Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Pindah Lagi


__ADS_3

Sudah satu Minggu mereka menikah, yang artinya hari ini, Andra akan memborong Laras ke kediaman nya sendiri. Calon rumah yang akan di penuhi dengan suara tawa anak-anak dan kebahagiaan pastinya.


" Harus pergi sekarang ya?... Minggu depan ajah ya.. ya... ". Rengek mama Ani sama seperti anak-anak saja, ia masih tidak rela anak dan mantunya itu pisah rumah dengan nya.


" Gak bisa mah... ini sudah perjanjian nya kan ". Andra mencoba untuk menjelaskan.


'itu perjanjian yah'. Laras


" Iya mah, nanti kami akan sering-sering datang mengunjungi mama ". Bujuk Laras. Dia juga masih tidak mau berpisah tapi karena ia sudah bilang hanya satu Minggu disitu. Dan hari inilah hari kepindahannya.


" Iya mah, nanti Laras akan sering-sering datang kesini ". Papa Rangga juga ikut menimpali. Bukannya nama anaknya yang disebut malah anak mantunya yang disebut nya.


" Andra juga pah... ". Tidak terima dirinya tidak disebut, jika nama Istri nya di sebut-sebut, maka namanya juga harus ada.


" Iya kamu juga. Udah yah mah, jangan tahan mereka lagi. Nanti keburu malam mereka sampai ". Sama sekali tidak menggubris Andra. Padahal perjalanan mereka hanya memakan waktu sekitar 35 menitan. Tapi waktu memang sudah sore.


" Haaahhh yaudah deh ". Andra lega akhirnya mamanya setuju " Tapi! Harus sering-sering datang yah ".


" Iya mah ". Jawab Laras.


" Mama juga bisa datang ke rumah Andra kalo mau ". Nah usulan ini harusnya diterima, tapi karena ini mama Ani jadi ia menjawab...


" Mama tau, tapi kamu sebagai anak seharusnya sering-sering jenguk mama sama papa ". Padahal Andra sudah sering tinggal di mansion utama, tapi tetap saja seperti itu. Dan rumah nya sudah seperti rumah hantu sangking sering nya di tinggalkan.


" Iya mah. Kalo gitu kami pergi dulu, pah mah ".


" Iya hati-hati ". Mama Ani menasehati


" Assalamualaikum ". Salam keduanya setelah mencium tangan kanan Mama Ani dan papa Rangga.


" Waalaikum Salam ".


Mereka berdua masuk mobil yang disupiri oleh Andra sendiri, sedangkan barang-barangnya sudah ia masukkan di dalam bagasi.


Andra melakukan mobilnya menuju ke rumah yang akan mereka tinggali, rumah yang akan mengukir berbagai kenangan keluarga mereka, rumah yang akan menjadi saksi atas kebahagiaan mereka nantinya. Sampai mereka tua, sampai anak-anak mereka kelak mempunyai suami/istri, sampai mereka mempunyai cucu yang berlari-lari di dalam rumah.


Rumah yang akan menjadi tempat berkumpulnya keluarga nya kelak jika mereka sudah beruban. Dan pemikiran itu terlalu jauh, bahkan belah duren saja belum. Tapi sudah memikirkan tentang hari tua. Sampai-sampai sudah punya cucu segala.


Jalanan yang lenggang, membuat perjalanan lancar tanpa hambatan, di tambah dengan langit biru yang sudah berubah menjadi warna jingga suasananya sangat romantis, seharusnya seperti itu. Tapi karena kedua insan itu masih sama-sama canggung, walau Andra kelakuan nya sudah sebelas dua belas dengan orang bejat, terhadap Laras. Tapi tentu saja ia juga masih canggung.


Setelah 35 menit perjalanan yang sepinya sudah seperti kuburan, akhirnya mereka sampai.


Mobil memasuki pekarangan rumah yang besar, walau tidak sebesar mansion, tapi ini sudah cukup besar. Apalagi bagi Laras rumah itu sudah sangat besar untuk nya bahkan menurutnya itu sudah berlebihan.


Rumah minimalis modern tingkat dua, di depan terlihat ada taman dan juga kolam dengan air mancur nya. Bahkan sudah ada ikannya.


Laras turun dan diikuti oleh Andra. Pak satpam pun datang menghampiri tuannya yang datang.


" Selamat datang tuan ".


" Hmm, bawa barang-barang yang ada di dalam bagasi masuk ". Perintah Andra.

__ADS_1


" Baik tuan ". Pak satpam kemudian mengangkut dua koper besar dan membawanya ke dalam rumah.


" Ayo ras ". Andra menggandeng tangan Laras.


" Eh mas... Ta.. ".


" Sudah jangan banyak bicara ". Acuhnya dan tetap membawanya masuk kedalam, saat melewati kolam ikan di depan bagian samping rumah, Laras mengentikan langkahnya dan menatap kolam ikan itu dengan wajah yang berbinar.


Langkah Laras yang terhenti, membuatnya ikut mengehentikan langkahnya. Ia melihat Laras yang sedang menatap kolam ikan, bukan! Bukan kolamnya tapi para ikannya, dengan wajah berbinarnya seperti anak-anak saja.


Andra tersenyum senang 'kolam ikannya berhasil'. Yah itu rencana Andra, ia tahu kalau Istri nya itu sangat suka ikan. Kenapa? Kenapa ia tahu kalau Laras sangat suka ikan. Karena Andra melihat saat Laras akan memasak ikan, terlihat di wajahnya nya sebuah kesedihan dan penyesalan. Seperti mengatakan 'maafkan aku yang tak bisa menyelamatkan mu'. Berlebihan memang, tapi itulah Laras. Sangat menyayangi makhluk air itu. Dan dia sangat tidak suka pada kucing, bukan karena kucingnya yang berbulu atau karena tingkah nakalnya tapi karena makanan kesukaan kucing yah, ikan.


" Bagaimana? Kamu suka? ".


" Iya mas, Laras sangat suka. Ini mas yang siapin? ". Tidak mengalihkan perhatian nya pada kolam ikan itu.


" Iya, saya tau kalo kamu sangat suka ikan ".


Laras beralih melihat Andra dengan wajah terharu, tanpa sadar ia langsung memeluk leher Andra dengan girang " makasih mas ". Sambil berterima kasih.


" Aku gak nyangka mas akan memperhatikan hal sekecil itu ". Karena memang hanya ibunya lah yang sering memperhatikan nya setelah ayahnya meninggal.


Andra diam, mematung. Dia sangat senang, hanya karena perhatian sekecil ini sudah membuat Laras Sangat senang.


Padahal yang dilihatnya sekarang hanyalah kolam hiasan dengan air mancur di tengah nya, tapi tak lupa Andra menaruh ikan nila disitu. Bagaimana reaksi Laras jika melihat kolam sebenarnya yang disiapkan oleh Andra untuk Laras yah?


Tapi karena itu kesempatan yang sangat langkah, Andra langsung membalas pelukan Laras lebih kencang. Yang membuat Laras sadar atas kelakuan memalukannya.


Tapi Andra malah semakin mengencangkan pelukannya. Sekaranglah aksi Andra dalam modus dan mengambil kesempatan dalam kesempitan pun dimulai.


" Sudah jangan banyak bergerak, kau yang mulai jadi biarkan saja dulu. Lagipula sekarang saya yang jadi korban. Jadi biarkan saya mengambil kesempatan dulu ". Ucapnya masih memeluk Laras.


Laras sudah melepas tangannya dari leher Andra, ia mematung dengan perkataan Andra. 'kesempatan?.. ahhhh malu banget'.


Lama Andra memeluk Laras, ia bersenang senang dengan mencium bau wangi rambut, telungkup dan seluruh badan Laras. 'wangi'


Laras tidak menolaknya ataupun sekedar membalas nya, ia masih mencerna kekakuan Andra padanya.


Satpam yang tadi membawa koper tuan dan nyonya nya itu masuk, terhenti sesaat melihat kedua pasutri itu saling berpelukan. Tadinya ia ingin melaporkan tentang tugasnya, tapi diurungkan nya dan memutar haluan kembali ke tempat pos penjagaan nya.


Cukup lama Andra memeluknya sampai ia melupakan waktu.


Hingga...


Allahuakbar.. Allahuakbar... Suara adzan Maghrib menyadarkan Andra, ia langsung melepas pelukannya.


'Astaghfirullah.. hampir ajah gue khilaf'.


" Ayo Ras kita masuk ". Menarik tangan Laras, tanpa rasa bersalah atau apapun itu, ia langsung melangkah dengan menggenggam tangan Laras masuk kedalam rumahnya


Laras hanya mengikut saja. Entahlah ia tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


Sampai mereka masuk. Mata Laras terbelalak. Indah, megah, tapi terkesan sederhana itulah yang dilihat Laras dari isi rumah itu.


Andra menarik Laras menaiki tangga dan menuju kesebuah kamar yang pintunya terlihat sederhana tapi megah. Mungkin rata-rata dekorasi rumahnya itu seperti itu. Di sepanjang jalan sama sekali tidak ada pelayan, atau sekedar tanda-tanda kehidupan. Tapi walau begitu rumah itu sangat bersih dan juga rapi


Dan terlihat dua koper di depan pintu. Andra melepas genggaman tangannya dan menarik kedua koper itu.


" Mas biar Laras ajah yang bawa koper ku ".


" Tidak perlu, tolong buka pintunya ". Karena tangan Andra keduanya sudah memegang koper, makanya ia menyuruh Laras yang membuka pintunya.


Dengan sigap Laras membukanya. Andra duluan masuk dengan menarik koper, dan diikuti Laras.


" Mulai sekarang ini kamar kita, kau suka? ". Melihat Laras. Dan dilihatnya Laras tengah menelisik bagian-bagian kamar itu.


'kamarnya minimalis, tapi luas. Banyak buku pula. Apa ini kamar mas Andra yah'. Terhanyut dalam lamunannya.


" Ini kamar saya, tapi itu dulu. Sekarang ini kamar kita berdua ". Ucapnya menjelaskan.


" Oh.. ". 'sudah kuduga'.


" Bagaimana? Kau suka? ". Pertanyaan nya terulang. " Kalo tidak suka nanti bisa kamu dekorasi ulang ". Membebaskan Laras dalam berekspresi sangat disukai oleh Andra.


" Enggak mas. Gak usah, Laras sangat suka ini ". 'karena ini seperti mencerminkan kepribadian mas Andra... Eh? Astaghfirullah kok aku kaya seneng banget sih'. Wah... Sudah ada ehem ... Ehem.. nya. Laras membukam mulutnya. Tidak percaya dengan perkataan sendiri.


" Alhamdulillah kalo kamu suka. Kalo gitu ayo mandi, kita harus sholat Maghrib ".


" Iya mas, eh?! Ayo mandi? ". Blusshh wajah Laras langsung memerah, perkataan Andra ia maksudkan dengan maksud lain.


Andra diam. Dia bertanya-tanya kenapa Laras hanya diam dengan wajah yang bermerah.


Tiba-tiba senyuman liciknya terukir dari wajahnya.


Inginnya ia menggoda istri kecilnya itu, tapi mengingat waktu sholat Maghrib yang sudah akan berakhir, karena memang waktunya yang sedikit.


" Kita mandi sendiri-sendiri ". Jelas nya.


" Oh haha i.. iya ". Canggungnya 'ahhhh malu banget'.


" Kalo gitu, Laras duluan yah mas ". Ingin cepat-cepat pergi dari situ.


" Hahahahaha iya ". Tawanya tiba-tiba pecah, melihat wajah istrinya yang sangat menggemaskan.


" Kok mas ketawa sih ". Cemberut Laras, memonyongkan bibirnya, lima sentimeter.


" Haha sorry... sorry. Ayo cepat mandi, kita sholat ". Ucapnya dan langsung mengecup singkat bibir Laras lalu melengseng keluar dan pergi ke kamar lainnya untuk mandi.


Laras bengong, dan tiba-tiba blush... Pipinya langsung memerah " ahh mas Andra ih... ". Ucapnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal plus malu, dan entah mengapa ia juga senang.


Sedangkan Andra masih terbahak di kamar sebelah.


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya 😘


__ADS_2