
Di parkiran rumah sakit sudah terdapat 2 buah mobil yang bukan kaleng-kaleng tentunya. Mewahnya sudah jangan ditanya lagi.
" saya ada urusan sebentar di kantor, kamu pulang sama supir dulu ". Ucap Andra kepada Laras, yang hanya di angguki olehnya.
" Kalo begitu saya pergi dulu, Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Salam, wajib dijawab bukan.
Sebelum pergi, Laras melihat Andra mebisikkan sesuatu kepada supir yang akan membawa Laras kerumahnya, entah apa yang dibisikkan nya.
Dan terlihat jika sang supir tiba-tiba tubuhnya bergetar dan mengangguk dengan cepat. Apa dia di ancam? Tapi kenapa? Pikir Laras.
Andra kemudian masuk kedalam mobilnya yang sudah siap disupiri oleh Alan. Wah, rupanya profesi Alan bukan hanya menjadi asisten tetapi menjadi supir juga yah.
Setelah kepergian mobil Andra, barulah sang supir membukakan pintu mobil untuk Laras, sebenarnya Laras tidak enak di berlakukan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi sekarang dia sudah jadi nona muda di keluarga Ansari. Keluarga yang sangat berkuasa. Siapa sih yang tidak mengenal keluarga Ansari di negaranya
" Silahkan Nona ". Mengangkat tangannya, seperti mempersilahkan Laras untuk masuk. Anehnya sang supir malah menunduk dan seperti tidak berani melihat Laras.
" Terima kasih pak ". Laras kemudian masuk di jok belakang. Laras tidak ingin terlalu memikirkan nya. Dan mobil pun melaju membelah jalanan kota yang tidak terlalu padat itu. Sekarang masih jam sibuk, semua orang sedang berada di tempat kerjanya, karena itu jarang mobil di jalanan.
Di dalam mobil hening... Tidak ada yang memulai pembicaraan, Laras lebih memilih melihat ke luar jendela. Tiba-tiba tatapan nya melirik melihat supir itu.
" Bapak namanya siapa? ". Berniat memecah keheningan
" Sa.. saya Supri nona ". Jawabnya gugup, sama sekali tidak ingin melihat Laras.
" Oh.. pak supri yah ". 'namanya sebelas duablas ama profesinya' " kalo saya Laras pak ". Memperkenalkan dirinya, padahal sang supir sudah tahu.
Pak Supri hanya mengguk, entah mengapa tiba-tiba saja keringat pak Supri keluar membasahi keningnya. Laras yang menyadari nya pun mencoba untuk bertanya. " Pak Supri tidak pa-pa? ". Mencondongkan badannya kedepan. Dia kira pak Supri sedang tidak enak badan, tetapi karena kerjaannya tidak bisa ditinggal makanya dia memaksakan dirinya.
" Saya ti.. tidak apa-apa nona, mohon untuk mundur kembali nona ". Ucapnya gugup, sebenarnya ada apa yah.
" Beneran gak pa-pa pak? ". Akhirnya mundur kembali ke posisinya semula.
" Iya nona ". Jawabnya sih begitu, tapi tubuhnya bergetar dan keringat dingin kembali jatuh di keningnya, bahkan baju di punggung nya terlihat basah karena keringat. Apa karena panas? Seperti nya bukan, AC di dalam mobil sedang menyala, jadi ada apa?
Jawaban pak Supri sama sekali tidak memuaskan bagi Laras.
" Tapi bapak berkeringat loh, apalagi banyak tuh. Beneran gak pa-pa? ".
" Gak pa-pa nona ".
" Tapi pak, keringat bapak beneran banyak loh, sebentar ". Ucapnya dan merogoh sesuatu dari dalam tasnya " ini pak, sapu tangan buat lap keringat bapak ". Menyodorkan sebuah kain berwarna army dengan bergambar kepala kucing di sudutnya.
Pak Supri melirik sekilas kearah sapu tangan, tiba-tiba keringat nya malah semakin banyak
" Tidak perlu nona, saya baik-baik saja ". Bagaimana nanti dia menjelaskan ke Andra jika sampai dia mengambil sapu tangan itu.
Laras kembali menarik sodoran tangannya. Dan diam, dia tidak ingin lagi berbicara. Dia merasa diabaikan dan tidak di hargai. Bagaimana lagi hanya ada pernikahan kontrak di antara dia dan bosnya pikirnya. Laras terlalu banyak pikiran hingga yang tidak mungkin menjadi mungkin menurutnya.
Di dalam mobil kembali hening... Hingga
__ADS_1
" Pak berhenti di apotek nanti ".
" Baik nona ".
Tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah apotek, Laras pun turun dan hendak berjalan memasuki apotek.
" Eh.. biar saya saja nona ". 'Kalo pak Andra tau nona kecapean bisa habis aku'. Wah rupanya benar-benar diancam rupanya.
" Gak pa-pa pak, biar aku saja ". Langsung pergi meninggalkan Pak Supri.
" Tapi non... ". Suaranya sudah tidak di dengar oleh Laras yang sudah masuk kedalam Apotek.
Tak lama kemudian Laras kembali dengan membawa kantong plastik berwarna putih dan sedikit transparan, yang terlihat sekali didalamnya berisi obat. Tapi, obat untuk siapa?
Dengan raut wajah khawatir dan panik pak Supri mendekat " nona, apa nona tidak apa-apa? Apa ada yang sakit? Nona sakit apa? Tidak ada yang sakit kan? ". Tanyanya berturut turut, benar-benar sudah tidak sambung. 'aduh.. ya Allah gusti, moga ajah nona Laras gak sakit, kalo enggak aku yang harus siap dirawat di rumah sakit nih'. Melap keringat yang semakin banyak jatuh di keningnya. Pikirannya sudah melayang, dia membayangkan dirinya menjadi gelandangan. Bukan hanya itu dia juga membayangkan dirinya menggunakan baju berwarna biru khas baju pasien di rumah sakit. Benar-benar mirip seseorang yang suka sekali membayangkan yang tidak-tidak.
Laras diam dan sama sekali tidak menjawab, membuat pak Supri semakin dilanda kepanikan. Baru juga satu kali bertemu sudah terjadi kejadian seperti ini, bagaimana selanjutnya. Sudah tidak bisa dipikirkan lagi.
Tiba-tiba Laras menyodorkan kantong yang berisi Obat tadi pada pak Supri " ini pak, obat untuk pak Supri. Semoga lekas sembuh yah pak ". Rupanya Laras juga sudah salah paham terhadap pak Supri. Bagaimana tidak tubuh pak Supri saja sudah seperti habis mand, keringat nya sangat banyak. Siapa sih yang tidak akan berpikir jika dia sakit.
Pak Supri mau tidak mau mengambil kantong yang disodorkan padanya. Jangan sampai membuat tangan nona nya itu pegal " jadi, nona tidak sakit ". Tanyanya. Masih terkejut dia.
" Hahaha tidaklah, aku sangat-sangat sehat ". Tersenyum lebar hingga Memperlihatkan giginya yang putih dan rapi. Menurutnya pak Supri sangat lucu, kalau dia anak-anak sudah dicubit pipinya.
" Haaah.. syukurlah.. nona Laras tidak apa-apa ". 'Dan saya juga selamat'. Mengehela nafas lega.
'sepertinya tuan muda tidak salah memilih pasangan'. Tersenyum tipis, yang membuat Laras merasa jika pak Supri sudah menerimanya.
" Iya, ayo ". Semangat sekali dia. Walau bagaimanapun pak Supri sudah menerimanya, pikirnya. Padahal dari awal pak Supri memang sudah menerima nya. Lagi pula, memang nya harus yah, pak Supri menerima nya. Pak Supri juga tidak ada hak untuk menolaknya.
Mobil pun melaju kembali dan menuju ke rumah Andra.
............
Sedangkan di sisi lain. Ralat maksudnya mobil yang lain, yaitu mobil yang ditempati Andra dan di supiri oleh Alan.
" Bagaimana? Lo udah ngebungkam semua paparazi gak jelas itukan ".
" Hahaha tenang ajah bos, semua beres. Done lah ". Mengacungkan jempol kirinya, sedangkan tangan kanannya masih di letakkan di kemudi.
" Makanya nah yah, kalo mau tampil dipublik hati-hati jangan lari-lari kaya waktu itu. Untung gue langsung bisa dapat paparazi yang ngikutin kita, kalo enggak foto lo pasti udah viral. CEO Anastasia Corp sedang lari di koridor Rumah Sakit, nah isinya pasti kek gitu tuh. Untung lo waktu itu masih bisa jaga imej kan ". Nasehat nya panjang kali kebar.
" Iya... Iya... Sewot banget sih lo, kaya mama gue tau gak ". Ketus Andra
" Ye... Dinasehatin malah marah ". Salah sendiri menasehati sih tuan muda.
" Gue baru ingat, tadi lo bisikin apa ama pak Supri". Mellirik melihat kaca spion di depannya dan melihat Andra dibelakang yang sedang menatap luar jendela.
" Hmm gak ada ". Sangkalnya
Alan Melihat Andra di dalam spion dengan intens yang membuat Andra salah tingkah dan risih.
__ADS_1
" Gak usah liat-liat gue kaya gitu deh, fokus ajah ama jalanan ". Mengambil botol air minum di dalam kantong belakang kursi mobil. Dan langsung meminumnya
" Lo gak ngancam pak Supri kan... Hahaha itu gak mung... ".
Pfffffuuuuf... " Uhuk... uhuk.. uhuk.. ". Semburan pencerahan air minum keluar dari mulut Andra yang sedang minum tadi, yang mau tidak mau harus memotong perkataan Alan.
" Woi... Bujank santai ajah minumnya... ". Teriak Alan " tunggu dulu... Jangan-jangan lo emang ngancam pak Supri ". Memicingkan matanya melihat kearah spion depan, melihat Andra yang membersihkan mulutnya.
" gue cuman ngingatin doang, agar pak Supri jaga mata bukan ngancam ".
" Astaghfirullah bambank, mana berani pak Supri ngapa-ngapain nona muda nya sendiri. Apalagi nih yah, mana mau Laras ama pak Supri. Ngerti ??! Kan Markonah! ".
" Cik, buat jaga-jaga doang napa sih ".
" Jaga dari apa coba. Gadis sesholehah kaya Laras mana mungkin main mata, Udin!! ". Nama yg disebutkan nya ganti lagi.
" Lo lagi ngabsen nama-nama sekelas kita dulu. Nama gue tuh yah Andra. A-N-D-R-A ". Mengeja huruf namanya agar asistennya nya itu bisa menyebutnya dengan benar. Padahal kan itu disengaja.
" Eh.. ketahuan yah ". Nyengir kuda, tapi bukan kuda beneran. " Tapi lo masih ingat yah ". Padahal itu sudah sangat lama.
" Ya, iyalah itukan nama-nama khas Indonesia. Bukan kaya sekarang yang wajahnya khas Indonesia, tapi namanya kaya dari Eropa ajah ". Perkataan CEO itu benar-benar tepat.
" Hahah untung nama kita enggak Indonesia-an banget, tapi gak dari luar negeri juga yakan ". Bangga sendiri Alan
Andra melihat sinis Alan " gak nyadar nama lo Alan Raymond ". Menekankan namanya
" Gak usah bawa yang dibelakang nya kan. Kalo cuman yang didepan nya udah kek nama-nama Indonesia banget kan ".
" Nama lu kan emang gitu ".
" lo gak suka yah ama nama lo ". Memicingkan matanya. Siapa tahu dugaan nya benar.
" Astaghfirullah.... Mana mungkin lah, suka gak suka yah harus suka lah. Itukan nama yang diberi ama mother and father gue ". Lebaynya sudah tidak ketulungan.
" Nah, trus... Kenapa coba! Gak mau kalo gue sebut nama lengkap situ ".
" Kan biar kek orang Indonesia banget, secara gue kan cinta tanah air, apalagi gue warga Indonesia asli. Tulen lagi ". Semangat empat limanya tiba-tiba keluar. Benar-benar orang lebay plus alay.
" Terserah lo ajah deh ". Malas melihat Alan dan lebih memilih melihat kearah luar jendela.
Tiba-tiba senyumannya berkembang, saat mengingat saat-saat ijab qobul nya tadi. Apalagi pas dia mencium kening Laras. Wah... Senangnya sudah tidak terhitung.
" Cie.... Yang lagi seneng banget nih, habis nikah dadakan. Dirumah sakit lagi hahahhahah ". Ini memuji atau mengejek sih.
" Yaelah... Iri bilang bambank ". Mengalihkan pandangan nya melihat Alan. Damagenya benar-benar sampai ke ulu hati.
" Cih... ". Ketus Alan. Senjata makan tuankan jadinya. Tadi dia yang ingin mengejek malah balik dia yang kena. Nusuk sampai ginjal nya.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen dan vote nya. kasih yang banyak 😗.
__ADS_1
oke?.. oke?.. oke-in ajah yak😂