Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Asal Istri Bahagia


__ADS_3

Setelah membantu memasak, Laras kemudian naik kembali ke kamarnya untuk mandi dan sholat Maghrib tentunya.


" Ah.. mas Andra ". Saat baru buka pintu ternyata suaminya sudah ada di sofa sambil memainkan ponselnya. Rambutnya juga terlihat masih basah, mungkin baru selesai mandi.


Andra meletakkan ponselnya " udah bantu nya? ".


Andra tahu kalau istrinya itu pasti membantu para pelayan untuk menyiapkan makanan


" Udah mas, kalo gitu Laras mau mandi dulu ". Dan diangguki oleh Andra


Mereka pun sholat Maghrib berjamaah, yah seperti biasanya saat selesai Sholat, Laras akan mencium tangan kanan Andra dan Andra akan kembali mencium kening Laras.


" Mas aku kebawah lagi dulu yah ".


" Hmm? Ngapain? ".


" Mau bantu-bantu mas ".


" Emangnya belum yah? ". Andra mulai kesal, bukan karena Laras meninggalkan nya, tapi bagaimana jika Laras kecapekan karennya?


" Nanggung mas ". 'aduh kok mas Andra kayanya marah yah, aku salah ngomong apa lagi sih'. Menunduk


" Haaah.. oke terserah kamu saja ". Mending di izinkan saja, karena kalau ditolak juga memang nya Laras akan mendengarkan.


Laras mendongak dan tersenyum " makasih mas ". Dan diangguki oleh Andra. Laras pun langsung bergegas ke dapur. Andra yang melihatnya hanya bisa tersenyum 'melihatmu semangat seperti itu, siapa yang bisa menolak mu sih'.


Di dapur


" Assalamualaikum teman-teman ". Niat Laras mengagetkan mereka, tapi karena mereka bertiga sudah biasa. Jadinya terlihat biasa-biasa saja.


" Waalaikum salam nona ".


" Udah selesai? ". Melihat kearah makanan, yang sudah siap untuk di hidangkan.


" Sudah nona ". Bi Siti mengangkat beberapa piring untuk di bawa ke meja makan


" Kalo gitu aku juga bantu bawa makanannya yah ". Semoga diizinkan


" Baik nona, terserah anda saja ". Lagian mereka juga tidak bisa menolak nona mudanya itu.


Laras kemudian membantu bi Siti mengangkat beberapa makanan untuk dihidangkan di meja makan, karena sekarang mama Ani dan papa Rangga sudah pulang, maka makanan yang di hidangkan cukup banyak.


Laras dan bi Siti, beserta beberapa pelayan masih mengangkat beberapa makanan, hingga nampan terakhir Laras lah yang membawanya ke meja makan. Saat Laras sampai di meja makan rupanya mama Ani dan papa Rangga sudah terlihat menuruni tangga bersama. Karena kamarnya berada di lantai dua, jadi tidak perlu sampai pakai lift pikir mereka.


Mereka berdua terkejut melihat anak mantu kesayangannya itu sedang melakukan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh pelayan. Dengan langkah cepatnya mama Ani menghampiri Laras yang tengah asik menyusun dan menata makanan di atas meja.


Laras yang mendengar derapan langkah kaki menghampiri nya dengan cepat, sontak membuatnya menoleh dan mendapati mertuanya yang berjalan cepat ke arahnya.


" Mama sama papa udah turun. Yuk kita makan bareng ". Memperlihatkan senyuman manisnya. Sebenarnya Laras heran melihat mama Ani yang buru-buru datang ke meja makan.


'apa orang kaya juga pernah merasa selapar itu yah, Sampai-sampai langkah mama Ani cepat banget'.


Mama Ani yang sudah sampai di depan Laras langsung memegang tangan Laras dan membuat Laras harus memberhentikan aktivitasnya. " Ada apa ma? ". Tanya Laras 'ada apa lagi nih?'.


" Apa yang kamu lakukan sayang? Ngapain angkat-angkat nampan segala? Kamu bukan pelayan loh ". Dia tahu kalau Laras memang berbeda dengan wanita-wanita kebanyakan, tapi tidak mungkin kan Laras punya hobi jadi pelayan. Apalagi saat melihat pak Rin biasa saja melihatnya, sedangkan para pelayan lain malah ketakutan kalau nyonya nya itu marah.

__ADS_1


" Apa lagi mah, Laras lagi nyusun makanan. Bantu-bantu pelayan ". Jawabnya santai dan hendak menata kembali makanan di meja makan. 'aku kira kenapa, rupanya bukan masalah penting'. Tenangnya Laras, bukan berarti tenang dalam batin para pelayan yang ikut membantu menata makanan.


'mati kita'. Bukan salah para pelayan kan. Laras saja yang keras kepala


" Ras, ya ampun sayang gak perlu sampai-sampai bantu pelayan sampai seperti ini juga ".


" Gak pa-pa mah, Laras juga senang-senang ajah ". Seketika pikiran mama Ani semakin membenarkan perkataan nya bahwa sepertinya anak mantunya itu memang punya hobi menjadi pelayan. Pikirannya benar-benar sudah tidak terkendali.


" Tidak perlu ras.. kan ada pelayan ". Papa Rangga juga ikut menimpali yang kemudian duduk di salah satu kursi.


" Iya itu benar nak ". Menarik tangan Laras untuk ikut duduk.


" A... ".


" Biarin ajah mah ". Tiba-tiba Andra datang, dia tahu walau bagaimanapun istrinya itu dilarang, tetap saja dia tidak akan mendengarkan.


" Apa-apaan sih kamu Andra, bukannya melarang ini malah ngebiarin ajah ". Mama Ani kemudian berdiri kembali dengan mengomel. Kedua pasutri itu benar-benar aneh.


" Yah, mau gimana lagi dilarang juga gak guna ". Menarik kursi dan duduk di samping Laras.


Laras yang mendengar perkataan Andra pun menunduk. Menyesal, merasa dirinya tidak menjadi istri yang baik.


" Tapi kan Andra... ".


" Yang penting istri Andra senang. Itu udah cukup ". Lanjutnya dan terpaksa harus memotong kata-kata mama Ani.


Laras kemudian mendongak dan menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. Terharu. Papa Rangga yang sedari tadi hanya menyimak, akhirnya membuka suara.


" Kalo gitu gak pa-pa. Asal istrimu bahagia, itu malah lebih bagus ". Mama Ani melihat suaminya dengan tatapan penuh tanya dan tidak percaya. Padahal dia dulu yang selalu melarangnya membantu pelayan atau beraktivitas di dapur, dengan alasan 'kan ada pelayan'. Tapi sekarang malah mengizinkan anak mantunya. Sungguh sulit dipercaya.


" Ayo mah duduk, kita makan ". Menarik kursi di sampingnya. Mama Ani pun terpaksa duduk


Setelah makan, tapi masih di meja makan


Andra membuka suara


" Ma.. pah.. kan mama sama papa udah pulang nih ". Menggantungkan ucapannya. Kelakuan ala sinetron seperti nya lebih mendominasi.


" Iya terus? ".


" Jadi Andra pengen bawa istri Andra buat tinggal di rumah Andra ". Secarakan dia sudah punya rumah sendiri.


" Ha??!... Kok tiba-tiba sih, baru juga mama pulang rumah tadi, dan sekarang kamu udah mau pergi ajah gitu? ". Oh... Tidak semudah itu Ferguso...


Andra mengangguk mengiyakan.


" Bukannya itu terlalu buru-buru? Kalian bisa tinggal disini saja ". Papa Rangga juga ikut angkat bicara, dan sialnya ia malah mendukung istrinya. Ya iyalah jaga-jaga agar tidak tidur di luar kamar.


" Kalo kamu ras, gimana menurutmu? ". Beralih melihat Laras.


Laras melihat mama Ani dan papa Rangga secara bergantian, dan yang dilihatnya sedari tadi memberikan kode agar menolak usul Andra. Mending kerja sama dulu sama mantunya itu, karena mereka yakin, Keputusan tergantung dengan Laras.


Kemudian Laras melihat suaminya, yang ternyata dari tadi memang melihatnya, menanti jawaban nya. Berharap semoga jawaban yang di berikan Laras kali ini, tidak berbeda dengan saat dikamar tadi.


" Hmmm ". Lagi-lagi Laras harus menanggung beban, bimbang

__ADS_1


" Kalo Laras nurut suami saja pah ". 'pengen nolak, tapi udah janji'. Senyuman Andra langsung mengembang, rasanya dia sudah menang. Tapi berbeda dengan mama Ani dan papa Rangga yang terlihat kecewa.


" Tapi, gimana kalo kita pindah nya minggu depan ajah mas ". Secarakan ia baru pertama kali bertemu mertuanya. Dan langsung diangguki Andra, tanpa basa-basi. membuat Laras heran sendiri. Tapi mama Ani sontak beriang gembira, dalam hati pastinya. Kan... Semua keputusan berada di tangan Laras.


Andra juga tidak tega menolak permintaan istrinya itu. Selagi dia bisa, pasti dikabulkan. Bahkan jika bulan bisa diambil, sudah lama Andra ambil dan diberikan pada istrinya.


Setelah selesai makan malam, mama Ani dan papa Rangga memilih untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan Andra menuju ruang kerjanya.


" Mas tunggu dulu ". Laras memanggil Andra, dan membuat yang dipanggil menghentikan langkahnya lalu berbalik. Perasaan Andra benar-benar bahagia saat Laras memanggil nya. 'kalo Laras pengen ditemanin nonton, dengan senang hati mas gantengmu ini temanin'. Pedenya benar-benar setinggi gunung Everest. Belum tahu saja kalo jatuh itu sakit. padahal kerjaannya masih banyak.


" Hmm ada apa? ". Menaikkan sebelah alisnya. Sikap sok kerennya kembali lagi. Sialnya dia memang keren.


" Mas, besok Laras masuk kerja kan? ".


Duarr...


Pedenya langsung jatuh ketempat yang paling rendah, sampai ke Palung Mariana. Sakit.


Istrinya itu benar-benar sangat suka bekerja. Rasanya Andra ingin melarangnya, lagian uangnya juga sudah banyak kalau hanya untuk kebutuhan istrinya. Bahkan sampai beberapa istri pun dia bisa. Astaghfirullah... Jangan sampai memadu istrimu sendiri, tapi itu tidak mungkin sih.


" Memangnya harus bangat yah kamu kerja? ". Andra mencoba melarang Laras, semoga usaha mu berhasil.


" Eh?... Tapi kan mas udah janji ". Lirihnya menunduk, suaranya sangat pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Andra.


Andra yang melihatnya menjadi tidak tega sendiri. Dia memang tidak bisa menolak keinginan istrinya itu. " Haaah.. baik saya izinkan kamu.. " sontak Laras mendongak dengan wajah berbinarnya. 'wisss langsung senang dong'


" Tapi ada syaratnya ". Laras memiringkan kepalanya dengan wajah polosnya dia bertanya.


" Syarat apa mas? ". Menaruh telunjuknya di dagunya.


Andra yang melihatnya jadi gemas sendiri 'ya Allah gemes banget.... Gila!. manisnya makhluk ciptaan mu ini ya Allah'.


" Uhuk.. uhuk.. " andra mencoba untuk tenang. Dia kemudian memajukan pipi kanannya ke arah Laras, sontak Laras memundurkan kepalanya. 'ada apa nih? Gak minta di cium kan. Hahah mana mungkin'.


" Ada apa mas? ".


Andra mengetuk-ngetuk pipi kanannya. " Cium, baru saya izinkan ". Perkataan Laras kena sasaran.


" Ha?? ". 'gak salah nih?'


" Gak mau nih? Yaudah kalo gitu gak usah pergi kerja ". Menarik kembali wajahnya dan hendak melangkah.


" Tunggu.. ". Memegang lengan kekar suaminya.


" Hmmm? ".


" Ba... Baik ". Pipinya sudah menjadi merah. Suaminya itu benar-benar sangat suka menggodanya.


Andra langsung tersenyum. Dengan cepat Laras menarik lengan suaminya dan jinjit lalu langsung mencium dengan cepat pipi kanan Andra.


" Su.. sudah jangan lupa janji mas ". Tidak berani melihat Andra. Setelah mengatakan nya Laras langsung pergi kembali ke atas kamar nya.


Sedangkan Andra masih mematung sambil memegang pipi kanannya sambil senyum-senyum sendiri. 'ah... Istriku manis banget'. Lalu melangkah menuju tempat tujuan nya dari tadi.


Para pelayan yang melihatnya tersenyum malu-malu dan senang. Dan juga kejadian itu semua tidak luput dari pandangan dua orang tua, yang ternyata sedari tadi melihat anaknya dan mantunya yang sangat romantis.

__ADS_1


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen dan vote nya. oke.. oke.. oke-in ajah yh😗


__ADS_2