Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Ujian dari mertua


__ADS_3

" pah, coba liat nih ". Teriak tiba-tiba Ani, mama Andra.


" Hmm apa mama sayang? Gak usah pake teriak-teriak kan bisa ". Menaruh koran di atas meja. Padahal istrinya cuman berjarak sejengkal saja, tapi istrinya itu tetap memilih untuk teriak.


" Ini.. Andra sama istrinya itu ". Menyodorkan ponselnya. Papa Rangga pun mangambil sodoran ponsel yang diberikan mama Ani. Penasaran? Tentu, melihat wajah istrinya yang begitu riang dan bahagia seperti itu pasti membuatnya penasaran.


Seketika mata papa Rangga membulat. Apa benar ini Andra yang dia besarkan dari kecil sampai sekarang? Mungkin itu yang ada di pikirannya saat melihat foto yang dikirimkan pak Rin.


" Lihat pah.. Andra Sampai tersenyum seperti itu, seperti bukan anak kita saja kan ". Papa Rangga yang masih terkejut hanya mengangguk saja menanggapi.


" Mama kira waktu Andra bilang dia ingin menikah hanya bercanda saja, tapi rupanya dia sungguh-sungguh. Alhamdulillah ". Sepertinya sifat Andra di mata orang tuanya benar-benar sudah down.


" Kan waktu itu dia udah ngirimin foto buku pernikahan nya mah, masa dikira becanda ". Mengembalikan ponsel istrinya ke yang punya. Dan dengan senang hati mama Ani mengambil nya.


" Yah, mama kira kan Andra cuman pengen main-main doang. Supaya dia dianggap normal. Tapi Alhamdulillah... Memang normal rupanya ". Senyum sumringah.


" Alhamdulillah..., Tapi mah, Andra memang dari dulu normal kali. Mama ajah yang pikirannya berlebihan ". Benar apa yang dikatakan papa Rangga, istrinya saja yang terlalu berpikir yang tidak-tidak. Hingga para pelayan pun ikut berpikir seperti itu.


" Ah.. papa ihhh. Udah deh sekarang mama lagi seneng, akhirnya mama punya mantu. Pah, liat deh mantu kita cantik Banget kan ". Kembali fokus pada ponselnya. Kegirangannya sudah melebihi orang pemenang lotre.


" Iya cantik, tapi mama lebih cantik ". Goda papa Rangga.


" Ihhh papa bisa ajah deh. Ahhh Alhamdulillah akhirnya ada wanita yang mau sama anak kita itu ". Tidak henti-hentinya dia bersyukur. Sebenarnya seburuk apa pandangan mu tentang anakmu itu.


Papa Rangga hanya tersenyum melihat istrinya. Dia kemudian berfikir tentang istri Andra yang baru itu. Rasanya ada sesuatu yang menjanggalnya. Tiba-tiba dia mendapatkan ide dari sesuatu kejanggalan nya itu. Entah dia menyukai Laras atau tidak hanya dia Yang tahu. Bagaimana jika istri barunya itu hanya menginginkan hartanya?. Pikirannya tiba-tiba mengarah kesitu.


" Mah, gimana kalo kita pulang nanti malam. Mama ingin ketemu sama mantu mama kan ". Seketika senyum mama Ani semakin mengembang dan menoleh kearah suaminya.


" Iya pah, mau ". Semangat sekali dia.


Mereka pun mulai menyiapkan barang-barang nya untuk pulang ke tanah air.


****


Kita kembali ke Laras dan juga teman-teman nya.


Ada seorang pria di antara tiga wanita, apa mungkin pria itu mempoligami ketiga wanita itu? Ah.. Author kau terlalu berfantasi. Padahal Ardi tidak salah apa-apa, malah ia yang dipojokkan, dan juga Ardi tidak mungkin memadu istri lebay nya itu. Walau sebagaiman lebay nya istri nya itu, dia tetap menyayangi nya.


" ye... Kamu tuh Mai, gak berubah-ubah sifatnya, entar gak ada yang mau sama kamu loh ". Inginnya Nisa marah, tapi karena sayangnya dengan sahabatnya itu, mengurungkan niatnya.


" Gak pa-pa, aku juga gak tertarik ". Ketus Mai " lagian aku juga heran kok mas Ardi mau sama kamu. Dipelet yah? ".


" Iya aku kenal pelet, tapi pelet cinta hahaha ". Timpal Ardi suami Nisa.


" Hahah ihh mas bisa ajah deh. Jadi makin sayang ". Gemes Nisa melihat suaminya yang berada di belakangnya, setia berdiri menunggu nya. Seperti pawang nya saja, eh memang pawang nya kan.


" Hahah mas Ardi udah ketularan recehnya Nisa yah ". Ikut tertawa Laras. Padahal baru enam bulan mereka menikah, tapi sifat dingin nya Ardi sudah tidak terlihat lagi.


" Kalian bertiga memang aneh. Sumpah minta ditabok ". Kesal Mai, tapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


" Hahaha Mai.. Mai.. kalo ngomong tuh pake ekspresi, biar kata-kata mu itu bisa terkenang-kenang dalam mataku hahahha ". Ledek Nisa. Ardi pun ikut tertawa tapi tidak se-heboh istrinya itu. Sedangkan Laras mencoba untuk menahannya.


Dengan muka datarnya Mai berkata " Ras, segitiga Bermuda itu adanya di lautan Mexico kan? ". Dan diangguki Laras


" harga pesawat ke Mexico gak mahal-mahal banget buat keluarga ku kan? ".


" Mungkin, memang nya kenapa? ". Sudah melupakan acara ketawanya.


" Bisa gak, karungin mereka berdua terus bawa ke segitiga Bermuda. Biar ngilang sekalian. Muak aku liatnya ". Wajahnya benar-benar datar.


" Astaghfirullah Mai ... Nyebut, biar se-nyebelinnya dua pasutri ini, tetap lah sahabat kita kan ". Tegur Laras, tapi tetap saja menyindir.


" Cik ". Ngomong nya sih kaya gitu, tapi sebenarnya mengiyakan perkataan Laras.


" Oh yah, mas Ardi kenapa mas juga ikutan datang sama Nisa? Trus Rani kemana? ". Bukannya ingin melarang Ardi datang, hanya saja aneh saja kan, dia ingin ikut istrinya ketemu sama sahabat-sahabat istrinya yang semuanya wanita. Apalagi mereka sudah punya anak.


" Iya, kok mas Ardi juga datang. Padahal gak diundang ". Timpal Mai. Ardi yang sudah terbiasa dengan sifat Mai yang memang kasar seperti itu. Mencoba untuk memakluminya. Laras hanya bisa geleng-geleng dengan perkataan sahabat satunya itu.


" Aku cuman datang nganterin Nisa, tapi sedikit lama gara-gara... ".


" gara-gara drama alay yang dibuat Nisa kan ". Potong Mai.


" Bukan alay, emang kenyataan kaya gitu kan ". Tak mau kalah Nisa " udah mas. Mas pulang ajah yah ". Usir Nisa, untung cara mengusir nya tidak sekasar tadi.


" Baiklah kalo gitu aku pulang dulu. Assalamualaikum ".


" Waalaikum salam ". Jawab ketiga wanita itu. Kemudia Nisa mencium tangan kanan Ardi. Benar-benar keluarga yang harmonis.

__ADS_1


Setelah Ardi pergi, mulailah pembicaraan yang terlupakan di bahas.


Suasananya tiba-tiba berubah tidak karuan " jadi, Ras bisa kamu jelaskan tentang pernikahan dadakan mu? ". Memperlihatkan senyuman yang tidak enak di pandang. Rupanya Nisa juga bisa serius.


" Ah... Baik aku akan cerita ". Dengan terpaksa Laras pun menceritakan hal yang terjadi kepadanya dimulai dari ibunya yang tiba-tiba kondisinya memburuk sampai saat Andra menawarkan bantuannya tapi ia menikah menikah dengan bosnya itu karena membutuhkan uang. Tapi Laras tidak mengatakan tentang surat perjanjian nya, karena pasti kedua sahabatnya itu tidak akan tinggal diam saja.


" Kamu bodoh yah ". Ucap tiba-tiba Mai, setelah mendengar penjelasan Laras.


" Udah aku duga Pasti itu kata-kata yang akan kau ucapkan Mai, lagian waktu itu aku gak punya biaya, buat nyebayar biaya operasi ". Tidak ada pilihan lain selain menerima kan.


" Tapi kan bisa, kalo kau minta bantuan ke kami-kami ". Sebenarnya Nisa juga ingin memaki Laras atas kebodohan nya seperti Mai, tapi karena melihat kondisi Laras saat itu yang harus menentukan harga dirinya atau ibunya, dia pun mengurungkan nya.


Laras menggeleng " aku udah banyak ngerepotin kalian, gak enak kalo harus minta bantuan lagi ". Laras sudah beberapa kali meminta bantuan bahkan meminjam uang kepada kedua sahabatnya itu.


" Kami itu sahabat mu ras, disitulah peran kami. Apalagi aku juga bisa bantu kok ". Kesal Mai dengan perkataan Laras. Padahal kalau soal uang Mai juga bisa membantu nya, karena sebenarnya keluarga nya memang tergolong orang atas, tapi tidak sekaya Alan ataupun Andra.


" Memangnya bosmu itu sekaya apa sih? ". Nisa penasaran dengan bosnya yang sudah membeli Laras, itu bagi Nisa. Entah apa yang akan di lakukan Andra jika mendengar Nisa menyindirnya seperti itu.


" Hmmm pokoknya kaya deh, aku juga gak terlalu tahu " menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya dulu, bahwa suaminya adalah orang terkaya di kotanya. Bisa pingsan Nisa.


" Eh.. Ras, mantel itu... ". Mengambil mantel yang berada di pangkuan Laras. " Omaygat.. ". Pekiknya


" Cik Berisik tau gak ". Kesal Mai.


" Ras, ini dapat dari mana? Sumpah ini mahal Banget tau gak, bisa sampe ratusan juta ". Memelankan suaranya


" Haha itu punya suamiku ". Reaksinya benar-benar berbeda dengan Mai yang lebih tenang menanggapi nya daripada Nisa yang histeris seperti itu.


" Wissss Pasti suami mu kaya banget yah ".


" Haha ". Tawa canggung Laras.


" Palingan orang nya gendut, buncit, sama botak kan. Terus Pasti dia mesum ". Pikirannya benar-benar mirip bu Aminah.


" Haha ". Lagi-lagi tawa canggung Laras 'kalo kalian liat mukanya yang sebenarnya pasti bisa pingsan'.


" Gak pa-pa yang penting kaya, poros ajah hartanya Ras ". Pikiran ala-ala antagonis sinetron pun terlontar dari mulut Nisa.


" Astaghfirullah Nis... Dosa tau gak ".


" Hehehe ". Terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya.


***


Di bandara


Mama Ani dan papa Rangga sudah sampai di tanah air, pesawat nya baru saja mendarat. karena mereka pulang diam-diam makanya tidak ada yang menjemput nya.


Ting..


Pesan masuk kedalam ponsel Mama Ani dan segera dia melihat nya. " Kayanya mantu kita pergi keluar deh pah, yah sayang banget gak jadi kejutan dong ". Kecewa Mama Ani.


" Keluar? ".


" Iya, katanya ketemu sama teman-teman nya ". Memperlihatkan foto Laras yang berpamitan kepada Andra.


" Biar kan saja mah, namanya juga anak muda kan ". Menenangkan istrinya 'padahal baru satu hari jadi istri tapi sudah keluyuran'.


" Iya juga yah, kalo gitu ayo kita pulang ". Mama Ani sudah ingin masuk kedalam mobil. Tadi ia sempat menelfon supir pribadi nya agar datang menjemput nya.


" Mama duluan ajah yah, papa masih ada yang harus ku kerjakan ".


" Hmm oke, tapi jangan lama-lama yah. Kalo gitu mama duluan. Assalamualaikum ". Mencium tangan kanan suaminya.


" Waalaikum salam ".


Mobil pun melaju membelah jalan kota yang sudah se Minggu di tinggalkan nya.


" Halo.. jemput saya di bandara Soekarno-Hatta ". Ucapnya kepada seseorang di seberang.


Kita kembali lagi ke Laras, bedanya sekarang Laras sudah ada di dalam mobil akan pulang ke mansion.


Disepanjang jalan Laras hanya melihat kearah luar jendela. Tiba-tiba... Dia melihat seorang lelaki paruh baya yang berbaring di jalan raya, tapi tidak ada yang membantu nya. Seperti nya dia terkena musibah.


Laras dengan cepat menyuruh pak Supri untuk berhenti. " Pak berhenti pak ". Ucapnya buru-buru.


Pak Supri pun memberhentikan mobilnya tiba-tiba. " Ada apa nona? ". Laras Sudah pasti tidak mendengar nya karena pas mobil berhenti ia langsung berlari ke jalan raya dan memapah pria paruh baya itu ke pinggir jalan.

__ADS_1


" Tuan, tuan tidak apa-apa? ". Berhasil membawanya ke pinggir jalan dan mendudukkan nya.


" Saya tidak apa-apa nak ". Jawab pria paruh baya itu.


" Nona.. ada apa? Apa anda tidak apa-apa? ". Tiba-tiba pak Supri datang menghampiri Laras, dengan wajah khawatir dan panik. Ini untuk yang kedua kalinya.


matanya seketika membulat melihat siapa yang di tolong Laras.


Saat akan membuka mulutnya, pria paruh baya itu langsung memberikan kode agar Pak Supri diam dan tidak melanjutkan perkataannya.


" Tidak pa-pa pak, hanya saja seperti nya tuan ini terkena musibah. Tuan ayo kita ke rumah sakit, siapa tau ada yang luka ". Khawatir Laras.


" Ti.. ". Ucapnya terpotong karena Laras mendahului nya.


" Pak Supri, apa mobil mas Andra bisa digunakan untuk membawa tuan ini ke rumah sakit? ". Melihat ke arah pak Supri, takut jika dirinya terlalu lancang mengizinkan orang lain menaiki mobilnya.


" Memangnya siapa mas Andra? Mending tidak usah kalo memang mobilnya tidak bisa di gunakan ". Tolaknya lembut. Sepertinya dia ingin menggoda Laras.


" Mas Andra dia suamiku tuan, tapi aku takut kalo nanti mas Andra marah karena mengizinkan orang lain naik ke mobil nya ".


'sebenarnya bagaimana tanggapan nona Laras terhadap tuan muda?'.


" Memangnya suami mu galak? ".


" Ah.. tidak suamiku tidak galak. Dia sangat baik, sangat-sangat baik ". Gelagapan Laras menjawab.


Pria paruh baya itu yang melihat Laras menjadi gemes sendiri 'hahaha manis nya anak ini, pantasan Andra menikahi nya'. Dan terkuaklah bahwa pria paruh baya itu adalah papa Rangga. Tapi, yah pasti 99% para pembaca memang sudah mengetahuinya.


" Hahaha iya, saya tau kalau suami mu sangat baik. Tapi saya tidak terluka juga, apalagi sebentar lagi keluarga saya datang menjemput saya, jadi kau tidak perlu khawatir ". Sepertinya pandangan Papa Rangga terhadap Laras sudah berubah. Baguslah.


Laras yang mendengarnya tiba-tiba menjadi tersenyum, rasanya dia sangat senang saat ada orang yang memuji suaminya itu.


" Siapa nama mu nak? ".


" Laras tuan ".


" Nak Laras tidak perlu khawatir, sebaiknya kamu pulang dulu saja. Suami kamu pasti sudah menunggu mu kan ". Ucapnya lembut.


Pak Supri yang melihat tuan besarnya itu bicara lembut kepada wanita lain selain ibu dan istrinya pun tercengang dan juga bahagia. 'sudah ku duga tidak ada yang tidak akan menyukai nona muda'.


" Tidak tuan, saya akan pulang saat keluarga anda datang menjemput anda ". Kekeh Laras. Benar-benar keras kepala sekali bukan.


" Baiklah.. kalo itu mau mu ". Pasrah papa Rangga. Dia tersenyum senang melihat jika pilihan anaknya itu tidak salah. Malah tepat sekali.


Tak lama kemudian sebuah mobil hitam yang cukup mewah datang. Laras yang melihatnya pun sedikit terkejut, tapi sesaat bari ia sadar kalau baju yang digunakan pria di depannya itu bukanlah baju yang bisa digunakan para rakyat menengah ke bawah.


keluar lah seorang lelaki, sambil tergopoh-gopoh. " Tuan.. apa anda tudak apa-apa ". Tanya nya, seperti khawatir sekali dia. Akting nya benar-benar patut di acungi jempol.


" Saya tidak apa-apa ". Berdiri dan dibantu oleh Laras, yang membuat kadar sukanya semakin tinggi.


" Hati-hati tuan ".


" Kalau begitu saya pergi yah, sekali lagi trima kasih sudah membantu saya ". Ucapnya sebelum masuk mobil


" Iya tuan, tidak perlu sungkan. Sudah kewajiban para manusia untuk saling membantu satu sama lain ". Itulah sifat alami manusia, seharusnya sih seperti itu. Tapi di zaman sekarang sangat susah mendapatkan orang seperti Laras.


Papa Rangga tersenyum dan masuk kedalam mobil. " Kali ini saya benar-benar pergi yah, Assalamualaikum ". Ucapnya


" Tunggu.. nama tuan siapa?. Waalaikum salam ". Dijawab dong. Baru sadar kalau belum tahu nama orang itu.


" Nanti juga kita akan bertemu kembali. Sekali lagi Assalamualaikum ".


" Haa?? Waalaikum salam ". Jawab Laras dan mobil papa Rangga pun pergi meninggalkan Laras dan pak Supri.


'apa maksud tuan itu tadi yah, memangnya kita memang akan bertemu kembali yah. Tapi kalo iyya sih Alhamdulillah'.


" Nona, apa kita akan pulang? ". Suara pak Supri membangun kan Laras dari lamunannya.


" Ah.. iya pak, ayo kita pulang ". Melangkah pergi ke dalam mobilnya dan langsung di bukakan pintu oleh pak Supri.


" Makasih pak ". Ucapnya tersenyum dan langsung masuk.


" Tidak nona, itu sudah tugas saya ". Jawan pak Supri dan Ikut masuk kedalam mobil. Lalu pak Supri pun melakukan mobilnya menuju kediaman Ansari.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen, dan vote nya

__ADS_1


__ADS_2