Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Kebimbangan Laras dan Mai


__ADS_3

Saat Mai masih bingung dengan pemikiran nya. Lain halnya dengan Laras yang bergelayut dalam pemikiran nya juga.


Laras sedang fokus menonton istri terzolimi. Dimana judulnya 'orang ketiga dalam hubungan ku adalah sekretaris suamiku'. Hal tersebut membuat Laras semakin cemas.


Ia menggigit ujung kuku nya " siapa yang menggantikan ku jadi sekretaris mas Andra ya ". Bagaimana jika seorang wanita? Laras semakin pusing dan cemas dengan pemikirannya.


" Mending tanya mas Andra ajah deh ". Laras berdiri dan mendekati Andra yang sedang berkutik dengan laptopnya di atas sofa.


Setelah sampai, Laras langsung duduk di pangkuan Andra. Lengannya ia kalungkan di leher Suaminya. Andra terkejut, sontak ia melingkar kan sebelah tangannya di pinggang Laras, sedangkan tangannya yang lain masih fokus pada laptop.


" Mas.. ".


" Hmm ". Masih fokus pada laptop nya.


Laras menangkup wajah Andra agar melihatnya. " Hmm ada apa sayang? ". Mengecup bibir Laras singkat.


" Mas aku kan udah gak kerja, jadi siapa yang menggantikan ku? ".


" Gak ada, mas gak cari pengganti. Semua itu Alan yang ganti ".


" Beneran? ". Tanyanya dengan wajah berbinar


Andra mengerutkan keningnya " iya benar ".


" Oh... ". Mengecup singkat pipi Andra dan langsung turun dari pangkuan Andra.


" Mau kemana sayang? ".


" Lanjut nonton ". Jawabnya dan langsung kembali ke tempatnya semula untuk menonton tanpa beban sedikit pun.


Andra hanya geleng-geleng melihatnya. Ia tahu kalau Istri nya akhir-akhir ini sangat manja padanya, mungkin bawaan dari bayinya. Tapi hal itu malah membuat Andra semakin senang dan sayang pada Laras.


.........


Kita kembali ke Mai.


Mai sekarang sudah ada di apartemen nya. Ia berbaring di kasurnya setelah mandi.


Di ambilnya ponselnya di atas kasur, dan tentu di buka. Pertama yang menjadi tujuannya adalah pesan dari seseorang yang selalu mengganggunya. Namun sayang, sama sekali tidak ada pesan yang masuk dari Alan. Membuat Mai merasa sedih dan sepi.


" Haaahhh sebenarnya aku kenapa sih, kenapa aku jadi rindu dengan Alan ". Membuka galerinya. Ia mencari foto Alan di dalam ponsel nya.


Dan benar saja, rupanya ada. Bukan Mai yang memotretnya, tapi Alan sendirilah yang memotret dirinya sendiri menggunakan ponsel Mai. Katanya untuk kenang-kenangan. Dan jika rindu, Mai bisa memandangi fotonya saja. Dan benar saja foto itu berguna sekarang.


Mai mengusap wajah tampan Alan yang berada di ponselnya. Tanpa ia sengaja, senyumannya langsung mengembang.


" Astaga.. sebenarnya aku kenapa ". Memegang pipinya. Ia melihat wajahnya di kamera ponsel nya, dan apa yang dilihatnya? Wajahnya memerah.


" Ya Allah.. jantung ku kenapa berdetak sangat cepat begini hanya karena mengingat wajah Alan yang tersenyum ". Memegang dadanya. Senyuman nya tak bisa luntur.


" Apa aku benar-benar mencintai Alan? Ahhkk benar apa yang di katakan Nisa, kalau cinta itu memang datang tiba-tiba dan tak tahu akan berlabuh ". Akhirnya Mai sadar akan perasaannya.


" Bagaimana ini? Apa aku curhat dalam grub ajah yah? Ahhk jangan deh Kenapa jadi lebay kaya gini sih ". Mengacak-acak rambutnya.


" Sebaiknya aku katakan pada orangnya dulu saja, tapi... Memangnya aku bisa? ". Mai bimbang, dan ini untuk pertama kalinya. Setelah ia bimbang tentang pernikahan tiba-tiba Nisa dan Laras.


" Haufffh sudahlah mending tidur ajah, besok baru aku pikirkan, tapi kok Alan belum mengirim pesan yah haaaahhh ". Pasrah Mai lalu menarik selimut nya dan tidur.


...****...


Saat Mai bimbang dengan perasaannya yang datang tiba-tiba, Laras juga sedang bimbang melihat judul film baru yang di tontonnya sekarang.


'azab seorang suami membohongi istrinya'. Judulnya sungguh membuat hati Laras jadi bimbang.


" Bagaimana jika mas Andra berbohong? ". Melirik melihat Andra, dan yang dilihatnya Andra sedang fokus dengan laptopnya, sehingga tidak mengetahui lirikan Laras.


" Bukannya aku tidak percaya sama mas Andra, tapi aku perlu bukti! Apa aku ke perusahaan ajah yah.. tapi pasti gak di izinin ". Laras menghela nafasnya. Ia benar-benar bimbang.


" Apa aku curhat ajah yah? Ke grub, tapi kalau aku curhat sama ajah kalo aku ngumbar aib keluarga sendiri. Jangan deh ". Menggeleng kepalanya cepat.


" Ada apa sayang, kok kayaknya lagi bimbang gitu? ". Tiba-tiba Andra sudah ada di samping Laras dan duduk nyaman dengan nya.

__ADS_1


" Enggak pa-pa mas hehe ". Nyengir memperlihatkan giginya yang berjejer rapi. 'semoga mas Andra gak dengar apa yang ku katakan tadi'.


" Nonton apa sayang? ". Membelai rambut Laras


" Itu mas... ". Menunjuk tv. " Huh! Pengen ku bejek tuh Suaminya, udah punya bini yang cantik. Masih selingkuh ".


" hahhahah namanya juga film. Cuman fiksi ".


" Haiiss benar juga. Tapi awas loh mas kalo aku tau kamu selingkuh, aku akan pergi membawa anak kita meninggalkan mu ". Menatap tajam Andra.


Andra langsung memeluk Laras erat " jangan bilang kaya gitu sayang, mas benar-benar tidak bisa hidup tanpamu dan anak kita. Mas janji gak bakalan selingkuh, lagipula mas hanya cinta sama kamu ". Ucapnya serius namun dengan nada sendu


Laras membalas pelukan Andra " iya mas aku gak akan ninggalin mas ". Hati Laras sedikit senang dan tenang mendengar penuturan Andra.


Laras melepas pelukannya lalu melihat wajah Suaminya, di tangkupnya kedua pipi Andra.


" Mas.. jangan terlalu mencintaiku, cintai seada nya saja. Karena suatu hari nanti aku akan pergi meninggalkan mu.. jad..___ ". Andra langsung menaruh telunjuknya di bibir Laras.


" Jangan bicara tentang pergi-pergi lagi. Saya sungguh takut sayang... ". Kembali memeluk Laras.


" Tapi di setiap sebuah pertemuan, pasti ada perpisahan. Tidak ada yang kekal dan abadi di dunia ini mas.. ". Tutur Laras lembut.


" Mas tau.. tapi setidaknya, mas ingin bersama mu sampai ajal menjemput, sampai ke surga-Nya ". Sebenarnya hati Andra sedikit tidak rela mengatakan tentang hal perpisahan seperti ini. Bukan karena apa! Tapi yang di katakan Laras benar adanya. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semuanya akan kembali ke pemilik-Nya suatu hari nanti.


" Aamiin... ". Membalas pelukan Andra.


Sekarang giliran tv yang menonton mereka berdua.


..........


Pagi harinya, setelah Mai sholat subuh. Ia langsung mengambil ponselnya dan memeriksa pesan dari Alan. Namun sayang lagi dan lagi tidak ada pesan dari Alan.


" Sebenarnya Alan kemana sih.. apa jangan-jangan dia sudah bosan dengan penolakan ku ". Menunduk. Hati nya sakit, tanpa ia sadari air matanya jatuh begitu saja.


" Astaghfirullah kok aku jadi cengeng sih ". Mengusap kasar air matanya.


" Aku yakin Alan hanya sibuk saja ". Mai mencoba untuk positif thinking.


Ia bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.


" Tumben sayang, mau antar mas sampai depan pintu ". Biasanya Laras memang tidak mengantar kepergian Andra ke kantornya, ia hanya akan mengucapkan hati-hati nya di kamar.


" Hehe sekali-kali mas ". Mengalungkan tangannya di lengan Andra.


Sesampainya di depan pintu, terlihat pak Supri yang sudah siap dengan mobilnya.


" Eh! Alan kemana? ".


" Lagi di kantor, dia sedang sibuk ".


" Ohh kayanya pekerjaan banyak bangat yah mas ". Andra hanya tersenyum menjawab perkataan Laras.


" Mas berangkat yah ". Laras mengangguk " Assalamualaikum ".


" Wa'alaikum salam ". Mencium tangan kanan Andra. Sedangkan Andra mengecup kening Laras dan turun ke bibir Laras, hanya kecupan biasa.


Laras memperhatikan mobil Andra sampai keluar dari gerbang rumahnya. Setelah tidak terlihat lagi, Laras pun masuk.


" Nanti aku akan ke kantor mas Andra deh, bawa makan siang ". Rencananya. Padahal masih ada beberapa jam lagi.


Tak terasa jam makan siang pun tiba...


Laras turun dari taksi yang membawanya tadi. Semakin hari wajah Laras semakin cerah. Saat ia turun dari taksi nya, dia sudah jadi pusat perhatian.


Wajahnya yang cantik, dipadukan dengan rok seribu sampai mata kaki, dengan switer rajut nya yang berwarna navy di masukkan ke dalam roknya.


Rambutnya yang tergerai begitu saja, membuat rambutnya terbang saat angin berhembus.


" Selamat datang nyonya muda ". Ucap pak Satpam


" Assalamualaikum pak.. ".

__ADS_1


" Wa'alaikum salam nyonya muda.. ".


" Kalo gitu saya masuk yah pak ".


" Iya nyonya muda ".


Laras pun masuk ke dalam kantor Suaminya. Di dalam loby, Laras menyempatkan dirinya untuk bertanya terlebih dahulu. Takut ia mengganggu Suaminya.


" Hai Ras.. ". Ucap seorang yang bahkan Laras sendiri tidak mengenalnya. Biasalah pasti ia sedang mencari perhatian, apalagi saat mengetahui identitas sebenarnya dari Laras.


" Hmm hai ". Tapi Laras tetap membalasnya.


Laras melanjutkan langkahnya ke resepsionis.


" Permisi ". Sapa Laras.


" Iya? ". Resepsionis tersebut tersenyum manis


" Apa pak Andra ada? ".


Mendengar penuturan Laras, membuat resepsionis tersebut merubah senyuman manisnya menjadi tatapan tidak suka.


" Ada ".


" Oh baiklah aku ingin bertemu dengan nya ".


" Apa anda Sudah membuat janji dengan pak Andra? ".


" Ehmm belum sih, tapi bilang saja kalau Laras mau bertemu dengan nya ". Ucap Laras masih tetap tersenyum 'pasti resepsionis baru nih'.


" Maaf nona.. tapi tolong jangan membuat saya repot ". Ucapnya menaikkan satu oktaf.


" Mmm tolong telpon pak Andra dulu ".


" Nona.. ".


" Ah nyonya muda... Apa yang bisa saya bantu? ". Tiba-tiba seorang wanita yang lebih profesional datang.


" Hai Laila.. aku ingin bertemu pak Andra ".


" Ohh iya sialahkan nyonya ".


" Eh! Tunggu dulu senior kenapa dia di izinkan begitu saja ". Resepsionis baru itu tidak terima.


" Bodoh dia nyonya muda.. istri tuan muda ".


" A.. apa nyonya muda... ". Tiba-tiba keringat nya jatuh membasahi keningnya.


" Maaf.. maafkan saya nyonya.. ". Berbungkuk


" Hahah tidak apa-apa. Aku malah senang dengan perbuatan mu tadi. Lain kali kalo ada wanita lain selain aku atau nyonya besar, jangan izinkan dia masuk ". Menepuk bahu resepsionis tersebut.


" Terima kasih nyonya muda.. ". Ketakutan nya langsung sirna.


" Baiklah aku masuk dulu. Assalamualaikum ".


" Wa'alaikum salam ".


Laras pun masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Ia sedang hamil, makanya tidak ingin membahayakan kandungan nya dengan berhimpit-himpitan dengan karyawan lain di lift biasa.


" Assalamualaikum Ardi ". Ardi mendongak


" Wa'alaikum salam ". Jawabnya " ngapain Ras? Kamu gak di marahi datang ke kantor ".


" Mau bawa makan siang buat mas Andra ". Mengangkat bag pepper yang di bawanya.


" Sebenarnya aku gak kasi tau mas Andra kalo mau datang ke kantor ".


Ardi geleng-geleng mendengar nya. " Yaudah masuk ajah ".


Laras mengangguk.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2