Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Permintaan Maaf


__ADS_3

I'm back😘


semoga kali ini update nya lancar...


happy reading


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


" mama papa. Kok gak bilang-bilang kalo mau datang ". Laras langsung menghampiri mama Ani dan papa Rangga lalu menyalami. Sedangkan Andra mengikuti dari belakang Laras


" Gak pa-pa. Biar surprise ". Jawab Mama Ani dan kembali duduk di sofa diikuti oleh Laras dan juga Andra


Andra hanya geleng-geleng melihatnya


" Iya sih, kami memang terkejut ". Timpal Laras


" Tapi ada apa ma, pa? Kok tiba-tiba datang? ". Ucap Andra di dekat istri nya yang sedari tadi memegang tangan Laras


Mama Ani berdiri dan duduk di samping Laras, lalu melepas tangan Andra dan cepat-cepat mengambil tangan Laras.


'eh? Ada apa lagi nih!'


" Tunggu.. apa yang.. ".


" Masih sakit sayang? ". Tanya mama Ani lembut kepada Laras, sembari mengelus-elus tangannya


" Sakit? Sakit apa ma? ". Andra langsung menjawab, padahal bukan dia yang ditanya. Ia takut jika Istri nya itu merahasiakan sakitnya dari nya.


Papa Rangga langsung berdiri dan duduk di dekat Andra


" Bukan apa-apa ". Kali ini papa Rangga menggantikan Istri nya menjawab.


" Selamat ". Lanjut nya sembari menaruh tangannya di pundak Andra.


" Selamat? Untuk apa? ". Siapa sih yang tidak bingung saat di selamatin begitu saja, Tanpa ada angin.


" Mas ulang tahun? ". Tanya Laras


" Enggak. Tapi kamu gak sakit apa-apa kan sayang ".


" Enggak ".


" Jadi, ini maksudnya apaan mah pah? ". Pagi-pagi mereka sudah dibuat bingung


" Yang penting selamat deh ". Papa Rangga kembali mengulang nya


" Selamat apaan sih pah? ".


Papa Rangga kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Andra.


Barulah Andra manggut-manggut, lalu tersenyum


" Udah ku bilang kan, kalo tidak ada yang tidak bisa di dapatkan oleh seorang Muhammad Andra Ansari ini ". Ucapnya, sungguh sombong.


" Hahaha anak siapa dulu... Ahmad Rangga Ansari ".


Mereka berdua pun tertawa receh mendengar candaannya sendiri.


Sedangkan Laras hanya diam menyimak, ia tidak tahu apa yang sedang di bahas mertuanya dan juga suaminya. Lain halnya dengan mama Ani yang sepertinya tahu tentang apa yang sedang dibahas kedua pria berbeda generasi itu.


" Tch... Dasar laki-laki, hal seperti itu memang nya harus di bahas selalu yah. Sama sekali gak memikirkan perasaan kami para wanita ". Ketus mama Ani.


" Ya iyalah mah... Itukan suatu kebanggaan sendiri buat kami para pria. Secara mengambil kesucian istri tercinta itu......, udah dapat pahala... dapat menikmatan juga ". Jawab papa Rangga. Nah kan, pembahasan mereka benar-benar vulgar


" Ya Kan, Andra ".


" Nah benar tuh ". Timpal Andra. Dia juga ikut bangga sendiri


" Dasar laki-laki, kalo soal yang begituan pasti cepat ". Laki-laki memang mempunyai nafsu yang lebih tinggi dari pada wanita.


Tanggapan mama Ani sungguh biasa saja.


Sedangkan Laras, bagaimana dia menanggapi nya?


Oh jangan ditanya, mukanya sudah memerah dari tadi. Ia heran melihat kedua mertuanya dan juga Suaminya yang membicarakan hal seperti itu tanpa ada rasa canggung atau malu.


'apa semua orang kaya seperti ini?'. Tentu tidak, mungkin hanya mereka saja yang seperti itu. Atau mungkin ada juga beberapa.


Andra melirik melihat Laras yang sedang tersipu, tertunduk. " Sudah ah mah, pah. Jangan menggoda istri ku lagi ". Padahal dirinya juga di goda, tapi ia sama sekali tidak merasa.


" Hahah iya... iya ".


" Tapi, papa sama mama datang kesini cuman buat itu? ". Apa mungkin ada hal lain, selagi mengganggu pasutri itu.


" Memangnya kenapa? Mama cuman mau bilang agar buatin mama sama papa cucu yang banyak ". Belum apa-apa sudah meminta yang lebih


" Nah iya tuh benar ". Papa Rangga menimpali


" Hahaha tenang ajah, beres itu mah ". Sifat Andra berbeda 360°. Apa mungkin karena kehadiran Laras? Hmm itu pasti, bahkan mama Ani dan papa Rangga terkejut melihat perubahan sifat anaknya. Tapi mereka mencoba acuh agar semuanya berjalan lancar.


" Iya kan sayang? ".

__ADS_1


" Hmm Insyaallah .... Kalo Allah sudah berkehendak, maka pasti di kasi ". Ucap bijak Laras.


" Amin... ". Ucap ketiga orang itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Karena tidak tahu harus berbuat apa, mama Ani dan papa Rangga memilih untuk berjalan-jalan melihat-lihat isi rumah anaknya itu. Walaupun sebenarnya sudah sering mereka lakukan.


" Sejak kapan rumah mu punya kolam ikan sebesar itu di dekat kolam renang?. Mana penuh ikan lagi ". Setelah mereka puas berkeliling.


Kedua orang tua itu pun memilih untuk kembali ke ruang tv, mengganggu anak dan anak menantunya yang sedang asik menonton. Itu sih kalo Laras, kalau Andra? Ia lebih fokus pada istri nya daripada tv yang hanya menampilkan kisah fiksi semata.


" Sejak istri ku ikut tinggal disini ".


'eh! Bukannya itu memang sudah ada sebelum aku datang?!'. Itu tidak mungkin, Andra bukan lah orang sebaik mu


" Kamu suka kolam ras? ". bukan kolamnya


" Bukan kolamnya mah, tapi Laras suka ikannya ". Jawab Laras


" Karena itulah Andra bangun kolam ikan beserta ikan-ikan nya ". Ikannya tidak di bangun, tapi di beli.


Bicara nya sih sangat bangga dan percaya diri, tapi dari raut wajahnya ada semburat tersembunyi.


Laras yang mendengar nya di buat semakin terharu atas semua yang telah di lakukan suaminya kepadanya.


'ahh jadi makin sayang'


Berbeda halnya dengan Laras yang terharu dan senang dengan perlakuan Andra, papa Rangga malah heran melihat semburat aneh di wajah anaknya.


" Kamu senang kan ? ". Rupanya mama Ani juga ikut melihatnya


" Pasti nya lah. Melihat istri sendiri bahagia, suami mana sih yang tidak bahagia ". Dan itu benar.


" Tapi..... ".


" Tapi... Saingan Andra jadi bertambah dan itu sangat kuat ". Sialnya lagi saingan barunya itu tidak bisa di basmi. Jika dibasmi, maka siap-siaplah Andra akan di basmi kembali oleh Laras.


" Ha?! Saingan? Siapa mas? ". Otak Laras belum dapat dengan jalan pembicaraan sekarang. Sedangkan mama Ani dan papa Rangga terlihat menahan tawanya.


" Koi-koi mu tuh..... Kaya lebih penting mereka daripada suami mu ini ". Mencubit hidung Laras. Gemes sendiri melihat istrinya yang sangat menggemaskan menurut nya. Memangnya ada tingkah Laras yang tidak menggemaskan di mata Andra? Oh.. jangan di tanya lagi, karena tentu jawabannya tidak ada.


" hahaha mas bisa ajah.... Masa nge-bandingin diri sendiri sama ikan ". Memegang tangan Andra yang ada di hidung nya. Mencoba untuk melepaskannya. walaupun berhasil tapi bukan menggunakan tenaga nya, melainkan karena Andra yang melepaskan nya.


" Hahahah dasar cemburuan!! ". Ledek papa Rangga


Andra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ingin mengelak? Tapi itu benar.


Melihat tingkah Andra yang sangat jarang itu, membuat kedua orang tua itu tertawa.


Dan Laras yang melihatnya, ikut tertular dan akhirnya tertawa juga.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Siang harinya....


Mama Ani dan papa Rangga sudah pulang. Rumah kembali seperti biasanya. Tidak ramai, tapi tidak sepi juga.


Karena hari ini akhir pekan, Laras lebih memilih untuk menonton dramanya dan ditemani oleh Andra.


Ting... Ting...


Klakson mobil terdengar dari luar


'siapa yang datang yah'. Ingin di pikirkan, tapi pikiran nya masih lebih fokus ke dramanya. Jadi............ Lanjut nonton saja.


Tak lama kemudian, Alan datang dengan gayanya yang biasanya. Taulah.... Dengan gaya sok cool, jas nya yang tidak pada tempatnya, di gantung di pundak kiri. Dasinya juga di tenggalkan kan di pundak sebelah kanan. Belum lagi lengan kemeja putihnya, di sing-singkan sampai sikunya. Sungguh sok keren, dan sialnya memang keren.


Fiks.... Mirip aktor Bollywood


Eh! Aktor Bollywood? Iyya, bukan Hollywood. Cuman beda huruf, anggap saja iya.


Andra yang melihatnya, lagi-lagi ingin melemparkan ponselnya ke wajah Alan. Tapi sayang, ponselnya terlalu mahal untuk di lempar.


Sebenarnya Andra sudah biasa dengan pemandangan itu, tapi entah mengapa dirinya tetap kesal melihat nya.


Sedangkan Laras, tidak memperhatikan nya. Dari pada melihat aktor Bollywood kw, mending Melihat aktor Korsel yang bukan kaleng-kaleng. Walaupun mirip wanita.


" Assalamualaikum tuan muda.... Nyonya muda.... ". Teriak Alan. Penampilan nya berbeda dengan sikapnya.


Laras tersentak " Waalaikum salam ". Jawab Laras dan juga Andra


" Santai ajah Lan..... Ini di dalam rumah, bukan pasar loak... Yang mesti teriak sana teriak sini ". Nah akhirnya rumahnya di bandingkan dengan pasar loak


" Hehe sorry bos, kebiasaan ". Menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Ada kerjaan Lan? ". Tapi ini kan akhir pekan


" Dikit ras ".


Dan Laras manggut-manggut menanggapi nya. 'jadi orang kaya memang selalu sibuk yah'.

__ADS_1


" Mana? ".


" Di luar bos. Aku panggil nih ".


" Hmm ". Jawab nya. Alan langsung keluar untuk memanggil seseorang. Dan siapakah dia? Yah kita baca selanjutnya.


Laras yang tadinya tidak tertarik, tapi saat suaminya mencari seseorang ia langsung tertarik.


Mendongak " Siapa mas? ".


Andra menunduk " ada... ". Di jeda " ayo sini ". Mengangkat tubuh istrinya yang ringan itu ke sampingnya.


Laras yang belum sempat merespon nya, hanya diam di berlakukan seperti tadi.


" Ihhh mas.... Gak usah angkat-angkat, aku bisa sendiri ".


" Hahah iya sayang ".


" Tuan muda.... Nyonya muda... Saya sudah membawanya ". Wah... Mode profesional nya aktif nih


Laras berbalik. Matanya membelalak melihat siapa yang di bawa Alan. Ada Risa yang terlihat bersembunyi di balik tubuh seorang pria paruh baya dan di sampingnya ada wanita paruh baya juga. Pakaian yang mereka pakai terlihat seperti pakaian biasa yang di pakai rakyat menengah ke bawah.


Sedangkan Andra menyerngit melihatnya. Cuman Risa yang dia inginkan agar di bawa, kenapa malah bawa sekeluarga nya. Mau minta sumbangan?


Laras langsung berdiri " ini... Ada apa? ". Andra pun ikut berdiri.


" Gak pa-pa sayang.... Liat ajah ". Ucapnya yang merangkul pundak Laras.


Raka yang melihatnya tidak percaya dengan sikap seorang Andra yang terkenal dengan sikap dingin dan juga arogan nya. Tapi ini.... Sikap nya sangat lembut terhadap istrinya, dan terlihat sekali jika ia sangat mencintai istrinya.


Sungguh tidak dapat di percaya. Keringat nya Kembali keluar saat mengingat kesalahan anaknya yang sangat fatal.


Padahal tadi saat mereka baru masuk, sungguh dibuat kagum mata nya melihat dekorasi rumah Andra. Sangat megah dan minimalis. Tapi anehnya, di kolam hiasan yang ada air terjunnya malah terdapat mahkluk hidup yang berenang.


Sebenarnya hanya Risa yang ingin di bawa Alan tadi, tapi Raka dan juga Karin memaksa untuk ikut, sampai-sampai berlutut di bawah kaki Alan. Dengan terpaksa Alan harus membawa mereka sekeluarga.


" Kenapa kau diam saja!! Cepat minta maaf!!! ". Suara tegas Alan menyadarkan Raka dari lamunannya.


Dengan langkah cepat nya, Risa langsung berlari dan berlutut di lantai " maafkan saya nyonya muda... Saya benar-benar minta maaf ". Ucapnya dengan air mata yang membanjiri wajahnya


" Eh.. ehh aa.. ". Tidak tahu harus menanggapi nya bagaimana


Raka dan Karin ikut berlutut bersama Risa " nyonya muda maafkan lah anak kami ini.... Sungguh kami benar-benar minta maaf karena kesalahan dari didikan kami, sehingga ia bisa tumbuh menjadi wanita penggoda ". Hmmm mulailah ia menjelek-jelekkan anaknya sendiri.


" Aaa ehh hmmm ". Ini pertama kalinya bagi Laras, jadi ia tidak tahu harus bersikap bagaimana 'kenapa jadi gini?!'. Ia kemudian beralih melihat Andra, yang rupanya sedari tadi melihat ketiga orang itu dengan senyuman kemenangan. Membuat nya benar-benar menyeramkan.


Tapi saat Andra sadar akan tatapan Istri nya, ia kembali ke mode sayang istri.


Lalu mengangguk sembari tersenyum manis menanggapi Laras.


'apa suamiku punya kepribadian ganda yah'. Laras melihat wajah suaminya dengan muka datar, lalu kembali beralih pada sekeluarga yang sedang berlutut di hadapannya


'nah kan... Gue udah duga kalo reaksi Laras bakalan kek gini. Dan lihatlah suaminya yang malah memandang rendah sekeluarga yang gue bawa'. Bosnya masih waras kan


Karena tidak mendapatkan tanggapan. Risa langsung bersujud di kaki Laras sambil memeluknya


" Tolong maafkan saya nyonya ".


" Maafkan lah kesalahan putri kami nyonya muda ". Karin juga ikut bersujud yang diikuti oleh Raka


" Eh.. i.. ini.. ". Laras semakin di buat kalang kabut.


" Hei.. apa yang kau... ". Andra hendak melepaskan nya


Tiba-tiba dari arah dapur, bi Siti datang dengan cepat.


Lalu buru-buru melepaskan pelukan Risa dari kaki Laras


" Tolong jangan sentuh tubuh nyonya muda. Tubuh nyonya muda kami terlalu berharga untuk disentuh oleh orang luar ". Ucap bi Siti.


Andra tersenyum melihatnya. Rupanya bi Siti masih se- profesional dulu.


Alan juga ikut tersenyum, tidak terkejut lagi melihat ke sigapan bi Siti.


Sedangkan Dilan dan Milea asik menonton dari arah dapur, yang memang terlihat


" Maaf.. maafkan saya... ". Risa lagi-lagi bersujud


" Maafkan Kelakuan anak saya... ". Raka dan Karin ikut membantu.


" Hm em... su... sudah... sudah.... sebaik nya bu Risa dan mmm tuan dan nyonya berdiri dulu ". Karena bingung harus apa, Laras memilih untuk merubah posisi yang menurutnya canggung ini.


Tapi bagi Andra ini adalah posisi yang sangat memuaskan untuk dilihat.


Menatap orang-orang yang berani mengganggu ketenangan keluarga nya dengan tatapan merendah adalah salah satu sifat nya yang sulit untuk dihilangkan.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya.


biar tambah semangat lagi nulis 😙

__ADS_1


__ADS_2