Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Pertemuan Rasya


__ADS_3

Awas typo yang bersebaran dimana-mana. dan semoga tidak ada😌. Kalo ada harap maklum


Biasalah aku nulisnya tengah malam😪


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Ahhkk mas.. ". Pekik Laras, saat Andra langsung menariknya dan menggendong nya membawanya ke pangkuannya.


" Hm ada apa sih sayang? ". Menyingsingkan rambut Laras yang tergerai begitu saja ke belakang telinganya.


" Mas, jangan kagetin gini terus ". Mendengus kesal. Kekesalan nya bertambah.


" Dan juga kenapa mas bilang kaya gitu di grub kantor ". Ketus Laras


" Hahah marah yah. Mas cuman mau ngelurusin ajah, dari pada di anggap singel dan banyak wanita-wanita yang mendambakan bahkan mengejar suami mu ini, gimana dong? ". Sengaja mengatakan keuntungannya.


Laras diam 'iya juga yah'. Menengok melihat wajah suaminya, dan yang dilihat memberikan senyuman manisnya.


" Yang penting mereka tidak tau kalo aku yang jadi istrinya mas ".


'kok rasanya kesal yah mendengarnya'. Batin Andra, tapi ia tidak memperlihatkan kekesalan nya.


Andra semakin menarik Laras mendekat dan memeluk erat pinggang Laras.


" M.. mas.. kalo ada yang liat ini gimana? Turunin aku mas ". Sekarang akhirnya Laras sadar dengan posisinya.


" Gak bakalan ada yang liat, tidak ada yang berani masuk ". 'kecuali asisten tak ber-akhlak itu'. Menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Laras.


" Gimana kalo kita lakuin di sini? ". Berbisik, lalu menggigit gemas daun telinga Laras.


Laras yang mendengarnya tentu mengerti dengan apa yang dimaksud suaminya itu.


" M.. mas, jangan ini di kantor ". Menjauhkan kepalanya dari suaminya. Wajahnya sudah memerah. Gugup, tidak tahu harus berbuat apa


" Kalo gitu kita lakuin di rumah ajah nanti ". Tawar Andra.


" Eh.. ta.. tap hemmmmp ". Tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena bibirnya sudah di buat bungkam oleh bibir suaminya.


Andra pelan-pelan menciumnya, lama-lama ia me*umatnya.


Sedangkan Laras langsung mengalungkan tangannya ke leher suaminya, dan membalas nya. Ia sudah lebih pintar sedikit untuk membalasnya dengan tidak kaku.


Lama.. hingga Andra mulai memasukkan tangannya ke dalam pakaian Istri nya.


Sampai ia mulai memegang sesuatu yang sangat disukainya dan...


Ceklek...


Pintu terbuka, Alan langsung masuk begitu saja.


Sedangkan Laras dengan segera menarik ciumannya dengan suaminya, dan hendak berdiri. Tapi langsung ditahan oleh Andra


" Cik, napa sih lo! Ganggu! ". Melihat sinis Alan


" Lo yang apa-apaan. Ini di kantor bro.. bukan hotel ". Kesal Alan dibuat nya. Bagaimana tidak, baru masuk langsung disuguhi pemandangan yang dapat membuat jiwa jomblo nya meronta.


" M.. mas lepasin ". Bisik Laras. Wajahnya sudah memerah. 'siapa pun sembunyikan aku'. Kedapatan bermesraan di kantor, sungguh membuat nya ingin mengubur dirinya saja.


Tapi Andra malah semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Laras.


Dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Laras, sontak membuat wajah Laras semakin memerah.


Tingkah Andra berhasil membuat Alan mendengus kesal.


" Liat ajah, kalo gue udah nikah. Bakal gue pamer-pamer ". Dikira barang, mau dipamer. Dirinya sudah resah melihat bosnya yang seperti itu.


" Terserah lo, keluar sana!! ". Mengibas-ngibaskan tangannya di udara. Hush.. hush...


Tanpa melihat nya, masih asik dengan kegiatan menghirup wangi lembut di leher istri nya itu.


" Cik ".


Brakk...


Bunyi pintu nya benar-benar keras .


" Astagfirullah, mas sih jangan gitu lagi ahk ". 'kan malu'. Menggoyang-goyangkan pundaknya


Andra mengangkat wajahnya dan melihat istrinya " salah sendiri, ganggu kita ". Ucapnya dan langsung mengecup bibir istrinya.

__ADS_1


" manis ". Ucapnya dan mengusap bibir Laras menggunakan jempol tangannya.


Tentu Laras yang mendengarnya dibuat tersipu. Memangnya bibir bisa terasa manis? Entahlah hanya yang berpengalaman yang bisa mengetahui nya.


Tiba-tiba Laras mengingat sesuatu yang membuat nya menjadi dongkol. Dan sedikit menjauh dari suaminya, walaupun itu tidak mungkin karena sekarang pergerakan nya benar-benar terkunci dalam pangkuan Andra.


" Ada apa sayang? ". Heran Andra. Padahal tadi senang-senang saja, kenapa sekarang malah jadi sedih lagi.


" Hmm mas.. ". Ucap Laras seraya menunduk


" Kenapa? ". Tanya lembut Andra


" Waktu mas mmm... Ber.. berdua di dalam ruangan ini dengan bu Risa. Apa yang__... ". Belum sempat Laras melanjutkan kata-katanya, telunjuk Andra sudah menahan bibir Laras agar tidak melanjutkan nya.


" Jadi ini yang membuat mu jadi sedih hmm ? ". Laras mengangguk, sebenarnya ia canggung. Takut jika jawaban yang di tunggu nya tidak sesuai ekspektasi nya.


" Mas sama kuntilanak itu, tidak melakukan apa-apa ". Lanjut Andra.


Laras mendongak " beneran? ". Sudah terbiasa dengan kata-kata kuntilanak di telinganya. Wajah Laras seperti anak kecil saja, benar-benar menggemaskan.


Cup...


Satu kecupan singkat Andra berikan, dirinya tidak tahan melihat wajah istrinya yang menggemaskan dan menggoda.


" Ishh mas.. jawab dong ". Dengan wajahnya yang memerah, Laras mengatakan nya. Bukan marah, bukan!. Dia tersipu, ia masih belum terbiasa dengan tingkah suaminya yang sangat suka Menciumnya. Hari ini saja sudah tidak terhitung ciuman diam-diam dan tanpa izin yang di ambil Andra.


" Hahaha iya sayang. Habisnya kamu candu bangat sih ". Mencubit hidung yang tidak terlalu mancung dan tidak terlalu pesek milik Laras.


Andra kemudian menceritakan semuanya. Dimulai saat Risa masuk dengan paksa, dan juga tidak lupa Andra mengatakan saat dia mengancam Risa. Awalnya Laras kesal saat Andra mengatakan jika dirinya mengancam Risa, tapi saat Andra mengatakan lagi, kalau Risa sampai ingin menampar nya. Entah mengapa Laras malah balik kesal pada Risa.


Sepanjang Andra bercerita, tidak terhitung mimik wajah Laras yang berubah-ubah. Membuat Andra menjadi gemas sendiri, dan terkadang mencuri kecupan-kecupan di bibir istrinya.


" Ohh jadi gitu mas ".


" Iya, udah percaya kan? ". Laras mengangguk.


" Kalo gitu ayo kita makan mas, aku udah lapar ". Menunujuk bekalnya yang ada di atas meja.


" Astagfirullah.. saya sampai lupa. Ayo kita makan ". Akhirnya melepaskan Laras.


Mereka berdua pun makan dengan khidmat, oh mungkin tidak terlalu. Bisa dibilang mereka makan cukup romantis untuk pasangan yang sedang dilanda kasmaran.


...****************...


Mai yang sedang ada urusan di sebuah rumah sakit besar di ibu kota, terpaksa harus pergi ke situ. Walaupun ia Sangat malas, tapi saat dirinya mengingat kalau disitulah Bu Aminah di rawat, tiba-tiba kemalasannya hilang! Sirna begitu saja, entah kemana perginya.


Mai membuka pintu ruangan bu Aminah " Assalamualaikum ". Salam Mai


Bu Aminah menoleh " waalaikum salam ". Jawab nya sambil melempar senyuman nya.


Mai mendekat dan mencium tangan kanan bu Aminah.


" Mai sendiri ajah? ".


" Iya bu ". Jawabnya dengan wajah datarnya. Mai menaruh buah tangan yang sempat di belinya tadi di jalan di atas meja.


" Seharusnya tidak perlu sampai bawa-bawa buah tangan segala ".


" Enggak pa-pa bu. Itu cuman pelengkap saja ".


Bu Aminah hanya tersenyum melihat Mai yang datar-datar saja menjawab nya. Ia sudah tahu bagaimana sifat sahabat anaknya itu. Sungguh berpariasi dengan sahabatnya yang satunya lagi.


Mai menyerngitkan dahinya melihat wajah bu Aminah " apa ibu baik-baik saja? ". Memperhatikan garis wajah bu Aminah yang sedikit pucat, dan terlihat tidak sedang baik-baik saja. Padahal Laras mengatakan kalau ibunya itu sudah jauh membaik usai di Operasi.


" Ah.. i.. iya ibu baik-baik saja ". Gugup bu Aminah. Dia salah sudah berbohong dengan seorang dokter.


Mai menghela nafasnya, ia memegang tangan bu Aminah. " Bu, cerita yang benar bu. Ibu tidak sedang baik-baik saja kan. Dan aku ras Laras tidak mengetahui nya ". Kalau Laras tahu, ia pasti tidak akan berhenti menangis.


Bu Aminah langsung menarik kembali tangannya " ti.. tidak pa-pa. Kesehatan ku baik-baik saja ". Gelagapan


" Aku ini seorang dokter loh bu. Dan tadi aku tidak menyinggung tentang kondisi kesehatan ibu ". Kata-kata Mai, langsung membuat bungkam bu Aminah.


Bu Aminah tertunduk, lalu terisak. Ia kemudian menceritakan tentang kondisi kesehatannya yang tidak baik.


Penyakit nya itu sudah tidak bisa disembuhkan, bahkan kakinya saja mungkin harus segera di amputasi, karena pembusukan yang dialami nya akibat penyakit gula nya.


Tentu Mai yang mendengarnya terkejut. " Apa Laras benar-benar tidak tau kondisi ibu? ". Bu Aminah menggeleng


" Jangan katakan ini pada Laras. Aku tidak mau membebani pikiran nya lagi dengan kondisi ku. Sekarang dia sudah bahagia dengan suaminya yang baik. Aku tidak mau melihat nya menangis di pojokan lagi, membebani tubuhnya dengan pekerjaan non stop ". Ucap bu Aminah sendu.

__ADS_1


Mai diam, ia mengerti dengan apa yang di katakan oleh bu Aminah. Sebagai sahabatnya, Mai sangat tahu bagaimana perjuangan dan sederas apa tangisan dan juga keringat yang dikeluarkan Laras untuk mencari penghasilan untuk biaya pengobatan ibunya dan juga uang kebutuhan sehari-hari nya, atau uang kuliahnya dulu.


Melihat kehidupan Laras sekarang yang sudah berubah 360 derajat, tidak akan ada yang ingin membuat nya menjalani dan mengalami kehidupan seperti dulu lagi.


" Baik bu, aku tidak akan memberitahu kannya pada Laras. Tapi ibu tau sendiri kan konsekuensinya ". Mai tetaplah Mai. Kata-kata mya yang memang misteri dan menusuk tetap ada.


" Iy ibu tau ". Tersenyum lega.


" Kalo gitu aku pergi dulu yah bu. Ada urusan soalnya ". Dan itu memang benar. Prioritas nya datang ke rumah sakit itu bukan untuk menjenguk bu Aminah, tapi karena memang ada urusan pekerjaan. Walau bagaimanapun dia tetaplah seorang dokter.


" Iya, semoga lancar urusannya ".


" Amin... ". Mengatakan nya dengan muka datar.


" Kalo gitu aku pergi bu. Assalamualaikum ".


" Waalaikum salam ".


Mai pun keluar dari ruangan bu Aminah, dan pergi mengurusi masalah pekerjaan nya.


Setelah urusannya selesai, Mai berniat langsung pulang saja. Karena jam besuk bu Aminah juga sudah habis dan dilanjutkan nanti sore.


Di perkirakan, Mai sedang pusing mencari cara mengeluarkan mobilnya yang terselip di antara dua mobil.


Bukan hanya itu, untuk menggapai pintu mobilnya saja serasa tidak mungkin. Mobil nya benar-benar terhimpit. Rumah sakit besar memang beda, pasien dan banyaknya mobil mungkin perbedaan banyak nya sama.


Mai mondar-mandir tidak jelas, sesekali ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ingin minta bantuan ke satpam, yah.. pak satpam nya malah tidak ada. Tukang parkir? Entah lah, untuk pertama kalinya tukang parkir tidak terlihat. Biasanya sudah ada meniup-niupkan peluitnya, sambil mengatakan maju.. mundur... hal yang sangat tidak asing.


" Cik, ini punya mobil siapa sih ". Menghentak-hentakkan kakinya.


" Awas ajah, kalo aku tau Siapa yang punya mobil ini, akan ku jambat tu pala. Enak ajah main parkir sembarangan gak pada tempat dan garisnya ". Sudah sedari tadi Mai mengatakan sumpah serapahnya pada pemilik mobil yang entah tidak diketahui punya siapa.


" Ahhkkk ini gimana ini ". Mulai menjambak pelan rambutnya sendiri.


" Hmm anu.. permisi.. ". Seorang pria datang dengan stelan jas berwarna putih.


Mai berbalik " iya kenapa! ". Ketus Mai


" Eh! Mai? Maimunah kan ".


" Hmm ah!! Senior Rasya ". Wah.. rupanya Rasya


" Apa kabar Mai, udah lama kita gak ketemu ".


" Baik ". Singkat Mai. Sifat datarmya memang berlaku untuk kalangan muda dan tua. Dan Rasya tentu tahu itu.


" Kamu tidak berubah yah Mai ". Dan Mai hanya mengangguk. Setiap orang yang dia kenal menyapa nya, pasti selalu mengatakan hal seperti itu. Membuat Mai bosan saja


" Apa yang kamu lakukan sedari tadi disini? ".


" Oh.. ini senior. Aku mau masuk mobil ku, tapi terhalang Dengan mobil putih sialan ini ". Menunjuk mobil putih, yang memang dari tadi membuat Mai mencak-mencak disitu.


Glek....


" Haha maaf yah Mai. Ini mobil ku, tadi aku buru-buru ". Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lebih baik berbica jujur


" Oh.. jadi Dokter itu harus disiplin senior, kalo pasiennya dead gara-gara dokternya yang tidak disiplin, kan tidak lucu ". Kata-kata pedasnya keluar.


" Haha iya yah. Tunggu yah aku pindah kan dulu mobil ku ".


" Aku mohon cepatlah ". Datar Mai.


Rasya segera memindahkan mobil nya. Setelah ia memindahkan, akhirnya Mai bisa menuju pintu mobilnya lagi.


" Udah, sekali lagi maaf "


" Iya tidak apa-apa. Kalo gitu aku duluan senior ". Ucap Mai dan langsung masuk kedalam mobil nya dan menancap gas.


Meninggalkan Rasya yang masih bengong, karena belum sempat merespon nya tadi. Tapi walau begitu, ia tetap senang .


" Gak sia-sia aku pulang ke indo. Akhirnya ketemu sama pujaan hatiku lagi ". Membuka ponsel nya dan melihat foto Mai yang sedang duduk sambil membaca buku dengan wajah datarnya. Sepertinya foto itu ia ambil diam-diam.


Rasya dan Mai memang tidak satu kampus dulu. Mereka berdua bertemu di tempat praktek. Awalnya Rasya tidak terlalu suka dengan sifat junior nya yang menurut nya Sombong dan berwajah datar itu. Tapi, entah angin dari mana, dirinya malah tiba-tiba jatuh cinta padanya, karena melihat kebaikan Mai.


Dengan senyuman yang tak pernah hilang, Rasya kembali masuk kedalam rumah sakit. Sebenarnya tadi ia keluar gegara melihat seorang wanita yang mondar-mandir tidak jelas di dekat mobilnya. Tapi saat ia perhatikan rupanya mobil nya lah yang salah perkir.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2