
Mobil berhenti disebuah mansion yang sangat besar bertingkat tiga. Halamannya sungguh sangat luas. Mungkin ada sekitar tiga hektar. Mimpi apa semalam Laras bisa jadi nona di mansion itu.
Pak Supri pun turun dari mobil dan berlari membukakan pintu mobil untuk Laras. Hampir saja tadi Laras turun duluan jika tidak cepat-cepat pak Supri datang dan membukakan nya.
Pak Supri kemudian menepi dan masih memegang pintu mobil. Lebih tepatnya menahannya. Dengan perasaan canggung, Laras keluar dari mobil.
Lagi-lagi dia dibuat tercengang melihat mansion mewah itu. Sesaat di dalam mobil tadi sudah terlihat memang jika sangat luas, tapi pas sudah keluar dari mobil dan melihatnya langsung benar-benar sangat luas dan mewah. Halamannya saja mungkin bisa menampung puluhan mobil.
" Selamat datang nona ". Ucap tiba-tiba pria paruh baya yang datang entah dari mana dan membuat Laras harus keluar dari lamunannya.
" Ah.. i.. iya.. a.. anu.. ". 'siapa?' . Suaranya tertahan tidak bisa dikeluarkannya. Karena keterkejutannya.
" Saya ketua pelayan di mansion ini nona. Panggil saja pak Rin ". Ucapnya memperkenalkan dirinya. Seperti mengetahui isi pikiran Nona mudanya itu. Pria paruh baya dengan Rambutnya yang sudah banyak berwarna putih. Memakai pakaian khusus pelayanan. Benar-benar seperti di film-film saja.
" Oh.. pak Rin, saya Laras pak ". Sopan Laras sambil mengatupkan kedua tangannya di dadanya. Bukan muhrim bukan.
Pak Rin yang melihatnya tersenyum tipis 'sepertinya tuan muda tidak salah pilih pasangan'. Sepertinya kata-katanya dejavu bukan.
Padahal Laras tidak perlu perkenalkan dirinya, karena Andra sudah memberitahuinya.
Pak Rin hanya mengangguk menanggapi perkenalan Laras " mari nona, saya antar kedalam". Mempersilahkan Laras untuk berjalan duluan.
Laras yang mengerti pun berjalan duluan kedalam mansion besar itu.
Glek.. Laras menelan salivahnya, menekadkan dirinya untuk menghadapi apapun yang ada didalam mansion itu. Tenanglah Laras kau tidak sedang akan berperang.
Klek....
Pintu terbuka, para pelayan sudah berjejer rapi sambil menunduk " selamat datang nona muda". Ucapnya bersamaan, sudah seperti kekompakan para k-pop.
Laras tercengang melihat nya, bukan hanya para pelayan di depannya tapi juga isi mansion itu, benar-benar seperti istana. Minder? Pastinya. Apakah dia pantas untuk tinggal di dalam mansion sebesar itu. Ah.. kalau CEO kita bilang bisa, yah harus bisa.
Laras mencoba untuk tetap tenang dengan tersenyum ramah menanggapi para pelayan yang masih menunduk di samping kiri dan kanannya.
Para pelayan tertegun melihat nona mudanya itu tersenyum. Benar-benar bukan seperti wanita-wanita yang pernah datang ke mansion, karena dijodohkan. Dilirik saja rasanya sudah masih terlalu cepat 1000 tahun. Tapi ini, seorang nona mudanya tersenyum kepada nya, benar-benar langkah.
'sepertinya tuan muda tidak salah pilih pasangan' . Ucapnya bersamaan. Kekompakan nya sudah melebihi para k-pop yang berlatih setiap hari. Kalau para pelayan disitu entah sudah berapa kali berlatih, sampai-sampai batin mereka juga terhubung.
Rasanya mereka ingin mengangkat wajahnya untuk melihat wajah nona mudanya itu, hanya saja mereka harus mematuhi etika menjadi pelayan disitu. Sebenarnya Andra tidak terlalu memikirkan etika para pelayan nya yang harus menunduk seperti itu, benar-benar merendahkan diri mereka. Hanya saja itu sudah seperti adat dirumahnya. Sudah dilakukan turun temurun.
Perasaan canggung benar-benar menyelimuti Laras, entah apa yang harus dilakukan nya. Inginnya dia menyuruh mengangkat wajah para pelayan itu tapi, memang nya dia punya hak? Pastinya. Ingin sekali Laras mengingat wajah para pelayan disitu, tapi rasanya itu masih terlalu cepat.
" Silahkan nona lewat sini ".
" Baik pak ". Mengikuti langkah pak Rin
Pak Rin menggiring Laras ke dalam lift, ingat! Jangan sampai membuat nona mudanya itu lelah. Entah apa yang sudah Andra suarkan kepada mereka sampai-sampai tidak ingin agar nona mudanya itu lelah.
__ADS_1
Inginnya Laras terkejut melihat sebuah lift pribadi di dalam mansion itu, tapi karena sehari ini kejutan didalam hidupnya terlalu banyak. Hingga dia tidak ingin terlalu menanggapi lift yang digunakannya sekarang. Padahal lift nya tidak salah apa-apa, tapi harus dilupakan.
Ting...
Lift terbuka mereka berdua pun keluar dari dalam lift dan melangkah beberapa langkah hingga sampai di sebuah ruangan.
Pak Rin membuka nya " silahkan nona ini kamar anda ". Menepi lalu mempersilahkan Laras masuk.
Mau tidak mau Laras pun masuk 'ya Allah... Kamarnya benar-benar besar lima kali lipat lebih besar dari kamarku nih'.
" Kalau begitu saya permisi kebawah dulu nona, jika ada yang dibutuhkan silahkan panggil saya saja ".
Laras berbalik " baik pak ". Dirinya benar-benar dimanjakan. " Tapi barang-barang aku pak ".
" Kalau barang-barang nona, sepertinya masih ada di jalan. Nanti jika sudah sampai saya akan membawanya kesini ". Terlihat di raut wajah pak Rin sebuah penyesalan. Padahal dia diberi sebuah amanah yang besar menurutnya, tapi dia tidak bisa melakukannya tepat waktu. Ya.. iyalah kan 30 menit yang lalu baru di kasih tahu, tidak mungkin kan barang nya sudah sampai. Apalagi rumah Laras ada di ujung kota, sedangkan mansion sendiri ada di ujung kota yang lainnya. Sangat-sangat jauh bukan.
Laras yang melihat wajah pak Rin merasa bersalah
" Haha tidak pa-pa pak, soalnya saya juga masih belum mau ganti baju ". Mencoba untuk mencairkan suasana.
Pak Rin tersenyum, tetapi tetap masih terlihat raut wajah penyesalan nya " baik nona, kalau begitu saya permisi ". Ucapnya dan hendak melangkah
" Waalaikum salam.. ". Tiba-tiba Laras mengucapkan nya.
Pak Rin berbalik " Assalamualaikum ". Ucapnya dan diangguki Oleh Laras. 'benar-benar nona muda yang baik, lembut, dan ramah'.
Laras membuka nya, dirinya benar-benar terkejut melihat pakaian wanita di dalamnya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. 'apa ini baju para wanita-wanita pak Andra?'. Pikiran negatif sudah memenuhi kepalanya.
Pakaian-pakaian disitu terlihat sangat-sangat mahal. Mungkin sepuluh helai pakaian disitu harganya bisa membiayai hidupnya seumur hidup. Benar-benar sultan
Tok.. tok.. tok...
Lamunannya terganggu saat Laras mendengar ada orang yang mengetuk pintu. Orang-orang benar-benar suka mengganggu saat dia melamun.
Laras kemudian membuka pintu dan mendapati sorang wanita paruh baya dengan menggunakan baju pelayan. Dia juga terlihat membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat makanan.
" Nona, ini makanan anda ". Wanita itu tidak berani melihat wajah nonanya itu. Walaupun desas-desus kabar bahwa kemungkinan nonanya sangat ramah, tetap saja dia tidak berani mengangkat wajahnya.
Wanita itu masih menyodorkan nampannya, tapi Laras tidak kunjung mengambil nampan itu. Pelayan itu langsung dilanda kepanikan. Bagaimana jika nonanya itu tidak menyukai makanannya?. Siap-siap saja koki dimansion yang sudah bekerja bertahun-tahun harus didepak.
" Tidak ada orang memberi dengan menunduk ". Pelayan yang mendengar perkataan Laras, refleks Langsung mengangkat wajahnya. Dan mendapati Laras yang sedang tersenyum ramah kepadanya.
" Nah, gini kan. Jangan terlalu merendahkan diri ibu. Kita semua sama di mata Allah bu ". Laras kemudian mengambil nampan itu dan membawanya masuk.
" Ibu namanya siapa? ". Meletakkan nampan itu dimeja dekat sofa, serta mendudukkan dirinya di sofa.
" Sa.. saya Siti nona ". Jawabnya gugup dan masih di pintu.
__ADS_1
" Oh bu Siti yah ".
" sini masuk bu ". Menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya.
" Panggil bi Siti saja nona ".
" Ti.. tidak nona. Saya masih ada urusan ". Itu hanya alasannya saja, tidak sopan jika harus duduk bersama nona mudanya sendiri. Walau se baik bagaimana pun nonanya itu.
" Hm.. baiklah kalau begitu ". Sepertinya kerjaannya benar-benar banyak. Laras terlalu mudah di bohongi.
Mata bi Siti tidak sengaja melirik melihat kedalam dressing room dan mendapati lemari baju disitu terbuka lebar. Laras juga mengikuti tatapan mata bi Siti 'wa... Aku lupa tutup lemarinya tadi'.
" Ah... Maaf bi saya tidak sengaja membukanya tadi ". Berdiri dan hendak menutup kembali lemari yang dibukanya tadi.
" Tidak apa-apa nona. Bukannya pakaian-pakaian itu memang disiapkan tadi pagi buat nona ". Laras terkejut mendengarnya.
'jadi pakaian ini bukan punya wanita-wanita pak Andra. Astaghfirullah... Maaf kan hamba mu ini ya Allah yang sudah berprasangka buruk'. Makanya jangan melihat seseorang dari sebelah mata.
" Jadi Baju ini baru datang tadi pagi bi? ". Merasa bersalah.
" Iya nona ". Bi Siti terlihat heran dengan wajah Laras yang terkejut dan merasa bersalah.
" Jika nona ingin ganti baju, silahkan gunakan saja bajunya nona, karena baju-baju ini khusus dipersiapkan untuk nona ". Tiba-tiba bi Siti seperti mengerti akan pikiran Nona mudanya.
" Anda wanita pertama yang dibawa tuan muda kedalam mansion ini nona ". Kecuali wanita-wanita yang dijodohkan oleh nyonya. Kan.. Pekanya luar biasa.
" O.. oh.. terima kasih bi, kalau begitu saya makan dulu ". Kembali kesofa, tidak ingin terlalu memikirkan nya. Sesaat Laras memperhatikan makanan di depan nya. 'perasaan tadi aku gak bilang pengen makan deh'. Yah... Baru sadar.
Bi Siti yang melihat Laras hanya diam memperhatikan makanan nya semakin dibuat panik 'aduh.. jangan-jangan nona gak suka makanannya'. Pikirannya melayang kemana-mana
" Bi.. ". Panggil Laras
" I.. iya nona, ada yang bisa saya bantu? ". Sikapnya seperti pekerja mini market saja. Mengingatkan kita pada seseorang.
" Perasaan tadi aku tidak meminta makanan ".
Wah... Perasaan lega akhirnya menghampiri bi Siti, dia kira Laras akan marah-marah karena tidak menyukai makanannya. " Itu sesuai yang dikatakan tuan muda nona, saya harus bisa memastikan kenyamanan anda dan jangan sampai membuat anda kelaparan ". Laras benar-benar dibuat menjadi ratu hanya dalam semalam.
" Oh... ". Laras tidak terbiasa dimanja, jadinya dia sedikit canggung. 'sebenarnya apa tujuan pak Andra menikahi ku yah, sampai-sampai dimanja kek gini'.
" Yaudah bi, kalo gitu saya makan dulu ".
" Baik nona, kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Rasanya senang sekali laras ada yang pamit sambil mengucapkan salam.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen dan vote nya, lebih banyak lebih bagus 😗