Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Apa lagi ini!?


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan pernikahan Laras dan Andra berjalan. Pernikahan yang awalnya karena keegoisan sang pria, kini berubah menjadi pernikahan yang di inginkan kedua belah pihak


Pagi ini Laras terlambat bangun, di karena kan ia begadang semalam untuk melayani suaminya yang seperti tidak mempunyai batasan saat berhubungan dengan nya.


Minta lagi ... lagi ... dan lagi, sampai membuat Laras tidak dapat mengikuti permainan nya.


" Ahh pinggang ku encok nih lama-lama ". Duduk dan menyender di sandaran kasur


" Pulas nya tidur... Habis bikin aku encok, malah enak-enakan yah ini suamiku tidur ". Dengan gemas mencubit pipi Andra


" Hmmm lima menit lagi sayang.... ". Andra mengigau.


Laras yang melihatnya Terkekeh dan turun dari ranjangnya, lalu masuk kedalam kamar mandi.


Hoek... Hoek...


Suara seseorang sedang muntah di dalam kamar mandi, membuat Andra langsung membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya, tapi tidak menemukan apa yang ia cari.


Hoek... Hoek...


Lagi... Suara itu terdengar lagi.


Andra langsung melompat turun dari atas ranjang dan berlari ke kamar mandi.


" Sayang... Sayang... Kamu gak pa-pa? Buka pintunya ". Andra terus mengetok-ngetok pintu kamar mandi, namun tidak kunjung di buka.


" Sayang... Buka dong.. kalo gak dibuka kudobrak nih ". Ancam Andra. Ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.


Karena tidak kunjung dapat jawaban dari dalam.


Andra mundur... Mengambil ancang-ancang untuk mendobraknya.


Satu... Dua... Ti..


Ceklek


Laras keluar dengan wajah pucatnya. " Astagfirullah sayang.. kamu gak pa-pa kan? " . Langsung mendekati Laras dan memapah nya


Laras memegang kepalanya lalu melihat suaminya dan memberikan senyuman " gak pa-pa mas. Kayanya masuk angin deh ".


" Kita panggil Rasya ajah yah ". Merogoh kantong nya, tapi tidak di dapatinya.


Andra kemudian melihat kebawah dan mendapati dirinya yang hanya menggunakan boxer.


" Astaga... Ponselku mana lagi ".


" Udah mas, gak usah. Ac nya di kecilin ajah ". Berjalan menuju kasurnya. Dengan sigap Andra memapah Laras dan membantu nya ke kasur


" Beneran? ". Laras hanya mengangguk sembari menampilkan senyumannya, agar suaminya itu tidak terlalu khawatir.


Andra mengambil remote Ac yang kebetulan ada di nakas samping nya. Setelah nya barulah ia mengecilkan suhu Ac nya.


" Gak usah pergi ke kantor yah sayang ". Duduk di samping Laras. Sebenarnya ia ingin memanggil Rasya, hanya saja ia ingin menghormati keputusan Istri nya dan ingin percaya Istri nya kalau ia baik-baik saja.


" Enggak mas! Aku pengen Bekerja. Hari ini ada klien yang harus aku temui ". Bukan Laras namanya kalau tidak kekeh ingin bekerja.


" Biar Ardi saja yang pergi ".


Laras menggeleng keras " pokok nya aku yang ingin pergi! ". Oke! Sekarang keputusan Laras sudah tidak bisa di bantah. Bukan! Bukannya tidak bisa di bantah, hanya saja Andra tidak tega membantahnya. Apalagi sekarang Laras sudah mengeluarkan jurusnya. Bibir sudah i monyongkan kedepan, karena cemberut.


Dengan gemas Andra mengecup singkat bibir Laras yang di monyong-monyong kan.


" Mas... ". Kesal Laras


" Hehehe maaf saya gak tahan ngeliat nya ".

__ADS_1


" Haissss ". Suaminya sangat suka mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Andra lalu memberika siraman ciuman untuk Laras di seluruh wajahnya tanpa celah.


...........


Laras turun ke bawah untuk berangkat ke kantor. Tubuhnya sudah tidak terlalu sakit.


Saat Laras sudah ada di meja makan dan makanan juga sudah tersaji di depannya, tinggal menunggu suaminya turun saja.


Laras tidak sengaja melihat sebuah Tupperware berwarna biru di atas meja, karena penasaran Laras pun membuka nya


" Bi yang bawa ini siapa bi? ". Menutup kembali Tupperware nya. Rupanya isinya hanya makanan penambah gizi.


" Itu kiriman dari nyonya besar nyonya ". Jawab bi Siti yang kebetulan sedang lewat


" Dari mama? ". Bergumam ". Oh iya bi. Bibi bisa lanjut kerja. Maaf gak bisa bantu ". Suaminya melarangnya untuk bekerja. Perjanjiannya memang seperti itu, jika Laras masih mau kerja di perusahaan maka ia harus berhenti membantu para pelayan.


" Iya tidak apa-apa nyonya muda. Kalo gitu saya lanjut dulu ". Laras hanya mengangguk.


Setelah bi Siti pergi. Ia mengambil kembali kotak Tupperware yang di berikan mama Ani. Membuka nya dan sedikit mencomotnya. Kemudian Laras mengelus perutnya. " Semoga bisa cepat isi ". Laras tahu kalau mertuanya itu sudah ingin cepat-cepat menggendong cucu dari rahim Laras. Tapi, apalah daya dia belum di beri amanah dari yang maha kuasa untuk itu.


Setidaknya hanya berdoa dan berusaha bersama suaminya yang bisa ia lakukan.


Andra pun turun dan mereka berdua sarapan bersama.


...-------...


Di dalam mobil. Tepatnya sekarang Laras akan berangkat menemui kliennya, tapi hanya dirinya sendiri.


Tak butuh waktu lama, ia pun sampai di sebuah restoran yang cukup terkenal.


Laras masuk lalu bertanya pada pelayan agar menunjukkan nya tempat yang memang sudah di booking oleh kliennya. Secara perusahaan yang akan di ajak kerja sama adalah perusahaan terbesar se-Asia yaitu Anastasia Corp, kliennya tentu tidak ingin imej perusahaan nya hancur di depan wakil perusahaan Anastasia Corp.


Pelayan menunjuk salah satu meja yang sudah terlihat ada seorang pria paruh baya yang sedikit berisi dan memunggunginya dan seorang wanita yang masih muda. Sepertinya ia sekretaris nya. Dan pria paruh baya itu mungkin adalah pimpinan perusahaan nya.


Laras menggeleng keras kepala nya. 'tidak! Itu tidak mungkin dia'. Secara perusahaan nya berbeda, tidak mungkin dia kan.


" Permisi... ". Sapa Laras saat sudah tepat berada di belakang pria tersebut


Pria itu berdiri dan langsung berbalik. Laras terkesiap melihat siapa yang ada di depannya. Rupanya tebakannya benar, pria itu adalah bosnya di masa lalu yang hampir melecehkan nya. Berkas di tangannya hampir saja terjatuh. Tapi kenapa!! Kenapa bosnya yang dulu bisa jadi perwakilan dari Intrepar grub, padahal setahu nya pria itu tidak bekerja disitu. Apa ia dipecat? Tapi kenapa!!.


Sedangkan pria paruh baya tersebut juga sama ikut terkejut melihat siapa perwakilan dari Anastasia Corp yang tiba. Sungguh ia tidak menyangka, wanita yang sempat hampir ia lecehkan dan akan ia jadikan simpanan ataupun istri keduanya. Sekarang ada di depan matanya. Jodoh memang tidak kemana pikir nya.


" Dengan perwakilan dari Anastasia Corp? ". Wanita muda yang mungkin seumuran Laras yang sedari tadi berdiri menyapa.


" Ah iya.. ". Menjulurkan tangannya dan diterima dengan senang hati oleh wanita tersebut " saya Laras dari perwakilan Anastasia Corp ". Menampilkam Senyuman manisnya, walaupun terpaksa. Traumanya kembali saat melihat pria menjijikkan di depannya itu.


" Lala, saya sekretaris pak Bonjo ". Yap, pria paruh baya mantan bos Laras bernama Bonjo.


Laras akhirnya duduk, ia mengabaikan tangan menggantung Bonjo. Untuk apa di terima, sudah bukan muhrim dan pasti penuh kuman. Kalau sakit gara-gara itu, kan tidak lucu


Mereka pun membahas kerja sama antar perusahaan yang di wakilkan nya. Yang sedari tadi berbicara hanya Lala dan Laras, sedangkan Bonjo hanya diam memperhatikan Laras dengan tatapan yang seolah-olah ingin menyantap nya saja. Bikin risih, tapi itu lebih bagus dari pada ia harus berbicara. Yakinlah bahwa pasti mulut nya bau sejelek wajahnya.


Eh!? Memangnya apa hubungannya bau sama jelek? Yah pasti adalah.


'tuh mata minta di colok'. Tangan Laras sudah gatal untuk menusukkan garpu yang di pegangnya ke mata Bonjo.


Setelah hampir sejam mereka melakukan diskusi untuk kerjasama nya, dan selama itu juga Laras harus menahan tangannya agar tidak berbuat kekerasan, kan malu sendiri kalau dirinya jadi viral hanya gara-gara itu.


Setelah mereka mendapatkan kesepakatan bersama, Laras pun cepat-cepat keluar dari restoran tersebut dengan berpamitan pada Lala tapi tidak pada Bonjo. Tidak ada gunanya berpamitan padanya.


Di parkiran, Laras sudah disambut oleh pak Supri.


Laras pun naik dengan di bukakan pintu sama pak Supri.

__ADS_1


Di perjalanan....


Brukkk


" Astagfirullah... Pak ada apa pak? ". Panik Laras. Tiba-tiba bawah mobil nya berbunyi ckitttt dan sempat oleng, sampai akhirnya berhenti. Untung pak Supri hebat mengendalikan mobil nya, kalau tidak sudah terguling mobil nya. Dan sepertinya keberuntungan memang ada di pihk mereka hari ini karena jalanan sedang lenggang.


" Ban mobil nya pecah nyonya muda... ". Pak Supri keluar dari mobil diikuti oleh Laras.


" Sepertinya kita harus menunggu sampai montir datang nyonya... Saya tidak membawa ban serep ".


Laras melihat jam di ponselnya, lalu berfikir dan... " Tidak pa-pa pak, mending saya pakai angkutan umum saja ". Laras tengah buru-buru kembali ke kantornya. Lagi pula ia sudah biasa naik angkutan umum, sebelum ia jadi nyonya muda di keluarga Ansari, tiap hari Laras harus naik angkutan umum yang berwarna biru atau hijau biasanya.


" Tidak nyonya.... Saya pesankan taksi saja ". Itu lebih bagus. Tidak akan kepanasan atau pun saling brrsempit-sempitan di dalam angkot


" Gak pa-pa pak aku naik angkot ajah ". Hitung-hitung nostalgia. Kapan-kapan lagi coba, dia bisa naik angkot lagi. Aroma jalan raya yang panas, suara bising dari knek yang mencari penumpang, sayuran-sayuran ibu-ibu yang biasanya menengger di wajah Laras. Hmmm asik bukan? Untuk Laras sih sebenarnya.


" Kalo gitu aku duluan pak. Assalamualaikum ".


" Waalaikum salam ". Pak Supri tidak bisa membantah perkataan Laras. Di larang juga, Laras tidak mungkin mendengarkannya.


Laras berjalan untuk menuju jalan besar mencari angkot, saat akan memotong jalan. Ia tidak sengaja melihat sebuah apotek. 'bulan ini aku belum kena mens, apa aku pergi beli tes pack ajah yah, semoga udah isi'. Dengan semangat Laras masuk kedalam apotek untuk membeli tes pack.


Setelah dari apotek, Laras kembali ke pinggir jalan untuk mencari angkot. Panas! Iyya panas yang dirasakan Laras. Siapa suruh ngeyel buat naik angkot, padahal sudah ditawari naik taksi atau tunggu supir lain yang datang menjemputnya dari rumahnya.


Tidak ada angkot yang lewat... Hingga.


Sebuah mobil berwarna putih singgah di depan Laras, tapi Laras mencoba untuk mengabaikannya.


Sampai seorang pria turun. Dan siapa lagi kalau bukan Andra Eh... Eh... Eh!!! Bukan! Bukan Andra. Masa Andra berubah menjadi pria tua.


Yap yang turun adalah Bonjo.....


Mata Laras membulat melihat nya. Apa gerangan yang membuat Bonjo singgah tepat di depannya. Tes pack yang di pegang Laras jatuh begitu saja.


Bonjo mengambil tes pack itu sembari tersenyum licik kepada Laras. " Setelah menolakku... Jangan bilang kalau kau menjual tubuhmu ".


" A.. apa !! Kembalikan!! ". Merebut paksa tes pack itu dan berhasil terebut. Laras menatap tajam Bonjo.


" Hei.. hei.. hei... Santai sayang ". Memberikan senyuman manisnya


Laras tidak menjawabnya dan hendak pergi dari sana.


Bonjo menahan tangannya " hei kenapa buru-buru... Apa kau ingin bertemu dengan tuan mu? ".


" Lepas!! ". Menghempaskan tangan Bonjo dengan kasar " itu bukan urusanmu!!! ".


" Hei ayolah... Berapa yang dia bayar untuk memakai mu? Dua puluh? Lima puluh? Atau seratus? Hanya segitu!! Sini biar aku bayar lebih dari apa yang diberikan tuan mu. Dan aku pasti tidak akan mencampakkan mu ".


" Tutup mulut mu!! Kamu tidak pantas berbicara dengan ku!! ". Lantang Laras. Seorang pria tidak tahu malu sepertinya, sungguh beruntung ada yang mau menikah dengan nya.


Laras kembali ingin pergi dari sana. Tapi Bonjo langsung menangkap kedua tangannya... Dan ingin menyeretnya ke dalam mobilnya


" Lepas ... Tolong.. tolong... Lepaskan brengesek ".


" Diam! Tidak usah jual mahal ". Bonjo terus menariknya untuk masuk kedalam mobilnya


" Brengsek!! Lepas...!! Tolong.. ". Teriak Laras. Laras terus memberontak, tapi tenaga Bonjo lebih kuat.


Laras menyiku perut Bonjo " ahkk dasar pelacur ". Plakkk...


Bonjo menampar pipi mulus Laras. Yang membuat air mata Laras tidak dapat ia tahan, karena itu memang sakit.


" Melawan lagi... Ku jahit mulut mu!!! ". Mencengkram pipi Laras menggunakan satu tangan nya, sedangkan tangan yang lainnya ia gunakan untuk menahan Laras.


'hiks mas Andra'.

__ADS_1


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2