Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Dilan kehabisan garam???


__ADS_3

Langit pada pagi menjelang siang itu, membuat suasana di pemakaman semakin mendukung dengan apa yang terjadi. Mendung, awan hitam menutupi langit. Terlihat akan hujan namun hujan masih belum berani untuk membasahi bumi.


Setelah proses pemakaman yang sungguh mengiris hati, Laras yang tak henti-hentinya menangis di pelukan sang suami, Nisa, Mai dan juga mama Ani sama. Mereka juga menangis di dalam pelukan sang suami.


Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan pemakaman, tinggallah Laras yang seakan tak ingin pergi dari situ. Ia berjongkok dan menatap batu nisan dan kuburan yang masih basah. Andra selalu sedia menemani.


Sekali lagi, Air mata Laras tumpah tapi tidak menyisakan suara. Di saat itu pula air hujan jatuh membasahi bumi. Seperti langit ikut berkabung atas kepergian bu Aminah.


" Sayang.. kita pulang yuk. Udah hujan ". Air hujan membasahi tubuh mereka. Andra tidak menghalangi air hujan itu untuk membasahinya, tapi ia menghalangi hujan itu untuk jatuh ke tubuh sang istri. Ia melarang air hujan untuk membasahi tubuh sang istri.


Laras mendongak dan mengangguk. Lagi-lagi hati Andra sakit melihat wajah istrinya yang penuh dengan air mata. Mata yang indah kini menjadi bengkak. Dengan perlahan Andra mengangkat tubuh istrinya dan menuntun untuk kembali ke mobil.


Alan sudah siap di samping mobil, Alan membukakan pintu untuk tuan muda dan nyonya mudanya.


Setelah Laras dan Andra masuk, Alan ikut masuk dan duduk di belakang kemudi, sebelum menjalankan mobil Alan memberikan handuk kepada Andra dan Laras, setelah nya barulah ia melajukan mobil menuju kediaman Andra.


Sepanjang jalan, di dalam mobil tidak ada yang membuka suara. Hening, hanya sisa isakan-isakan kecil yang terdengar dari bibir Laras. Sampai ia tertidur karena lelah menangis.


'mas pastikan kamu akan bahagia sayang'. Mencium kepala Laras.


Hingga akhirnya mereka sampai di kediaman Andra. Alan segera memarkirkan mobil tepat di depan pintu rumah. Alan turun lalu membukakan pintu mobil untuk Andra. Andra keluar dengan menggendong Laras.


Rumah yang tadinya ramai dengan pelayat, sekarang sepi kembali seperti sedia kala. Semuanya sudah di bersihkan oleh bawahan Andra.


Andra menggendong sang istri menuju kamar, sesampainya di kamar ia menggantikan pakaian Laras yang basah, agar tidak masuk angin. Memang, membangun hasrat tapi sebisa mungkin Andra menahannya. Walau bagaimanapun sekarang Laras sedang berkabung dan juga nifas.


Setelah menggantikan pakaian Laras, Andra masuk ke kamar mandi untuk mandi. Tak berapa lama ia keluar dan menuju walk in closet untuk memakai pakaiannya.


Tok.. tok.. tok..


Suara pintu terdengar berbunyi, Andra membuka pintu. Terlihat Milea yang sedang menggendong baby Adhan yang sedang menangis.


" Tuan, tuan muda tidak bisa berhenti menangis ". Ucapnya dengan wajah khawatir. Tuan muda sudah bukan Andra lagi bukan?.


" Baiklah.. sini biar saya gendong ". Milea memberikan baby Adhan pada Andra, dan diterima dengan baik oleh Andra.


" Pergilah.. biar saya yang urus ". Milea hanya mengangguk, dan menunggu hingga Andra lebih dulu masuk.


Setelah Andra masuk, barulah Milea turun. Rasanya sangat menyenangkan bisa bermain dengan baby Adhan, Milea yang tidak bisa mempunyai keturunan hanya bisa tersenyum melihat baby Adhan.


Andra masuk kembali ke kamarnya, sembari menimang-nimang Baby Adhan. " Boy.. cup.. cup... Jangan nangis lagi oke! Mommy sedang bersedih, jadi kamu harus menguatkan mommy ". Mencium wajah baby Adhan, yang membuat baby Adhan semakin menangis.


" Yah malah tambah kencang lagi, aduh gimana nih. Ini udah benarkan cara gendong nya. Ardi... tolong gue..ini benar kan ". Frustasi Andra, karena tak ingin sampai baby Adhan jatuh, Andra memilih untuk naik ke tempat tidur di samping sang Istri dengan perlahan.

__ADS_1


Pelan-pelan Andra membaringkan baby Adhan di samping Laras yang tertidur nyenyak. Mungkin Laras sangat kelelahan sampai-sampai tidak terganggu dengan tangisan baby Adhan. Andra memilih untuk duduk menyandarkan punggungnya di pan ranjang, sembari melihat dua orang kesayangan.


" Boy.. hussst jangan nangis lagi oke! Coba liat mommy ". Andra sedikit memiringkan tubuh sang anak.


Sontak tangisan baby Adhan berhenti, dengan mata lebarnya, baby Adhan memandang wajah sang Mommy yang telah melahirkan nya. Andra tersenyum lega, akhirnya anaknya bisa berhenti menangis.


" Coba liat boy, mommy sedang bersedih. Jadi kita sebagai pria kesayangan mommy harus bisa menguatkan dan melindungi mommy! ". Andra menyemangati seakan-akan baby Adhan memahami apa yang dikatakan Andra.


Baby Adhan menaruh tangannya di pipi Laras, sembari memukul-mukul pelan, seolah mengerti apa yang dikatakan sang Daddy.


" Bagus... ". Mencium wajah baby Adhan, dan memperbaiki posisi baby Adhan menjadi telentang. Andra menunduk dan mencium wajah sang istri. Setelahnya ia juga ikut tertidur, dengan baby Adhan berada di tengah-tengah mereka.


...----...


Sayup-sayup Laras membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah dua pria kesayangannya yang tertidur pulas. Laras tersenyum lalu membelai wajah suaminya, lalu turun ke wajah anaknya. Tak terasa air matanya mengalir membasahi bantal.


Ia merasa tak bersyukur atas apa yang di berikan oleh yang Maha Esa padanya. Laras bermimpi tentang ibu Aminah yang pergi meninggalkan nya setelah mengatakan hal-hal yang membuatnya tersenyum lega saat bu Aminah meninggal.


Dengan memakai pakaian putih, wajah yang bersinar. Bu Aminah mendatangi Laras yang berada di bawah pohon kering duduk memeluk lutut sembari menangis. Bu Aminah mengatakan semua yang ia rasakan saat akan meninggal, dan mengatakan agar Laras harus kuat dan bersyukur mempunyai suami yang sangat mencintai nya dan sekarang di tambah anaknya.


Awalnya Laras yang menangis akhirnya terdiam, Bu Aminah memegang tangan Laras dan seketika pohon kering dan tanah kering itu, berubah menjadi rumput hijau yang sangat luas, pohon kering berubah rimbun. Dan di saat itu juga bu Aminah pergi meninggalkan Laras, tapi ketahuilah ia masih ada di dalam hati, do'akan lah semoga kalian bertemu di surga-Nya kelak.


Laras duduk, ia menyenderkan tubuhnya di pan kasur. Matanya menatap wajah kedua pria kesayangan nya. Laras mengulurkan tangan membelai kepala Andra dan memberikan kecupan-kecupan kecil , biasanya Andra akan langsung bangun namun karena kelelahan Andra sama sekali tidak sadar.


Oeee... oeee... oeee...


Dengan sigap Laras langsung menggendong, sembari menimang-nimang Baby Adhan. " Cup.. cup.. cup.. sayang.. jangan nangis yah.. ". Karena baby Adhan masih belum berhenti menangis, Laras memilih menyusui baby Adhan. Takutnya suara tangisan baby Adhan membangunkan Andra.


Dan benar saja baby Adhan berhenti menangis, Laras mengusap sisa air mata di sudut mata baby Adhan yang terlihat sangat nikmat menikmati buah kembar sang mommy.


" Eugghh ". Lenguhan terdengar dari bibir Andra, sepertinya ia akan bangun. Andra mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya lampu.


Laras tersenyum melihat tingkah Andra yang menurutnya sangat manis. " Selamat kembali ke real life sayang ". Menyapa sembari mengelus-elus kepala Andra. Kata-kata nya sungguh ambigu.


Andra terkesiap mendengar suara Laras. Ia langsung membuka matanya lebar dan duduk. " Ulangi lagi sayang ". Mata nya berbinar. Hanya pada panggilan 'sayang' yang di dengar jelas oleh telinga Andra.


" Udah sore mas, mending mas pergi mandi dan sholat ashar. Bentar lagi buka puasa loh ". Tersenyum dan Mengalihkan pembicaraan.


" Ayolah sayang ". Rengek Andra. Ia lega melihat senyuman kembali pada istrinya.


" Mas.. udah jam setengah lima loh, keburu waktu sholat ashar bentar lagi abis ". Benar apa yang dikatakan bu Aminah dalam mimpi Laras, kalau dirinya sudah mempunyai suami yang mencintainya dan pasti selalu akan ada saat Laras membutuhkan.


" Baiklah... ". Pasrah Andra " kamu udah gak pa-pa sayang? ".

__ADS_1


Laras tersenyum " In Syaa Allah, udah gak pa-pa ".


Tidak baik jika harus tenggelam dalam keterpurukan. Lihatlah masa depan, jangan berbalik ke masa lalu. Jadikan masa lalu sebagai kenangan yang tidak akan bisa tergantikan, jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk menggapai masa depan.


Andra tersenyum lega, ia kira Laras akan terpuruk dan stres. Tapi nyatanya tidak, ia benar-benar bersyukur 'terima kasih ya Allah, atas berkah mu. Maha suci Allah makhluk pembolak balik perasaan'.


" Baiklah mas mau mandi dulu ". Mencium pipi Laras lalu turun ke baby Adhan, ia juga mencium pipi baby Adhan yang masih asik menyusu.


" Kamu juga harus mandi sayanh, tadi sempat kena air hujan. Takut kena flu ". Laras tersenyum dan mengangguk.


Setelah mengatakan nya barulah Andra turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Dalam satu hari ia mandi tiga kali, Andra bahkan tidak ingin memikirkannya.


...***...


Dum.. dum.. dum..


Allahu Akbar Allahu Akbar....


Waktu buka puasa pun tiba, Andra memilih untuk berbuka di dalam kamar menemani sang istri. Selama bulan Ramadhan kali ini, Andra hanya sholat Maghrib di rumah, untuk menjaga Laras yang hamil besar awal masuknya bulan Ramadhan, dan sekarang Andra harus menjaga Laras dan juga baby Adhan. Karena mereka memang tidak memakai jasa baby sitter. Menurut mereka lebih baik menjaga sendiri anaknya dari pada di berikan pada baby sitter, hal itu akan mempererat hubungan anak dan juga orang tua.


Tidak seperti pas dia masih lajang. Pasti ia hanya minum dan makan kurma, lalu berangkat ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah, setelah nya barulah ia pulang untuk makan. Dan akan kembali ke masjid untuk shalat isya dan tarawih.


Saat makan, Andra selalu memperhatikan sang istri yang seperti selera makannya tidak terlalu baik, walaupun Laras telah mengikhlaskan kepergian ibunya, tetap saja ia akan bersedih dan selalu teringat akan sang ibu. Hal itu membuat Andra meradang, bagaimana tidak! Laras masih lemah pasca melahirkan empat hari yang lalu.


" Sayang.. makam yang banyak, ingat kondisimu masih lemah! Nanti bagaimana dengan boy kalo mommy nya gak mau makan kaya gini ". Meletakkan beberapa makanannya ke piring Laras.


" Tapi mas aku gak terlalu berselera ". Keluhnya. Rasanya makanan yang ia telan hambar tak berasa. Apa mungkin Dilan kehabisan garam?


Huhhff


Andra sebenarnya tak ingin memaksa Laras, tapi mengingat kondisi Laras yang masih lemah dan juga baby Adhan yang harus di berikan Asi membuat Andra harus tegas sekarang.


" Pokoknya kamu harus makan banyak! Gimana nanti kamu mau ngasih asi sama boy kalo keadaan mommy nya lemah! ". Tegas Andra.


Melihat wajah sang suami yang tegas dan tidak ingin bantahan, Laras pun menjawab dengan anggukan dan mencoba melahap kembali makanannya. 'hambar..'


" Dilan kayanya udah kehabisan garam ". Celetuk Laras.


" Hah??? ".


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya

__ADS_1


__ADS_2