
"Ved, apa kau tahu, kupikir kau sungguh tidak akan menemui ayahku," kata Verda sambil memandangi Vedra yang sibuk mengemudikan mobilnya.
Vedra menoleh sekilas ke arah Verda, lalu kembali fokus mengemudi.
"Verda, apa kau sudah makan?" tanya Vedra.
"Belum," jawab Verda.
"Kita makan dulu ya, aku lapar," kata Vedra.
"Iya, aku juga lapar," sahut Verda.
"Kau mau makan apa?" tanya Vedra.
"Apa ya?" tanya Verda.
"Aku mau makan bakso," kata Vedra.
"Ya, baiklah," sahut Verda.
"Kau ada pilihan lain?" tanya Vedra.
"'Tidak, malam-malam begini sepertinya lebih enak makan yang berkuah," jawab Verda.
Verda mengedarkan pandangannya begitu keluar dari mobil Vedra. Vedra mengajaknya untuk makan di rombong bakso yang ada di pinggir jalan, nampak sepi dengan pencahayaan yang minim.
"Verda, kau mau bakso campur?" tanya Vedra.
"Aku baksonya saja," jawab Verda.
"Pakai mie saja, nanti mienya biar aku yang makan," sahut Vedra.
Verda masih mengedarkan pandangannya begitu duduk di bangku panjang di belakang meja berukuran sama. Vedra segera bergabung bersama Verda usai memesan bakso.
"Ved, kenapa kita pergi ke tempat makan yang remang-remang begini?" tanya Verda sambil merendahkan suaranya.
"Kenapa, Verda? Kau kurang nyaman dengan tempat seperti ini?" tanya Vedra.
"Sepi sekali, seram," jawab Verda.
"'Verda, kalau kita makan di mall dan tertangkap orang-orang yang mengenali kita, bukankah itu lebih menyeramkan?" sahut Vedra seraya terkekeh.
"Ya, maksudku tempatnya menyeramkan seperti ini, apakah makanannya aman-aman saja? Bagaimana kalau baksonya terbuat dari daging tikus?" tanya Verda dengan berbisik.
"Sst, Verda, jangan bicara seperti itu, kita bisa diusir," desis Vedra.
Verda menyeringai, ia memang kerap berterus terang menyuarakan yang ada di pikirannya.
Tukang bakso segera mengantarkan pesanan yang dipesan oleh Vedra.
"Mau minum apa?" tanya si tukang bakso.
"Air mineral biasa, satu saja," jawab Vedra.
"Oke," sahut si tukang bakso.
"Kok cuma satu, Ved?" tanya Verda.
"Kuah bakso kan bisa diminum," sahut Vedra sambil mengambil mie dari mangkuk Verda.
"Haha," Verda tertawa.
"Pak Lek, ada lontong?" tanya Vedra.
__ADS_1
Tukang bakso menyodorkan satu piring berisi lima potong lontong daun berukuran standar. Verda tersenyum melihat Vedra yang makan dengan lahapnya. Pria itu punya kebutuhan makan yang besar, selaras dengan besarnya kebutuhan biologisnya.
"Ada apa, Verda? Kau tidak selera makan?" tanya Vedra.
Verda menggeleng.
"Apa kau sungguh berpikir ini bakso daging 'itu'?" bisik Vedra.
Verda menggeleng lagi. Vedra menghela napasnya.
"Maaf ya, Verda, aku hanya bisa traktir makanan seperti ini," kata Vedra.
"Tidak, Ved, aku hanya senang sekali melihatmu makan begitu lahap, membuatku jadi merasa kenyang," ucap Verda.
"Verda, kalau kau tidak mau makan, bilang saja, tidak perlu menjadikanku sebagai alasan. Jadi, kau mau makan apa? Kita pergi setelah aku selesai makan," kata Vedra.
"Ved, bukan begitu, sungguh," ucap Verda.
Mereka saling berpandangan.
"Iya, iya, aku makan, aku makan," kata Verda mengalah lalu segera menyuapkan kuah bakso ke mulutnya.
"Hmm, ini enak," komentar Verda.
Vedra mengulas senyumnya.
"Ved, bagaimana kau bisa tahu tempat-tempat yang menjual makanan-makanan enak?" tanya Verda keheranan.
"Verda, sepertinya kau ini mainnya kurang jauh ya," Vedra menyeringai.
"Hmm, sepertinya memang begitu," sahut Verda.
Verda terbiasa makan-makanan yang dijual di tempat-tempat elit nan populer. Sehingga sungguh asing baginya menyambangi tempat makan seperti ini.
"Ved, apa kau juga mengajak Silvia makan bakso di sini?" tanya Verda.
"Kenapa? Dia tidak mau datang ke tempat yang tidak elit seperti ini?" tanya Verda.
"Silvia bukannya tidak mau, tapi dia tidak bisa karena punya batas jam malam, sedangkan rombong bakso ini adanya hanya malam hari," jawab Vedra.
"Oh," sahut Verda.
Verda begitu senang mendengar jawaban Vedra. Ia merasa lebih unggul dari Silvia. Ia jadi merasa lebih spesial daripada wanita itu.
"Pak Abimanyu pasti tidak pernah mengajakmu ke tempat seperti ini kan?" ucap Vedra.
Verda terdiam, menatap Vedra yang terlihat tersenyum kaku.
"Verda, aku sungguh baru tahu bahwa Pak Abimanyu dari PT BAS adalah mantan suamimu, pantas saja ayahmu memandangku sebelah mata," ucap Vedra terdengar getir.
"Ved," kata Verda.
"Wajar saja ya, dulu kau bisa pergi bulan madu ke Paris. Suamimu sultan begitu. Haha... ," lanjut Vedra seraya tertawa, namun tawanya terdengar begitu getir.
"Sepertinya sungguh tidak mungkin bagiku untuk mendapat restu dari ayahmu. Aku sangat berbeda dengan Pak Abimanyu. Secara beliau bukanlah pria kaleng-kaleng sepertiku. Haha... ," lanjutnya masih tertawa.
"Ved, kau sudah tahu semuanya?" tanya Verda.
"Hm, ya, adikmu yang mengatakan semuanya padaku, supaya aku sadar diri," jawab Vedra.
"Yah, mungkin akunya saja yang tidak tahu diri dengan posisiku saat ini! Haha, kesal sekali ya, harga diriku rasanya jadi terluka," Vedra menyeringai ke arah Verda.
Verda mengambil tangan Vedra dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Ved, aku dan Abim sudah selesai sejak lima belas tahun yang lalu. Meski dia berusaha keras untuk rujuk denganku, itu sudah tidak mungkin lagi," sahut Verda.
"Kenapa kau tidak mau rujuk dengan beliau? Pak Abimanyu loh sultan," tanya Vedra.
"Ahaha," Verda tertawa sambil mencubit perut Vedra dengan gemas.
"Aduh, Verda," gerutu Vedra.
"Ved, apa kau pikir aku ini wanita yang tidak punya akal sehat? Kau sudah ada di sisiku, untuk apa aku harus rujuk dengan laki-laki lain?" tanya Verda sambil bergelayut manja di lengan Vedra.
Vedra merasa jantungnya berdebar-debar mendengar perkataan Verda.
"Verda, apa kau tahu, aku merasa benar-benar terbanting dengan kenyataan bahwa kau sungguh luar biasa, rasanya kau terlalu bagus untuk pria kaleng-kaleng sepertiku. Aku tidak punya banyak uang dan juga tidak tampan," tukas Vedra.
"Ya, aku tahu, tapi kau punya tanggung jawab terhadap photo card Jehunku!" sahut Verda.
"Hmm, ya, terima kasih untuk selalu mengingatkanku, Verda," Vedra menyeringai.
Verda mengulas kembali senyumnya, senyum yang membuat Vedra berdebar-debar tak karuan.
Kenapa wanita ini benar-benar membuatnya salah tingkah seperti ini?
"Verda, mumpung besok libur, bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat," kata Vedra.
"Sekarang?" tanya Verda.
Vedra mengangguk.
"Habiskan dulu makanannya, baru kita pergi."
...*****...
Verda begitu antusias begitu ia dan Vedra berjalan menuju ke haluan kapal fery. Menyeberangi kawasan teluk yang memisahkan dua daerah. Kapal fery tersebut nampak kosong, mengingat jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Namun kapal-kapal fery yang berlabuh di dermaga beroperasi selama dua puluh empat jam.
"Ved, pegangi aku! Aku ingin bergaya ala-ala Titanic!" Verda menarik tangan Vedra.
"Verda, tidak usah aneh-aneh, nanti kau bisa jatuh," sahut Vedra.
"Kalau kau memegangiku dengan benar, aku yakin tidak akan jatuh!" sahut Vedra.
Vedra memeluk erat Verda yang menaiki pagar pembatas pada haluan, sementara Verda sudah merentangkan tangannya.
"I'm the king of the world!" seru Verda.
Vedra tertawa mendengar seruan Verda yang sepertinya terobsesi film Titanic.
"Ved, kita harusnya berciuman juga," kata Verda.
"Begitukah?" tanya Vedra.
Verda menoleh ke arah Vedra, kemudian mereka pun berciuman seakan mereka adalah Jack dan Rose, dua tokoh utama dalam film Titanic.
Mereka saling berpandangan usai berciuman.
"Apa kita perlu lanjut di mobil untuk bercinta?" goda Verda.
"Hmm, sejujurnya aku malah ingin melakukannya di sini, tapi jika kita tertangkap basah, bisa-bisa kita ditenggelamkan bersama jangkar," sahut Vedra.
"Ahaha!" Verda tertawa sambil memeluk kembali Vedra.
"Jujur saja, kau pasti menginginkannya juga kan, Verda?" tanya Vedra balas menggoda Verda.
"Ved, bagaimana fantasimu bisa seliar itu?" Verda terperangah.
__ADS_1
Vedra menyeringai lalu kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Verda. Mengindahkan angin dingin yang berhembus kencang menerpa mereka berdua.
...*****...