
Andra membuka pintu dan melihat istrinya yang masih pingsan di atas ranjang nya, dengan posisi telentang.
Ia mendekati nya. Saat sudah ada di hadapan Laras, Andra jongkok untuk melihat wajah istrinya.
" Maaf Ras... Maafin mas ". Membelai pipi Laras. Sudah tak terhitung lagi kata-kata maaf yang dikatakan Andra.
Sekarang Andra benar-benar menyesal. Ini sudah keli berapa dia membuat Istri nya itu sedih.
Tapi, Andra benar-benar tidak sengaja melakukannya.
Andra menghujani wajah Laras dengan ciuman.
" Tenang ajah ras. Setelah ini semua, mas akan nyatain cinta mas dan gak akan membiarkan mu menangis lagi karena mas mu ini ". Kali ini Andra sudah membulatkan tekadnya.
Andra beranjak dari tempatnya, lalu ikut berbaring di samping Istrinya. Ia memeluk nya sangat erat, benar-benar takut kehilangan.
Tak henti-hentinya ia mengatakan kata maaf di balik pelukannya.
...----------------...
" Hahhh aku udah bosan... ". Rasya merosot dari sofa ke lantai. Sangking bosannya dia. Sedari tadi dia dan Alan hanya duduk berdua di sofa, biasanya juga sambil nonton tv.
Mereka kadang-kadang berbicara satu sama lain, tapi karena hobi dan pekerjaan mereka yang sangat berbeda jauh, mereka jadi pusing akan membicarakan apa.
Akhirnya lebih memilih diam, dan fokus dengan kesibukan nya masing-masing. Rasya yang bosan Sampai merosot ke kantai,
Sedangkan Alan fokus dengan ponselnya, sambil senyum-senyum tidak jelas. Hmm fiks seperti orang gila.
" Hei Lan.. ngapain sih dari tadi senyum-senyum melulu. Ada apa sih ". Dan sekarang Rasya menikmati selonjoran nya di lantai.
" Ini, gue lagi nge-stalking gebetan gue ". Tidak mengalihkan pandangan nya dari ponselnya.
" Cik, jadi ini cerita nya tinggal aku ajah nih yang gak punya cewek ". Merasa ter sisihkan.
" Hahahah baru nyadar lo. Makanya jangan cuman ngurusin rumah sakit doang. Sono pacarin perawat-perawat lo, kalo gak ada yang mau tinggal lamar mayat-mayat yang berlimpah di rumah sakit hahhhhaha ". Tawanya langsung pecah.
" Haha gak lucu ". Melihat sinis Alan, dan yang dilihat memberikan senyuman super manisnya. Please minta ditabok.
" Rasya.... Rasya... ". Teriak Andra tiba-tiba, dari arah tangga.
Alan lansung berdiri dan menoleh. Sama, Rasya juga langsung berdiri dan menoleh melihat bosnya yang datang tiba-tiba sambil marah-marah dan teriak.
'duh... Ada apa lagi nih'. Rasya menelan salivahnya susah-susah.
" Kenapa istriku belum sadar! Kau bilang hanya delapan jam. Dan sekarang sudah delapan jam, tapi istriku belum sadar-sadar juga ". Andra langsung marah-marah.
Rasya melihat jam tangannya. Iyya memang sudah lewat delapan jam. Tapi sekarang baru jam 22.01, yang artinya. Baru lewat satu menit.
Rasya mengehela nafas nya di dalam hatinya, karena tidak ingin mencari masalah lagi. Ia pun terpaksa harus sabar, dan mengikuti kemauan Andra.
" Bagaimana kalau saya kembali memeriksa nyonya muda, tuan ". Mending ambil jalan pintas saja.
" Ayo cepat ". Melangkah lebih dulu.
Rasya mengikuti nya dari belakang. Oh Alan juga tak mau ketinggalan, ia pun mengikuti langkah Andra dari belakang.
Di sela-sela perjalanan mereka, Andra terus saja mengoceh sana-sini.
" Bagaimana sih kerja mu!. Begini saja tidak becus ". Melangkah menaiki tangga. Ia mengomel tapi tidak melihat ke belakang nya, namun hanya kedepan saja.
" Kalau begini terus, bisa-bisa pasien mu kabur semua ". Andra masih lanjut mengomelinya
" Percuma jauh-jauh menuntut ilmu. Kalo ujung-ujungnya kerjamu cuma segini saja!! ".
Sedangkan Rasya yang dibelakang nya, hanya bisa bersabar. Mau ditabok, juga itu tidak mungkin. Jadi lapangkan dadamu saja.
Alan ikut membantu nya dengan mengusap-usap punggung Rasya.
" Sabar. Tuan muda sedang dalam keadaan mood yang tidak bagus ". Berbisik.
" Iya aku tau ". Jawab Rasya berbisik juga.
Mereka akhirnya sampai di kamar Andra.
Perjalanan yang sangat singkat, malah jadi sangat panjang bagi Rasya. Mana di iringi dengan ocehan tuan mudanya yang tidak henti-henti. Dan semua ocehannya hanya cacian yang dikeluarkan.
Rasya segera memeriksa Laras, ia kemudian mengambil tangan Laras dan memeriksa denyut nadinya, dan tidak ada kesalahan disitu. Ia juga bingung seharusnya nyonya muda nya itu sudah bangun.
Sampai..
Ia mendengar suara ngorokan kecil dari mulut nyonya mudanya
'yaelah. Kayanya sih tuan muda ini, otaknya gesrek kali'. Rasya kembali berdiri.
Andra mengerutkan keningnya, pemeriksaan nya sangat cepat, hanya butuh beberapa detik saja.
" Kenapa? Kenapa cepat sekali? Apa ada yang salah? ". Andra memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi
" Begini tuan, nyonya muda tidak bangun-bangun. Dikarenakan. Saat pingsannya telah usai, ia menggabungkan nya dan kembali tertidur ". Yah... Rupanya hanya tertidur.
" Tidur? Bukannya tadi dia pingsan? ". Andra tidak menerima jawaban yang diberikan oleh Rasya.
__ADS_1
" Iya tuan, seperti yang saya sempat katakan tadi. Nyonya muda sekarang sedang tertidur ". Wah.. sungguh hebat Rasya bisa menjawabnya dengan sangat tenang.
" Tapi akan bangun kan ". Memastikan, jika istri nya benar-benar akan bangun.
" Iya tuan. Pasti ". 'ya iyalah. Tuan muda..... Bisa gak, jangan nanya lagi'. Seharusnya kau suarkan kata-kata itu, tapi sayang dia tidak bisa.
" Alhamdulillah, bagus lah. Yaudah kalian berdua bisa keluar sekarang ". Kan... Sama sekali tidak tahu berterima kasih. Sungguh hebat para bawahan Andra, yang masih setia kepadanya sampai sekarang. Sifat tuan mudanya itu benar-benar membuat orang-orang naik darah
Dengan hati yang dongkol, Rasya dan Alan pun keluar.
Ingin sekali rasanya Rasya melemparkan kepalanya menggunakan sandal, agar otak tuan mudanya itu, sedikit bisa merubahnya.
Tapi itu tidak mungkin, walau bagaimanapun. Manusia yang selalu membuat nya kesal itu adalah tuan mudanya sendiri, dan tentu ia juga menghormati dan menyayangi nya.
Saat kedua orang itu keluar, kini hanya tinggal Andra dan juga Laras yang masih terlelap.
Andra mendekati Istri nya, lalu mencium kening nya, sebelum masuk ke kamar mandi, mencuci mukanya. Dan ikut tidur.
Karena memang sudah dari tadi Andra bangun, ia melanjutkan pekerjaannya, sambil menunggu jam 22.00, yah menunggu kesadaran istri nya.
Tapi yang ditunggu-tunggu tidak terlihat juga, membuat Andra kesal dan turun kebawah memaki-maki Rasya yang menurutnya kurang ber-kompeten. Padahal dirinya sendiri lah yang tidak sabaran.
......................
Subuh harinya...
Andra membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah Istri nya yang masih terlelap di pelukannya.
Ia tersenyum lalu menghujani wajah Laras dengan ciuman.
Itu sudah hal candu baginya. Rasanya wajah istrinya itu sangat manis semanis buah.
Setelah puas Andra beranjak dari ranjangnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekalian berudhu.
Lalu lanjut sholat subuh.
Seperti biasa, ia akan turun untuk joging dan melakukan aktivitas paginya.
Andra tidak mau membangun kan Istri nya, apalagi alasan pingsannya Istri nya itu karena kelelahan.
Ia benar-benar tidak habis pikir, sebenarnya apa yang dilakukan Istri nya itu sampai bisa pingsan karena kelelahan.
Laras membuka matanya, ia mengerjapkan beberapa kali matanya. Mencoba untuk membiasakan matanya dengan cahaya lampu di kamar nya.
Setelah beberapa saat akhirnya ia sadar sepenuhnya, dan langsung duduk.
" Ini dimana? ". Melihat sekeliling " oh di kamar toh. Eh bukannya waktu itu aku masih di taman yah. Apa jangan-jangan mimpi pas mas Andra datang, itu nyata? ". Laras bermonolog.
Lalu kembali melihat jam. Tapi tetap saja masih sama.
Laras kemudian melihat ke jam weker di nakas, dan masih sama. " Ha? Kok jam disini semua salah yah ". Bukan jam nya yang salah, tapi pikiran mu yang harus di konek dulu.
Laras pun berdiri, dan menuju ke balkon untuk melihat arah luar, kalau sekarang memang masih siang dan hampir sore.
Shusss....
Laras membuka jendela nya lebar-lebar.
Laras terkejut, ia mematung Beberapa lama.
Hingga...
" Astagfirullah aku belum sholat subuh ". Lari terbirit-birit ke dalam kamar mandi.
Setelah nya berulah ia melakukan sholat subuh seperti biasanya. Sejenak ia melupakan keluh kesah nya.
Setelah sholat, Laras memilih untuk duduk di pinggir ranjang. Dia kembali mengingat kejadian kemarin. Hatinya kembali dibuat sakit.
Tanpa di sengaja, air matanya kembali luluh.
Ia menunduk, menangis.
" Aku kira, hanya aku satu-satunya. Tapi kenapa? Mas Andra jahat. Aku benci!! ". Ia mengis sejadi jadinya. Untung kamarnya itu kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar kan ocehan dan tangisannya.
Setelah lelah mengoceh, Laras diam. Ia menunduk tapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
Tanpa ia rasa, Andra masuk kedalam, dan diiihatnya Istri nya yang sedang duduk di pinggir ranjang sembari menunduk.
" Sayang... Ras.. kamu udah bangun? ". Mendekat kearah Laras.
Tapi yang dipanggil tidak menggubrisnya sama sekali. Lebih tepatnya Laras tidak mendengar kan sekelilingnya, ia terhanyut dalam tangisan diamnya.
Sampai Andra memgang tangan Laras yang ia remas di pangkuannya.
" Ras.. ". Andra masih memanggil
Laras terkejut dan sontak melihat orang yang sedang memegang tangan nya.
" Ras kamu kenapa? Ada yang sakit? ". Andra dibuat panik, saat Laras menoleh kepadanya. Mata Istri nya yang berair dan berwarna merah. Membuat nya bingung.
Ingat, itu bukan sakit mata, tapi karena menangis yang berlebihan.
__ADS_1
Hidung Laras juga ikut memerah.
" Le....sin ". Gumam Laras, ia mengatakan nya dengan tidak jelas. Rasanya suaranya seperti tidak mau keluar. Laras kembali menunduk
" Ada apa ras? ".
" Lepasin ". Lirih Laras.
" Ha? Ada apa ras? Kenapa? Mas gak dengar ".
Laras mendongak " lepasin mas ". Kali ini Laras mengatakannya dengan lantang.
Yang tentu membuat Andra kaget ditambah khawatir. Bagaimana jika dirinya, menyakiti pergelangan tangan Laras?
Ia sontak melepaskan nya.
" Maaf mas gak sengaja ". Mencoba untuk meraih kembali tangan Laras dan mengelusnya.
Tapi langsung di tepis kasar oleh Laras.
Laras memegang bekas cengkraman tangan Andra.
" Jangan sentuh aku mas ". Wah... Kata-kata ala sinetron keluar. Ia menunduk
" Ha? Kenapa? Kamu gak pa-pa kan ras. Mana yang sakit ". Andra malah ditambah kekhawatiran nya.
Ia memegang pundak Laras. " Mana yang sakit ras? ".
Laras diam. Lalu menepis keras tangan Andra kembali. " Aku bilang jangan sentuh aku mas ". Teriak Laras.
" Kamu jahat mas hiks... ". Laras mendongak dan kembali menangis.
" Kamu bilang aku satu-satunya. Tapi apa? Kamu bermesraan dengan wanita lain hahaha aku memang bodoh ". Tadi menangis, sekarang tertawa. Tapi miris, tawanya sungguh tidak enak dipandang.
" Kamu jahat mas ". Laras kembali berteriak di depan muka Andra. Sedangkan yang di teriaki hanya diam, ia memperhatikan kata-kata Istri nya.
" Aku benci sama m... hemmmmp ". Belum sempat Laras melanjutkan kata-katanya, bibirnya langsung di buat bungkam oleh bibir Andra.
Andra men*ium bibir Laras dengan kasar, ia me**matnya. Andra memegang kedua tangan Istri nya dan meletakkan nya di atas kepala Laras, sedangkan tangan satunya dia taruh di telungkuk Laras untuk memperdalam ciumannya.
Tidak ingin mendengar ocehan Istri nya lagi. Hatinya sakit melihat istrinya itu menangis.
Laras mencoba untuk mendorong Andra, tapi itu tidak mungkin. Tenaganya tidak sekuat suaminya. Ia memberontak, tapi tetap saja tidak bisa. Akhirnya ia pasrah. Diam, hanya itu yang bisa dilakukan nya. Sekarang ia tidak menolak maupun membalasnya.
Andra yang melihat Laras tidak menolak nya lagi, akhirnya melepaskan tangan Laras. Lalu mengecup-ngecup pelan bibir Laras sebelum di lepaskan nya.
Andra menangkup kedua pipi Laras, yang masih di jatuhi air mata.
" Ras.. liat mas ". Melihat mata Laras.
Laras hanya bisa menurut saja. Ia melihat wajah suaminya yang melihatnya dengan tatapan serius. Dirinya tidak bisa berkata-kata, bibirnya keluh. Hanya segukan-segukan kecil yang keluar dari mulutnya.
" Dengarin mas ". menarik nafasnya
" Mas cuman cinta sama kamu ras. Gak ada yang lain ". Wah... Akhirnya keluar juga kata-kata yang sudah ditunggu-tunggu.
Laras langsung diam, segukan kecilnya juga sudah tidak terdengar lagi.
" Bohong! Mas pasti bohong kan ". Laras senang, tapi ia juga takut jika suaminya itu hanya membohongi nya saja.
" Enggak sayang... Mas gak bohong. Liat mata mas, apa ada kebohongan? ". Andra mengucapkan nya dengan sangat lembut. Ia masih menangkup pipi Laras.
Laras menelisik ke dalam mata Andra, walaupun sedikit buram karena air matanya, tapi dapat terlihat jelas bahwa hanya ada keseriusan di dalam matanya.
" Hiks... Hiks... Huaaaa... ". Yah malah tambah nangis. Laras memegang tangan Andra yang ada di pipinya.
" Eh? Kok malah tambah nangis sayang? ". Andra malah dibuat semakim panik dan bingung. Apa mungkin Laras sedih karena pernyataan cintanya sangat sederhana, tidak ada bunga, music dan makan malam yang romantis?. Bukan! Itu bukan pernyataan cinta yang sederhana, malah pernyataan cinta mu adalah pernyataan cinta yang epic.
" Huaaaa hiks.. hiks.. ". Sekarang Laras tidak menangis karena sedih, tapi ia menangis bahagia.
Rupanya cinta nya bukan hanya cinta sepihak saja.
Andra yang kalang kabut, karena tangisan Istri nya malah tambah semakin kencang. Ia pun langsung membungkam bibir istri nya.
Laras diam, ia hanya menerimanya.
Andra yang tadinya hanya ingin membungkamnya saja agar Laras berhenti menangis, tapi saat ia mendapati tidak ada penolakan, ia perlahan-lahan me**matnya pelan.
Laras yang terbuai, langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya dan membalas ciu*man suaminya itu, walaupun kaku. Karena dirinya memang tidak berpengalaman.
Andra yang dapat balasan, menarik telungkup Laras untuk memperdalam ci*mannya. Sedangkan tangannya yang satu menarik pinggang Laras dan memeluk nya hingga mereka berdua menempel dan tidak ada jarak sama sekali.
Kadang-kadang Andra menggerakkan nya ke kiri dan ke kanan, untuk mencari titik nyamannya.
Setelah cukup lama, Andra melepaskan ci*mannya dan menatap mata Istri nya yang indah. Laras juga menatap mata suaminya yang tajam namun menghanyutkan.
Andra kembali pelan-pelan mendekatkan bibirnya ke bibir Laras lalu kembali me**matnya.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya.
__ADS_1
Maaf baru update. Episode kali ini sempat ditolakš¢.