Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Lagi


__ADS_3

" Haha iya yah ". Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Andra yang melihatnya menjadi geleng geleng kepala, dia selalu dibuat gemes Melihat setiap tingkah Istri nya itu.


" Jadi, nyonya muda apa yang bisa saya bantu? ". Bi Siti mengulang pertanyaan nya


" Gini bi, gimana kalo bi Siti dan yang lainnya makan bersama kami saja ". Semangat Laras mengatakannya.


Tentu bi Siti terkejut " maaf nyonya, tapi kami sudah makan di belakang tadi ". Dusta bi Siti. Walaupun majikannya itu tidak akan melarang mereka untuk makan bersama dalam satu meja, tapi bi Siti tentu tidak berani melakukannya.


" Yahhhh gak bisa dong ". Kecewa Laras


" Udah sayang, gak usah dipaksain juga. Suka-suka mereka ajah ". Andra tidak tega melihat wajah kecewa Istri nya, tapi ia juga tidak mau makan malam berdua nya harus di ganggu.


" Udah bi, bibi bisa kembali ".


" Baik tuan ". Bi Siti pun kembali ke belakang.


" Sayang bangat, padahal bagus kalo makan rame-rame ". Laras melanjutkan makan nya.


" Hmm ". Andra tidak mengiyakan ataupun menolaknya 'iya, memang bagus. Tapi kalo sampe ganggu acara kita berdua kan, jadi gak bagus'.


Mereka berdua pun kembali melanjutkan acara makan nya.


......................


" Alhamdulillah.. ". Ucap syukur Laras setelah menghabiskan makanannya beserta minumannya


" Alhamdulillah.. ". Andra juga ikut-ikutan 'Alhamdulillah karena udah datang dalam hidupku ras'. Ucapan syukur nya berbeda lagi.


Laras berniat berdiri sambil membawa piring nya, niatnya ingin membersihkan meja makan.


" Eiitss.. gak usah dibawa. Biar para pelayan saja yang membawanya ". Menghentikan Laras.


Dengan patuh, Laras menaruh kembali piring bekasnya ke atas meja makan. Ingin membantah, juga tidak bisa. Yah harus di turuti saja.


Andra tersenyum melihat kepatuhan istri nya.


'padahal cuman mau bantu dikit-dikit ajah'. Menekuk wajahnya. Walaupun ia patuh, tapi tetap saja dia dongkol. Hal sekecil itu takkan membuat nya pingsan.


Andra yang melihatnya, tentu mengerti alasan dibalik tekukan wajah istrinya. Ia mendekat.


" Hmm ini muka kok ditekuk gini sih sayang... ". Membelai lembut pipi Laras.


" Enggak pa-pa ". Ketus Laras


'yah jadi ngambek. Padahal untuk kebaikan nya sendiri'. Tidak, dirimu terlalu posesif


" Jangan ngambek dong sayang, mas jadi sedih nih ". Memperlihatkan wajah sedih yang dibuat-buat nya. Laras sempat melunak dan tidak tega dengan suaminya. Tapi entah mengapa dirinya malah semakin kesal dibuatnya. Ia pun memilih untuk mengabaikannya


" Hmm Bagaimana kalo besok kamu udah bisa masuk kerja? ". Mengambil jalan terakhir


Mata Laras langsung berbinar " beneran mas? ". Semangat sekali dia.


" Iya ". 'semangat empat limanya langsung keluar dong'. Andra sudah tidak tahu harus begaimana menghadapai istri nya saat sifat gila kerjanya keluar.


" Makasih mas. Kalo gitu Laras mau nonton dulu ahhh ". Melangkah pergi begitu saja.


" Ahhk ". Pekik Laras, saat tiba-tiba tubuhnya di angkat seperti anak kecil oleh suaminya. Spontan dia mengalungkan tangannya ke leher suaminya.


" Mas.. gak usah gendong-gendong segala ". Protes Laras.


" Udah diam ". Tidak menggubris Laras. 'enak saja langsung meninggalkan suaminya begitu saja. Mau lepas? Tidak semudah itu'. Dengan senyuman kemenangan nya ia membawa Laras.

__ADS_1


Sesampainya mereka di ruang tv. Andra menurunkan istrinya di lantai beralaskan karpet, yang harganya pasti bukan kaleng-kaleng. Bahkan karpetnya dibuat khusus. Itu dibuat khusus untuk istrinya yang memang suka selonjoran dilantai.


Andra juga ikut selonjoran di belakang Istri nya. Ia mengekung tubuh istrinya dengan kakinya. Serta tangannya digunakan untuk memeluk istrinya dari belakang sambil duduk nonton tv


'ahhh posisinya kok gini amat sih. Jadi canggung'. Pekik Laras dalam batinnya.


Posisinya sungguh membuat dirinya malu dan tersipu.


Untuk mengalihkan perhatiannya. Laras mencoba untuk fokus dengan dramanya. Hingga beberapa menit... Dan benar saja Laras jadi fokus dan melupakan posisinya sekarang.


Dan disitulah Andra beraksi. Ia mencium pucuk Laras, tapi tidak digubris oleh Laras yang memang sedang asik menonton.


'udah fokus nih... He.. he.. waktunya'.


Perlahan-lahan Andra mencium tengkuk Istri nya, beberapa kali hingga tak sengaja Laras mengeluarkan desahann nya. Bejat? mungkin sekarang tidak lagi. Dirinya sudah melakukan hal yang lebih dari ini tadi pagi, dan tentu itu setelah di izinkan Istri nya


" Ah.. aduh mas... Geli ". Menggoyang-goyangkan pundaknya.


Andra menghentikan kegiatannya dan langsung memeluk Laras. Ia menyandarkan dagunya di atas pundak Istri nya.


" Habis nya, dari tadi muji aktor-aktor di dalam drama mulu. Padahal yang disinikan lebih ganteng ". Memanyunkan bibirnya. Sebenarnya itu hanya alasan yang dibuat-buat nya untuk menghindari pertanyaan Laras. Dirinya sudah biasa mendengar Laras memuji para aktornya itu saat sedang menonton tv. Walau saat pertama kali ia kesal, tapi lama-lama jadi terbiasa sendiri. Walaupun kadang masih sedikit kesal.


" Hahaha mas.. mas... Kok mas lucu bangat sih. Yang di tv sama yang disinikan memang beda. Yang di tv itu punya umum, kalo yang disini punya ku ". Cengengesan. Walaupun ia geli sendiri saat mengatakan nya. Tapi mau bagaimana lagi, gombalan nya yang receh harus dikeluarkan nya.


" Ihhh istriku ini menggoda bangat sih. Minta di terkam nih ". Mencium kembali leher Laras


" Hahaha mas, udah ah! Aku mau nonton ". Melanjutkan acara menontonnya.


Setelah beberapa saat...


'eh! Apa ini?'. Laras merasakan sesuatu yang keras sedang menusuk belakang nya.


" Ini apa mas? Yang dibelakang? ". Hendak menoleh, tapi Andra langsung memeluknya dengan erat.


" Ta.. tapi yang dibelakang itu apa mas? Mas gak pa-pa kan? ". Laras dibuat khawatir melihat Tingkah suaminya. Ayolah Laras pekalah sedikit.


" Itu alat pembuat Andra junior ". Berbisik dan langsung menciumi leher Laras.


Laras diam lama..... Otaknya loading dulu...


Hingga...


Blush...


'a.. alat itu maksu...'. " Ahh ". Satu desahann Laras berhasil keluar.


Andra mencium brutal leher jenjang Laras. Setiap desahann yang keluar dari mulut Laras, selalu membangkitkan semangat gairahnya.


" Mas.. hentikan mas... Ini diruang tv. Nanti kalo ada yang lihat gimana? ". Mencoba untuk menghentikan suaminya, walaupun dirinya sendiri sudah terlena.


" Udah sayang, diam ajah ". Suara serak Andra lagi-lagi keluar yang membuat siapapun yang mendengarnya pasti berpikir jika itu sangat seksi.


" Ta.. tapi m... Hmmmpp ". Saat Laras hendak membalikkan badannya, bibirnya langsung dibuat bungkam oleh Andra.


Andra pelan-pelan me*umat nya, setelah ia merasakan balasan dari sang Istri. Andra mulai memainkan lidahnya di dalam mulut sang Istri.


Sama-sama saling membalas dan berbagai air liur dengan cukup lama. Hingga Andra berdiri dan kembali menggendong sang Istri.


spontan saja Laras langsung mengaitkan kakinya di pinggang sang suami, sedangkan tangannya ia kalungkan di lehernya.


Andra berjalan membawa dirinya dan juga Istri nya ke salah satu kamar tamu di lantai bawah dengan bibir yang masih saling berpangutann.

__ADS_1


Kalo harus ke kamar mereka, terlalu jauh dan berbahaya jika naik tangga dalam keadaan dan posisi yang seperti itu.


Mereka meninggalkan tv nya yang masih menyala begitu saja.


Sesampainya di kamar tamu, Andra dengan cepat membaringkan istrinya di atas kasur lalu naik ke atasnya.


Ia kembali menghujani wajah beserta tubuu istrinya itu dengan ciumannya.


Ia terhenti di bibir Istri nya, lama ia me*umatnya, ia baru melepaskan saat dirinya mulai ngos-ngosan.


Andra menatap wajah istrinya yang sudah memerah. " I love you baby ". Mengecup kening nya.


" Love you too ". Laras membalas.


Andra kembali menciumi leher Laras dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan nya.


Dan... Terjadilah kembali pergulatan antara pasangan suamu istri yang sedang di mabuk cinta itu.


Bermandikan keringat, entah siapa yang keringatnya paling banyak.


Suara yang menggoda terdengar se isi kamarnya, bukan hanya itu. Suara itu sampai terdengar keluar. Karena kamar tamu nya memang tidak kedap suara.


Bi Siti dan Milea yang tidak sengaja lewat dibuat traveling dan senyum-senyum sendiri.


" Sepertinya bi Siti benar, kalau sebentar lagi nyonya akan hamil ". Celetuk Milea


" Hush jangan berisik! Ayo kita pergi, jangan terlalu mencampuri urusan tuan dan nyonya ". Dengan berat hati, berat pikiran, apalagi berat kaki, Milea pergi mengikuti bi Siti kembali ke belakang.


Rupanya diam-diam bi Siti melaporkan hal tersebut kepada mama Ani. Dan kita tahu bagaimana reaksinya nanti


" Pah... ". Pekik mama Ani


" Iya mah ". Padahal dirinya hanya sejarak sejengkal saja, tapi tetap berteriak. Kebiasaan istri nya memang aneh. Tapi itulah yang disukainya.


" Pah, dengar deh ". Menaikka volume ponselnya.


Papa Rangga mendekat kan telinganya. Matanya membulat mendengar suara dari dalam ponse istri nya.


" Ah... M.. mas ".


" I.. iya sayang... Sebut nama ku lagi... ".


Rupanya suara desahann dari percintaan anaknya.


" Astagfirullah mah ... Kok yang kaya gini direkam juga sih ".


" Mana ada! Bi Siti yang rekam ". Mencoba untuk berdalih


" Tapi yang suruh siapa coba?! Mama kan! Udah mah gak usah urusin urusan anak-anak, mereka udah besar. Bisa ngatur diri mereka sendiri ". Ucap papa Rangga bijak


Mama Ani menunduk " iya maaf ". Lirih nya


" Iya gak pa-pa ".


" Tapi papa senang kan, kalo misalnya laporan bi Siti tadi pagi? ".


" Hahaha siapa sih yang tidak senang, berdoa ajah semoga Andra juniornya cepat jadi ".


" Amin.. ".


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya.


tambahkan ke favorit juga 😙


__ADS_2