
" mas... Lepasin mas. Pasti Nisa sama Mai udah datang ". Sudah datang dari satu jam yang lalu.
" Hmm tapi capek ini ". Masih enggan untuk melepaskan pelukan nya. Apalagi untuk membuka matanya, rasanya ia ingin dengan posisi seperti ini saja.
" Mas... Mereka udah nunggu tuh. Kalo mas gak mau turun, yaudah jangan tahan aku juga mas ". Kesal Laras.
Andra membuka matanya " iya ... Iya... ". Dengan malas Andra akhirnya bangun dan duduk, menyamankan dirinya.
Baru juga duduk, tiba-tiba...
" Hiks... Hiks... Mas jahat! Kalo gak ikhlas, gak usah pake sok-sokan mau ". Yah Istri nya malah nangis.
" Ha! Sejak kapan saya bilang gak ikhlas hmm ". Mendekap Laras. 'ini ada apa lagi nih'. Istrinya benar-benar aneh belakangan ini.
" Udah lepasin! Gak usah pake peluk-peluk, aku gak suka ". Meronta-ronta ingin segera pergi kebawah. Rasakan! ditolak kan
" Hei... kamu kenapa sayang? Hmm? ". Mengangkat wajah Laras menggunakan kedua tangannya.
Laras malah membuang mukanya, tidak ingin melihat wajah suaminya " mas yang apa-apaan... Kalo gak ikhlas gak usah sok-sokan mau. Kan aku malu mas, serasa numpang hiks... hiks.. " tangisannya pecah kembali.
Andra Terkejut mendengar nya. Menumpang? Kenapa tiba-tiba jadi menumpang? Memangnya mereka sedang naik bus!. Apa selama ini Laras merasa seperti itu saat tinggal disini. Hati Andra jadi tidak karuan. " Sejak kapan mas bilang gak ikhlas? Dan jangan bilang soal menumpang lagi. Ini itu rumah mu juga sayang, gak ada tuh istilah menumpang! Oke? ".
Laras mengangguk pelan, akhirnya lega yang dirasakan Andra. Ia mencium seluruh wajah istrinya tanpa celah. Hmmm sudah candu baginya.
" Tapi tadi mas malas gitu ".
Andra berhenti mencium wajah istrinya...... " Namanya baru sudah bertempur kaya tadi, apalagi baru bangun sayang... Pastilah suara nya jadi malas gitu ".
Laras terlihat berfikir.....
'duh moga gak salah ngomong lagi nih'.
Setelah beberapa saat akhirnya Laras manggut-manggut. Tanda ia mengerti, entah apa yang ada di pikirannya.
" Ah Astagfirullah.... Teman-teman ku udah ada dibawah pasti ". menepuk jidatnya. Ia Melepas tangan suaminya yang ada di wajahnya.
Lalu dengan langkah cepat nya ia turun dari ranjang " ayo mas! Cepat!! Jangan malas-malasan lagi ". Turun begitu saja tanpa memperhatikan kondisi nya.
Andra hanya melihat Tingkah istri nya, tidak! Bukan Tingkah nya, tapi tubuh istrinya yang polos sedang terpampang di depannya. " Sayang... Kamu menggoda mas? ".
Laras berbalik dan melihat suaminya yang sedang melipat tangannya di dadanya sembari menaikkan alisnya sebelah.
Laras menyerngitkan dahinya. Di wajahnya tertulis, apa-apaan sih. Mungkin seperti itu.
" Tuh coba liat tubuh mu ". Menunjuk menggunakan dagunya. Ia tidak ingin melepas tangan yang dilipat nya, takutnya ia khilaf lagi dan malah menyerang Istri nya.
Laras menunduk " ahhk ". Pekiknya dan langsung lari menuju kamar mandi.
" Hahahha manis bangat sih.... Ahhk ".
...----...
" Oke kalo di sponsbobeeeeee nih. Udah ada kata-kata 'one hours later'. Kapan selesainya mereka sih ". Mai berdelik kesal. Dari tadi ia sudah muak dengan pria di samping nya yang selalu menggoda nya. Bukan lagi Nisa yang juga turut ikut menimpali godaan Alan. Kalau Nisa belum punya suami, sudah di comblangin Nisa sama Alan. Biar tahu rasa! Dari tadi pikiran Mai selalu mengarah ke sana.
Untung ia ingat dosa. Agar tidak menghancurkan hubungan sahabat nya sendiri.
Untung Mai masih ingat malu! Kalo tidak sudah dari tadi Mai naik ke atas kamar Laras lalu mendobrak nya.
" Hahaha Mai.. Mai... Kartun kaya gitu masih di tonton ".
" Serah aku lah. Dasar mama muda ".
" Kan emang benar aku mama muda hahahaha ".
__ADS_1
" Tch... ". Kesal Mai. Tidak! Sudah dari tadi Mai kesal
" Haha gak pa-pa lah masih nonton yang kaya gitu. Biar nanti kalo udah jadi istriku, bisa nonton barang ". Godaan Alan keluar lagi.
Mai memutar bola matanya " garing ".
...****...
Pov Laras
Buru-buru ku ganti bajuku. Setelahnya barulah ku tarik tangan suamiku agar cepat-cepat jalannya.
Terlihat mas Andra hanya pasrah sambil geleng-geleng. Ada apa sih.
Saat baru keluar kamar, udah aku dengar ajah suara teman-teman ku yang menggelegar di seluruh ruangan. Udah mulai ajah padahal aku nya belum turun.
Salah ku sendiri sih, karena lama.
" Hati-hati sayang... Mereka gak bakalan hilang ". Kata mas Andra sembari menahan tangan ku.
Nih orang yah, gak punya rasa bersalah apa!
" Cepat mas... Kasian mereka udah dari tadi nunggu ". Kutarik tangan suamiku.
" Iya .. iya.. ". Nah kan dengar ajah, kaya malas bangat dia turun.
Baru di tangga, udah ku dengar lagi suara mereka yang kaya bersenda gurau. Gak ngajak-ngajak, tapi kok kaya Mai di tertawain yah.
Haaahh lagi pula sifat Mai datar ajah. Pasti di goda Nisa lagi tuh. Apa aku bangunin ring tinju ajah kali yah, siapa tau mereka tertarik dan mencoba. Astagfirullah... Nyebut diriku! Sahabat sendiri tuh.
Aku mencoba untuk lari menuruni anak tangga, tapi tangan suamiku malah mencengkeram pinggang ku. " Jangan lari-lari nanti jatuh ". Kelihatan nya mas Andra udah kesal sama tingkah ku. Aduh... Bisa berabe nih.
Ku pelanin langkah ku, samain sama mas Andra ajah deh. Pas udah sampe di ujung tangga terdengar suara mereka lagi. Karena udah dekat, akhirnya suara Mai terdengar, tapi kok kaya kesal bangat yah, mana pake maki-maki aku lagi.
Mana nih rumah besar bangat lagi, suaranya udah kedengaran tapi pas mau di samperin jauh bangat.
Setiap langkah pasti aku menggerutu " besar bangat sih nih rumah. Perasaan ruang tamu nya jauh bangat ". Mas Andra yang mendengarnya hanya Terkekeh dan sekali-kali mencium tangan ku.
Lucunya dimana coba! Untung sayang kalo enggak. Pas dia cium tangan ku, udah ku sungkirin ke mukanya. Makan sekalian.
Saat sudah sampai di ruang tamu, mata mereka semua tertuju pada ku. Eh! Kecuali kedua sahabat ku sih, mereka lebih melihat suamiku. Ada apa sih di wajah suamiku, aku ikut meliriknya. Wissss tampan bangat yah rupanya suamiku.
Dan entah kenapa, tapi kok aku gak suka mas Andra di liatin sama wanita lain, padahal mereka itu sahabat ku sendiri loh.
Karena masih gak terima, ku peluk pinggang suamiku. Sambil natap tajam mereka, mau ngambil mas Andra? Oh.. langkahi dulu mayatku
Pov Andra.
Aku heran melihat tingkah istriku yang tidak biasa. Pake bajunya disuruh cepat-cepat, kalo kebalik kan gak lucu.
Pas udah selesai, tangan ku langsung ditarik-tarik
Disuruh cepat-cepat. Kaya mau ngantri sembako ajah. Tapi senang sih ditarik-tarik. Asal gak ditarik ulur... Ea..
Di suruh cepat-cepat mulu, padahal mereka kan gak bakalan hilang.
" Pelan-pelan ajah sayang... Mereka gak bakalan hilang ". Ucapku, sambil nafan tangannya. Lumayan bisa pegang-pegang.
Setelah aku ngomong gitu, tatapannya langsung berubah. Sepertinya kesal deh. Mana katanya kasian mereka karena udah nunggu lama. Salah mereka sendiri kan, yang datangnya kecepatan.
" Iya... Iya... ". Pasrah ajah lah. Eh! Pas aku udah ngomong kaya gitu, kok di tatap malas sih sama istri tercinta ku yang satu ini. Aduh, salah lagi kan.
Tapi tetap ajah tangan ku di tarik-tarik. Saat udah di tangga, suara mereka yang ada di ruang tamu kembali terdengar. Tentu hal itu membuat istriku jadi pengen cepat-cepat. Mereka berisiknya minta ampun, sumpah pengen ku lakban mulut nya. Apalagi sih Alan yang suaranya paling terdengar jelas.
__ADS_1
Karena ku lihat Istri ku yang udah lari-lari di tangga, langsung ku tarik pinggang nya. Nah langsung diam! Gimana coba kalo dia jatuh? Padahal aku sebagai suaminya ada disitu.
Kami pun sampai di ruang tamu. Setelah mengucap salam, semua mata langsung tertuju pada kami. Apalagi sahabat nya Laras, tatapan nya mengintimidasi. Tapi tenang ajah, bukan Andra namanya kalo terintimidasi.
Aku ikut memperhatikan. Ohh jadi ini yang namanya Nisa, Istri nya Ardi. Sorry di aku gak sempat datang pas nikahan mu.
Aku beralih Melihat anaknya Broto Rasyad, salah satu kolegaku. Seleranya Alan nih. Namanya hahahha.
Setelah mereka melihat ku dengan tatapan nya. Tiba-tiba dari arah samping, istriku Langsung meluk pinggang ku erat dong. Kaya Takut kehilangan ajah. Ahhh pasti cemburu nih. Ku balas kembali lah pelukannya. Kesempatan ini.
Pov othor
" Assalamualaikum ". Ucap Laras saat ia dan samg suami sudah sampai di ruang tamu.
Mereka yang ada disitu beralih Melihat kedua pasutri yang ditunggu-tunggu dan akhirnya baru turun setelah membuat mereka menunggu selama satu jam lebih.
" Waalaikum salam ". Jawab mereka.
Nisa dan Mai tidak melihat Laras, melainkan suami Laras yang sedari tadi memegang posesif pinggang Laras. Mereka berdua meneliti, apakah dia benar-benar orang baik yang cocok dengan Laras atau tidak?
" Nah sih bos yang gak tau tempat akhirnya turun ". Alan membuka suara. Tapi yang mendengarnya hanya para pria saja.
Mai dan Nisa masih meneliti Andra. 'gila tampan bangat. Pen bawa pulang~ Astaghfirullah Nis nyebut!'. Nisa kembali melihat Andra. Lalu ia manggut-manggut. Udah deh memang tampan
Sayang seribu sayang, tatapan kedua sahabatnya yang melihat Andra, membuat Laras salah mengartikan nya.
Dengan posesif Laras memeluk pinggang suaminya lalu menatap tajam kearah kedua sahabatnya.
Andra Terkejut, ia langsung menunduk dan melihat istrinya. Andra kembali membalas pelukan Istri nya, serta mencium kepala Laras.
" Gak bakalan ku ambil ". Nisa membuka suara
" Santai ajah Ras. Kami masih ingat dosa ". Mai menimpali.
" Hahah Ras.... Kok tiba-tiba jadi posesif sih ". Alan ikut angkat bicara. Jiwa didalamnya ketukar?.
" Duduk dulu bos, Laras ". Ardi menyahuti. Masa mereka tuan rumah, tapi yang menyuruh duduk malah sih tamunya.
Laras melepas pelukannya, ia terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mereka berdua pun duduk di salah satu sofa yang kosong.
" Ada apa ras, kok tiba-tiba manggil? ". Tidak perlu buang-buang waktu, Mai langsung ke intinya.
" Kan udah kubilang kalo aku kangen ".
" Itu doang? ". Dan Laras mengangguk.
Mai menghembus kan nafasnya kasar. Dia kira ada hal penting, rupanya hanya gara-gara kangen. Mana tadi pasiennya ia tinggalkan begitu saja lagi!. Duh siap-siap gajinya di potong nih.
" Sabar Maimunah... Mungkin ini memang takdir cinta buat kita ".
" Udah deh Lan... Gak lucu ".
" Kalian saling kenal? ". Malah itu yang membuat Laras penasaran.
" Calon istriku ras ". Alan mengatakan nya sembari memperlihatkan gigi nya yang berderet rapi.
" Oh... ". Laras ber oh ria . Eh! Tunggu sepertinya ada yang salah " apa!!!!! ". Pekik Laras, reaksinya tidak beda jauh dengan Nisa dan Ardi
Sedangkan Andra? Dia biasa saja, lagipula ia jiga sudah tahu. Dan juga dia tidak peduli.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya