Lelaki Jaminan

Lelaki Jaminan
LeMin - 033


__ADS_3

Verda menggeliat pelan saat terbangun dari tidurnya. Mendadak ia merasa perutnya melilit. Verda menggapai rak yang berada di bagian kepala tempat tidur, mencari gawai cerdasnya. Tubuhnya mulai bergetar hebat, rasa sakit menjalar ke sekujur tubuhnya.


Bugh..!


Ponsel Verda jatuh menimpa kepala Vedra yang tidur dalam posisi telungkup.


"Aduuh!" Vedra menjerit kesakitan.


Pria itu segera terbangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya.


Sementara itu Verda segera meraih ponselnya, dengan tangan gemetaran membuka kalender pada gawai cerdasnya.


Sial! Verda membatin dalam hati.


"Aduh! Verda! Aku bisa gegar otak!" Vedra mengumpat kesal, masih tetap memegangi kepalanya.


"Hiks..hiks..sakit, Ved," Verda mulai menangis.


"Yang sakit itu kepalaku, Verda, kenapa malah kau yang menangis?" tanya Vedra.


"Sakit, hiks, sakit, Ved," Verda meringkuk dalam sambil memegangi perutnya.


"Kau kenapa, Verda?" tanya Vedra.


"Ved, sa-sakit, hiks," jawab Verda terbata.


"Iya, kau sakit apa, Verda?" tanya Vedra.


"A-aku da-datang bulan," jawab Verda masih terbata-bata lantaran menahan rasa sakitnya.


Vedra tertegun melihat Verda yang meringkuk makin dalam.


"Hmm, Verda, jadi apa yang bisa kulakukan untukmu? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Vedra.


Verda tidak segera menjawab karena masih terlalu fokus dengan rasa sakit yang selalu dialaminya setiap kali datang bulan.


"Verda, apa kita pergi ke rumah sakit sekarang?" tanya Vedra.


Verda menggeleng cepat.


"Ved, tolong ambilkan pembalutku, aku rasa di koperku masih ada," kata Verda.


Vedra turun dari tempat tidurnya, keluar dari kamar lalu menuju ke ruangan tempat barang-barang Verda disimpan. Vedra menghela napas berat, ruangan itu kembali berantakan. Koper berisi pakaian yang terbuka lebar memuntahkan pakaian hingga poster-poster yang berserakan di lantai. Vedra mencari pembalut yang dimaksud Verda di antara tumpukan barang-barang milik Verda. Satu bungkus pembalut bersayap segera diserahkan oleh Vedra.


Verda dengan susah payah berusaha bangun dari tidurnya. Dengan sigap Vedra langsung menangkap tubuh Verda yang limbung bak layang-layang putus.


"Verda, sebaiknya kita ke rumah sakit," kata Vedra sambil memapah Verda ke kamar mandi.


"Tidak," Verda menggeleng. "Nanti baikan sendiri," sahutnya lemah.


Vedra cuma bisa menghela napasnya melihat Verda yang menghilang begitu pintu kamar mandi tertutup.


Vedra mengambil ponselnya lalu mulai berselancar di dunia maya.


Apa yang harus dilakukan saat mengalami kram datang bulan, itulah yang dicari oleh Vedra.


Vedra segera menyalakan kompor untuk merebus air.


Vedra terkejut karena melihat Verda yang merangkak keluar dari kamar mandi. Nyeri haid membuat Verda tidak bisa berjalan dengan baik.


"Astaga, Verda!" Vedra segera membantu Verda berdiri.


Memapah Verda kembali ke kamar lalu membantu wanita itu berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


"Aku setiap kali datang bulan pasti seperti ini, makanya aku selalu mengambil cuti haid," kata Verda sambil memegangi perut bagian bawahnya yang masih melilit.


"Ya, dinding rahim meluruh ketika tidak ada proses pembuahan, peluruhan itulah yang menimbulkan rasa sakit berlebih bagi sebagian wanita," Vedra menanggapi secara teori.


Verda mencebik ke arah pria yang jelas lebih pandai berteori tanpa ada pengimplementasian.


Belum tahu rasanya sakit datang bulan ya?!


Vedra keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Menyalakan kompor untuk melanjutkan niatnya merebus air. Tak lama air yang direbusnya dalam panci telah mendidih. Ia mengambil handuk kecil, merendamnya ke dalam panci berisi air panas. Perlahan ia memindahkan handuk itu ke dalam mangkuk kaca dan membawanya pada Verda.


"Kompres air hangat bisa membantu mengurangi nyeri haid," kata Vedra menyerahkan mangkuk itu pada Verda.


Verda tertegun saat menerima mangkuk tersebut.


Vedra segera keluar dari kamar, membiarkan Verda mulai mengompres perut bagian bawahnya. Hangatnya kompres membuat nyeri yang dialami Verda sedikit berkurang, meski hanya sedikit.


...*****...


Vedra turun dari mobilnya begitu tiba di depan sebuah apotek. Ia segera menghampiri pegawai apotek yang menunggu di meja kasir.


"Mas, ada obat pereda nyeri haid?" tanya Vedra.


"Coba ke rak di sana," tunjuk pegawai apotek.


Vedra menuju ke rak yang ditunjuk oleh si pegawai apotek. Di rak tersebut selain obat terdapat juga pil kontrasepsi, alat kontrasepsi, perlengkapan tempur, hingga pembalut.


Vedra meneguk ludahnya saat melihat alat kontrasepsi sekali pakai dengan berbagai macam merk dan rasa. Tangannya mengambil satu kotak alat kontrasepsi pria dengan aroma stroberi.


Apa rasanya sungguh stroberi ya? Batin Vedra.


"Permisi, Mas," suara sapaan membuat Vedra tersentak kaget.


Seorang SPG menghampiri Vedra, wanita muda itu tersenyum lebar.


Vedra mengembalikan kotak tersebut ke raknya, memasang ekspresi sedatar mungkin.


"Mas, penting sekali lho menggunakan pelindung untuk  mencegah penularan penyakit menular seksual. Terlebih sekarang ini begitu marak kasus penularan penyakit tersebut," lanjut si SPG.


"Tidak, terima kasih," Vedra menolak.


"Mas, mumpung produknya sedang diskon setengah harga dari harga normal! Belum lagi produk ini kualitas terbaik, seperti tidak pakai apa-apa! Teruji klinis tidak menimbulkan alergi lateks!" desak si SPG sambil menyodorkan tiga kotak pengaman ke tangan Vedra.


"I-iya, te-terima kasih," Vedra terbata menerima tiga kotak pengaman itu.


Si SPG terlihat menyeringai lebar karena produk yang ditawarkannya berhasil terjual.


Sementara Vedra menghela napas berat. Untuk apa ia membeli barang yang tidak terpakai seperti ini? Sungguh mubazir sekali!


...*****...


Verda masih berbaring di tempat tidur saat Vedra masuk sambil membawakan nampan berisi semangkuk bubur ayam yang dibelinya sepulang dari apotek.


"Verda, makanlah dulu," kata Vedra


"Aku tidak selera," sahut Verda.


"Verda, kau harus makan, tubuhmu butuh asupan agar bisa lebih berenergi," kata Vedra. "Rasa sakitmu akan semakin bertambah karena tubuhmu dalam kondisi tak bertenaga."


"Aku letakkan bubur di meja makan ya," lanjut Vedra.


Verda beringsut turun dari tempat tidur sambil menahan rasa sakit, ia berpegangan pada dinding, keluar dari kamar. Vedra segera memapah Verda menuju ke meja makan.


Dengan hati-hati, Vedra membantu Verda untuk duduk di kursi. Verda duduk dan mulai menyantap semangkuk bubur ayam.

__ADS_1


"Hmm, ini enak, kau beli di mana?" tanya Verda.


"Bubur ayam langgananku," jawab Vedra. "'Oh ya, ini obat pereda nyeri," Vedra mengeluarkan kantong kertas dari saku jaketnya.


Verda menatap bungkusan berisi obat pereda nyeri. 


"Katanya ini ampuh untuk meredakan nyeri haid," kata Vedra.


"Terima kasih," sahut Verda. "Tapi biasanya aku tidak minum obat pereda nyeri, takut ketergantungan, karena  setiap bulan pasti sesakit ini," kata Verda.


"Oh begitu," sahut Vedra.


"Tapi terima kasih karena sudah mencemaskanku," kata Verda.


Verda menyantap kembali bubur ayamnya, begitu juga dengan Vedra.


Usai makan, Verda kembali ke kamar dan segera berbaring. Menikmati rasa melilit yang menyiksanya.


Verda kembali meringkuk sambil membuka gawai cerdasnya ketika Vedra datang membawakan lagi air panas.


"Ved, aku minta maaf karena semalam sudah mengataimu playboy," kata Verda.


"Hmm, ya, aku juga minta maaf karena mengataimu janda gatal, aku sungguh keterlaluan," balas Vedra.


Verda menunduk, entah mengapa ia merasa darahnya berdesir lebih kencang. Entah mengapa ia merasa lega karena menerima permintaan maaf dari Vedra.


"Oh ya, apa kepalamu baik-baik saja?" tanya Verda teringat perihal kepala Vedra yang kejatuhan ponselnya.


"Hm, ya, aku baik-baik saja," jawab Vedra.


"Tidak gegar otak kan?" tanya Verda.


"Aku rasa tidak," sahut Vedra.


Ponsel Verda tiba-tiba berdering, nama Ican muncul di layar bersamaan dengan panggilan video.


Verda menggeser tanda hijau, wajah Ican muncul namun kamera ponsel Verda mengarah ke arah Vedra. Verda terkejut dan langsung menukar posisi kamera depan.


"Verda! Verda!" seru Ican.


"Iya, Can?" sahut Verda.


"Kau ambil cuti haid ya?" tanya Ican.


"Iya, lagi drop nih," jawab Verda.


"Oh ya, kok tadi sekilas aku melihat ada Vedra ya?" tanya Ican.


"Salah lihat kau, Can."


"Beneran! Aku seperti melihat ada Vedra!"


"Aih, kau berhalusinasi, kau sebegitu kangennya samaa Vedra! Hihi," Verda terkekeh.


"Yee, dasar! Oh ya, bagaimana dong dengan kado pernikahan untuk Vedra?" tanya Ican.


Verda melotot ke arah Ican. 


Si bodoh ini kenapa malah menanyakan kado yang harusnya jadi kejutan untuk Vedra?!


Verda langsung memutus panggilan video dari Ican karena melihat Vedra yang memandangnya dengan tatapan penuh selidik.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2