
Satu Minggu telah berlalu sejak kepergian bu Aminah. Laras mencoba untuk tidak bersedih lagi, walau bagaimanapun semua makhluk hidup di alam semesta ini akan berpulang pada-Nya.
Andra mulai kembali masuk kantor. Pekerjaan nya semakin menggunung seiring libur yang diambil.
Sekarang di dalam ruangan ini.
Andra tengah fokus dengan berkas-berkas yang ada di depannya. Sesekali ia melirik Melihat Alan yang seakan tidak punya gairah hidup lagi. Apa ia sedang kelaparan, gara-gara puasa?. Ah itu tidak mungkin. Tapi kenapa?
Andra tidak ingin terlalu memikirkannya, dan kembali fokus pada berkas yang ada di depannya. Sungguh pekerjaan nya sangat banyak, mana lagi puasa! Pikirannya juga terus melayang ke rumahnya. Istri dan anaknya sedang menanti kepulangan nya.
Huhhff
Satu helaan nafas panjang keluar dari mulut Alan, entah sudah berapa kali helaan nafas nya keluar. Benar-benar mengganggu.
Andra menghentikan aktivitas yang di lakukan, dan ia melirik melihat Alan. " Lu kenapa Lan? ". Suara barinton itu terdengar memecah keheningan.
Alan melirik sekejap kearah Andra lalu kembali melihat ke laptop nya. Ia menghela nafas.
" Ada apa sih Lan!? ". Helaan nafas Alan menggangu Andra.
" Susah yah Ndra, punya istri menggemaskan! ". Ucapnya tak tentu arah.
Sesaat Andra mengerutkan keningnya. Lalu ia berfikir sejenak. Entah angin dari mana, tapi Andra langsung mengerti akan jalan cerita yang di katakan Alan.
" Benar. Apalagi kalo istri lagi hamil ". Timpal Andra sembari manggut-manggut.
" Iya rasanya kita gak pengen jauh-jauh dari istri kita ".
" Nah akhirnya lu paham gimana tersiksanya gue waktu Laras hamil, pengennya cepat-cepat pulang. Bukan hanya waktu Laras hamil, sekarang ajah gue pengen cepat-cepat pulang ketemu Istri ama anak gue ". Keluh Andra.
" Tapi lo Keliatan biasa ajah tuh ". Hanya dirinya yang tak terlihat bersemangat sama sekali.
" Emangnya gue kaya situ, yang perasaannya gampang ketebak! ". Selama ini Andra menutupi perasaannya dengan sangat baik, dirumahnya barulah ia melepas semua perasaan dan kerinduannya terhadap sang istri.
" Cih. Tapi gue heran sama Ardi selama ini, dia gak pernah ngeluh tuh ". Sekarang mereka mulai bergosip.
Andra terlihat berfikir " benar juga sih, apa Ardi juga kaya gue yah pintar nyembunyiin perasaannya ".
" Bisa jadi sih ". Timpal Alan " haisss gue iri sama Dilan yang tiap hari kerjaannya cuman dirumah doang, mana sama istrinya lagi. Kan bisa main kapan ajah tuh ". Dilan tak luput dari pembicaraan kedua orang yang terlihat gagah namun sangat manja pada Istri nya masing-masing.
" Benar juga tuh ". Andra membenarkan. Sekali lagi Andra melihat Alan yang bukan hanya tidak punya gairah untuk hidup, ia juga melihat wajah Alan yang nampak pucat seperti kurang tidur.
" Muka lu pucat amat. Kurang tidur? ".
" Iya gue kurang tidur. Soalnya Mai...___ ".
" Astaghfirullah Alan, insaf Lan. Istri lu lagi hamil, jangan di habisin ampe tepar ". Andra memotong perkataan Alan.
" Woi.. sejak kapan gue bilang kaya gitu, lo ajah yang sembarang mikir Sutisna! ".
" Nah trus kenapa coba! ".
" Semalam jam 1 malam gue disuruh sama Mai nangkap burung hantu. Katanya ngidam ". Membayangkan kembali kejadian semalam yang membuatnya kerepotan.
" hahahaha burung hantu!! ". Tawa Andra menggelegar. Alan yang melihatnya hanya bisa mengelus dada, mencoba untuk sabar. " Gimana? Burung hantunya dapat? ". Kembali bertanya
Huhhff
" Boro-boro gue dapat burung hantu, malah gue yang jadi burung hantu. Nih liat ". Menunjuk kearah bawah matanya. Terlihat lingkaran hitam disana.
" Hahahaha ". Lagi-lagi Andra tak bisa berhenti tertawa. " Duh Lan, stop deh! Gue gak bisa tahan lagi ". Mengatur nafas agar tak tertawa lagi. Kalau bawahan Andra melihat dirinya yang seperti ini, sungguh predikat CEO Arogant tak pantas disandingkan dengan nya.
__ADS_1
'gue lagi yang disalahin! Dia yang minta di ceritain juga!'. Alan hanya bisa mengumpat dalam hati. Lagi dan lagi ia mencoba untuk tak terpancing emosi. Walau bagaimanapun sekarang ia sedang puasa. Lagi pula, ia juga tak terlalu mengambil pusing dengan tingkah bosnya, karena selama ini ia memang tahu batasan dirinya dan sang atasan. Alan hanya beruntung mendapatkan atasan seperti Andra yang menganggap nya sebagai sahabat.
.........
Jam menunjukkan 15.30, waktu pulang kerja pun tiba. Para karyawan berbondong bondong keluar dari perusahaan, ada yang tinggal karena pekerjaannya yang masih menumpuk. Sedangkan Andra dan Alan sudah pulang duluan.
Di dalam mobil, Andra tengah fokus dengan gadget yang ada di pangkuannya. Sedangkan Alan fokus dengan jalan raya yang sedikit macet.
Drrt.. drrt.. drrt...
Andra mendongak. Ia mendengar ponsel Alan berbunyi, tapi yang punya tidak mendengar nya. " Lan hp lu bunyi ".
Alan melirik kearah Andra lewat kaca dengan " bunyi? ". Ia merasa tidak mendengarkan apapun.
Drrt.. drrt.. drrt...
" Nah itu bunyi lagi, angkat! Siapa tahu Mai yang nelpon ".
Mendengar perkataan Andra, dengan cepat Alan menyambar ponsel di dashboard mobil. " Wah beneran bini gue ". Sumringah. Dengan perasaan yang berbunga-bunga Alan mengangkat telpon.
Andra kembali fokus dengan gadget nya.
" Wa'alaikun salam. Ada apa beb? ".
" .... ".
" Iya, maunya apa? ". Tanya Alan lembut
" .... ".
" Ha! Kan dirumah udah ada Ac beb ". Andra hanya mendengar apa yang di katakan oleh Alan.
'Ac!!!'. Tidak ingin terlalu campur tangan dengan urusan sang sahabat, Andra memilih diam.
" .... ".
" Wa'alaikum salam ". Menghela nafas dan kembali menaruh ponselnya di dashboard.
" Kenapa Lan? ". Andra membuka suara, ia benar-benar penasaran.
" Istri gue lagi ngidam ". Katanya
" Oh.. emangnya Mai mau di bawain apa? ". Setau Andra yah, ibu hamil memang suka meminta hal-hal yang tak masuk akal.
" Kipas angin ". Singkatnya
" Hah! Buat apa?! ".
" Yah mana gue tau, yang ngidam kan bini gue ".
" Hahaha yang sabar bro, turutin ajah! Entar lu bakalan kangan loh saat-saat ini, saat-saat dimana istri lu manja-manja an ama lu ". Nasehat Andra. Ia beruntung karena istri nya tak terlalu parah saat ngidam dulu. Pikir Andra.
Yang paling parah saat Laras tidak mau tidur dengannya dan menyuruh Andra tidur di sofa, dengan berat hati Andra menuruti nya. Namun saat tengah malam Laras merengek bahkan sampai menangis, karena Andra tidak tidur di sampingnya. Alhasil Andra hanya menuruti sang istri.
Alan tersenyum " tenang ajah, gue sabar kok. Gue juga suka kalo bini gue manja-manja an ama gue ".
Andra manggut-manggut, dirinya juga sama dengan Alan. Walaupun biasanya mereka mengeluh dengan permintaan sang istri yang tak masuk akal, tapi mereka suka dengan sikap sang istri.
.........
Alan memasuki pekarangan rumah nya, ia baru saja mengantar Andra pulang kerumahnya. Alan turun dari mobil, dan memanggil satpam untuk membawa kipas angin berukuran sedang yang baru saja di belinya.
__ADS_1
Dengan sigap satpam tersebut mengambil kardus isi kipas angin 'apa AC nya rusak yah' monolog hati sang satpam.
Alan berjalan lebih dulu memasuki rumah nya. Ia membuka pintu dan disambut oleh pelayan nya.
Mai yang tengah itu sedang bersantai di ruang keluarga dengan membaca buku, sontak langsung berdiri mendengar salam dari sang suami.
" Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum salam ". Menghampiri Alan, Mai mencium tangan Alan dan dibalas kecupan di kening nya.
" Mana kipas angin nya mas.. ". Sangat antusias dengan wajah yang berbinar. Selama masa kehamilan Mai, ia sudah sangat jarang menampilkan wajah datarnya ke Alan. Mungkin bawaan dari bayinya.
'nanyain kabar gue kek. Mau makan gak sayang? Atau mau mandi gak sayang? Gitu kek'. " Sabar beb, entar ".
Tak lama pak satpam pun masuk dengan membawa kardus. " Taruh di situ ajah pak. Oh yah bapak bisa merakit nya gak, kalo bisa tolong di rakit pak ". Alan tak tahu cara merakitnya, karena selama ini ia tidak pernah memakai kipas angin. Selalu ada Ac yang menemaninya dikala sang panas datang.
" Bisa tuan ". Pak satpam menjawab.
" Baiklah langsung saja pak ". Satpam tersebut hanya mengangguk dan mulai merakitnya di atas lantai. Alan dan Mai melihat di atas sofa.
Terlihat di wajah Mai yang tak henti-hentinya tersenyum, ia terlihat bersemangat.
" Memangnya kipas anginnya mau di apakan beb? ".
Mai mengalihkan pandangannya kearah Alan. " Ada deh. Aku liat di tv tadi ". Jawabnya dan kembali melihat satpam yang sedang merakit kipas angin tersebut.
" Sudah tuan ". Berdiri
" Bagus, kalo gitu kembali ke tempat mu ".
" Baik tuan ". Membungkuk dan keluar dari sana.
Dengan antusias Mai berjalan ke kipas angin tersebut. Alan mengikuti dari belakang.
" Mas ini di colok dimana? ".
Alan membawa kioas angin tersebut ke samping tv. " Disini ajah beb ". Mencolokkan kabel kipas angin colokan tempat tv tadi. Mai mengikuti Alan dari belakang. " Nah udah ". Menekan salah satu tombol, agar kipas angin menyala. Setelah kipas angin tersebut menyala dengan antusias Mai mendekat tepat di depan kipas angin.
" Waaaaaaaa ". Membuka mulutnya di depan kipas angin, al hasil angin masuk kedalam mulutnya.
" Beb nanti masuk angin ". Alan langsung mengambil remote Ac Untuk menaikkan suhunya. Alan merasa kipas angin tidak kalah hebat dingin nya dengan Ac.
" Waaaa gak pa waa pa mas waaa ". Alan hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah puas, Mai pun mematikan kipas angin tersebut dan berjalan kearah sofa dimana sang suami yanh sedari tadi memperhatikan nya berada. Mai duduk di samping Alan.
" Udah? ".
Mai mengangguk " udah ". Singkatnya memperlihatkan gigi putihnya.
" Cuman itu? ". Mai mengangguk. " Emangnya di tv liat apaan? ".
" Oh itu, yang kartun dari Malaysia. Yang kembar trus botak, pake baju warna kuning dan biru. Tadi aku sempat nonton, trus ada adegan waktu si kembar botak sedang main di kipas angin, jadinya aku pengen coba deh ". Jelas panjang Lebar.
Alan yang mendengarnya melongo, ia tidak percaya. Hanya karena kartu anak-anak, Istri nya sampai merengek ingin kipas angin?.
Huhhff
Alan hanya bisa mengelus dadanya. Ia beberapa kali Mencium-cium kepala Mai dan mengelus nya. Sifat manja dari sang istri sungguh ia suka.
hal-hal seperti ini akan terus di rasakan Alan sampai jangka waktu tak tertentu
__ADS_1
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya