Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Penjelasan


__ADS_3

" pah.. papa maunya cucu perempuan atau laki-laki? ". Tanya mama Ani yang sudah duduk di ranjang nya. Dengan wajah yang berbinar


" Kalo papa terserah ajah, yang penting cucunya cepat jadi ". Timpal papa Rangga dan ikut duduk di samping istrinya.


" Amin.... Somoga ajah cucunya udah otw ".


" Amin....".


Papa Rangga kemudian memegang paha mama Ani. " Mah.. gimana kalo kita juga... " Bisik nya.


" Ih... Papa. Oke ". Yah disetujui juga.


Dan terjadi lah pergulatan panas diantara kedua pasangan paruh baya itu. Menggantikan anaknya.


Di ruang kerja Andra


Andra duduk di kursi nya, masih dengan senyum-senyum sendiri yang memegang pipi kanannya mengingat tingkah Laras tadi, tidak henti-hentinya ia tersenyum. Seperti anak yang baru puber saja. Kalau ada yang lihat pasti di kira orang gila.


Padahal niatnya hanya bercanda, tapi di anggap serius sama kekasih hatinya. Tapi tidak apa-apa sih, malah beruntung kan.


Andra kemudian mengingat kembali saat Laras ternyata sudah kenal lebih dulu dan bahkan bertemu lebih dulu dengan papanya.


" Padahal gue suruh orang suruhan gue ngikutin Laras, tapi kok gue gak dapat informasi tentang papa yang ketemu ama Laras yah. Cik dasar gak becus ".


Andra merogoh kantong nya dan mengambil benda pipih yang pasti hampir di seluruh dunia orang punya.


Tut... Tut...


" Ha.. halo tuan ". Orang seberang.


" Kau tau kan, apa yang ingin saya tanyakan ". Geram Andra, apalagi saat mendengar suara gugup dari bawahannya.


" Itu tuan.. ma.. maaf, ka.. kami sempat kehilangan jejak nona muda tuan ".


Andra yang mendengar seketika darahnya naik. Kehilangan jejak? Keberanian melapor nya sungguh patut di acungi jempol.


" Ha!!!? Kalian itu gak ada yang becus!. Sampai-sampai kehilangan jejak, kalo sampe istri saya kenapa-napa, kau tau akibatnya kan ". Padahal Andra hanya ingin bertanya tentang bagaimana papanya bisa bertemu Laras, dan apa yang dilakukan papanya pada Laras. Tapi ia malah mendapat laporan yang lebih mengejutkan.


" Ma.. maafkan kami tuan, saya janji selanjutnya pasti tidak terjadi lagi ".


" Haaah... Oke, ingat jangan diulangi lagi! ". Andra melunak. Ia tidak ingin marah-marah dulu, apalagi sekarang suasan hatinya masih senang dengan tingkah istri nya tadi.


" Ba.. baik tuan ".


" Jadi, apa kau melihat istriku bertemu dengan papaku? ". Topik utama pun dibahas.


" Tuan besar?... Ti.. tidak tuan ". Ia kembali gugup. Sampai-sampai bisa melewatkan informasi sepenting itu.


" Haaahh sudah saya duga. Ingat jangan ada lain kali ". Kembali mengingatkan.


" Ba.. baik tuan ".


Andra kemudian mematikan sambungan telepon nya sepihak.


Di dalam kamar


" Hahhhh ya Allah, kenapa mas Andra suka banget cium aku sih ". Memegang pipinya yang memerah.


" Sudahlah, mending aku siapin dulu barang-barang untuk masuk kantor besok, tapi hebat banget yah bawahan mas Andra, bisa membawa semua barang ku. Bahkan sampai detil-detil nya juga ".


...----------------...


Ceklek...


Andra masuk kamar nya dan melihat istrinya sedang Duduk di sisi ranjang nya, sepertinya dia sedang menunggu suaminya.


" Belum tidur Ras? ". Ucapnya basa basi.

__ADS_1


" Belum mas. Lagi nunggu mas ". Ucapnya tersenyum.


Andra duduk di samping Laras " udah sholat isya? ".


" Iya mas, maaf Laras ngerjain duluan tadi ".


" Haha gak pa-pa, lagian saya saja yang lama. Kalo gitu mas sholat dulu yah ". Sebelum berdiri, Andra sempat mencium kepala Laras, dan langsung pergi masuk kedalam kamar mandi. Dengan senyuman kemenangan nya, Meninggalkan Laras yang salah tingkah.


'mas Andra baik banget. Pernikahan ini kaya bukan pernikahan kontrak ajah'.


Setelah selesai sholat, mereka kemudian tidur di ranjang yang sama pastinya. Tapi lagi-lagi Laras malah memunggungi Andra.


Andra yang memang ingin lebih dekat dengan Laras, bukan hanya hatinya tapi juga tubuhnya. Mencoba untuk mendekati Laras dan langsung memeluk Laras dari belakang.


" Ah.. ma.. mas.. ". Laras yang merasa sesuatu tiba-tiba melingkar di pinggang nya sontak terkejut. Inginnya dia melepaskannya tapi ia tahu kalau itu adalah suaminya.


" Ras.. mas mau nanya ". Andra mulai membuka suara. Tapi dengan mata yang terpejam.


" Nanya apa mas? ". Gugup Laras, mukanya sudah memerah.


" Papa tadi ngapain kamu dijalan? ". Pelan Andra, malah seperti berbisik di telinga Laras, yang membuat Laras geli.


" Gak ada mas... ".


" Jangan bohong ". Masih memejamkan matanya.


" Tadi Laras cuman ngeliat papa kaya kena musibah gitu di jalan. Yah karena gak ada yang nolongin, Laras inisiatif bantu mas. Tapi Laras gak tau kalo itu papa ". Jelasnya. Sama sekali tidak ada yang ditutupi.


" Cuman itu? ". 'istri gue benar-benar baik banget deh'.


" Iya mas ". Tanpa sadar sedari tadi Laras mengelus-elus tangan Andra yang melingkar di pinggang nya. Andra yang merasakan sentuhannya malah senang. Tidak mungkin juga dia melarang nya, itukan kesempatan baik.


" Kalo gitu sekarang tidur. Besok mau masuk kerja kan? ".


" Iya mas ". Laras tidak menyangka kalau Andra benar-benar menepati janji nya. Ia pun tertidur dalam pelukan Andra, walau Laras hanya memunggunginya.


Andra lebih dulu bangun dari Laras, ia memperhatikan wajah istrinya itu yang sedang tidur. Sangat damai dan tenang. Berbeda sekali dengan kemarin malam yang kaki dan tangannya sudah kemana-mana, tapi subuh ini kaki dan tangannya masih tetap tentang.


Dan inilah saatnya Andra untuk mengambil kesempatan. Bejat? Seharusnya seperti itu, tapi karena ini istrinya malah jadi pahala. Walaupun mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Cup.. cup.. cup...


Hujanan ciuman mendarat di atas kepala Laras 'ah.. manis banget gile'. Setelah puas, Andra kemudian bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


" Eughh... Hoaaammm ". Rengekan Laras. Ia mengerjap-ngerjap cantik, sebelum membuka matanya. Laras duduk dan meregangkan otot-otot lengan dan punggungnya.


" Hoamm nyenyak banget tidurku, selama tinggal disini kok tidur ku jadi nyenyak banget yah. Tapi syukur deh ". Laras mendengar air shower, lalu melirik kesamping nya. 'oh mas Andra sedang mandi yah'.


Tiba-tiba Laras mengingat kejadian semalam, saat Andra memeluk nya.


Blusshh...


Pipinya langsung memerah.


......................


Pagi harinya, seperti biasanya. Setelah sholat subuh, Andra akan pergi joging, sedangkan Laras turun membantu membuat sarapan.


" Assalamualaikum ".


" Waalaikum salam nona ".


" Sini aku bantu ". Sudah menaikkan lengan bajunya sampai sikunya.


" Tidak perlu nona, ini juga sudah hampir selesai ". Bi Siti kembali melarangnya. Bagaimana lagi itu sudah perintah dari mama Ani.


" Yah... " Kecewa Laras. Sebenarnya bi Siti tidak tega melihat wajah kecewa nonanya itu, apalagi saat melihat Laras membantu nya, senyuman darinya pasti tidak pernah lepas. Tapi, sekali lagi ini perintah dari nyonya rumah.

__ADS_1


" Tapi ini kok porsi sedikit bi? ". Padahal kan mama Ani dan papa Rangga sudah pulang.


" Oh.. ini khusus nona dan tuan muda, nona ".


" Eh.. tapi untuk mama sama papa gimana? Kan mereka juga butuh sarapan ". Apalagi melihat usia mereka yang bisa dibilang tidak muda lagi.


" Tidak nona, biasanya nyonya dan juga tuan besar tidak sarapan di rumah. Mereka lebih memilih sarapan diluar ". Jelas bi Siti. Namanya juga sultan, padahal bisa makan di rumah tapi ini lebih memilih makan diluar. Habis-habiskan uang yah memang seperti itu.


" Oh.. ". Laras hanya ber o ria saja. 'sultan emang beda yah'.


" Kalo gitu aku bantu bawa saja yah ".


" Tidak perlu nona, karena semua makannya sudah di bawa ke meja makan ". Tiba-tiba milea datang dari belakang Laras.


" Ah.. udah semua? ".


Dan mereka mengangguk.


" Haah... Kalo gitu aku naik ajah dulu. Siap-siap. Assalamualaikum ".


" Waalaikum salam ". Laras pun pergi meninggalkan mereka dengan perasaan kecewa dan aneh. Aneh? Iyya, padahal tadi saat ia sampai di dapur, masih ada makanan yang belum di bawa ke meja makan. Tapi, pas ia ingin membantu, makanannya malah sudah pindah semua.


" Bagus Milea... Kerja mu bagus ". Menepuk pundak Milea.


" Haha iya bu, soalnya nanti nyonya marah kalau sampai tau nona Laras membantu lagi ". Wah.. rupanya ini memang siasat mereka. Saat Laras tadi masih asik mengobrol dengan bi Siti, Milea diam-diam mengambil nampan makanan yang belum di bawa ke meja makan dengan cepat. Setelah nya barulah ia kembali dan memberikan kode dengan membentuk angka nol di jari telunjuk dan ibu jarinya, pertanda kalau tugas nya sudah selesai.


Tak lama kemudian, Laras pun turun dengan memakai pakaian yang biasa ia kenakan ke kantornya. Bedanya bajunya yang sekarang adalah versi aslinya, bukan kw yang biasa ia pakai. Bukannya Laras ingin menipu, tapi karena harga nya yang murah dan modelnya yang sesuai seleranya, membuat nya ingin membelinya. Jiwa belanja wanitanya keluar begitu saja.


Tapi bajunya ini, Andra lah yang menyiapkan nya. Mau tidak mau Laras pun harus memakainya, dari pada mubazir kan.


Dengam khas rok panjang Laras sampai pergelangan kaki nya, berwarna merah muda. Dan baju berwarna putih se lengan nya. Yang kebesaran. Dan di masukkan ke dalam roknya. Tubuh Laras yang kecil membuat nya semakin imut, apalagi di tambah dengan surai nya yang dibiarkan tergerai begitu saja.


" Ah .. mas udah pulang ".


" Iya, Assalamualaikum ".


" Waalaikum salam ". Mencium tangan kanan Andra.


" Kamu mau pergi kantor Dengan dandanan seperti ini? ". 'cik, kenapa Laras pake dandan segala sih. Gimana kalo mata laki-laki tertuju ke dia semua'.


Dandan? Tidak, sebenarnya Laras hanya memolesi wajahnya dengan bedak yang memang biasanya ia pakai itupun sangat lah sedikit. Dan bibirnya yang cuman ia pakaikan liptin tipis.


" Iya mas ". 'apa dandanan ku terlalu norak yah?, Yah, gimana lagi aku gak terlalu suka berdandan'. Yap, kesalah pahaman terjadi lagi. Bukannya Laras tidak bisa berdandan, seperti yang dia katakan ia tidak terlalu suka berdandan.


" Gak bisa diganti apa? ". Terlihat wajah kesal Andra yang membuat Laras semakin salah paham.


'beneran jelek yah'


" Apa emang Laras sejelek itu yah mas, apa Laras harus dandan yang lebih banyak? ". Keluar lah perkataan yang sedari tadi mengganggu nya.


" Ha? Tidak, kau sangat cantik ".


Blusshh..


Pipi Laras langsung memerah.


" Ah.. sudahlah, saya juga harus bersiap. Tunggu saya kita makan sama-sama ".


" Hmm baik mas ". Jawab Laras mengangguk, sama sekali tidak melihat Andra. Jantungnya sekarang sedang dipompa sangat cepat.


Andra pun naik ke lift


" Ah... Bisa gila gue.. anjir manis banget istriku. Mana bangkit lagi nih adik gue ". Frustasi sendiri Andra, berdekatan dengan Laras saja hasratnya sudah bangkit.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya.

__ADS_1


__ADS_2