Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 010


__ADS_3

Vedra sudah duduk di belakang meja kerjanya. Pria itu menyalakan komputer dan sudah siap untuk memulai pekerjaannya. Akhir-akhir ini pekerjaannya seakan terbengkalai lantaran begitu banyak hal yang membuat pikirannya terpecah belah.


Vedra mulai mengerjakan pekerjaannya lebih awal dari beberapa rekan kerjanya yang lain. Terlihat beberapa pegawai masih dalam mode santai. Ada pegawai yang masih menyantap sarapan pagi, sekadar ngobrol, bahkan ada yang masih sibuk berkutat dengan sosial media masing-masing.


"Ved!"


Vedra menoleh ke arah dua wanita yang langsung menghampiri meja kerja pria itu. Mereka berdua adalah Nita dan Teti. Dua wanita yang terkenal dan dikenal sebagai biang gosip di perusahaan.


Mau apa mereka? Batin Vedra bertanya-tanya.


"Ved, apa benar kau akan menikah?" tanya Nita.


Vedra terperangah mendengar pertanyaan dari Nita.


"Wah, sungguh berita yang sangat mengejutkan!" tukas Teti.


Vedra hanya memasang wajah tanpa ekspresinya, namun sudut matanya melirik ke arah Verda. Wanita itu nampak sibuk membolak-balik majalah sambil berbincang dengan teman yang duduk di sampingnya.


"Hmm, ya," tukas Vedra dingin.


Nita dan Teti mengulas senyum kecut. Pria di hadapan mereka ini memang pria yang begitu dingin dan kaku. Sungguh bukan tipe pria yang asyik diajak bergaul.


"Wah, kalau begitu kami tunggu undanganmu ya! Kami sungguh ingin tahu seperti apa calon istrimu," kata Teti.


Jangan-jangan istrinya juga seperti dia, kutu buku dan sama membosankannya, batin Teti.


Tunggu, bagaimana mereka semua tahu aku akan menikah? Batin Vedra yang langsung mengarahkan pandangannya kepada wanita yang saat ini sudah berkutat di depan layar komputernya. Wanita itu terlihat sedang membuka saluran streaming video, menyaksikan para pria yang menari sambil menyanyi.


Dasar tukang gosip itu! Batin Vedra.


Vedra segera mengirimkan pesan kepada wanita itu. Mereka harus bicara empat mata.


...*****...


Kedai kopi bernama Manja menjadi kedai kopi paling laris diserbu pengunjung lantaran posisinya yang cukup strategis, berada di wilayah perkantoran.


Verda memasuki kedai kopi dan segera bergabung dengan seorang pria yang sedang duduk di sudut ruangan. Pria itu duduk diam dan menatap lurus ke arah Verda.


"Pembicaraan apa yang ingin kau bahas? Apa kau sudah bersiap untuk ganti rugi atas hilangnya paketku?" tanya Verda yang merasa tidak perlu berbasa-basi lagi.


Verda mengawasi pria di hadapannya yang saat ini menatapnya dengan sorot mata dingin dari balik kacamata berbentuk persegi yang bertengger di hidung pria itu.


"Verda, bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk merahasiakan perihal pernikahanku?" tanya Vedra.

__ADS_1


Verda mengerutkan alisnya, ia menatap wajah Vedra yang terlihat begitu serius. Yah, wajah pria itu memang seperti itu dari sananya.


"Ved, apa kau tahu, ada dua kabar yang harus segera disampaikan, yakni kabar bahagia dan kabar duka! Lihat kan, betapa antusiasnya semua orang saat tahu kau akan menikah!" kata Verda santai.


Vedra menghela napas berat. Ia menatap wajah wanita yang saat ini sedang tersenyum tanpa merasa berdosa sama sekali.


"Tetap saja, menurutku kau melanggar kesepakatan kita!" kata Vedra dingin.


"Vedra, aku sungguh tidak bermaksud melanggar kesepakatan kita! Aku hanya bertanya kepada seseorang dan memastikan apakah ada orang lain yang tahu selain aku, bisa saja kau berbohong untuk menghindar dari tanggung jawabmu!" Verda membela diri.


Verda masih menatap pria yang saat ini memasang wajah datar yang tidak tertebak.


"Berapa kali harus kukatakan padamu bahwa aku akan bertanggung jawab atas paketmu yang hilang!" kata Vedra.


"Ya, tapi apa buktinya? Sampai sekarang kau bahkan tidak mengirimkan voice note yang kuminta sebagai bukti bahwa kau akan bertanggung jawab!"  sergah Verda.


"'Orang awam sepertimu tidak tahu betapa berharganya foto-foto yang kau buang itu! Foto-foto dari seorang idola sejak mereka belum dikenal hingga akhirnya menjadi mega bintang! Meski kau mengganti dengan uang senilai kerugian yang harus kuterima, belum tentu aku bisa mendapatkan koleksi langka foto-foto idolaku itu!" kata Verda meluapkan kekesalannya pada Vedra.


"Saat kau berhenti bekerja, kau menghilang entah ke mana, lantas bagaimana caramu bertanggung jawab untuk menggantikan semua koleksi foto langka itu? Apa perlu aku meminta bantuan polisi untuk menjadikanmu sebagai sasaran Daftar Pencarian Orang alias DPO?" tanya Verda.


Verda benar-benar tak mampu menahan kemarahannya pada Vedra. Pria itu sungguh tidak tahu bagaimana perjuangan Verda agar bisa mendapatkan koleksi foto langka itu.


"Aku menyisihkan sebagian besar gajiku, rela menghemat pengeluaran, tidak jalan-jalan bahkan liburan, belum lagi harus mencari dan bernegosiasi sampai kedua belah pihak saling sepakat! Apa kau tahu? Aku butuh hampir setahun untuk mencari dan mendapatkan foto-foto langka dari idolaku itu!" beber Verda.


"Verda, baiklah, aku akan bertanggung jawab, aku akan mencari dan menemukan foto-foto idolamu itu!" kata Vedra.


"Agar kau yakin aku tidak akan lari ke mana-mana, maka menikahlah denganku!"


Verda terperangah mendengar perkataan dari seorang pria yang selalu dan senantiasa memasang wajah tanpa ekspresi.


"Apa kau bilang?" tanya Verda.


Vedra bungkam, pria itu masih memandang wajah Verda yang menatapnya secara skeptis.


"Kau ingin aku menikah denganmu?" Verda kembali bertanya.


Vedra mengangguk memberikan jawabannya.


"Vedra, bukannya kau akan menikah? Kau pasti akan menikah dengan kekasihmu, tapi kenapa kau malah memintaku untuk menikah denganmu?" Verda kembali bertanya pada pria yang saat ini masih tetap bersikap dingin.


"Verda, bukankah kau bertanya padaku, apa yang bisa kujaminkan untuk bertanggung jawab padamu? Aku menjaminkan diriku, itulah jaminan yang dapat kuberikan padamu," jawab Vedra diplomatis.


"Vedra, kau pasti bercanda kan?! Mana ada orang yang menjadikan pernikahan sebagai jaminan! Haha, kau sungguh aneh!" Verda tertawa.

__ADS_1


"Akulah orang itu," jawab Vedra singkat.


Verda memutar bola matanya, masih melemparkan tatapan skeptis pada pria di hadapannya.


"Vedra, apa jangan-jangan sudah sejak lama kau naksir aku ya?" tanya Verda.


Vedra hanya diam namun keningnya yang berkerut sudah menjadi jawaban yang diberikan pria itu secara implisit.


"Verda, pernikahan kita adalah bentuk jaminan yang bisa kuberikan padamu. Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa saat ini aku belum bisa mengganti kerugian secara materi," jawab Vedra.


Verda menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati sekeliling mereka apakah ada kamera tersembunyi atau teman-teman kantor yang sedang bersembunyi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Vedra.


"Memastikan apakah ini bukan acara konten prank," jawab Verda.


"Tidak, ini bukan prank, aku serius," tukas Vedra.


Verda menyesap es latte teh hijaunya pelan-pelan.


"Verda, begini, sebenarnya saat ini aku memang membutuhkan rekan untuk menikah sebelum pernikahan yang sudah kusiapkan ini terpaksa harus dibatalkan," kata Vedra.


"Apa?! Kau batal menikah?!" mata dan mulut Verda membulat sempurna.


Vedra tidak menjawab, pria itu bahkan benar-benar terlihat tanpa ekspresi.


"Benar, dan kau sudah begitu sesumbar mengatakan kepada semua orang bahwa aku akan menikah," kata Vedra dengan dinginnya.


"Tu-tunggu, maksudmu kau mau aku menikah denganmu agar kau tidak batal menikah?" tanya Verda.


Vedra tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.


"Jika kau memang tidak bersedia menikah denganku, baiklah, tidak masalah, aku bisa mencari wanita lain yang bersedia menikah denganku. Hanya saja, setelah menikah dengan wanita lain, aku tidak bisa menjaminkan apa pun padamu," Vedra menjelaskan.


"Vedra, apa kau sedang mengancamku?!" tanya Verda.


"Aku tidak sedang mengancammu, aku sedang mencoba membuat kesepakatan denganmu. Sebuah kesepakatan terbaik bagi kita berdua," jawab Vedra.


"Vedra, yang benar saja, kau harusnya menikah dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu, orang yang mau hidup bersamamu! Bukankah pernikahan ideal harusnya seperti itu?!" tanya Verda.


"Ya, aku tahu, idealnya memang seperti itu, hanya saja situasi dan kondisi yang harus kuhadapi saat ini," jawab Vedra.


"Verda, aku tidak akan memaksamu, kau punya hak untuk menolak. Namun bagiku, saat ini hanya dengan pernikahan inilah solusi yang bisa kutawarkan," lanjut Vedra.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2