Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Jatuh Cinta Dadakan


__ADS_3

Saat Laras sedang asik guling sana dan guling sini, terdengar bunyi Pintu terbuka.


Dan sontak, Laras segera duduk tegap sambil pura-pura memainkan ponselnya.


" Belum tidur ras? ". Pertanyaan yang sudah sangat familiar. Andra mendekati Laras.


" Belum mas ". Mendongak melihat Andra. Ya iyalah itu masih duduk, mana ada orang tidur sambil duduk mana main ponsel pula.


" Mas udah mau tidur juga? ". Canggung. Laras benar-benar canggung, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apalagi saat ia mulai menyadari perasaannya pada Andra.


" Hmm iya, kalo gitu mas cuci muka dulu ". 'maunya dapat jatah, tapi gak mungkin kan'. sabar, akan indah pada waktunya.


" Iya mas ". Laras langsung menunduk, ia sama sekali tidak mau melihat wajah suaminya itu, kalau tidak pasti wajahnya langsung memerah


...----------------...


Sekarang di tempat tidur, lagi-lagi Laras memunggungi suaminya.


Yang bedanya, sekarang ia tidur paling ujung, goyang sedikit pasti langsung jatuh.


'apa Laras masih marah? Tapi kenapa?'


Andra mendekati Laras, tentu saja itu menimbulkan bunyi.


'ahhhhh kayanya mas Andra mau mendekat deh. Aduhhh hatiku belum siap. Gimana kalo aku kena serangan jantung'. Menutup rapat-rapat matanya, ingin menjauh juga tidak bisa, posisinya sekarang sudah yang terjauh di atas kasur.


Andra semakin mendekat dan Langsung melingkarkan tangannya di pinggang Laras, memeluk nya erat-erat.


" Hnm m.. mas.. ". Gelagapan Laras, ia tidak sadar kalau sedang menahan nafasnya, pelukan Andra sangat erat.


" Sudahlah tidur saja ". Sambil menutup matanya ia mengatakan nya.


" Ta.. tapi mas.. ini terlalu.. erat... ". Pipi nya sudah memerah, nah kan.... Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Selalu saja seperti itu.


" Salah mu sendiri yang jauh-jauh tidurnya ". Andra sedikit merengek, Sudah seperti anak kecil saja,


'ya Allah gemes banget mas Andra'. Tidak bisa membantah. Dan harus menerimanya saja. Andra seperti bayi besar


'ahhhkkkkk moga ajah aku gak khikaf'. Laras berteriak dalam batinnya, ingin dikeluarkan juga tidak bisa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kantor


Laras bengong, dia masih memikirkan perasaan nya. Ia senang namun juga takut.


Senang karena akhirnya ia merasakan cinta yang sebenarnya namun takut jika cintanya itu tidak terbalaskan, dan malah menyakitinya. Meninggalkan bekas dihati yang tentu saja tidak mudah untuk dihapus


Dirumahnya juga tadi, ia selalu salah tingkah setiap Andra memberikan perhatian kepadanya


'apa mas Andra juga cinta sama aku yah... Tidak! Pasti itu tidak mungkin, kami menikah hanya di atas kertas'. Menggelengkan kepalanya dengan keras. 'tapi... Kenapa dengan aku yah, perhatiannya juga seperti memang menyukai ku. Haahhh apa aku yang terlalu berharap'. Lagi-lagi ia ragu dengan pernikahan yang menurutnya salah ini.


" Assalamualaikum ras... ".


" Ah! Waalaikum salam, Alan ". Mendongak melihat Alan " ada apa lan? ".


" Enggak pa-pa, hanya penasaran saja. Kok kamu tadi bengong ajah ". Rupanya sudah dari tadi Alan memanggil Laras.


" Kamu gak pa-pa, gak di apa-apain sama Andra kan ". Karena bosnya yang sangat galak, takut nya Istri nya sendiri juga di galakin


" Haha enggak kok Lan, kamu berlebihan ". Laras menyangkal, karena itu memang tidak benar. Andra memang tidak melakukan apa-apa padanya.


" Oh.. kalo gitu aku pergi dulu yah ". Alan juga tidak mau terlalu ikur campur rumah tangga orang lain. Pikirkan dirimu dulu sebelum memikirkan orang lain.


" Kemana? Inikan masih jam kantor? ". Tidak akan boloskan. jika memang bolos, berharaplah semoga bosmu itu memotong gajinya.


" Mau temanin keponakan ku buat periksa kesehatan ". Meluruskan nya, ia tidak mau gajinya dipotong. Apalagi ia juga sudah izin, walaupun waktunya tidak banyak.


" Oh.. ". Singkatnya.


" Kalo gitu aku pergi dulu, Assalamualaikum ". Mengangkat satu tangannya. Bersikap so keren lagi


" Waalaikum salam ". Laras hanya mengangguk.


......................


" Hiks... Hiks.. hiks.. paman... ". Seorang anak kecil, yang mungkin umurnya baru berusia 4 atau 5 tahun sedang menangis di parkiran mobil rumah sakit.


Tidak ada yang membantu nya, semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing.


Saat Mai akan keluar dari mobilnya, ia mendengar suara tangisan anak laki-laki. Tentu saja sebagai seorang dokter anak, jiwa dokternya Langsung keluar.


Ia mencari sumber suara anak laki-laki yang menangis, dan saat akan berbelok. Ia melihat anak laki-laki yang masih sedang menangis.


Mai pun langsung mendekati nya.


" Halo ganteng... Kok nangis sih? Mama sama papanya kemana? ". Mai berjongkok dan memperlihatkan senyuman manisnya, saat anak kecil itu melihat nya. Wah.. rupanya sikap datar Mai tidak berlaku jika dia berurusan dengan anak kecil.


" Hiks.. hiks... Huaaa ". Anak kecil itu malah semakin menangis sejadi-jadinya.


Mai tersenyum ramah, ia mengerti kalau anak di depannya sedang takut dengan nya yang dianggap orang asing.


" Gak pa-pa sayang... Kaka dokter kok ". Mai mengangkat tangannya dan membelai kepala anak itu.


" Kaka cantik hiks.. dokter? hiks... ". Bicaranya sesugukan. Anak itu mulai melunak


" Iya... Kaka dokter anak ". Mai berhasil melunakkan anak itu. " Kenapa nangis disini? Mama sama papanya kemana? ". Mai mencoba untuk bertanya lagi.


" Huaaaa... ". Tangisan anak itu malah semakin kencang, tapi itu tidak membuat Mai patah semangat.


" Hmmm gimana kalo ceritain nya di ruangan kaka dokter ajah, ada permen loh diruangan kaka ". Mai mencoba untuk merayunya, ia juga ingin cepat-cepat pergi dari tempat parkir itu. Karena sudah banyak pasang mata yang lalu-lalang melihatnya, mungkin mengiranya sedang menyakiti anak kecil.

__ADS_1


" Benarkah? Ada permen? ". Wajahnya langsung berbinar.


" Hmm iya ". 'yes berhasil'. Mai tersenyum.


" Dion mau ". Ucapnya girang.


'ohh namanya Dion'. " Baiklah, kalo gitu Dion ikut kaka dokter keruangan kaka yah ". Dion langsung mengangguk cepat


Mai pun Berdiri dan menarik tangan mungil Dion, sebelum masuk kedalam rumah sakit. Mai sempat menitipkan pesan kepada satpam.


" Pak kalau ada orang tua atau orang dewasa yang cari anak laki-laki umurnya sekitar 4 atau 5 tahun, bilang langsung ke ruangan dokter Mai saja ". Orang tua nya harus dikasi semburan nesehat dulu.


" Iya dokter ".


Di sepanjang koridor rumah sakit, Dion selalu mengoceh sana-sini, padahal ia laki-laki tapi sifatnya seperti perempuan.


Mai hanya mengangguk menanggapi nya, atau biasanya ia menjawab 'oh yah...' 'wah.. hebat banget'.


Hingga mereka sampai di ruangan yang bertuliskan Dr. Maimunah.


Dibukanya ruangan itu dan menampilkan kesan yang minimalis, tapi di mejanya sangat banyak permen, cemilan seperti cokelat. Mai memang sengaja mempersiapkannya untuk para pasien. Secarakan dia memang dokter anak.


" Wah... Permen... ". Dion langsung lari kedalam saat melihat cemilan manis itu.


Mereka berdua kemudian duduk di sofa ruangan, dengan Dion yang berada di samping Mai.


" Jadi, kenapa Dion nangis tadi? ".


Dion pun menceritakan semuanya... Katanya, ia datang bersama pamannya bukan kedua orangtuanya. Saat mereka akan masuk kedalam rumah sakit, pamannya malah ingin ke toilet dan menyuruh Dion menunggu nya di depan pintu masuk rumah sakit.


Dan Dion hanya mengangguk, tapi karena Dion melihat sesuatu yang menarik baginya di tempat parkir, tanpa ragu ia langsung berlari kearah nya. Namanya juga anak kecil, pasti sukanya keluyuran kemana-mana.


Saat akan kembali, ia lupa jalannya dan ada banyak orang asing yang melihatnya semakin membuat dirinya takut.


Ada beberapa orang yang bertanya atau ingin membantu Dion, tapi karena takut Dion malah semakin menangis saat ditanya dan alhasih orang-orang yang ingin membantu nya meninggalkan nya begitu saja.


" Lalu kaka cantik datang dan bawa Dion makan permen ". Dia sumringah sambil ******* permen nya. Pipinya yang gembul membuatnya semakin menggemaskan.


" Ohhh gitu yah ". 'dasar pamannya tidak bertanggung jawab sama sekali, anak kecil kok ditinggal sendirian'.


" memangnya Dion mau buat apa datang ke rumah sakit? ".


" Mau periksa kaki Dion ". Sama sekali tidak melihat Mai tapi malah asik dengan permen-permennya.


" Kalo gitu gimana kalau kaka dokter yang periksa? ". Saat Dion tadi mengatakan kalau kakinya ingin diperiksa, Mai langsung sadar kalau dia punya pasien yang bernama Andion Raymond yang akan diperiksa nya.


" Memangnya bisa? ". Wajah polos Dion benar-benar sangat menggemaskan. Ia memiringkan kepalanya dengan masih mengunyah permen nya. Sungguh menggemaskan


" Pastinya, kan kaka dokter. Oh iya nama lengkap Dion siapa? Pasti bagus kan ". Hanya untuk memastikan kalau anak didepannya memang pasiennya.


" Iyalah, nama Dion. Andion Raymond. Baguskan ". Membanggakan namanya.


" Kalo gitu sini kaka periksa ". Dengan senang hati Dion mengangguk dan memberikan kakinya untuk diperiksa.


Setelahnya Mai membersihkan sisa-sisa obat di kaki Dion.


" Nah udah selesai ".


" Udah kaka cantik? ".


" Udah say.... ".


Ceklek..


" Dion... Dion... Disini rupanya kamu ". Seorang pria tampan datang dan langsung berteriak-teriak di ruangan Mai.


" Paman.... ". Langsung berlari ke pria itu. Dan dengan sigap Alan menundukkan dirinya dengan bertumpu pada kedua lutut nya, lalu merentangkan kedua tangannya.


Dion langsung lari kedalaman pelukan Alan. Dramanya sudah melebihi sinetron.


'dia paman nya... Wah orang nya pasti merepotkan. Mana lebay lagi'.


" Ehemmm ". Sudah cukup lama drama alay pertemuan kembali mereka dimulai, dan belum usai-usai juga.


Alan berdiri dan menggendong Dion


'gile! Cantik'. Alan sempat terpesona melihat kecantikan Mai. Diliriknya sebuah tanda nama di jas dokter Mai yang bertuliskan Dr Maimunah, yang membuat mata Alan membulat sempurna.


'namanya Maimunah... Tipe gue'.


" Apa anda paman dari Dion? ". Mai membuka suara dan kembali ke mode datarnya.


" Ah! Iya ". Mencoba untuk tersenyum semanis mungkin.


'Menjijikkan'.


" Dion.. bisa tunggu diluar dulu gak? Kaka dokter mau bicara sama paman Dion ". Mai tidak mau imejnya rusak di mata anak-anak.


Dion melirik melihat Alan dan dengan cepat Alan mengangguk. 'rupanya kelinci kecil, mau bicara empat mata yah. Apa sudah terpesona dengan kegantengan gue'. Siap-siap saja jatuh.


Alan kemudian menurunkan Dion. Setelahnya barulah Dion keluar, ditemani seorang perawat yang entah datang dari mana.


Hening....


" Ehemm dok ter... ". Mencoba untuk sekeren mungkin, tapi kata-kata nya langsung terpotong.


" Anda sebenarnya tahu dalam merawat anak kecil tidak? Membiarkannya sendiri di pintu masuk, menurut anda itu tindakan yang benar! ". Mai langsung mengeluarkan unek-uneknya.


" Eh!? .. eh!?? ".


" Bagaimana kalau Dion tidak bertemu saya dan malah bertemu dengan orang yang tidak baik! Apa anda bisa tanggung jawab!! , Sebaiknya anda tidak perlu membawanya kalau hanya ingin meninggalkan nya ". Ia masih belum cukup mengeluarkan unek-uneknya.

__ADS_1


" Tu.. tunggu dulu... Saya bisa jelasin... ".


" Jelasin apa!! Ingin berdalih kalau itu bukan salah Anda dan salah Dion?! yang pergi begitu saja. Dion itu masih kecil tidak tau mana yang benar dan mana yang salah ". Mai terus saja mengoceh.


'ya ampun galaknya. Tapi imut banget kalo lagi marah-marah kaya gini'. Bukannya takut malah senang. Please minta ditabok.


'rupanya bukan kelinci kecil yah. Lebih seperti serigala manis'. Alan bahkan tersenyum yang tentu saja membuat Mai makin marah.


Deg...


Hati Alan serasa gentar saat ia melihat Mai 'cinta ini mah! Fix cinta... Gile!!! Gue jatuh cinta pada pandangan pertama'. Sangking berpengalaman nya, ia bisa tau kalau dia sedang jatuh cinta


" Anda dengar tidak? ". Nafas Mai ngos-ngosan, sudah capek dia berceloteh terus.


" Dokter... ". Tidak menjawab dan malah asik senyum-senyum sendiri.


'apa-apaan orang ini'


" iya ada apa? ". Ketus Mai


Alan langsung berlutut " Dokter maukah engkau jadi ibu dari anak-anakku di masa depan? ". Ea... Langsung dilamar dong.


" Ha!!!? ". Terkejut? Tentu saja. Tapi karena Mai orangnya memang datar datar saja... Yah ekspresinya juga datar.


" Maaf tolong jangan bercanda, dan tolong berdiri ". Dia bukan ibu dari seorang anak malin Kundang, sampai-sampai di perlututkan oleh seseorang.


" Bercanda? Saya tidak becanda dokter. Ini memang lamaran dadakan, Tapi inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama, dan maaf karena tidak bisa memberika lamaran yang layak ".


'sandal... Mana sandal Please atau apapun itu, berikan padaku. Ingin ku pakai buat nampol orang ini'.


" Kalau anda hanya ingin berdalih, tidak perlu sampai menghilangkan harga diri anda sendiri ".


Mai mengira jika Alan sengaja melakukannya agar ia tidak dapat semburan lagi.


Alan bangun " saya tidak berdalih dokter, saya serius ". Memperlihatkan wajah seriusnya.


Dan Mai menatap nya datar " sebaiknya kita bicarakan tentang keadaan kaki Dion ". Mai lebih memilih berbalik dan duduk di mejanya.


" Silahkan duduk tuan ". Mempersilahkan Alan untuk duduk. walaupun masih tidak terima karena lamaran nya di anggap bercanda, dengan senang hati Alan tetap duduk.


" Jadi... Penyakit yang menyerang kaki Dion itu adalah penyakit kulit, yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan sangat mudah menular. Penyakit ini memang sulit untuk dihilangkan, walaupun nanti hilang, beberapa bulan atau bahkan tahun pasti akan datang lagi ". Mai menjelaskan penyakit kaki Dion, dengan sungguh-sungguh. Seperti lamaran dadakan tadi memang tidak terjadi.


" Hmm.. hmm ". Alan hanya mengangguk dengan senyuman manisnya yang tidak pernah hilang.


'gila nih orang'.


" Jadi... Saya sarankan, agar kaki Dion selalu dibersihkan setiap saat. Misalnya saat pagi hari, siang, hingga saat akan tidur. Tapi pakai air hangat saja. Dan elus-elus pelan-pelan ". Tidak ingin memikirkan orang didepannya. Karena jika ia memikirkan nya sudah terbang tangannya ke pipi Alan.


" Hmm baik... Kalo saya yang minta di elus bisa gak? ". Memperlihatkan senyuman yang menurut nya sangat manis.


Dan tentu saja seperti biasa, Mai akan memperlihatkan wajah datarnya, tapi sekarang ditambah dengan tatapan malasnya.


'ahhhkk manis nya... Wajah datarnya benar-benar manis'.


Mai menunduk dan menulis sesuatu lalu memberikan nya pada Alan " tolong tebus obat ini, di apotek atau tempat penjual obat yang anda tahu ".


Dengan senang hati Alan menerimanya " saya kira surat cinta ".


Mai masih memperlihatkan wajah datarnya " sekarang anda bisa pergi, dan tidak usah datang kembali ". Sifat nya yang asli akhirnya keluar.


" Bukan Anda, saya punya nama. Alan Raymond! Panggil aku Alan. Gak usah formal-formal, lagian sebentar lagi kita bakalan nikah kan ". Dengan sangat percaya dirinya Alan mengatakan nya.


" Tuan, jika anda bicara lagi sumpah saya akan melakban mulut anda ". Sekarang Mai sudah marah.


" A.. ".


" Paman.. kaka cantik ". Dion masuk kedalam ruangan Mai.


" Sini Dion ". Alan langsung membawa Dion ke pangkuannya.


" Kaka cantik kenapa marah-marah? ".


" Kaka gak marah kok Dion, cuman kesal doang sama paman mu ".


Dion melirik melihat Alan yang dari tadi menahan tawanya " paman Alan, apa yang paman lakuin sama kaka cantik ".


" Gak ada, kaka cantik cuma becanda ".


" Tuan Alan, apa bisa anda tidak berdalih lagi. Dan segera pergi dari ruangan saya ". Mai sudah tidak memikirkan imejnya lagi.


Alan menghembuskan nafasnya kasar


" sudah saya bilang dokter.. kalau saya tidak berdalih dan serius. Tapi sudah deh, lain kali saya datang lagi. Bay.. bay.. Maimunah ku Assalamualaikum ". Melambai-lambaikan tangannya dan memberikan kecupan jarak jauh Yang sontak membuat Mai bergidik ngeri.


" Waalaikum salam ". Walaupun kesal, Mai tetap menjawab salamnya.


Sedangkan Dion hanya mematung melihat kedua manusia dewasa di depanya.


Alan pergi begitu saja dari ruangan Mai dengan senyuman yang tidak pudar dari bibirnya. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama, hanya saja waktu yang diberikan Andra sangat sedikit dan hampir selesai.


Dengan terpaksa ia harus pergi setelah lamaran dadakannya, tapi ia berjanji akan datang kembali.


" Haaaaa!!!!!!? ". Mai tidak habis fikir dengan orang di depannya tadi, bahkan ia baru pertama bertemu dengannya. Dan langsung melamarnya begitu saja.


" Apa-apaan tuh orang. Sumpah tadi pengen aku tabok ".


" Jadi segini kesal nya yah, kalau ada orang yang gak kenal langsung nyatain cinta gitu ajah. Mana bilang cinta pada pandangan pertama lagi ". Dalam seumur hidup Mai, baru pertama kali ada seseorang yang menyatakan cinta secara terang-terangan padanya, tapi Mai bahkan tidak mengenal orang itu.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya, jangan lupa dengan hadiahnya 😗

__ADS_1


__ADS_2