
Sepanjang perjalanan hingga setibanya di rumah Vedra, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut mereka berdua. Keduanya masih tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Vedra dan Verda belum bisa bernapas lega mendengar penuturan dari dokter kandungan yang memberi jawaban mengambang, persis seperti kondisi mereka saat ini.
Kehamilan jelas bukan hal yang diharapkan oleh mereka berdua seperti pasangan pengantin baru pada umumnya yang ingin segera mendapatkan momongan.
Begitu selesai mandi dan berpakaian, Verda langsung naik ke tempat tidur. Ia langsung meringkuk memeluk bantal dengan wajah tampan Jehun yang mengulas senyum ramah dan hangat. Senyum yang biasanya mampu membuat hati Verda ikut terasa hangat. Namun kali ini senyum tersebut tidak cukup untuk menawar rasa gelisah Verda.
"Verda," panggil Vedra begitu memasuki kamar.
Pria itu duduk di tepi kasur, menepuk lembut bahu Verda.
"Verda, ayo makan dulu, aku sudah memasak sup telur untukmu," kata Vedra.
Verda tak bergeming.
"Verda, makanlah biar sedikit, kau bahkan tidak ada makan sejak siang tadi," kata Vedra membujuk Verda.
"Ved, apa di dalam kepalamu hanya ada makanan saja?!" sergah Verda.
"Kau sungguh keterlaluan, Ved! Di saat aku kehilangan selera makanku, kau masih bisa makan dengan santainya!" cecar Verda.
"Verda, katakan padaku, apa yang ingin kau makan? Aku akan pergi membelinya, asal kau mau makan dengan benar," kata Vedra.
"Tidak, Ved! Aku tidak mau makan apa-apa! Tidak ada yang ingin kumakan!" sergah Verda.
"Verda, kau harus tetap makan, kau nanti bisa sakit," kata Vedra.
"Ved! Aku tidak sedang lapar! Aku sedang cemas! C-E-M-A-S!" pekik Verda.
Vedra terdiam melihat betapa keras kepalanya Verda saat ini.
"Verda, apa kau pikir hanya kau saja yang merasa cemas?" tanya Vedra.
Vedra menatap lekat-lekat mata Verda yang sudah digenangi air mata.
"Verda, aku mengerti, aku paham, saat ini posisi kita sama-sama sulit," kata Vedra.
"Namun kalau kau memang benar-benar hamil, aku akan bertanggung jawab penuh," lanjut Vedra.
Verda memandangi wajah Vedra yang nampak menegang.
"Aku akan bertanggung jawab, Verda," Vedra mengulangi.
"Aku tidak akan lari ataupun menghindar atas perbuatan yang kulakukan," kata Vedra. "Aku bukan pria pengecut yang akan lari dari tanggung jawab," Vedra menegaskan.
"Tanggung jawab?" Verda mendelik gusar.
__ADS_1
"'Ved, kau mungkin bisa mengatakan bahwa kau akan bertanggung jawab! Tapi yang harus menerima resikonya adalah aku! Aku yang harus menanggung resikonya!" cecar Verda.
"Aku bisa membayangkan diriku dengan perut yang membuncit, menjadi bahan gunjingan bahwa aku hamil tanpa suami! Kita bahkan tidak berani untuk mengakui kepada semua orang bahwa kita adalah pasangan suami istri yang sah!" lanjut Verda.
Vedra menghela napas berat, masih tak melepaskan tatapannya dari Verda yang menyeka air matanya yang terlanjur tumpah lantaran merasa tak kuasa menahan emosinya.
"Verda, begini saja, lebih baik kau berhenti bekerja dan kita bisa mengungkap pernikahan terselubung kita, dengan begitu, kau bisa lebih fokus pada kehamilanmu," Vedra menyela.
"Apa kau bilang?!" sergah Verda. "Aku berhenti bekerja untuk fokus pada kehamilanku?"
"Itu inginmu, Ved! Bukan inginku!" teriak Verda.
"Harusnya yang berhenti bekerja dari Valid Corp. itu adalah kau, Ved! Kau bahkan sudah merencanakan hal tersebut sebelum pernikahanmu!"
Vedra kembali terdiam.
"Entah mengapa aku jadi merasa menyesal menerima tawaran untuk menikah denganmu jika harus begini pada akhirnya!" cecar Verda.
"Kau menyesal menikah denganku?" tanya Vedra.
"Ya! Aku merasa menyesal menikah dengan orang egois sepertimu! Orang yang hanya mementingkan kepentinganmu sendiri!" cecar Verda.
"'Begitukah?! Harusnya yang lebih menyesal menikah denganmu adalah aku!" sergah Vedra.
"A-apa kau bilang?" Verda terperangah.
Verda terperangah menatap mata Vedra yang saat ini berkilat penuh kemarahan.
"Memangnya apa salahnya aku terobsesi pada kertas? Aku menggunakan uangku sendiri untuk membeli semua kumpulan kertas bodoh itu, Ved! Aku membeli semuanya dengan menukar semua waktu yang kupunya untuk bekerja!" cecar Verda.
"Justru kau yang sudah begitu lancang membuang semua hasil jerih payahku! Seandainya saja kau tidak bersikap lancang menerima paket yang bukan untukmu, minimal kau simpan saja tanpa perlu membuangnya! Kau tidak perlu repot-repot bertanggung jawab, Ved! Kau tidak perlu menikah dengan wanita yang hanya menjadi dan menambah bebanmu! Itu semua salahmu, Ved! Salahmu sendiri!"
Verda turun dari tempat tidur, keluar dari kamar, dan menuju ke ruang penyimpanan barang-barangnya.
Vedra terdiam, cecaran dari Verda sungguh menyesakkannya.
Ya, seandainya saja ia tidak bersikap lancang dengan membuang semua photo card yang diterimanya hari itu.
Semua ini tidak perlu terjadi.
...*****...
Vedra terbangun dari tidur, ketika membuka mata hanya ada bantal dengan wajah Jehun yang menemaninya. Sisi tempat tidurnya kosong, tak ada sosok Verda yang biasa menyambutnya dengan senyuman dan ciuman selamat pagi yang lembut.
Vedra menghela napas berat, mengingat betapa seriusnya pertengkaran mereka. Vedra tak tahu, apa yang mendorongnya untuk meluapkan semua rasa kesalnya pada Verda.
Mungkin karena Verda yang lebih dulu memancingnya sehingga akhirnya Vedra tak bisa mengendalikan rasa kesalnya.
__ADS_1
Ya, pasti karena itu.
Vedra keluar dari kamarnya, mengedarkan pandangan ke rumahnya yang benar-benar sepi.
Matanya tertuju pada secarik kertas yang berada di atas meja makan. Ia mengambil dan membacanya.
Daftar photo card yang harus ada sebelum akhir bulan ini.
Vedra mengusap wajahnya dengan gusar.
"Verda!" serunya sambil memasuki kamar tempat penyimpanan barang-barang Verda.
Vedra tertegun, kamar itu tetap berantakan, banyak pakaian yang berceceran di lantai namun penghuninya tidak ada.
"Verda!" serunya sambil mencari-cari keberadaan Verda.
...*****...
Pagi-pagi buta, Verda sudah meninggalkan rumah Vedra. Ia menyusuri jalan setapak yang kosong dengan udara dingin yang seakan membekukan tulang belulangnya.
Puluhan ekor sapi nampak merumput di tanah kosong yang dipenuhi ilalang. Penggembala terlihat bersantai sambil mengatur barisan sapi-sapi yang merumput agar tetap di jalur yang benar.
Verda menghela napas berat, lagi-lagi dadanya terasa sesak lantaran dalam pikirannya terlintas kembali perkataan Vedra yang benar-benar membuatnya merasa tertusuk seribu sembilu.
Verda seakan tersadar bahwa selama ini ia sedang berada di jalur yang salah dalam pernikahan mereka. Pria itu hanya menganggapnya sebagai penambah beban dalam hidupnya.
Photo card Jehun yang dibuang oleh pria itu saja dianggapnya beban, apalagi jika ada kehadiran anak yang mungkin sedang dikandung oleh Verda.
Verda menunggu mobil daring yang dipesannya datang. Mungkin lebih baik ia pergi ke suatu tempat untuk merenungi semua yang telah terjadi seorang diri.
Ya, itu lebih baik daripada harus ke kantor dan bertemu dengan Vedra.
Verda merasa air mata meleleh turun membasahi pipinya. Seketika ia teringat bahwa pernikahannya dengan Vedra memang hanya sebatas jaminan, ia tak boleh mengharapkan apapun dalam pernikahan tersebut kecuali photo card Jehun yang harus dicari, ditemukan, dan didapatkan oleh Vedra.
Harusnya mereka tidak boleh terlibat dalam kontak fisik berlebihan yang justru membuat posisi mereka berdua menjadi sulit seperti saat ini.
Verda sadar bahwa ia memang sangat mendambakan tubuh pria itu. Semua sentuhan dan kehangatan yang begitu diinginkan oleh Verda, semua kenikmatan yang dirasakannya tak semestinya ia dapatkan dalam pernikahan mereka.
Ya, harusnya memang tidak seperti itu.
...*****...
Pembaca setia, acil author kembali menyapa. Upnya jadi lama banget karena author sedih, kenapa Ved dan Verda harus berantem. Rasanya ikutan sedih sih, padahal sebelum ada masalah mereka berdua terlihat bahagia begitu. Karena sedih jadi nulisnya berat. Hehe..
Yuk ikuti terus ya sampai selesai.
Terima kasih 🥰🥰🥰
__ADS_1