Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Tidak bisa Marah


__ADS_3

" ini berapa dek? ". Memasukkan beberapa gorengan ke kantong plastik


" Lima ribu ajah, bu ".


" Baik, lima ribu yah. Ini silahkan ". Menyodorkan kantong plastik tersebut.


Terlihat seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat muda tengah menjajakan gorengannya


Ia terlihat menikmati kegiatannya. Yah dia adalah bu Karin, istri dari Raka Liarna, ayah dari Risa.


" Assalamualaikum mah ". Raka menyampaikan salamnya


" Waalaikum salam pah. Papa udah pulang? Gimana? Ada yang mau bantu ? ". Karin menghentikan aktivitas nya dan menyalam tangan Raka.


Raka diam, terlihat raut wajah kecewanya. Ia berjalan dan duduk di salah satu sofa di depan rumah kumuhnya, walaupun sofa itu sudah tidak layak dipakai, sudah banyak terlihat gabus-gabus nya yang keluar


Karin yang melihatnya, mengerti akan jawaban dari pertanyaan nya tadi. Dia ikutan duduk di samping suaminya.


" Yang sabar pah, pasti ada jalannya ". Mengusap punggung suaminya.


Mereka sama sekali tidak menyangka akan kehilangan perusahaan nya dan hidup di pemukiman kumuh seperti ini.


Hanya karena anak mereka sudah menyinggung orang besar di negaranya.


" Iya mah ". Raka mencoba untuk tegar, ia mengusap-usap tangan Istri nya


" Diambil sisi positif nya ajah pah. Dengan begini kita akan tetap semangat dan sabar menjalani nya ". Ucap bijak Karin


Dan Raka hanya mengangguk. Anaknya sungguh menyusahkan.


" Mama layani pembeli dulu pah. Papa masuk ajah dan mandi, mama udah siapin makanan ". Berdiri dan menyambut pembeli yang datang.


Raka juga ikutan berdiri " memang nya Risa kemana mah? ".


" Di dalam pah ". Ia menjawab tapi tidak melihat suaminya, ia tetap fokus dengan pembelinya.


Raka mengangguk dan masuk ke dalam


" Risa... Risa.. dimana kamu? ". Teriak Raka saat ia masuk dan Tidak mendapati anaknya.


Risa langsung muncul, seperti nya ia dari kamar mandi yang hanya ada gayung dan juga ember untuk tempat airnya, sudah tidak ada bathub ataupun shower.


" Iya pah.. ada apa sih ". Kesal Risa


" Kamu ini! Bukannya bantu mama mu, malah asik sendiri! ".


" Risa gak mau pah, itu sama sekali bukana level Risa. Apalagi kamar mandinya juga gak higienis banget ". Benar-benar tidak tahu bersyukur


" Ini semua gara-gara siapa hah!! ". Raka mulai memarahi Risa lagi. Selama tinggal disitu, Risa selalu kena amukan dari ayahnya. " Kalau bukan karena kamu menyinggung tuan muda dari keluarga Ansari, memangnya kita akan hidup seperti ini!. Mikir kamu Risa! ".


" Mana Risa tau kalo pak Andra sudah mempunyai istri. Kalo gitu aku gak bakalan rayu dia ". Risa mencoba untuk membelah dirinya.


" Lagi pula ini salah papa sama mama Dong. Masa perusahaan saja gak bisa di pertahanin ". Wah... Benar-benar kasar sekali dia dengan orang tuanya.


Plakk..


Satu tamparan berhasil di layangkan Raka ke pipi Risa. Dirinya sungguh kesal mendengar perkataan anaknya itu.


" Dasar anak durhaka! ". Lantang Raka


Mata Risa sudah berkaca-kaca, ia memegang pipinya.


Tiba-tiba dari arah depan, Karin datang tergopoh-gopoh.


" Astagfirullah.. Bisa tidak kalian berdua kalo mau berantem gak usah teriak-teriak. Malu.. ". Walaupun Karin orang nya lembut, ia tetap Tidak suka jika dirinya dan keluarganya di jadikan bahan ghibahan para tetangganya.


" Mah.. mama gak bela aku hiks.. aku ditampar loh mah ". Risa mulai menangis.


Karin menghela nafasnya " Risa, apa yang dikatakan papa mu itu benar. Sebaiknya kamu bantu mama gak usah berleha-leha saja ". Tegas Karin. Selama ini ia memang memanjakan anaknya sampai Risa berbuat seperti ini, tapi sekarang ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Makanya ia mencoba untuk tegas.


" Dan papa juga, gak usah pake tampar-tampar segala! ". Karin juga ikut menasehati suaminya.


Lalu ia pergi begitu saja ke luar, untuk melayani pembeli nya.


" Maaf yah bu, ini tadi berapa pesanannya? ".


" Bu Karin, di dalam gak pa-pa kan? ".


Glek..


Keringat Karin sudah turun, ia memang sangat tidak suka di ghibahin " haha gak pa-pa bu, biasalah masalah anak dan papa nya ".


" Oh.. ". Pembeli itu hanya bisa ber oh ria saja. Selama tetangga nya itu pindah, tidak bisa terhitung suara pertengkaran mereka.

__ADS_1


" Hiks... Hiks.. mama juga jahat ". Risa langsung lari kembali ke dalam kamar mandi, yang dindingnya bahkan hanya beralaskan triplek.


Dirumahnya sama sekali tidak ada kamar. Hanya ada dapur, ruang keluarga yang sama dengan ruang tamunya, serta disitulah mereka bertiga juga tidur.


" Hahhh punya anak kok gitu. Ya Allah... Tabahkan lah hati hamba mu ini ". Raka mengelus dadanya.


Walaupun Risa pintar dan cantik, tapi ia adalah anak yang liar dan juga nakal.


Bahkan dirinya sudah tidak perawan lagi. Saat Risa masih duduk di bangku SMA, Risa menjajakan tubuhnya pada gigolo. Ia menikmati perbuatannya, sampai Raka dan juga Karin dibuat kecewa olehnya.


Raka terpaksa menutupi tingkah anaknya itu kepada publik, agar setidaknya tidak ada yang mengejek mereka, dan reputasi anaknya juga tidak jatuh.


Waktu itu Raka mencoba untuk memakluminya, walau bagaimanapun saat itu Risa sedang dalam masa-masa pubertas nya.


Tapi, untuk sekarang ia tidak ingin menoleransi dan memakluminya lagi. Perbuatan Risa sudah kelewat batas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Andra pulang lebih lambat dari yang ia perkirakan. Ia tergesa-gesa turun dari mobil nya sembari melihat jam tangannya, dan yang dilihatnya sekarang sudah jam 20.10, ia tidak menyangka kalau ada beberapa perkejaan nya yang memang harus diselesaikan hari ini juga.


Pantasan Alan marah-marah karena bos nya itu datang terlambat.


" Ahkk sial, kenapa kerjaan bisa sebanyak itu sih " Andra terus bergumam sepanjang jalannya. Ia takut jika Istri nya akan nekat membantu para pelayan.


" Assalamualaikum bi ". Bi Siti sudah ada di depan pintu masuk untuk menyambut tuan muda nya


" Waalaikum salam tuan ". Mengambil tas dari majikannya.


" Bi Istri ku mana? ". Hal pertama yang harus dia tanyakan


" Nyonya muda sedang ada di.._ " belum sempat bi Siti melanjutkan perkataannya, dari dalam terdengar suara tawa dari Laras.


Andra langsung melengseng ke arah sumber suara 'Laras benar-benar keras kepala. Sudah dibilangin jangan turun! Malah turun!'. Dengan langkah cepat nya, ia melangkah ke ruang keluarga.


Dan dilihat Istri nya yang sedang selonjoran di lantai dengan setoples cemilannya sembari tertawa Menonton dramanya.


Ia tersenyum melihat istrinya yang sedang tertawa seperti itu " Assalamualaikum ".


Laras sontak menoleh, dan tersenyum senang " waalaikum salam ". Ingin berdiri, tapi langsung ditahan oleh Andra.


" Diam di tempat, jangan bergerak! ". Dengan cepat, Andra mendekati Laras.


Laras diam, ia tidak jadi berdiri " ada apa mas? ". Tanya Laras, saat Andra sudah duduk selonjoran juga di sampingnya.


" Kamu kenapa turun! Kan mas udah bilang jangan turun! ". Andra sudah tidak mau kecolongan lagi.


" Maaf mas, tapi aku bosan kalo di kamar ajah. Tapi tenang ajah mas aku gak bantu-bantu pelayan kok ". Laras berkata jujur. 'jangan sampe aku di pecat di perusahaan'. Yah, sungguh gila kerja.


Andra menghela nafasnya, ia mengerti kalau Istri nya pasti bosan. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak mau Istri nya itu kelelahan.


Andra mengelus surai Laras " iya mas ngerti. Tapi lain kali harus kabarin mas dulu yah ". Laras langsung mengangguk.


'mas Andra benar-benar posesif. Masa mau turun ajah harus lapor dulu'. Nah baru sadar kan kalau suaminya sangat posesif, dan itu belum semuanya.


" Udah makan? ". Melepas jas nya dan dibantu oleh Laras.


" Hmm be.. belum ". Ia gugup, sangking asiknya ia menonton, sampai-sampai dia melupakan untuk makan.


" kenapa belum makan? ". Dari ekspresi Laras, ia tahu alasan Laras belum makan. Bukan karena menunggu nya, tapi karena hal lain. Dan ia tau hal lain apa itu, cuman dia ingin agar Istri nya itu jujur.


Andra memang dulu sempat belajar ilmu psikologi, jadi ia bisa menebak apa yang dipikirkan orang lain dari raut wajahnya.


" hmm itu.. karena ". Melirik melihat tv nya. Ia tidak sanggup mengatakan nya.


Andr juga ikut melihat tv


" Kalo gini terus, lama-lama tv ini bisa hilang loh ". Ancam Andra.


Dan Laras tahu apa yang dimaksud Andra " jangan mas... ". 'kalo tv nya hilang, oppa-oppa ku juga bisa hilang'.


" Laras janji gak bakalan telat makan lagi ". Mengangkat tangannya membentuk V


'ishh gemesnya'.


" Ehem... Hmm baik, tapi awas jangan sampe telat lagi ".


" Iya mas ". Laras mengangguk " mas mau mandikan? Aku udah siapin air di kamar ". Mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin tv nya hilang begitu saja.


Andra tersenyum mendengarnya, rupanya Istri nya itu sangat memperhatikan nya


" Iya, mas mau mandi dulu ". Mencium kening Laras, tidak sampai disitu ia juga mencium seluruh wajah istrinya.


" Hahaha mas.. hentikan geli ".

__ADS_1


'ahh bangkit lagi nih'. Andra menghentikan kecupannya.


" Mas pergi mandi dulu, kita makan sama-sama oke! ".


" Iya mas ".


Andra pun pergi ke atas kamarnya.


Sedangkan Laras masih melihat punggung suaminya, sampai hilang.


" Hahhh hampir ajah tv nya hilang. Kalo hilang, oppa-oppa ku juga ikutan hilang ". Kembali fokus dengan apa yang di tontonnya


Bi Siti yang melihatnya hanya bis geleng-geleng sambil tersenyum gemes melihat nyonya mudanya yang begitu menyukai tv nya, eh! Bukan! Bukan tv nya, tapi apa yang disiarkannya.


Setelah beberapa lama...


Laras menghentikan acara menontonnya dan pergi ke meja makan. " Kayanya mas Andra udah mau turun deh, mending nunggu di sini ajah ". Duduk di salah satu kursi di meja makan, yang memang selalu ia tempati saat akan makan.


Satu menit... Berlalu, Laras masih santai-santai saja


Dua menit.... Berlalu, sama Laras juga masih santai, tapi bedanya sekarang ia mengetuk-ngetukkan kuku telunjuknya di meja makan


Tiga menit... Berlalu, Laras mulai menggoyangkan kakinya, mengayunkan nya maju mundur.


Empat menit... Berlalu, Laras sudah dibuat tidak sabar " mas Andra lama banget sih ".


Lima menit... Berlalu, akhirnya Laras memutuskan untuk naik menyusul suaminya.


Baru akan melangkahkan kakinya di atas anak tangga yang pertama, suara barinton terdengar menghentikan langkahnya.


" Tunggu! Diam disitu! ". Laras menarik kembali kakinya.


" Bagus ". Dengan langkah cepat nya, Andra turun ke bawah. Yang terlihat Istri nya sedang menatapnya dengan tatapan bingung bin khawatir.


" Mas... Hati-hati ". Panik Laras saat melihat suaminya itu lari-lari turun tangga.


" Iya sayang ... ". Sudah sampai, tidak perlu di khawatir kan lagi.


" Kenapa mas melarang ku naik tadi? ". Tanya Laras di sela-sela langkah mereka ke meja makan.


" Enggak pa-pa ". Singkat Andra 'kalo naik lagi kan, harus turun lagi. Kalo gitu bisa-bisa tenaga Istri ku ini habis, gak bisa! Sepertinya gue harus pindahin kamar ke lantai bawah'. Belum hamil, sudah di perhatikan seperti ini. Bagaimana jika sudah hamil?


Setelah mereka sampai di meja makan, pasangan suami istri itu pun, menyantap makanannya dengan khidmat.


" Mas ". Panggil Laras di sela-sela mereka makan


" Hmm ada apa? ". Mendongak melihat istrinya


" Gini mas, kenapa bi Siti, Milea, Dilan sama pak Supri gak kita panggil buat makan bersama ". Laras mengusulkan ide nya yang gila.


Andra tercengang, walaupun istri nya itu sangat baik, tapi tidak sampai harus seperti itu kan.


" Mas? Gimana mas? ". Laras kembali bertanya


" Hmm terserah kamu saja ". 'gak yakin gue, kalo para pelayan mau'.


Laras mengangguk , dan hendak berdiri untuk memanggil mereka.


" Mau kemana? ".


" Manggil para pelayan ".


" Gak perlu sampai harus di samparin. Panggil disini saja ".


Laras mengangguk " Bi Siti.. ". Teriak Laras yang membuat Andra kaget.


" Astagfirulla sayang... Gak usah teriak-teriak. Gimana coba kalo tenggorokan mu sakit, nih minum dulu ". Menyodorkan segelas air putih.


Walaupun Laras tidak sedang haus, ia tetap menerima air putih itu lalu meneguknya.


" Tapi gimana cara manggilnya mas? ". Menyimpan gelasnya di atas meja.


" Tunggu ajah .. nanti bi Siti juga muncul, kan tadi udah diteriakin ". Sebenarnya Andra kesal melihat Laras yang selalu bergerak sana sini dan pasti itu menguras tenaganya. Tapi, ia mencoba untuk tetap lembut. Dirinya juga tidak tega kalau harus memarahi istri nya itu.


" Belum tentu kedengaran loh mas ".


" Iya nyonya ada yang bisa saya bantu? ". Tiba-tiba bi Siti, sudah ada di belakang Laras.


" Kan, apa tadi saya bilang ".


" Haha iya yah ". Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Andra yang melihatnya menjadi geleng geleng kepala, dia selalu dibuat gemes Melihat setiap tingkah Istri nya itu.


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya


__ADS_2