ucapnya sungguh kepedean
" Jangan dekat-dekat sama aku paman, nanti ketularan narsis nya ". Rasya langsung memotong perkataan Alan, membuat keempat orang disitu tertawa terkecuali Alan.
Hahahha
" iya, ketawa ajah terus... ". Ketus Alan
" Ah udah ah, aku mau ketemu Laras dulu. Oh yah Laras mana ". Nisa menghentikan tawanya, ia juga tidak ingin merusak hari kebahagiaan untuk sahabat nya.
" Noh sana dijagain sama pawangnya ". Alan menunjuk menggunakan dagunya.
Mereka serentak Melihat kearah sumber yang ditunjuk Alan, dan nampaklah Andra dan juga Laras yang sedang menikmati makanannya dengan sepiring berdua.
__ADS_1
" Yang nikah siapa, yang bermesraan siapa ". Mereka serasa melihat adegan dalam drama-drama. Seperti punya dunia nya sendiri.
" Yaudah kami mau pergi samperin Laras dulu ". Ucap Nisa
" Baiklah aku juga udah mau turun ". Timpal Rasya
" Yaudah sana pergi kalian ". Wah cara Alan benar-benar mengusir mereka.
" Iya-iya dasar pengantin baru. Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum salam ". Setelah mendapatkan jawaban ketiga orang itu pun turun.
Ardi dan Nisa Langsung pergi menuju ketempat Laras dan juga Andra, sedangkan Rasya pergi mengurus urusannya sendiri. Sesampainya di tempat Laras dan Andra.
" Assalamualaikum ". Salam Ardi dan Nisa bersamaan
" Wa'alaikum salam ". Jawab kompak Laras dan Andra.
" Nisa!! ". Pekik Laras yang langsung berdiri dan memeluk Nisa, dengan senang hati Nisa membalas pelukan Laras.
Andra ikut berdiri saat istrinya berdiri. " Duduk sayang! ". Ucapnya tenang namun penuh penekanan.
Laras melepas pelukannya dan langsung duduk sesuai instruksi dari pawang nya. Eh! Ralat maksudnya Suaminya. Memang dasar Andra sudah seperti pawang saja.
" Wah Rani... ". Laras langsung beralih Melihat putri kecil sahabat nya yang menggemaskan. Ah sungguh pipi nya seperti magnet agar di cubit.
Laras hendak menggendong nya. Tapi tangan Andra mengentikan nya " kamu sedang hamil besar sayang ". Kalau kandungan kenapa-napa bagaimana coba!
" Iya ras, benar yang dikatakan tuan Andra. Kamu sedang hamil besar ". Nisa membenarkan perkataan Andra
" Yah tapi aku kan pengen gendong Rani. Ah! Gini ajah mas coba kamu yang gendong Rani ". Usul Laras dengan wajah berbinar.
Sedangkan Ardi dan Andra yang mendengarnya tentu di buat Terkejut, bagaimana tidak! Andra sama sekali tidak berpengalaman dalam menggendong anak kecil. Bagaimana jika Andra menjatuhkan nya!!, Pikir Andra dan Ardi
" Eh! Kenapa malah mas sayang? ".
" Iya, kayanya tidak perlu deh Ras ". Ardi angkat bicara, ia seperti mengetahui isi pikiran Andra. Dan Ardi juga tidak ingin mengambil resiko
" Ayah, gak boleh gitu. Tuan Andra silahkan jika anda ingin menggendong anak saya ". Nisa berfikir jika suaminya tidak suka jika Rani digendong oleh pria lain selain dirinya. Tapi sayang pemikiran itu salah.
" Gak pa-pa Ardi percayakan ama gue ". Bisiknya saat ingin mengambil Rani. Ia tahu kalau Ardi pasti ragu membiarkan anaknya digendong oleh orang yang tak berpengalaman.
Ardi yang melihat kesungguhan di mata Andra akhirnya mengangguk dan merelakan Rani digendong oleh Andra, keringat jagung Keluar dai dahi mereka. Ah sungguh berlebihan
" Wah.. mas kamu mirip hot Daddy hahahaha ". Tawa Laras saat Rani sudah di gendong oleh Andra.
" Hahaha benar juga Ras ". Nisa ikut menimpali, padahal suaminya sendiri juga sering dikatakan hot Daddy sama orang lain.
Laras dan Nisa asik menertawakan Andra, sedangkan Andra sendiri yang ditertawai merasa kaku, sedangkan Ardi ia malah gugup.
" Su.. sudah yah Sayang... ". Dengan cepat Andra memberikan Rani kembali pada ayahnya dan diterima dengan cepat pula oleh Ardi
" Kenapa mas? Kok kaya gugup gitu? ".
" Gak apa-apa sayang, mas cuman gak biasa gendong anak kecil. Takut jatuh ". Akhirnya Andra mengatakan yang sebenarnya.
" Hehe mas ada-ada ajah, gimana nanti kalo anak kita udah lahir. Masa harus Ardi yang gendong ".
" Hahah jangan gitu ras, mas Ardi ajah waktu Rani lahir. Dia panik sendiri, mana pake nangis lagi, soalnya gak tau cara gendong nya ". Jiwa-jiwa gosip Nisa keluar, mana Suaminya pula yang di gosip
" Yang benar!? ". Dan Nisa mengangguk
" Hahahha ". Tawa Andra dan Laras pecah
" Bunda.. ihh jangan umbar aib suami sendiri ". Tegur Ardi
" Hehe kebablasan yah ". Menyengir tanpa dosa
" Dasar cengeng lo Di ".
" Yah bos! Masa aku dibilang cengeng Bos belum ngerasain sih ".
" Gue gak bakalan nangis juga kali! ".
Saat mereka asik bercanda, tiba-tiba musik berbunyi. Para tamu langsung berlih melihat ke arah panggung yang memang disediakan untuk bernyanyi. Andra, Laras, Nisa dan Ardi juga ikut melihat kearah sumber suara. Alan dan Mai juga tak mau kalah dan ikut melihatnya dan mereka tak sangka siapa yang ada di atas panggung sedang duduk dengan memakai gitar, bersiap untuk bernyanyi.
__ADS_1
" Rasya!! ".
" Dokter Rasya!! ". Sentak mereka semua
Dengan percaya dirinya Rasya memainkan gitarnya. Ia sudah seperti artis. Semua yang melihatnya dibuat memukau dengan permainan gitar Rasya, belum bernyanyi saja sudah memikat bagaimana jika sudah bernyanyi. Apalagi tampang nya juga sangat tampan dan mendukung.
Mungkin sudah saatnya🎶
Kan ku akhiri masa kesendirian 🎶
Mempersiapkan hati tuk melamarmu.....🎶
Terimalah diriku.......🎶
Rasya mulai bernyanyi, lagu dari Tri Suaka yang berjudul 'Melepas Lajang'. Membuat para sahabatnya heran. Bukannya Rasya seharusnya patah hati yah? Kenapa ia malah menyanyikan lagu untuk melamar seorang wanita.
Tapi mereka juga tidak terlalu memikirkan nya, apalagi mendengar suara Rasya yang sangat merdu yang tak kalah dengan para penyanyi di luar sana.
Mungkin.. saat ini ku akan... Melepas masa lajang ku🎶
Kan ku persunting dirimu🎶
Jadilah Pasangan ku dan hidup menua bersama ku🎶
Terimalah cintaku 🎶
Saat Rasya menyanyikan lirik lagunya, ia selalu memandang seorang wanita berhijab yang sedari tadi dibuat salah tingkah oleh pandangan penuh cinta Rasya. Yap siapa lagi kalau bukan Aisyah.
Pasti kalian penasaran kan! Kenapa bisa Rasya malah menyanyikan lagu itu sambil melihat Aisya? Oke kita akan cerita, tapi nanti setelah Rasya menyelesaikan lagunya.
Mungkin sudah saatnya 🎶
Kan ku akhiri masa sendirian 🎶
Mempersiapkan hati tuk melamarmu 🎶
Terimalah cintaku🎶
Rasya berdiri dari duduknya dan melepas gitarnya, namun masih lanjut menyanyikan nyanyian nya.
Oooooowooowo🎶
Mungkin... saat ini ku akan... melepas masa lajang ku🎶
Kan ku persunting dirimu 🎶
Rasya berjalan mendekati seorang wanita yang terlihat gugup.
Jadilah Pasangan ku dan hidup menua bersama ku🎶
Rasya terus berjalan sambil bernyanyi hingga ia sampai tepat dihadapan Aisyah.
Terimalah Cintaku 🎶
Rasya berlutut di hadapan Aisyah saat ia menyanyikan lirik lagu terakhir nya. Ia memberikan mic nya pada seorang pelayan yang sepertinya memang sudah diatur oleh Rasya.
Rasya merogoh kantong nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, lalu ia membukanya yang rupanya isi di dalam adalah sebuah cin-cin.
" Aisyah, kita memang baru kenal beberapa bulan yang lalu. Kamu yang lembut, mandiri, manja dan kadang cerewet. Membuat aku tertarik padamu. Kamu berhasil merebut hatiku dalam waktu singkat. ". Rasya menjeda Kalimatnya sembari menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
Sedangkan Aisyah ia sudah tidak tahu harus begaimana, satu yang pasti ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi kali ini. Para tamu undangan juga sudah berfokus kepada mereka berdua.
" Aisyah.. will you merry me? ". Jantung Rasya seakan dipacu, keringatnya membasahi dahinya. Ia takut akan penolakan Aisyah. Sekarang ia tidak menembak seperti saat menembak Mai, tapi langsung melamar Aisyah, karena ia tidak ingin kecolongan lagi.
Aisyah terpaku ia terdiam. Entahlah ia tidak tahu harus menjawab apa. Sorak-sorak dari para tamu undangan memenuhi aula hotel
" Terima... "
" Terima .. ".
Memang selama beberapa bulan ini Aisyah dan Rasya jadi sering berkomunikasi dan berinteraksi. Oke saat kita menunggu jawaban dari Aisyah yuk flashback sebentar.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya.
__ADS_1
sedekah di bulan Ramadhan itu bagus loh^_^