Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Cemburu?


__ADS_3

Laras masih fokus dengan kerjaan di depannya, sendiri, iyya dia sedang sendirian. Ardi di panggil ke ruangan pimpinannya, Siapa lagi kalau bukan Andra. CEO arogan dan dingin, tapi saat dengan Istri nya dia langsung berubah manis. Tapi tetap terlihat dingin.


" Hai... Permisi ". Seorang pria datang, dan menyapa Laras.


Laras mendongak " hmm iya? Apa ada yang bisa saya bantu? ". Hei.. berhenti lah bersikap seperti pegawai mini market, tapi memang seperti itu yang harus dia katakan.


" Oh.. ini, saya mau memberikan berkas ini kepada pak Andra ". Ucap Kevin memperlihatkan sebuah map hijau di tangannya.


" Tunggu dulu... Kamu dari devisi? ". Melihat beberapa catatan di bukunya.


" Keuangan, saya dari devisi keuangan ". Ucapnya 'wah.. benar kata Rina. Dilihat dari jauh saja sudah cantik, tapi gue gak nyangka kalo diliat dari dekat, jadi tambah cantik njir'. Kebiasaan orang-orang jaman sekarang, sangat suka yang namanya berbica kasar. Mulut nya minta di sabunin.


" Oh.. iya, tadi pak Andra sempat mengatakan nya ". Melihat kembali ke arah pria itu. Tampan, benar tampan, tapi lebih tampan suaminya.


" Sini biar saya yang kasi ke pak Andra, tadi pak Andra berpesan seperti itu ". Ucap nya mengulurkan tangannya.


" Oh iya ini ". Memberikan Map hijau itu ke tangan Laras. 'eh! Itukan cin-cin nikah'. Langsung bisa tahu kalau cin-cin yang dipakai Laras adalah cin-cin nikah. Yah, namanya juga berpengalaman.


" Hmm ada apa? ". Heran melihat pria di depan nya itu yang bengong melihat cin-cin nya.


" Ah.. bukan apa-apa ". Nyengir kuda.


Laras mengkerut kan keningnya.


'ada apa dengan orang ini?'.


" Oh iya, namamu Laras kan ". Memulai pembicaraan.


" Iya ". Singkatnya, ia tidak tertarik dengan pria tampan di depannya itu. Secarakan dia sudah punya yang lebih tampan, lebih tajir. Untuk apa melirik yang lain.


Tapi itulah Laras, tidak terlalu suka dekat dengan pria.


" Kenalin gue Kevin Mahendra, panggil ajah Kevin ". Cara bicaranya langsung berubah jadi kasual, mengulurkan tangannya.


" Salam kenal Kevin, seperti yang kamu tau. Aku Laras ". Lebih memilih mengatupkan tangan nya di dadanya.


'jadi dia yang namanya Kevin, yang selalu dikatakan Rina'


Dengan canggung Kevin menarik tangannya.


" Kalo gitu gue kembali ke devisi gue ". Karena merasa sedikit di cuekin Laras, ia memilih untuk kembali.


" Iya ". Lagi-lagi singkat Laras, ia juga tidak tahu harus menjawab apa.


Kevin pun melangkah meninggalkan Laras tanpa salam.


" Haissss gak tau caranya salam apa. Dia muslim kan ". Menggelengkan kepalanya. Rina lah yang mengatakan kalau Kevin juga seorang muslim.


Rina dan Laras sudah semakin dekat, kalau soal Kevin, Laras mengetahui nya dari Rina yang selalu membicarakan nya, kalau betapa menyebalkan nya seorang Kevin Mahendra.


Setelah kepergian Kevin, barulah Laras masuk kedalam ruangan suaminya.


Tok.. tok.. tok...


Setelah mendapat persetujuan dari dalam, Laras masuk.


" Permisi pak ". Heran Laras melihat mereka bertiga sedang duduk di sofa, saling berhadapan.


Ada Andra Alan dan juga Ardi. Sih trio A.


Andra berdiri " ada apa ras? ".


" Ini pak, berkas dari devisi keuangan yang anda inginkan tadi ". Ucapnya menjelaskan. Tidak terlalu memikirkan apa yang di bicarakan sih trio A di depannya itu. Mereka bertiga seperti sedang bersantai di jam kerja. Namanya juga CEO tidak akan ada yang melarang nya.


" Oh iya ". Ardi mengambil berkas yang ada di tangan Laras, karena ialah yang paling dekat.


" Ohyah Ras, nanti saat makan siang ikut saya untuk bertemu klien ". Mending mengajak istrinya sendiri dari pada sahabatnya yang tidak ber-akhlak.


" Baik pak ". Harus disetujui " kalo gitu saya permisi pak ". Laras memilih untuk undur diri, apalagi sepertinya trio A itu sedang sibuk membicarakan sesuatu. Atau mungkin sedang sibuk bersantai?.


" Iya ". Andra mengangguk pelan.


Laras keluar dari dalam ruangan suaminya itu dengan profesional.


Setelah Laras keluar, Andra kembali duduk. Melanjutkan pembicaraan mereka, sedang kan berkas yang diberikan Laras dia taruh di meja begitu saja.


" Kita lanjut. Tadi sampai mana? ". Andra membuka suara.


" Jadi Di, benar ada sahabat istrimu yang namanya Maimunah? ". Alan kembali ke pembicaraan. Yah rupanya yang di bicarakan hal tidak jelas seperti itu.

__ADS_1


" Iya ada. Tapi biasanya dia dipanggil Mai ".


" Namanya jadi kaya nama Cina Cina gitu yah ". Andra ikut turut bergosip.


" Wah... Gue jadi pengen ketemu sama dia ". Alan membayangkan wajah Mai.


" Cih, lu yah kalo udah berurusan sama dengan yang namanya nama-nama orang ke Indonesia an gitu, langsung di bambat ". Sindir Andra. Dan itu benar adanya.


" Ha? Cuman karena itu kamu mau ketemu sama Mai? ".


" Memangnya kenapa, semua orang punya tipe-tipe nya sendiri ". Alan tak mau kalah.


" Sayang banget, tipe lo gak masuk akal ".


" Tapi aku ragu kalo Mai sesuai tipe mu Lan ".


" Kenapa? Belum ketemu. kita mana taukan ".


" Mai itu orang nya kasar, apalagi kalo aku liat kamu itu lebih suka yang lemah lembut kan ". Ardi menjelaskan, tidak ada yang ditutupi nya.


" Ha? Jadi orangnya kasar? Yah.. bukan tipe gue tuh. Gue lebih suka yang kaya Laras ". Benar-benar cari mati. Istri bosnya di damba-dambakan.


" Ngomong lagi lo gue tampol ". kata-kata yang deja vu'.


" Tadi kok, lo ngajak Laras bukan gue. Biasanya juga gue yang pergi ". Tidak meladeni ucapan bosnya itu.


" Mending gue ajak istri gue makan enak dari pada lo ". Benar kan.


" Lo pergi ketemu klien, bukan pergi kencan ". Kesal karena dia tidak di ajak. Biasanya memang mereka makan enak kalau ketemu klien di luar.


" Terserah gue dong ". Andra tidak mau kalah


'pak Andra sama Alan akrab banget yah. Hmm biasanya memang seperti ini sih'. Karena sudah biasa, Ardi jadi tidak terlalu terkejut melihat dua orang atasan nya yang cerewet begitu, padahal biasanya mereka sangat dingin.


Di dalam ruangan terjadi adu mulut yang tidak berguna, sedangkan di luar. Ada Laras yang masih fokus dengan kerjaannya.


" Hoammm Astaghfirullah.. ngantuk banget ". Menutup mulutnya yang menguap.


Laras merapikan beberapa berkas di mejanya dan berjalan menuju ke tempat pembuat kopi.


" Assalamualaikum Rin, udah stand by ajah disini ". Saat baru datang, rupanya teman seperjuangan kopinya sudah ada di tempat perang.


" Waalaikum salam ras. Biasalah, menjelang siang kaya gini, inginnya tidur ajah ". Menyeruput kopinya.


Laras mengambil gelas yang memang sudah disediakan disitu.


" Eh?! Ras, itu cin-cin apa? ". 'perasaan waktu pertama ketemu gak ada deh'.


" Menurut mu? ". Mengelus cin-cin yang ada di jari manisnya.


" Hmm main tebak-tebakan nih ". Rina terlihat berpikir " oh.. cin-cin nikah yah?.. hahah cuman bercanda ". Dia tidak menyadari kalau jawabannya benar.


" Haha sayang sekali tapi itu benar ". Karena Laras sudah percaya dan menurutnya Rina memang dapat di percaya, jadinya dia tidak sungkan untuk jujur.


" Ha? ". Terkejut Rina, padahal sepuluh hari yang lalu saat di interview, Laras mengatakan kalau dia masih sendiri. Tapi sekarang sudah menikah saja. Dan bahkan tidak ada yang mengetahui nya.


Sangking terkejut nya, kopi yang di pegang nya hampir jatuh.


" Santai ajah kali Rin ". Menyeruput kopinya yang sudah jadi.


" Kamu beneran udah nikah? Kapan? ".


" Udah, sepuluh hari yang lalu ". Santai dia menjawab.


" Ha? Waktu itukan hari pertama mu masuk kantor ". Siapa yang akan percaya sih, kalau ceritanya seperti Laras.


" Haha yah namanya juga takdir, gak ada yang tau apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri ". Dan itu benar.


" Benar juga yah, tapi siapa tuh pria yang beruntung menikah dengan teman ku yang cantiknya udah kaya princer ini? ". Mencoel dagu Laras, ingin menggodanya.


" Ishh jangan gitu ah ". risih sendiri dengan kelakuan Rina " rahasia dong ". Kalau soal ini Laras tidak ingin memberitahu Rina, entah heboh bagaimana nanti dirinya kalau tahu ia menikah dengan pria kaum hawa idaman negara ini.


" Yah... Ah.. terserah deh, nanti juga tau sendiri ". Membuang gelas plastik kopinya di dalam tong sampah.


" Kalo gitu aku duluan yah, mau lanjut ".


" Oke ".


" Assalamualaikum ".

__ADS_1


" Waalaikum Salam ".


...----------------...


Mobil sampai di sebuah restoran besar. Dari luar saja sudah terlihat mewah bagaimana dalamnya yah?.


Andra dan diikuti Laras masuk kedalam restoran itu, untuk bertemu klien.


Inginnya Andra berjalan beriringan dengan Laras, tapi pasti Laras menolak.


Setelah pelayan menunjukkan sebuah ruangan VIP yang memang sudah di pesan oleh klien jauh-jauh hari. Mereka pun menuju ke ruangan itu.


Dari jauh terlihat dua orang wanita yang langsung berdiri, saat melihat kedatangan Andra datang.


Semakin dekat, semakin terlihat mereka 'ya Allah bajunya kurang bahan'. Batin Laras saat melihat pakaian yang digunakan kedua wanita itu.


Wanita yang didepan dan mungkin dialah bosnya terlihat memakai rok seatas lutut dengan dibagian pinggir nya robek sampai paha, sepertinya style nya memang seperti itu. Bukan lagi dengan bajunya yang ketat sampai-sampai memperlihatkan lekukakan tubuhnya yang memang bohai. Terlihat juga belahan dadanya, sepertinya itu disengaja, iyya dia sengaja membuka kancing atasnya.


Sedangkan wanita yang berada di belakang samping nya, mungkin dialah sekretaris nya. Pakaian nya juga tidak terlalu beda jauh dengan bosnya, hanya saja bajunya lebih tertutup di bagian dadanya dan roknya juga Sampai lutut.


" Selamat siang pak Andra ". Wanita itu mengulurkan tangannya. Tapi tidak digubris oleh Andra, ia langsung duduk begitu saja.


Dan Laras menggantikan Andra menyambut tangan wanita itu. Apalagi saat melihat tangan wanita itu yang menggantung begitu saja, membuat dia iba sendiri. Sifat suaminya memang seperti itu.


Tapi sayang, wanita itu malah menarik cepat tangannya seperti tidak suka dengan tindakan Laras.


Andra yang melihatnya tentu saja tidak menyukai reaksi dari wanita di depannya itu. Inginnya ia langsung keluar dari situ saja, tidak usah bekerjasama dengan wanita di depannya itu, lagipula yang akan rugi juga bukan perusahaannya tapi malah perusahaan wanita itu.


Wanita itu ikut duduk " perkenalkan pak Andra, saya Risa, wakil dari perusahaan PT. Cantika grub " ucap nya tetap menampilkan senyum ter-ramahnya, walau sudah diperlakukan seperti tadi.


" Langsung mulai saja ". Tanggapan Andra benar-benar dingin. Sebenarnya Andra tidak ingin pergi bertemu klien ini, siapa tadi namanya. Oh iya Risa, biasanya Alan atau Ardi yang disuruh nya. Tapi karena menurutnya ini kesempatan yang baik untuk mengajak sekalian Laras makan diluar bersama nya. Karena memang selama ini tidak pernah, lebih tepatnya Laras yang selalu menolak jika di ajak 'mending makan dirumah ajah, lebih sehat dan murah'. Itulah kata-kata yang selalu diucapkan Laras, dan Andra juga tidak ingin membantahnya.


Risa masih menampilkam senyum ramahnya, seperti Tidak mendengar apa yang dikatakan Andra tadi.


Selama proses pertemuan mereka, Laras selalu di buat kesal dengan tingkah Risa wanita yang kekurangan bahan untuk membuat pakaian di depannya itu.


Kenapa tidak, Risa selalu terlihat sengaja menggoda Andra, misalnya seperti sekarang. Ia sengaja membungkuk sedikit dan memperlihatkan belahan dadanya, yang memang menggoda. Apalagi dari ukuran nya yang tidak masuk akal.


Bukannya Andra yang melihatnya, malah Laras lah yang melihatnya, lalu ia memperhatikan miliknya. Entah mengapa dirinya kesal sendiri melihat gundukan kembar Risa yang lebih besar dari nya.


Selalu saja seperti itu, Risa selalu berusaha menggoda Andra, misalnya seperti sengaja membuat nada suaranya yang terdengar lembut dan manja atau sengaja menggigit ujung kuku jempolnya, seperti para pelacurr yang biasanya dipakai menggoda


Laras kemudian melirik melihat reaksi suaminya. Dan yang dilihatnya, Andra berwajah datar seperti Sudah biasa melihat hal yang seperti itu. Memikirkannya saja sudah membuat Laras kesal, bukannya sedih.


Sebenarnya Andra bahkan tidak menyadari hal yang dilakukan Risa, dia bahkan menganggap Risa seperti manekin yang biasanya ada di toko-toko pakaian. Ia sama sekali tidak tertarik dengan tubuhnya. Oh.. kalau wajahnya harus diingat walau bagaimanapun mereka akan bekerjasama. Tapi mungkin setelah kerjasama usai, wajah Risa pasti akan langsung hilang dari ingatannya.


" Haaahhh ". Satu hembusan nafas kasar Laras keluar, tapi yang mendengarnya hanya Andra.


'ini kapan selesai sih, istri gue udah capek berdiri'. Yap lagi-lagi salah paham. Padahal Laras mengehela nafas seperti itu, karena mengingat Andra yang sudah biasa melihat pemandangan begitu.


Lama-lama terlihat wajah Andra yang gelisah, karena takut Istri nya itu capek berdiri.


Laras yang melihatnya semakin dibuat kesal tapi campur sedih 'sepertinya mas Andra kegodah. Cik laki-laki memang gak bisa tahan godaan yang seperti itu'. Kesalnya.


'tunggu dulu... Kok aku kaya istri yang sedang cemburuin suaminya sih. Astaghfirullah apa jangan-jangan aku...' Laras segera menepis nya dengan menggelengkan kepalanya cepat. 'tidak! Pasti tidak mungkin'. Ia kemudian melihat suaminya yang sedang fokus dengan beberapa berkas di depannya yang diberikan oleh sekretaris Risa tadi.


Andra menyisingkan rambutnya ke belakang nya. Benar-benar tampan


Deg


Jantung Laras lagi-lagi berdetak dengan cepat


'ada apa ini sebenarnya?'. Memegang dadanya.


'wah... Pak Andra ganteng banget. Di tv memang ganteng, tapi pas dilihat langsung lebih ganteng. Gue harus bisa dekatin pak Andra. Jadi sugar baby juga rasanya gak buruk'. Sayang sekali itu tidak akan terjadi. Melirik wanita didepannya saja seharusnya dia sudah bersyukur.


Setelah beberapa lama...


" Semoga kita bisa terus bekerja sama ". Risa lagi-lagi mengulur kan tangan nya.


" Hmm ". Sama sekali tidak menggubrisnya.


Andra langsung melengseng pergi begitu saja " ayo ras ".


" Baik pak ". Laras pun mengikuti Andra dari belakang, tapi sebelum dia berbalik " semoga kerja sama kita berjalan dengan baik bu. Assalamualaikum ". Laras tersenyum ramah, dan pergi mengikuti Andra.


Melihat perlakuan suaminya itu kepada Risa, sebenarnya membuat nya Laras senang, entah mengapa. Tapi ia juga merasa dirinya jahat, karena pasti dibalik senyum ramah Risa, ada hati yang kesal dan tersakiti.


'cik.. liat ajah gue bakalin buat pak Andra klepek-klepek sama gue'. Pedenya sangat tinggi.

__ADS_1


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya.


__ADS_2