Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Asisten gak ber-akhlak


__ADS_3

" aku pergi sendiri ajah ke kantor yah mas, biar gak ada yang tau kalo kita sudah menikah ". Ucap Laras, saat mereka sudah ada di depan pintu.


'memangnya setidak sukanya kamu sama gue yah Ras'.


" Hmmm gak pa-pa , tapi harus diantar pak Supri yah ". Tetap harus diantar lah, Andra tidak mungkin membiarkan wanitanya itu pergi sendiri.


" Hmm tapi, mas gimana berangkat nya? ".


" Ada Alan ". Singkatnya, biasanya memang Alan lah yang mengantar jemputnya.


" Oh.. ".


Ting.. ting.. ting...


Suara mobil Alan memasuki pekarangan mansion. " Nah itu Alan udah datang ". Dan benar saja tak lama setelah mobil di parkir, keluar lah seorang pria tampan, sambil menyisir rambutnya menggunakan tangannya ia berjalan layaknya seorang model. Mungkin kalau di slow motion di tambah dengan hembusan-hembusan angin, membuat nya selayaknya di film-film. Belum lagi dasinya yang di tenggerkan di pundaknya, kaca mata hitamnya juga tak luput terlihat. Rasanya ialah bosnya disini.


'anjir sok keren banget, mana anginnya ngedukung lagi. Sumpah pen gue tabok'. Sama


" Assalamualaikum ". Sedikit teriak Alan


" Waalaikum salam ". Bersamaan Andra dan Laras menjawab.


" Hai ras, gimana kabarmu? ". Wah... Cari mati dia.


" Alhamdulillah baik lan, kamu sendiri? ".


" Alhamdulillah baik juga. Wah... Kabar kita sama-sama baik, mungkin kita jodoh kali yah, hahahaha canda ". Mulailah pagi mu dengan tawa receh, itulah motto Alan


" Haha ". Tawa canggung Laras.


" Kabar gue baik nih, jadi kita juga jodoh gitu? ". Andra menimpali. Candaan sahabat nya itu sangat tidak lucu.


" Ya Allah Ndra, canda gue mah ".


" Gak lucu ". Ketus Andra. " Udah deh, mending kita berangkat ajah ". Melihat kembali kearah Laras.


" Ras saya pergi dulu yah ".


" Tunggu mas.. ". Tahan Laras yang membuat Andra tersenyum senang dalam batinnya. 'kalo Laras pengen naik satu mobil ama gue juga gak pa-pa, bahkan kalo dia pengen ngumumin pernikahan kami juga it's okey'. Pedenya kembali lagi. Benar-benar tidak bisa belajar dari pengalaman.


" Nanti mas sampenya di kantor setelah Laras yah mas. Walau bagaimanapun Laras tetap sekretaris mas, bawahan mas harus lebih dulu sampe ". Wah... Permintaan nya mulai melunjak.


Lagi dan lagi pede Andra jatuh begitu saja.


" Hmm oke ". Singkatnya, ia kali ini benar-benar kesal, rasanya seperti di PHP-in saja.


" Kalo gitu Laras duluan mas, Assalamualaikum ". Mencium tangan kanan Andra.


" Waalaikum salam ". Setelah di cium tangannya, kemarahan Andra langsung sirna. Kemudian Andra mencium kening Laras.


" Yuhuyyyyyy dasar pengantin baru ". Teriak Alan sambil bersiul.


" Cik, bukan urusan lo ".


Laras kemudian masuk kedalam mobil dengan cepat, pipinya sudah memerah gegara Alan, setelah masuk ia membuka kaca mobilnya.


" Ada apa ras? ".


" Laras lupa mas ".


" Apanya? ".


" Laras lupa pamit sama Alan. Assalamualaikum Alan ".


" Oh... Baik banget kamu Ras, Waalaikum salam ".


Mobil Laras kemudian melaju meninggalkan mansion Ansari itu.

__ADS_1


" Ayo kita berangkat juga ". Tanpa aba-aba Andra langsung masuk kedalam mobil.


Di dalam mobil


" Cieeeee yang senyum-senyum sendiri kaya orang gila hahahha ". Alan terbahak. Sungguh minta di tampol.


" Cik, bukan urusan lo ". Kesenangannya terganggu karena suara demit yang menyakitkan. Kalau melihat tingkah Alan yang seperti itu, syaiton di sekitar sudah membisikkan agar menampol Alan, tapi karena Andra mengingat Malaikat maut, di urungkan lah niatnya 'entar kalo gue tampol, trus nyawa gue diambil malaikat maut kan gak lucu'.


" Gimana ponakan gue? Udah otw... " Melirik kearah spion depan dan mendapati Andra yang kembali ke mode datarnya. " Oh ahhahha pasti situ belum belah duren kan ". Seketika wajah Andra jadi kesal mendengar perkataan Alan. Karena yang dikatakan nya adalah benar.


" Yahahha kasian... Pengantin baru tapi belum belah duren ". Ejek Alan. Kan.. minta di tampol. Ingat! Malaikat maut tidak akan lelah mencabut nyawa.


" Yaelah, gue sih masih mending Udah punya bini. Nah situ? Punya? Yah pasti kagak lah ". Balas Andra.


" Biarin, liat ajah gue bakal nikah karena emang cinta satu sama lain. Bukan kaya orang yang nikah sambil maksa ". Alan sepertinya sudah tidak memikirkan nasib gajinya yang siap-siap terbang entah kemana, yang pastinya bukan rekening atau dompetnya lagi.


" Yang penting gue udah nikah, kalo soal cinta cuman masalah waktu. Bilang ajah lo iri karna keduluan gue nikah dari pada situ kan. Iri bilang bawahan ". Nah langsung nyungsep ke ulu ginjal Alan nih kata-kata.


" Cih ".


Memang benar apa yang dikatakan Andra. Sebenarnya Alan kesal karena bosnya itu duluan menikah dari pada dirinya. Ia kira, Dialah yang akan lebih dulu menikah dari pada Andra, dilihat dari sifat Andra yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan wanita dan Andra juga sangat dingin apalagi kalau berurusan dengan yang namanya kaum hawa, kecuali dengan mamanya.


Mobil berhenti di depan kantor Anastasia Corp. Kantornya benar-benar besar, orang yang baru pertama kali datang pasti akan tersesat saat masuk.


Andra keluar di bukakan oleh Alan. Tugasnya sebagai asisten sungguh ia kerjakan saat di kantornya, apalagi saat di depan para karyawan Anastasia Corp.


Andra berjalan di depan sedangkan Alan mengekori di belakang.


Dengan coolnya mereka berjalan, seperti model-model yang terkenal. Ingat imej harus di jaga.


" Yabai! Pak Andra ganteng banget ".


" Gile... Coolnya gak ketolongan ".


" Pak Alan juga gak kalah ganteng ".


Bisik-bisik para karyawan kaum hawa, tapi mereka berdua sama sekali tidak menggubrisnya, asalkan para karyawan itu tidak menjelek-jelekkan nya.


" Lo dengar gak, ahhahah gue di bilang ganteng. Yah emang gue ganteng sih ".


" Iya -in ajah deh ". Selalu saja seperti itu, saat di dalam lift pasti Alan akan membanggakan dirinya seperti itu. Sombong sekali, padahal yang paling banyak di ghibahin ganteng kan Andra. Tapi Alanlah yang terlalu sombong.


" Selamat pagi pak ". Ucap Laras sesaat Andra dan Alan tiba.


" Hmm pagi ". Jawab Andra, santai. Kelakuan profesional nya harus di terapkan.


Inginnya ia mengabaikan Laras, tapi rasanya ia tidak sanggup. Kalau bukan di kantor sudah di peluk dan menghujani Laras dengan ciuman.


" Pagi Ras ". Alan juga tidak mau kalah, dalam membalas.


Mereka berdua pun masuk kedalam ruangannya.


" Gue kira lo bakalan meluk ama nyium-nyium bini lo. Rupanya lo masih bisa nahan nafsu yah ". Memuji tapi serasa menyindir.


Andra duduk di kursi kebanggaan nya " lo gak tau sih, sebagaimana nya gue nahannya ". Apalagi saat mengingat tingkah Laras semalam.


" Iya-iya gue kasih bintang enam deh buat lo ". Lebih tinggi dari maksimal nilai gojek.


" Makasih tapi gak perlu, lo kira gue gojek apa? ". Untung ia sadar.


" Hahaha gak salah sih, waktu SMA kan lo emang pernah nyoba ".


" Iya juga sih, tapi itukan dulu. Waktu gue pen nyoba jadi gojek. Eh! Malah gue kena gombal mulu ".


" Hahaha apalagi emak-emak kan pasti nya ".


" Hahhh kapok gue ". Mengehela nafas, saat mengingat dirinya dulu yang sok-sokan ingin mencoba dan memahami menjadi gojek, malah menyesal sendiri. " Udah deh, mana sini berkas dari perusahaan PT. Cendrawa, biar gue periksa dan cepat-cepat pulang ". Ke kantorkan memang harus bekerja.

__ADS_1


" Nih ". Alan menyerahkan sebuah berkas dengan map berwarna biru. " Cepat-cepat pulang pen ketemu bini lo? Bini lo kan ada di depan bos, ngapain cepat-cepat pulang ".


" Bukan urusan lo " ketus Andra yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.


" Oh.. gue tau, pasti biar bisa ngusaha membujuk Laras buat enak-enakan kan ". Tebakan Alan sebenarnya tidak salah, hanya saja Andra belum mau sampai tahap itu jika Laras masih belum menerimanya.


" Udah deh, lo keluar ajah sana. Ganggu tau gak ". Mengibas-ngibaskan tangannya.


" Hahaha tebakan gue benar. Oke deh saya keluar bos ". Dengan tawa lebarnya Alan keluar.


......................


Tidak terasa jam makan siang pun tiba


" Ras keruangan saya ". Ucap Andra di balik telpon


" Baik pak ". Laras kemudian masuk kedalam ruangan atasannya plus suaminya.


" Permisi pak ". Laras masuk saat mendapat izin dari yang punya


Andra mendongak dan melihat Laras sudah berdiri di depannya. " Duduk Ras ". Laras menyerngitkan dahinya 'duduk? Untuk apa?'.


Tanpa membantah atau sekedar basa basi, Laras pun duduk di sofa yang terdapat dalam ruangan itu. Andra berdiri dan mendekat kearah Laras, lalu ikut duduk. Lagi-lagi Laras dibuat heran, melihat tingkah Andra, padahal sekarang masih di kantor tapi kenapa ia malah disuruh duduk di sisinya seperti saat di rumahnya.


" Ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu? ".


" Saya suamimu ras ".


" Tapi sekarang kita dikantor pak ". 'gimana kalo ada yang liat?'.


" Lagi jam makan siang ". Jelasnya.


Laras melirik kearah pintu 'tapi kalo ada yang masuk aku yang jadi sasaran kan'. Nanti dikira Laraslah yang menggoda Andra.


Andra yang melihat Laras melirik kearah pintu jadi paham apa yang ada dipikiran Laras " tenang ajah, gak ada yang akan berani masuk tanpa seizin saya ". 'kecuali asisten gak ada akhlak gue sih'.


" Oh... " Laras ber o ria. 'Alhamdulillah'. Terlihat Laras tersenyum.


'segitunya kau tidak ingin hubungan kita ketahuan yah ras'. Sedih melihat Laras yang tiba-tiba tersenyum saat ia mengatakan jika tidak ada yang bisa masuk kedalam ruangannya, yang diisi oleh dirinya dan istrinya sendiri.


" Tapi mas, Laras gak bawa makanan ".


" Tenang ajah saya sudah memesan makanan online ".


" Oh.. ". Dan percakapan pun selesai.


Selalu saja seperti ini, Laras masih canggung dengan Andra. Walau bagaimanapun tetap saja Andra adalah atasan nya.


Sedangkan Andra karena memang sifatnya yang irit bicara, jadinya hubungannya jadi seperti ini.


Tak lama kemudian makanan yang telah dipesan Andra dipesan nya sudah datang, dan menyelamatkan Laras dari kecanggungan.


Mereka pun makan, inginnya Andra disuapin Laras. Tapi karena gengsi nya masih tinggi makanya di urungkan niatnya.


Setelah Makan.


" Jangan lupa kalau di kantor itu ada yang namanya jam makan siang. Lihat seperti nya kamu sangat lapar ". Melirik kearah bekas makanan Laras, yang lebih banyak dari Andra.


" Hmm ". Laras mengangguk. Malu, satu kata yang mewakilinya sekarang 'aduh... Malu banget, aku sih kerjanya terlalu banyak. Makanya makannya juga jadi banyakkan'.


'gile gemes banget sih'. Karena sudah tidak tahan,


Andra meraih dagu Laras dan dengan cepat menciumnya, tidak seperti waktu itu . Sekarang Andra cukup lama menempelkan bibirnya dengan bibir Laras.


Laras memberontak, tapi tenaganya lebih lemah dibanding Andra. Jadi mau tidak mau Laras hanya diam menerimanya. Lagipula Andra juga tidak m*l**a* nya, hanya menempelkan nya saja.


Saat Andra merasa Laras sudah tidak bisa tahan nafas ia pun melepasnya. Dan benar saja Laras langsung ngos-ngosan.

__ADS_1


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya


__ADS_2