Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Cek Up


__ADS_3

Satu bulan berlalu...


Tidak terasa kini kandungan Laras sudah masuk tiga bulan. Walaupun masih lemah dan kadang Laras masih merasakan morning sick, tapi sudah tidak terlalu.


Tiap minggu Laras di temani Andra selalu rutin mengecek kandungan Laras. Walaupun Andra sibuk sekali pun, ia harus selalu siap sedia menemani Laras.


Katanya walau badai menerjang.. ia tidak akan melewatkan cek up istrinya. Sekali lagi! Walau bagaimanapun Andra lah yang menanam sahamnya, jika sudah tumbuh maka dia harus bertanggung jawab.


" oh yah sayang besok jadwal cek up mu kan? ". Mengelus-elus surai panjang Laras yang berada dada nya sekarang, sedangkan dirinya bersandar di pan ranjang.


Laras mendongak " iya ". Singkatnya.


" Mas temani yah ".


" Hmm ". Tidak usah di tanya lagi. Karena pasti Andra akan siap selalu. Laras Kembali ke aktivitas nya.


" Kok hmm ajah sih ". Mencoba menghentikan aktivitas Laras.


" Mas... Jangan di tarik ". Menarik kembali tangan Andra untuk di mainkan.


" Oke... Oke.. ". Sang ibu negara sudah marah! Tidak boleh di bantah, dan akhirnya harus pasrah.


'kayanya tangan gue lebih menarik daripada pemilik nya'.


" Kira-kira anak kita cowok apa cewek yah ". Mengelus perut Laras.


Laras menghentikan aktivitas nya dan mendongak melihat Andra " mas mau nya yang mana? ". Ucapnya


" Kalo mas sih terserah, mau cowok apa cewek yang penting anak kita lahir dengan selamat dan dalam kondisi sehat. Beserta ibunya juga ". Mencium kepala Laras.


" Hmm aku juga berharap begitu ".


" Aamiin .... Yaudah yuk tidur ". Laras mengangguk.


Laras pun memperbaiki posisinya di bantu oleh Andra. Setelahnya, barulah Andra ikut tidur di samping Laras sembari memeluknya.


.........


Ke esokan harinya...


Sekarang di rumah sakit milik Andra sendiri. Laras dan juga Andra sudah berada di dalam, sedang berjalan menuju tempat dokter kandungan. Bukan Rasya? Bukan! Malahan Rasya yang menyuruh mereka untuk langsung ke dokter kandungan. Agar lebih efisien dan penanganan nya cepat.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua menjadi sorotan yang tak lepas dari mata orang-orang yang mereka lewati. Apalagi kaum hawa. 'mata mereka semua minta di colok'. Kesal Laras.


Laras mendongak dan melihat suaminya yang tetap stay cool mendorong kursi roda Laras. Seperti tidak melihat tatapan kagum nan lapar dari para kaum hawa.


Dan para kaum hawa seperti tidak melihat keberadaan Laras disitu. Laras bagaikan angin yang ada tapi tak terlihat.


" Sayang... Apa tidak sebaiknya aku jalan ajah yah ". Laras menaikkan satu oktaf suaranya.


Andra Terkejut, ia langsung menghentikan dorongannya. 'apa tadi. Laras manggil gue sayang?'. Menunduk melihat Laras, dan yang dilihatnya memberikan senyuman manis plus mematikan nya.


Andra meneguk salivahnya 'tanda bahaya nih'. Andra mencoba memutar pikiran nya, mencari kesalahan apa yang telah di perbuatnya sehingga Istri nya memberikan senyuman manis plus mengerikan padanya.


Andra memperhatikan sekeliling nya, dan yang dilihatnya ada banyak tatapan mata yang memandang mereka dengan tatapan iri, tidak suka, dan ada juga yang kagum. Apalagi para kaum hawa.


'Oh cemburu toh'. Terkekeh.


Andra berjalan maju ke hadapan Laras, lalu berjongkok di depan Laras. Andra menggenggam tangan Laras.


" Jangan sayang.. nanti kamu kelelahan loh. Kan kasian anak kita, mas juga gak mau kamu jadi kelelahan ". Ucap Andra. Sama, ia juga menaikkan suaranya satu oktaf. Harus mengikuti permainan yang sudah di buat Istri nya.


'hihihi kayanya mas Andra sadar deh, makasih sayang'.


" Huuffhh baiklah terserah kamu saja sayang ". Jawab Laras.


'ya Allah manis bangat'. Sepertinya apa pun yang dilakukan Laras akan terlihat manis oleh Andra.


Andra yang sudah tidak tahan, mengecup singkat bibir Laras. Kata-kata iri nan dengki mulai terdengar lagi, namun ada juga yang kagum dan malu melihat pasangan yang romantis tersebut.


" Baiklah ayo kita berangkat ". Kembali berdiri dan mendorong kursi roda Laras, tidak perlu memperdulikan orang-orang sekitarnya, karena mereka tidak penting, itulah yang di pikirkan Andra. Sedangkan Laras, ia merasa di tipu lagi.


'cik... dasar ambil kesempatan dalam kesempitan'. Dia yang mulai, tapi ia juga yang marah.


Sesampainya di ruang tunggu dokter tersebut, terlihat ada beberapa wanita, baik yang terlihat sudah tua dan berpengalaman, dan ada juga yang masih seusia Laras. Mereka semua di temani oleh seorang pria, entahlah apakah pria tersebut Suaminya atau hanya sekedar keluarga atau kerabat, atau mungkin juga hanya teman biasa.


Andra mendorong kursi roda Laras begitu saja melewati ruang tunggu dan tentunya orang-orang yang berada di ruang tunggu tersebut.


" Hei apa yang kalian lakukan. Antri dong jangan main terobos ajah ". Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka.


Sebenarnya Laras sudah merasa aneh karena tidak mengambil nomor antrian, tapi suaminya malah langsung menerobos.


Andra melihat wanita itu dengan tatapan datar dan tidak memperdulikan nya. Ia tetap melaju mendorong kursi roda Laras.


" Hei.. dasar anak muda jaman sekarang. Tidak ada sopan santun nya! ".


" Mas... Mending kita antri ajah yah ". Laras tidak ingin terjadi keributan.


" Tidak! Kenapa harus antri ".


" Hei.. benar apa yang di katakan istri mu. Harus antri ". Wanita paruh baya itu belum mau kalah.


" Bu.. mending duduk ajah yah ". Suaminya datang melerai.

__ADS_1


" Gak bisa yah. Kita udah antri disini dari tadi, tapi dia langsung datang menerobos ".


Pria paruh baya tersebut beralih melihat Andra. Matanya terbelalak, ia kaget. " Tu.. tuan muda.. ". Katanya, ia langsung menunduk.


" Tuan muda? Apaan sih yah ".


" Bu.. itu tuan muda Andra. Tuan muda dari keluarga Ansari, tempat bapa kerja ". Bisiknya


" A.. apa..!! ".


Andra tersenyum tipis melihat keterkejutan wanita tersebut.


Seorang perawat datang " selamat datang tuan muda.. ayo silahkan dokter sudah menunggu anda dari tadi ".


" Hmm ". Ucap Andra dan langsung pergi begitu saja.


" Eittsss tunggu dulu mas ". Akhirnya Laras buka suara.


Andra menghentikan langkahnya, lalu menunduk " ada apa sayang? ". Laras tidak menjawab dan malah berdiri.


" Eh! Kau mau kemana? ". Andra mencoba menahan, namun Laras tidak menghiraukan. Ia tetap berjalan menuju wanita paruh baya tadi.


" Maaf yah bu... suami saya tidak bermaksud apa-apa tadi ". Ucap Laras lembut sembari memegang tangan wanita paruh baya tadi.


" Ti.. tidak apa-apa nyonya muda... Istri saya memang yang salah ".


" I.. iya nyonya muda.. saya yang salah ".


" Sayang... Udah.. ayo kita masuk ". Andra langsung datang menghampiri Laras.


" Iya mas.. aku masuk dulu yah bu Assalamualaikum ".


" Wa'alaikum salam ".


Laras pun naik kembali ke kursi roda nya dan di dorong oleh Andra untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


" Selamat kita bu.. untung nyonya muda baik, kalo tidak habis kita ".


" Maaf yah.. ibu gak tau kalo itu tuan muda sama nyonya muda. Tapi ini pertama kalinya ibu liat nyonya muda.. cantik ya yah ".


" Iyalah.. mana baik lagi ".


Sedangkan di sisi lain...


Laras dan Andra masuk ke dalam ruangan doktet kandungan tersebut.


" Selamat datang tuan muda, nyonya muda ". Seorang wanita paruh baya berdiri menyambut mereka.


" Iya dok ". Jawab Laras, sedangkan Andra terlihat biasa saja.


Wanita itu pun mulai memeriksa Laras....


" Jadi gimana dok Lia? Bayinya sehat kan? ".


" Alhamdulillah.. bayinya sehat nyonya muda ". Malahan sangat sehat.


" Kalau istri saya, dia sehat juga kan ".


" Alhamdulillah.. ibu dan bayinya keduanya sehat-sehat tuan muda ". Ucapnya dengan tetap tersenyum.


" Alhamdulillah... Oh yah dok, bisa gak bayiku di USG ".


" Bisa nyonya muda.. apa anda mau? ". Laras melihat suaminya, dan yang dilihatnya memberikan senyuman manis serta anggukan kepala.


Lagipula Andra memang penasaran ingin melihat jabang bayinya. Saham yang telah di tanamnya.


'hah! Tuan muda tersenyum! Alhamdulillah akhirnya ada yang bisa membuat nya tersenyum seperti itu lagi'.


" Iya dok aku mau! ". Jawab Laras semangat.


" Baiklah.. kalo gitu silahkan naik ke atas kasur dulu ".


Dengan sigap Andra membantu Laras naik ke atas tempat tidur yang telah di siapkan. Setelah Laras naik, dokter Lia pun mengangkat baju Laras sampai bawah dadanya, dan terlihat perut Laras yang sudah terlihat mulai besar.


" Tunggu! ". Tangan doktet Lia berhenti " kenapa baju istri saya harus di angkat ". 'perut lembut dan putih istri gue mau di pampangin. Enak ajah!'. Batin Andra bersungut-sungut.


" Memang seperti ini cara pemeriksaan nya tuan muda ".


" Mas.. sudah yah memang seperti ini ". Laras menengahi. Selalu saja seperti ini, setiap Laras di periksa pasti Andra akan menghambatnya. Baik itu saat ia hamil ataupun waktu ia masih belum hamil. Baik dokter wanita, lebih-lebih dokter pria.


" Haaahh baiklah lanjutkan ". 'gelarnya doang dokter. Tapi kerjaan nya penjahat kelamin. Main buka baju ajah. Main pegang-pegang ajah. Sama ajah kaya Rasya'. Dokter di samain dengan penjahat kelamin. Nama Rasya pun tak luput di bawa-bawa. Sepertinya Andra masih dendam dengan Rasya yang selalu memegang tangan Laras saat Laras di periksa.


Dokter Lia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan tugasnya. Ia mengoles gell di perut Laras. Lalu mengambil alat USG Dan mulai menggerak-gerakkan nya di perut Laras.


" Nah ini dia bayi nya tuan muda nyonya muda ". Menunjuk ke layar monitor.


" Wah... Lihat mas.. ".


" Iya sayang ". Mata Laras dan Andra tak henti-hentinya berbinar melihat layar monitor tersebut.


" Ini belum sempurna tuan muda, nyonya muda.. masih dalam tahap pengembangan ". Tangannya bergerak kesana-kemari memindahkan alat USG di atas perut Laras.


" apa jenis kelaminnya sudah bisa di ketahui dok? ". Tanya Laras.

__ADS_1


" Seharusnya sih bisa tapi.. ". Belum sempat dokter Lia melanjutkan kata-katanya, Andra sudah memotong nya.


" Tapi kenapa dok! Anak kami baik-baik saja kan!!??? ". Tadi bilang nya sehat, sekarang malah...


" Apa kandungan saya bermasalah dok? Tapi tadi katanya baik-baik saja ". Mata Laras sudah berkaca-kaca.


" Tidak tuan muda, nyonya muda. Janin nyonya muda baik-baik saja. Maksud saya tadi itu... ".


" Apa! Jangan bertele-tele! ". Andra sudah naik pitam.


" Mas... Jangan kaya gini ahk! ". Memegang tangan Andra " Lanjut dok ".


Dokter Lia hanya tersenyum. Ia memaklumi tingkah calon ayah di depannya ini, walau bagaimanapun ini adalah bayi pertama mereka. " Jenis kelaminnya sudah bisa diketahui, tapi sepertinya bayinya malu-malu memperlihatkan nya ". Jelasnya.


" Malu? Maksudnya! ".


" Oh.. apa bayinya enggan memperlihatkan *********** yah dok ". Sela Laras. Ia langsung meluruskan. Tidak ingin ada keributan lagi.


" hahaha benar sekali nyonya muda. Mungkin beberapa Minggu kedepan baru akan terlihat ".


" Nah mas... Gak apa-apa kok, bayinya sehat kok ". Mengelus-elus tangan Andra.


'gue kurang ngerti. Tapi'. ". Alhamdulillah.. kalo semuanya baik-baik ajah ".


Setelah pemeriksaan penuh drama tersebut, mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Saat akan melewati ruang tunggu, Laras menyuruh Andra untuk berhenti sejenak.


" Ada apa sayang? ". Menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan kepala Laras yang ada di kursi roda.


" Tunggu dulu mas... Ah.. bu.. ". Panggil Laras kepada seseorang. Andra mengikuti pandangan Laras yang melihatnya.


Yang dipanggil langsung datang dengan cepat " iya nyonya muda? ". Jawab wanita paruh baya yang sempat adu mulut tadi dengan Andra. Walaupun sebenarnya Andra tidak memperdulikan nya.


" Kenapa nyonya muda? Apa ada yang bisa kami bantu? ". Suaminya ikut menimpali.


" Enggak bu.. pak.. aku cuman pengen nitip salam buat bapak sama ibu. Apalagi buat bapak, aku ingat kalau rupanya bapak yang jadi penjaga di pagar belakang mansion kan? ".


" Eh! Iya nyonya muda, Memang saya yang jadi penjaga pagar belakang mansion ". Bapak itu terkejut. Nyonya muda nya mengenal nya. Sungguh luar biasa, padahal mereka sama sekali tidak pernah berbicara bersama. Hanya terkadang ia yang mengucapkan kata 'selamat pagi' Walaupun dari arah jauh.


" Kamu kenal sayang? ". Karena berada di belakang, jadi Andra tidak terlalu memikirkannya. Yang ia kenal yang ada di bagian depan saja. Apalagi sekarang ia sudah tidak tinggal di mansion tapi di rumahnya sendiri.


" Iya mas... ". Ada-ada saja kan, padahal yang lebih lama tinggal di sana adalah Andra. Tapi yang mengenal semua penghuni nya malah Laras. " Bapak semangat yah kerjanya! ". Memberi semangat.


" I.. iya nyonya. Terimakasih ".


" Hahaha gak pa-pa. Kalo gitu aku duluan yah bu, pak ".


" Iya nyonya muda ". Jawan mereka serentak


" Assalamualaikum ". Ucap Laras dan Andra bersamaan.


" Wa'alaikum salam ". Jawab mereka berdua.


Setelah mendengar jawaban, Andra langsung mendorong kursi roda Laras menuju parkiran tempat nya memarkir mobilnya.


...****...


Di dalam mobil yang di supiri pak Supri. Terlihat Andra yang dari tadi memeluk istrinya, sampai membuat yang di peluk risih. Apalagi bukan hanya mereka berdua yang ada di dalam mobil.


" Mas... ".


" Hmm ".


" Lepas.. malu tau ". Bisiknya tapi masih bisa di dengar oleh pak Supri. Sedangkan pak Supri hanya tersenyum mendengarnya. Di dalam hatinya ia mengatakan ' tidak apa-apa nyonya saya sudah terbiasa '. Entah apa harus di acungi jempol atau harus di kasihani, karena harus menonton acara romantis yang pastinya bikin iri para kaum jomblo.


" Gak pa-pa.. oh yah sayang ". Mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak rela harus melepas pelukannya


" Ada apa? ".


" Kan semua orang di perusahaan udah tau identitas mu ".


" Hmm terus? ".


" Jadi, gimana kalo mas umumin di seluruh dunia. Tentang hubungan kita? Apalagi sebentar lagi Andra junior juga akan tiba ". Ucapnya. Terlihat sekali kalau Andra menantikan jawaban yang memuaskan.


" Hmm emangnya gak pa-pa mas? ". Bagaimana nanti kalau imej Andra jatuh gara-gara dirinya.


Andra mengerutkan keningnya " gak pa-pa lah sayang... Imej suamimu ini akan baik-baik saja. Percaya deh ". Jawab Andra, seperti bisa mengetahui kekhawatiran Laras.


" Hmm ". Laras berfikir dan berakhir dengan anggukan " baiklah, terserah mas ". Jawabnya sembari tersenyum manis. Sebenarnya Laras sangat senang jika hubungan nya di ketahui banyak orang. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang akan mengejar-ngejar Suaminya.


" Baiklah, acara nya mungkin sekitar dua Minggu lagi ".


" Eh! Mas udah rencanain? ".


" Iya lah sayang.. nanti ada acara di televisi. Dan setelah nya akan ada jumpa pers ".


" Jadi aku akan masuk tv gitu mas? ". Tanya Laras dengan wajah berbinar bin polos nya.


" Haha iya sayang... Tapi nanti kamu ikut mas di jumpa pers ajah yah. Kalo di acara televisi nya pasti akan memakan waktu lama. Jadi kamu liat suami mu yang tampan ini saja oke? ".


" Yeh.. ge'er ". Tapi memang tampan. " Tapi Baiklah. Hehehe masuk tv ". Sikapnya seperti anak-anak bukan.


Andra yang melihatnya jadi gemas sendiri 'haaahh rasanya gua gak rela orang-orang liat wajah menggemaskan istri gue'.

__ADS_1


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2