
" Ras memangnya harus yah kamu kerja? ". Mama Ani mengantar Laras dan juga Andra sampai depan pintu.
" Gak pa-pa mah, Laras senang-senang ajah ". Jawabannya selalu saja seperti itu.
" Kamu tidak perlu pergi loh ras. Uang suamimu juga sudah banyak. Kan uang suami itu uang istri juga ". Papa Rangga juga ikut melarang.
Kali ini Andra diam saja, tidak ingin membela Laras. Karena ia juga merasa kalau Laras tidak perlu bekerja lagi.
" Haha gak pa-pa pah. Laras juga ingin punya penghasilan sendiri. Kan uang istri tetap uang istri ". Laras menimpali candaan papa Rangga.
" Hahaha iya yah ". Mama Ani terbahak. Yang dikatakan Laras sungguh benar.
" Tapi setidaknya kalian pergi bersama saja. Dan ini tidak bisa di bantah ". Kali ini sepertinya memang harus di turuti.
Laras diam. Entahlah ia takut jika ada yang melihatnya bersama bosnya dalam satu mobil. Pasti Laras lah yang di cap aneh-aneh.
" Oke. Kalo gitu Andra sama Laras pergi bareng ". Andra setuju dengan usulan mamanya. Sudah dari kemarin ia ingin mengatakannya.
" Tapi mas... ".
" Nanti kamu masuk duluan di kantor baru saya. Jadi tidak akan ada yang curiga kan ". Kesal? Tentunya, tidak akan ada yang menolak jika terlibat skandal dengan seorang Muhammad Andra Ansari. Tapi ini, istrinya sendiri sudah seperti simpanan saja, padahal kan tidak.
" Hmmm baiklah kalo gitu ".
Andra tersenyum tipis, walau Laras harus dipaksa, Tapi tetap saja ia mau pergi bersama dengan nya.
" Kalo gitu kami pergi mah ". Pamit Andra.
" Assalamualaikum ". Ucap Laras dan Andra
" Waalaikum salam ".
Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang sedang sibuk.
Di dalam mobil, ada Laras Andra dan pak Supri. Bukan Alan? Bukan, Andra tidak ingin waktunya dengan Laras diganggu, apalagi mengingat perilaku Alan.
Hening....
Tidak ada yang bicara, semuanya larut dalam pikiran masing-masing. Kecuali Andra yang sedari tadi curi-curi pandang dengan Laras.
Pak Supri yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng, kalau memang suka kenapa tidak bilang? Harus ditahan seperti ini kan susah.
Sampai Pak Supri melihat tanjakan dengan jalan yang rusak. Terlintas ide dalam pikiran pak Supri, ia ingin membantu tuan mudanya itu.
Bukannya menghindari jalan rusak itu ia malah sengaja menancap gas di jalan yang rusak. Dan otomatis mobil bergoyang, dan orang di dalamnya ikut bergoyang. Tapi bukan karena musik.
Laras yang tidak siap menghadapi nya, ia pun tidak sengaja terpental ke pelukan Andra, dengan sigap Andra memeluk nya. Terkejut? Pastinya tiba-tiba istrinya membuang tubuhnya ke dalam pelukannya, sungguh langkah. Ia kemudian melirik ke arah pak Supri dan dilihatnya pak Supri tersenyum dan mengangguk melihat Andra.
Pikiran Andra langsung singkron dengan maksud pak Supri.
'kerja bagus pak'.
'semangat tuan'. Batinnya juga ikut sinkron
" Ah.. maaf mas, Laras gak sengaja ". Berniat menjauhkan tubuhnya dari dekapan Andra, ia sudah malu kepayang.
Tapi sayang, kalau sudah masuk kandang harimau tidak semudah itu untuk keluar.
Andra langsung menahan pinggang Laras menggunakan satu tangan nya, semakin Menarik nya mendekat. Bukan hanya itu, ia juga menarik kepala Laras pelan dengan satu tangannya dan mendekapnya dalam dadanya.
" Ma... Mas... ". Suaranya bergetar, bukan karena takut tapi karena malunya sudah setinggi dewa.
Dengan muka datarnya " sudah diam saja. Masih banyak jalanan rusak, kamu tidak mau terpental lagi kan ". Dustanya.
" O.. oh... ". Terpaksa Laras harus diam di dalam dekapa Andra. Satu tangan Andra menahan pinggang Laras dan satunya lagi, Andra menaruhnya di kepala Laras. Mengelus-elus nya menyayanginya.
'waaaa... Dekat banget, Bau maskulin cool nya mas Andra pekat banget. Ya Allah... Moga ajah aku gak kegoda'
'rambut Laras wangi banget , tenang de!'
Dan posisinya yang seperti itu, tetap bertahan di sepanjang jalan, hingga mereka sampai di parkiran VVIP kantornya.
__ADS_1
Sebenarnya Laras curiga, padahal jalanannya lurus dan mulus, tapi Andra tetap tidak mau melepaskannya. Ada apa sebenarnya? 'Apa mas Andra tertarik sama aku?'. Pikiran Laras selalu mengarah kesitu, tapi segera ditepisnya.
Bukan tertarik lagi, tapi sudah cinta.
Sedangkan Andra di sepanjang jalan, ia lagi-lagi tersenyum menang yang hanya dilihat pak Supri. Ia juga berterima kasih kepada pak Supri. Kesempatan yang ia berikan benar-benar sangat berguna 'akan gue tambahin bonus buat pak Supri'.
Pak Supri turun dan langsung membukakan pintu untuk Laras, itu perintah Andra agar lebih mengutamakan istrinya. Kalau Andra bisa turun sendiri.
" Kalo gitu Laras yang duluan masuk yah mas. Assalamualaikum ". Mencium tangan Kanan Andra. Ingin cepat-cepat pergi dari situ. Bagaimana jika ada yang lihat?. Tapi bukan itu saja, Laras masih malu dengan posisinya yang tadi.
" Hmm Waalaikum Salam ". Masih senang dengan kejadian tadi.
Laras masuk kedalam kantornya.
Tak lama kemudian, saat Andra akan masuk kedalam kantor juga, ia terhenti sesaat melihat mobil Alan datang.
Dan turun lah Alan, biasalah pakai gaya-gaya sok cool dan sok kerennya.
" Assalamualaikum bro... ".
" Waalaikum salam ". Jalan melangkah dan meninggalkan Alan. Alan langsung berlari mendekat.
" Gimana? ". Tanyanya di sela-sela jalan
" Apanya? ". Tidak jelas
" Gimana satu mobil dengan istri kesayangan lo? ". Niatnya ingin mengejek Andra. Karena ia tahu pasti di dalam mobil hening, garing tidak ada yang membuka suara. Mengingat bagaimana sifat Laras, yang masih sedikit takut dengan Andra. dan Juga Andra yang gengsinya masih tinggi.
Andra berhenti " biasa ajah ". Ngomong nya sih kaya gitu, tapi entah angin dari mana. Senyuman Andra langsung mengembang.
Alan yang melihatnya mematung. 'ha??? Apa?'.
***
Laras naik ke lift dan hendak menuju mejanya. Tepatnya di depan ruangan Andra.
Saat dari kejauhan ia melihat seorang pria di dekat mejanya "siapa yah? Kaya kenal?". Gumamnya.
Hingga ia tepat beberapa langkah lagi, matanya membulat " mas Ardi ". Ucapnya.
Orang yang di panggil langsung mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya ke sumber suara " Laras ". Heran Ardi. 'apa yang di lakukan Laras disini?'.
Laras mendekat " mas Ardi ngapain disini? ". Pertanyaan yang tidak masuk akal. Sudah melihat Ardi yang sedang sibuk dengan laptopnya, dia masih bertanya 'semoga bukan'.
" Aku kerja disinilah. Jadi sekretaris, kamu sendiri ngapain disini ".
Terkejut Laras mendengar nya, ia tidak menyangka kalau akan bertemu orang yang dikenalnya di kantornya.
" Ras.. kok bengong sih, kamu ngapain disini? Enggak kerjakan. Soalnya kata Nisa kamu nikah sama bosmu. Gak mungkin pak Andra kan ". Tidak ada yang akan percaya jika Laras sudah menikah dengan Andra.
" Ah.. soal itu.. ". 'aduh.. jadi kaya gak mau bilang kalau mas Andra memang suamiku..'
" Soal itu? Kenapa? ". Ardi bingung melihat Laras, karena yang ia tahu Laras bukanlah orang yang mudah gugup begini.
" Apa yang kalian lakukan? Dikantor bukan tempat untuk bergosip ". Tiba-tiba suara barinton terdengar di belakang Laras. Iyya dia Andra.
Melihat istrinya yang mengobrol akrab dengan laki-laki lain, membuat darahnya mendidih.
" Ma.. maaf pak ". Jawab keduanya.
'pak? Haa? Laras kerja disini?'.
" Kembali ke tempat kalian ". Sekarang Alan lah yang memerintah.
" Baik pak ".
Laras pun pergi ke tempat nya, tepat di samping Ardi. Laras melihat wajah suaminya. 'kayanya mas Andra kesal. Aduh.. gimana nih, aku gak mungkin di pecat kan'. Yah, mikirnya malah kesitu.
Ardi bengong, apa yang dilakukan Laras di samping nya? Itu tempat sekretaris yang baru. Pikirnya.
Hingga Alan dan juga Andra masuk kedalam ruangan nya.
__ADS_1
Ardi masih bengong, ia melihat kedepan. Laras juga melihat kedepan, tepat nya ketembok, posisi badan mereka sangat profesional. masih menerawang kejadian ini.
" Jadi ras, suamimu itu... ". Masih melihat kedepan, sama. Laras juga masih melihat kedepan.
" Iya mas.. ".
" Hahh!!? Kata Nisa suamimu itu gendut, buncit dan botak ". Beralih melihat Laras. Terlalu mempercayai kata istri nya.
Laras beralih malas melihat Ardi " perkataan Nisa kok dipercaya ". Singkatnya, tapi Ardi langsung bisa mengerti.
" Haahhh hebat banget kamu Ras ". Kembali melihat kedepan, dan diikuti oleh Laras. Kembali ke mode profesional nya. santai.
" Apanya? ".
" Kamu peletin, pak Andra yah ".
" Mas kayanya kamu udah ketularan Nisa deh. Mending jangan banyak nonton sinetron yang unfaedah ". Sekarang ia muak dengan Ardi.
" Hahaha sorry.. sorry, tapi nanti kalo makan siang, ceritain ke aku yah ". Keponya juga sudah ketularan.
" Haahhh iya-iya ".
Sedangkan di dalam ruangan
Andra duduk di kursinya dengan perasaan kesal 'apa-apaan coba! Sama orang lain akrabnya minta ampun. Pas sama suami sendiri canggung nya yang gak ketolongan'.
" Santai bos... Gak usah marah pagi-pagi, awali pagimu dengan senyuman ". Alan mencoba untuk menghibur Andra, padahal saat ia datang senyumannya tidak pernah lepas, bahkan para karyawan heran melihatnya. Tapi sekarang, hanya gara-gara Laras akrab dengan laki-laki lain, moodnya langsung drop. 'dasar cemburu an'
" Apa gue kirim Ardi ke perusahaan cabang ajah yah ". Akhirnya membuka suara setelah beberapa saat tadi ia diam. Tapi sekalinya membuka suara, malah mengatakan sesuatu yang tidak dapat dipercaya. Memangnya apa salah Ardi.
" Woi... Jangan gitu juga kali. Kalo cemburu tuh ada batasnya. Lagian nih Ardi udah punya istri ". Alan tidak mau semua pekerjaan akan ditimpakan padanya, cukup saat Ardi mengambil cuti. Selebihnya ia tidak mau.
" Bisa jadikan dia mau madu istrinya ". Andra tidak mau kalah.
" Gak mungkin lah, lu sih gak pergi ke pernikahan Ardi waktu itu. Lu gak liat sebagaimana cinta dan sayangnya Ardi sama istrinya, mereka juga udah punya anak. Lagipula Laras gak mungkin berpaling sama orang sekaya kaya lu. Ngerti? ". Jelasnya panjang lebar. Masih ingin mempertahankan Ardi.
" Memangnya iyya? ". Sudah sedikit percaya
" Iya, ngapain gue bohong. Terus nih Ardi gak mungkin berani selingkuh ".
" Memangnya kenapa? , Kayanya lu tau banget sama rumah tangga Ardi ". Seperti Alan sudah bagian dari keluarga itu sendiri.
" Soalnya istrinya Ardi tuh galak pake banget. Ya iyalah, gue kan sejoli banget ama Ardi ". Meluruskan kesalahpahaman. Tidak ingin dianggap pebinor.
" Oh.. ". Singkatnya.
'sumpah nih bos, minta di tampol. Gue udah jelasin panjang kali lebar, tapi jawabnya cuman 'oh' doang. Tapi untung Ardi gak jadi di pindahi. Dasar pencemburu'.
" Ngapain lo masih bengong? Sana pergi ke meja lo sendiri ". Tak tahu terima kasih, itulah Andra di mata Alan.
...----------------...
Jam makan siang
" Ayo Ras, kita makan siang. Dan jangan lupa cerita-in ke aku ". ajak Ardi
" I.. ".
" Ras ayo makan siang ". Tiba-tiba Andra datang dan memotong kata-kata Laras.
Laras melirik kearah Andra, lalu melihat kembali ke Ardi. Ardi mengangguk, wajahnya sudah pucat, karena sedari tadi Andra menatap nya seperti akan memangsa saja. 'aduh.. bos sepertinya cemburu. Ayo ras.. pergi bawa suami mu dari sini'.
Belum sempat Laras menjawab, Andra sudah menarik tangan Laras. Sebelum mereka masuk kedalam ruangannya. Andra lagi-lagi menatap Ardi Dengan tatapan mengerikan , seperti mengatakan 'dia milikku'. Haaaah dasar pencemburu.
Dan melangkah masuk kedalam ruangan Andra.
" Ya Allah... Aku kaya mau di terkam harimau saja ". Badannya lemas, dan tidak sengaja ia terhambur kembali ke tempat duduk.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya
__ADS_1