Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Honeymoon?


__ADS_3

Kini tinggal kedua pria yang ditinggalkan istrinya. " Oh yah pah.. Andra mau tanya ".


" Tanya? tanya saja ". Tidak biasanya Andra bertanya.


" Gini, apa papa punya kenalan yang bisa membuat perhiasan? Setidaknya cin-cin nikah ".


Papa Rangga berpikir sesaat. Sebenarnya ia berpikir bahwa ini sangat langkah, anaknya meminta saran kepada nya? Owhh itu tidak pernah terjadi semenjak Andra masuk kuliah. Dan sekarang terjadi lagi.


" Gimana pah? ".


" Ehemm.. ". Menetralisir perasaannya dan juga bibirnya yang selalu ingin menyinggung kan senyumannya. " Ada.. Memang nya kenapa? ". Dan hal itu berhasil.


" Oh syukur lah, saya mau membuat cin-cin nikah untuk istriku dan diriku ".


" Bukannya sudah ada? ". 'oh rupanya karena menantuku... Terima kasih Laras, aku tidak menyesal merestui hubungan mereka'. Karena hal itu mampu membuat Andra berubah.


" Saya mau buat yang lebih istimewa dan spesial. Papa tau kan, kalo cin-cin nikah kami sekarang Andra pilih asal-asalan ".


" Hmm benar juga. Baiklah nanti papa kasi nomor telepon nya biar kamu sendiri yang bicara dengannya ".


" Baiklah. Makasih pah ". Tersenyum hangat melihat papa Rangga.


Papa Rangga terkejut melihat senyuman Andra yang pernah hilang dulu gara-gara dirinya, kini kembali lagi karena pengaruh orang yang di cintai anaknya. Ia benar-benar bersyukur, Namum bersedih karena perlakuan nya dulu terhadap anak keduanya yaitu Indra.


'jika seandainya Indra masih hidup, pasti dia sangat bahagia melihat senyuman Andra sekarang. Maafin papa nak.. sudah membuat mu menderita dulu'. Menyeka air matanya yang ada di ujung matanya.


" Papa kenapa? Nangis? ". Rupanya Andra menyadari hal yang di lakukan Papa Rangga.


" Ha!? Menangis! Tidak lah haha ". Tertawa canggung.


Andra geleng-geleng melihat nya, padahal Andra tahu jelas kalau papa nya sedang menangis. Ia tahu apa yang membuat papa nya menangis, apalagi kalau bukan tentang adik nya yang sudah pergi meninggalkan nya.


'maafin abang de, tidak bisa menjagamu dengan baik. Kali ini abang pasti akan menjaga orang-orang yang abang sayang dan cintai. Sama seperti yang kamu bilang'. Bahkan Andra juga ikut sedih mengingat nya.


.........


Mama Ani mendorong kursi roda Laras menjauh dari kedua pria hebat mereka.


" Mama mau bawa Laras kemana? ".


" Kita pergi liat oleh-oleh yang mama bawa untuk kamu sayang ".


Laras mendongak " Eh! Oleh-oleh? Tapi aku gak minta mah ". Kaget Laras. Sepengetahuan nya ia sama sekali tidak pernah mengatakan kepada mama Ani tentang oleh-oleh.


Mama Ani terkekeh " kamu memang gak minta, tapi mama yang mau beli in ". Kenapa menantunya terlalu polos.


" Oh.. hehe gitu yah, seharusnya gak perlu mah ".


" Gak pa-pa, mama senang kok beli in menantu mama yang cantik ini dengan barang-barang bagus ". Mentoel dagu Laras.


Laras geleng-geleng " terserah mama ajah ". Ia tidak mungkin melarang mertuanya.


Mereka sampai di ruang tv, dan rupanya sudah ada banyak bag pepper terlihat di atas meja. " Sebanyak ini mah? ". Laras menganga melihatnya. Tidak mungkin kan kalau itu semua untuk dirinya.


" Iya memang nya kenapa? ". Duduk di sofa dekat kursi roda Laras. Laras juga ingin ikut duduk di sofa, tapi ia urungkan karena pasti akan susah jika harus pindah ke kursi roda lagi.


" Gak pa-pa mah.. kalo untuk mas Andra juga ada kan mah? ".


" Ada ".


'Alhamdulillah Untung ada'. Tidak mungkin kan semuanya untuk Laras


" Yang ini nih ". Memberikan bag pepper berwarna hitam pada Laras.


" Hmm yang lain? ".


" Udah gak ada.. itu juga mama beli di akhir, soalnya lupa hehe ". Terkekeh.


'Astaghfirullah.. masa semua itu untukku'. Laras cuman bisa geleng-geleng melihat mertuanya yang satu ini. Anak nya sendiri di lupakan.


Mereka pun membuka satu-persatu bag pepper di atas meja, yang mungkin sekitar 20 buah, bahkan lebih. Laras selalu di buat menganga dan tercengang melihat satu-persatu isi dari bag pepper itu.


Satu bag pepper, mungkin harganya sekitar dua puluh sampai tiga puluh juta, bahkan ada yang sampai ratusan juta hanya isi satu bag pepper tersebut.

__ADS_1


'gini yah cara orang kaya belanja. Sekali belanja bisa sampe milyaran'. Laras meneguk salivahnya susah-susah.


" Oh yah Ras, kamu sudah kasi tau mbak Aminah tentang kehamilan mu? ". Ucap mama Ani di sela-sela mereka membuka bag pepper itu.


" Iya mah udah ".


" Apa katanya? ". Terlihat wajah penasaran mama Ani, dan juga wajah khawatir nan sedih.


Laras mengerutkan keningnya. 'kenapa mama nanya kaya gitu yah, mana keliatan sedih lagi'. " Alhamdulillah ibu senang mah dengarnya ". Tersenyum Laras.


" Oh.. lalu gimana kabar mbak Aminah? ".


" Alhamdulillah katanya sehat ". Dan yah memang benar, Laras hanya tahu dari mulut bu Aminah dan Rasya kalau bu Aminah baik-baik saja. Ia belum tahu yang sebenarnya, tidak ada yang ingin memberi tahukan pada Laras yang sebenarnya, melihat kondisi Laras yang tengah mengandung.


" Alhamdulillah.. ". 'Aamiin'. Sebenarnya mama Ani tidak tega melihat Laras yang tidak tahu apa-apa. Wajah polos dan senang nya saat mengatakan semuanya baik-baik saja, membuat mama Ani tidak tega.


" Laras... Ada yang mama mau kasi tau sama kamu ". Mama Ani membulat kan tekadnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Walaupun ia tahu apa konsekuensi nya. Dari pada Laras harus mengetahuinya saat ia sudah terlambat. Apalagi lambat laun pasti Laras akan tahu juga.


" Apa mah? ".


" Gi.. gini.. se.. sebenarnya.. ".


" Assalamualaikum... ". Andra dan papa Rangga datang tiba-tiba.


Laras dan mama Ani menoleh melihat sumber suara " waalaikum salam ". Jawab mereka serentak.


Andra menghampiri Laras dan langsung menggendong nya, membawanya ke sofa untuk duduk.


" Ahk.. mas... ". Pekik Laras, tapi siapa sih Andra. Ia pasti tidak akan peduli dengan sekitarnya.


Andra diam lalu Menaruh Laras di sofa dan ikut duduk di samping Laras.


" Mas.. isshh ". Kesal Laras.


Andra hanya membalasnya dengan senyuman manis. " Apa yang kalian lakukan? ". Mengalihkan pandangan.


" Buka oleh-oleh ". Jawab mama Ani.


" Oh yah mah.. tadi apa yang mama mau katakan? Katakanlah ". Laras menuntut kata-kata mama Ani yang sempat terpotong.


" Ahh hmm ". Tidak berani mengatakannya, apalagi melihat kode Andra untuk tutup mulut.


" Gini, sebenarnya kami ingin kalian honey moon, melepas lelah. Apalagi kalian belum pernah honeymoon kan. Iya kan mah? ". Papa Rangga menyela. Sepertinya ia cukup peka untuk tahu apa yang terjadi sekarang.


Papa Rangga menyiku lengan mama Ani yang hanya diam " oh iya sayang.. honeymoon.. iya honeymoon. Sebaiknya kalian cari waktu untuk pergi honeymoon ".


Laras menoleh melihat suaminya, dan yang dilihat memberikan senyuman manis sembari mengangguk. " Sebenarnya Andra juga sudah ada rencana kalo soal honey moon, hanya menunggu waktu yang tepat saja. Apalagi sekarang Laras sedang hamil muda, tidak bisa pergi jauh menggunakan pesawat ".


Laras kaget, sejak kapan suaminya merencanakan tentang honey moon?.


" Benar juga, Laras sepertinya belum bisa naik pesawat lama-lama ". Mama Ani juga ikut setuju.


" Kalau begitu saat kalian sudah siap saja, tapi beritahu kami oke?! ". Sekarang mereka benar-benar fokus dengan rencana honeymoon.


" Baik pah ".


...***...


Setelah beberapa lama.. akhirnya mama Ani dan papa Rangga pulang.


Sekarang di ruang tv, tinggal Laras dan juga Andra.


" Kapan mas merencanakan buat honeymoon? ". Pertanyaan yang sedari tadi bersarang di kepala Laras akhirnya keluar.


" hmm kalo gak salah pas ijab qobul selesai ". Jawabnya santai.


" Ha! Waktu di rumah sakit? ".


" Iya ". Masih santai.


'sebenarnya apa saja yang di pikirkan mas Andra waktu itu'. Sampai-sampai acara bulan madu pun sudah dia rencanakan.


" Memangnya kenapa? ".

__ADS_1


Laras menggeleng pelan " enggak ".


...----...


Di sisi lain...


Jika Laras tercengang dengan apa yang di rencanakan Andra, beda halnya dengan Mai yang sekarang jadi bahan ghibahan para orang-orang di rumah sakit tempatnya bekerja.


Bagaimana tidak, Alan yang sudah membuat heboh rumah sakit karena terang-terangan mengejar Mai, apalagi identitas Alan yang bukan main-main. Sekarang, ia harus di hadapkan dengan dokter pribadi keluarga Ansari, yang rela datang jauh-jauh hanya agar bisa makan siang bersama.


Hal itu semakin membuatnya menjadi bahan perbincangan yang tak jelas.


Di ruangan Mai


" Senior seharusnya tidak perlu datang jauh-jauh hanya untuk mengantarkan makan siang ". Ucap Mai memakan makan siangnya.


" Gak pa-pa.. aku cuman mau makan siang bersama mu ". Sudah tidak terhitung Rasya mengatakan perasaannya dengan terang-terangan.


" Oh ". Dan pasti jawaban Mai hanya itu.


Rasya sedikit kesal dan sedih melihat respon Mai. Padahal dirinya sudah mencoba untuk mengatakan perasaannya, namun sayang respon yang di berikan Mai biasa-biasa saja. Ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Setelah mereka menghabiskan makan siangnya...


" Hmm Mai.. kamu ada waktu nanti malam gak? ".


" Nanti malam? ". Berpikir " nanti malam aku sibuk senior ". Jawabnya dengan wajah datar 'sibuk rebahan'.


" Yah... ". Kecewa


" Memangnya kenapa senior? ". Sebenarnya Mai sudah tahu arah pembicaraan nya, karena ia cukup peka. Tapi ia tidak berminat dengan rencana Rasya.


" Aku pengen ngajak kamu makan malam... Tapi karena kamu sibuk, yaudah deh gak pa-pa. Lain kali ajah ". Berusaha untuk tetap tegar.


" In Syaa Allah.. kalo aku ada waktu pasti aku luangkan untuk makan malam bersama senior ". Mai jadi tidak tega melihat raut wjaah kecewa Rasya.


" Benarkah? Alhamdulillah.. iya hubungi aku saja oke! ". Dan Mai mengangguk.


" Yasudah aku kembali ke rumah sakit tempat ku bekerja ". Setelah melihat jam tangannya, rupanya ia sudah hampir terlambat.


" Baiklah ".


" Assalamualaikum ".


" Wa'alaikum salam ".


Brak..


" Assalamualaikum Maimunah ku.. ". Alan langsung menerobos masuk.


" Alan ". Pekik Rasya, ia terkejut karena Alan tiba-tiba membuka pintu. Padahal tangannya sudah hampir memegang ganggang pintu.


Beda halnya dengan Mai yang malah mengembuskan napas panjang nya. Orang yang selalu bikin rusuh datang.


" Rasya.. ngapain lo disini ". Alan menatap tajam Rasya.


" Memangnya urusan mu? Urus urusan sendiri! ". Ketus Rasya. Pokoknya sampai salah satu di antara mereka benar-benar mendapatkan hati Mai, mereka berdua akan perang dingin seperti ini. Tapi tidak akan merusak tali persahabatan nya.


" Tch gak penting juga ". Melangkah melewati Rasya yang berdiri di samping pintu. Alan melangkah mendekati Mai.


" Hai calon istriku ".


Mai menatap malas Alan " hmm ". Sahut nya, lalu kembali ke tempat duduknya.


" Cik.. masih calon istri, belum pasangan seumur hidup ". Sahut Rasya.


" Mending situ pergi deh! Tadi sudah mau pergi kan. Hus.. hus.. ". Cara mengusirnya sungguh kasar.


" Cik, Mai sekali lagi aku pamit yah Assalamualaikum ". Pergi dari ruangan itu. Kalau bukan karena Rasya benar-benar mempunyai jadwal yang mengejarnya, pasti ia tak akan keluar dari ruangan itu.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya

__ADS_1


__ADS_2