
Setelah kepergian rombongan dadakan dari ruangn Laras, kini tinggallah Andra, Laras dan baby Adhan.
" Sayang.. apa kau butuh sesuatu? ". Mengelus tangan Laras yang sedang menggendong baby Adhan.
" Gak ada mas, mas istirahat ajah ". Lembut Laras. Ia tahu suaminya pasti lelah, makanan saat sahur tadi tidak sempat di habiskan oleh Andra, karena terlalu buru-buru membawa Laras ke rumah sakit.
" Baiklah, mas mau ke mushola dulu. Mau sholat subuh, Tunggu disini yah ".
Laras mengangguk " iya mas ".
" Daddy pergi dulu yah boy ". Mencium baby Adhan yang masih ada di gendongan Laras, dan dibalas oleh baby Adhan dengan memukul-mukul wajah Andra.
" Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum salam ". Andra mencium kening Laras sebelum pergi ke mushola.
Setelah kepergian sang suami, tinggallah Laras bersama baby Adhan. Sepi, sangat sepi di dalam ruangannya. Laras menunduk dan memberikan kecupan-kecupan manis pada baby Adhan, dan dibalas oleh baby Adhan dengan memegang wajah mommy nya sembari tertawa.
" Hmm beda bangat nih responnya sama mas Andra tadi. Jangan gitu yah sayang, daddy mu orang yang sangat baik, gak boleh di pukul-pukul kaya tadi ". Tegur Laras dengan suara lembutnya, seperti mengerti apa yang di katakan sang mommy, baby Adhan mengangguk dengan tersenyum.
" Bagus ". Tersenyum dan langsung mencium hidung mancung baby Adhan.
" Oh iya, keadaan ibu gimana yah. Aku mau periksa ibu sekalian ngasih liat cucunya yang ganteng ini ". Bergumam sendiri
" Nanti ajah deh, sehabis mas Andra dari mushollah ". Menaruh baby Adhan di sampingnya untuk tidur, ia pun memilih untuk membaringkan tubuhnya. Tapi mencoba agar tidak tidur.
Sebenarnya Laras sedikit kecewa, karena tidak bisa melanjutkan puasanya. Bagaimana tidak, bulan Ramadhan baru masuk tiga hari yang lalu. Dan ia sudah tidak bisa melanjutkan nya sampai 40 hari kedepan. Sungguh sayang, tapi ia juga bersyukur karena baby nya lahir dengan sehat.
" Mimpi indah sayang nya mommy ". Mencium wajah baby Adhan keseluruhan. Bayi yang baru lahir beberapa jam itu hanya menggeliat mendapatkan ciuman dari mommy.
...***...
" Assalamualaikum.. ".
" Wa'alaikum salam ". Laras kembali duduk.
Andra mendekati Laras, dengan sigap Laras mencium tangan kanan Andra dan Andra mencium seluruh wajah istrinya.
" Mas.. puasa.. jangan berlebihan! ". Menjauhkan wajahnya
" Hehe maaf sayang ". Andra beralih Melihat baby Adhan. Ia tersenyum, sungguh dia melihat copy-an nya. " Anaknya Daddy tidur nya lelap bangat sih.. ". Mengelus pipi baby Adhan.
" Oh yah mas... Aku mau ketemu ibu, pasti ibu juga mau liat cucunya kan ".
Andra menghentikan aksinya, ia menatap Laras. Entahlah sungguh dirinya benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa tentang kondisi ibu mertuanya.
" Ada apa mas? ".
" Ah! Hmm Baiklah nanti mas tanya Rasya, bisa atau enggak ". Mengurungkan niatnya untuk mengatakan kondisi mertuanya, mereka baru saja berbahagia. Tidak mungkin kan Andra langsung merusak suasana hati sang istri yang masih lemah.
Laras tersenyum sembari mengangguk " tapi jangan lama-lama yah mas. Aku udah gak sabar liat reaksi ibu kalo tau anaknya udah jadi mommy ". Terkekeh, lalu kembali menggendong baby Adhan.
Andra hanya tersenyum melihatnya. Tatapan sendu tidak bisa ia hindari untuk diberikan pada Laras. Andra mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Lalu diam-diam memotret Laras yang sedang menggendong baby Adhan yang masih terlelap nyenyak. Foto kenangan yang pasti tak akan tergantikan
" Sayang kita foto bersama yuk ". Anggaplah foto keluarga kecil mereka yang sudah lengkap.
Laras mendongak, ia tersenyum " ayo mas ".
.........
Andra berjalan melewati lorong rumah sakit menuju ruang Rasya. Sesampainya di depan ruangan, ia mengetuk pintu.
__ADS_1
" Masuk ".
Mendapat sahutan dari dalam Andra pun membuka pintu. " Assalamualaikum ".
Rasya mendongak " wa'alaikum salam ". Ia berdiri dan menghampiri Andra
" Ada apa Andra? Oh yah selamat yah atas kelahiran baby boy nya ". Menepuk pundak Andra.
Andra tersenyum " thanks bro ".
Andra dan Rasya duduk di atas sofa saling berdampingan. Terlihat guratan kesedihan dari wajah Andra. Rasya mengerutkan keningnya. Kenapa Andra sedih? Apa dia tidak senang dengan kelahiran baby boy!? Pikir Rasya
" Kenapa Andra? ".
Huuufff
" Istri gue pengen ketemu mertua gue ". Melihat kedepan, memandang kekosongan dalam ruangan.
Rasya langsung bisa mengerti dengan apa yang dipikirkan Andra, ia juga sedih karena tak bisa melakukan apa-apa padahal ia termasuk dokter yang cukup handal dan terkenal.
" Sorry bro. Aku gak bisa berbuat apa-apa ". Kali ini Rasya menunduk, ia bersedih.
" It's okay. Semua udah takdir dari Allah. Kita tinggal menjalankan doang ". Mencoba menyemangati Rasya, padahal dirinya juga tidak sedang baik-baik saja. Ia hanya ingin membuat semuanya terlihat baik-baik saja didepan sang istri.
" Jadi gimana? Bisa gak entar Laras sama baby boy ngunjungin ibu ".
Rasya nampak berfikir " hmmm kayanya bisa deh. Asal jangan terlalu lama ". Ucap Rasya saat sudah beberapa lama berfikir " kayanya bu Aminah juga pengen ngeliat cucunya ".
" Alhamdulillah... Oke gue balik dulu " berdiri, Rasya ikut berdiri.
" Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum salam ". Andra pun keluar dari ruangan Rasya dan kembali ke bangsal sang istri di ruangan VIP.
Sesampainya Andra di ruangan Laras, ia segera masuk tanpa mengetuk pintu. Terlihat sang istri sedang tidur pulas, akhirnya Laras bisa tidur juga setelah pasca melahirkan tadi subuh. Laras benar-benar tidak fokus untuk beristirahat.
...---...
Siang hari sekitar pukul 13, Andra mendorong kursi roda Laras yang menggendong baby Adhan menuju ke bangsal milik bu Aminah.
Walaupun masih lemah, Laras tetap kekeh untuk pergi ke ruangan ibunya. Rasa rindu mengalahkan lemahnya tubuh.
Di sepanjang jalan Laras tak henti-hentinya tersenyum, sesekali mengajak sang buah hati untuk berbicara. Kebahagiaan Laras sungguh tidak ingin di rusak oleh Andra. Andra hanya diam dan bersikap tenang.
Sesampainya di ruangan bu Aminah, Andra menghentikan kursi roda tepat di depan pintu masuk. Dengan hati-hati Andra mengetuk pintu, setelah mendapat sahutan dari dalam barulah Andra membuka pintu dengan perlahan.
" Assalamualaikum bu ". Salam Andra dan Laras bersamaan, mereka masuk ke dalam.
" Wa'alaikum salam ". Tersenyum melihat keluarga kecil anaknya.
Andra mendorong kursi roda Laras mendekat kasur bu Aminah. Terlihat wajah bu Aminah yang semakin pucat dan kurus.
" Ibu apa kabar? ".
" Alhamdulillah baik.. ". Dusta bu Aminah. Ia sebisa mungkin memperlihatkan senyuman di wajah
" Yakin bu? Tapi wajah ibu pucat loh. Aku panggil dokter ajah yah ". Bersiap memencet tombol darurat. Wajah khawatir Laras sangat terlihat.
" Ibu gak pa-pa ". Beralih Melihat gendongan Laras, sudah ia pastikan kalau pasti itu anak Laras dan Andra " wah... Ini cucu ibu yah ". Mencoba mengalihkan pembicaraan.
'apa benar sudah tidak bisa lagi'. Batin Andra lesu
Laras menunduk melihat baby Adhan yang dari tadi diam, walaupun ia bangun. Seperti mengetahui situasi di dalam ruangan. Laras tersenyum dan di balas tawa dari sang anak.
__ADS_1
" Ibu mau gendong? ".
" Iya sini! ". Mengambil baby Adhan " namanya Ramadhan kan ". Wajah bu Aminah yang pucat nampak berbinar Melihat cucunya tertawa kepadanya.
" Eh! Kok ibu tau ". Gumam Laras tapi masih bisa terdengar di telinga Andra
" Mungkin mama yang datang bilang ke ibu ". Andra yang sedari tadi diam akhirnya buka suara. Laras hanya manggut-manggut.
" Ulululu... Ganteng bangat ". Sungguh bu Aminah tak menyangka kalau anaknya semata wayang telah menjadi seorang ibu. Ia mengingat bagaimana perkembangan Laras.
Dari saat Laras masih kecil seperti baby Adhan, saat Laras umur 5 tahun yang selalu memperlihatkan gigi susunya saat melakukan kesalahan. Tak terasa bulir bening jatuh di pelupuk mata bu Aminah. Bu Aminah mengusap air matanya yang belum sampai ke pipi. Ingin rasanya hidup lebih lama melihat anak dan juga cucunya, tapi jika ilahi berkehendak lain maka apalah daya kita sebagai manusia biasa.
" Bu. Ibu gak pa-pa? ".
" Gak apa-apa, ibu hanya terharu ajah. Gak nyangka anak ibu semata wayang udah jadi ibu juga ". Tersenyum melihat Laras
Setelah sekian lama berada di ruangan bu Aminah, Andra mendorong keluarga kecilnya kembali ke bangsa Laras.
Selama tiga hari Laras berada di rumah sakit, setiap hari pasti Laras berkunjung ke ruangan sang ibu untuk memastikan keadaan ibu nya.
Hari ini adalah hari kepulangan mereka, Andra menyusun barang-barang yang akan dibawa pulang. Sebenarnya kalau prinsip Andra mending buang saja dan beli yang baru, namun sayang itu tidak mungkin selama Istri nya ada.
" Jangan menghamburkan uang untuk hal yang di sengaja ".
Andra hanya bisa terdiam dan menurut mendengar teguran sang istri.
" Oh yah mas.. nanti kita singgah di ruangan ibu yah ". Tidak melihat Andra, memilih memperhatikan baby Adhan yang sedang asik menyusu.
" .... Iya sayang... ". Andra sempat terdiam, ia mendapatkan laporan dari Rasya kalau mertuanya sedang tidak baik-baik saja. Namun bu Aminah melarang Andra untuk menjenguk nya. 'semoga ibu udah baik kan'. Karena Rasya memang melaporkan keadaan bu Aminah kemarin sore.
Andra dan Laras sudah siap. Laras tetap berada di kursi roda sesuai perintah dari suaminya. Alan menunggu mereka di bawah perkiran. Sedangkan baby Adhan di gendong Laras, dan barang-barang bawaannya sudah di angkut lebih dulu kedalam mobil.
Andra mendorong kursi roda Laras menyusuri lorong rumah sakit menuju ke ruangan bu Aminah. Saat mereka sudah dekat dengan tujuannya, mereka di kagetkan saat Rasya berlari mendahului mereka masuk kedalam ruangan bu Aminah. Sepertinya Rasya tidak menyadari jika sudah melewati Andra dan Laras.
Deg...
Entah mengapa jantung Laras seakan di pompa tak beraturan. Ia merasakan perasaan yang tak enak. Bukan jatuh cinta, melainkan hal yang tidak pernah ia rasakan. Ingat bukan jatuh cinta!
Sama Andra juga ikut merasakan sesuatu hal yang tidak enak. Ia melihat istrinya yang seperti syok dengan pemandangan di depannya. Dimana para dokter dan suster berbondong bondong masuk kedalam ruangan bu Aminah. Mereka berteriak memanggil satu sama lain, seperti kali ini hal yang tak ingin mereka terjadi seakan akan terjadi.
" I... Ibu.. ". Lirih Laras. Tak terasa wajahnya sudah basah oleh air mata.
Baby Adhan ikut menangis saat sang mommy menangis. Dengan sigap Andra langsung beralih ke depan Laras lalu berjongkok. " Sayang... Ibu pasti tidak apa-apa. Kita berdoa ajah yah ". Memegang tangan Laras.
" Hiks... Hiks.. tapi mas aku khawatir sama ibu. Kemarin wajah ibu nampak sangat pucat ". Laras tak kuasa menahan tangisnya.
Suara Laras yang bergetar terasa pilu di telingan Andra. Baby Adhan juga semakin menangis kencang. Melihat dua orang kesayangan nya menangis di depan Andra, ia tidak tahu harus apa. Sebisa mungkin ia menahan laju air matanya. Ia harus terlihat tegar.
Andra berhambur memeluk sang istri dan anaknya. " Tenang sayang... Mas ada disini ". Setelah beberapa saat mereka Andra memeluk istrinya untuk menguatkan Laras.
Andra kembali mendorong kursi roda Laras untuk semakin dekat di ruangan bu Aminah. Disinilah sekarang mereka di tempat duduk depan ruangan bu Aminah. Andra duduk di tempat duduk, sedangkan Laras ia taruh di depannya.
Laras melihat ke depan dan terlihat wajah suaminya yang nampak lelah. Ia seperti menjadi istri yang tidak becus mengurus sang suami. Laras mencoba sebisa mungkin untuk tetap tegar dan menahan agar air matanya tak lagi tumpah.
" Adhan... Jangan nangis lagi yah.. cup.. cup.. cup.. ". Menimang-nimang Baby Adhan.
" Kamu gak apa-apa sayang? ". Tanya Andra sembari mengelus-elus kepala Laras.
Laras tersenyum. Baik-baik saja? Entahlah dirinya tidak tahu. Ia tak sanggup lagi untuk menjawab pertanyaan Andra. " Maafin aku mas sudah banyak merepotkan mu ".
" Sayang... Jangan bilang kaya gitu lagi! Mas gak di repotkan kok, malahan mas senang kamu ngerepotin mas ". Dengan begitu Laras semakin tergantung kepada nya dan tak akan mungkin meninggalkan Andra. Rupanya pikiran Andra masih takut kalau Laras pergi meninggalkan nya.
" Makasih mas ". Andra tersenyum menanggapi.
__ADS_1
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya