
"Sial! Sial!" geram Abim sambil memukuli air kolam yang keruh.
Rasa frustrasi menderanya, di bawah terik matahari yang semakin menyengat, ia merasa putus asa. Ia sudah lelah dan benar-benar merasa seperti orang bodoh.
Bagaimana mungkin bisa menangkap ikan dengan tangan kosong?
Ini namanya pembodohan! Abim mengumpat dalam hati.
Pria itu menoleh ke lawannya yang kini justru sudah berkutat di area memasak.
"'Sial!" Abim meninju kembali air hingga semua air terciprat, memasuki mulutnya.
"Uhuk... uhuk!" Abim terbatuk-batuk heboh.
Abim yang merasa super kesal melangkah terseok-seok keluar dari kolam, menghampiri kontestan yang sudah mulai menggarap ikan hasil tangkapannya.
"Hei, Bung!" kata Abim.
Vedra terkejut, reflek ia melangkah mundur melihat Abim yang nampak memasang ekspresi luar biasa kesal.
"Kau pasti curang kan? Bagaimana caramu bisa menangkap ikan tanpa alat? Kau pasti curang kan? Kau curang kan?!" tuding Abim.
Abim tak bisa mengendalikan emosinya, ia benar-benar siap untuk menerjang pria di hadapannya.
"Pak Abim!" Hengki segera meringkus Abim dari belakang, menghentikan aksi Abim yang mulai anarkis.
"Cepat katakan padaku, bagaimana caramu menangkap semua ikan-ikan ini?! Kau pasti sudah berbuat curang!" raung Abim.
Vedra mengabaikan omelan Abim, lebih baik ikan yang sudah dibersihkan segera diolahnya saja.
"Curang dari mana? Kami melihat sendiri dia memang menangkap ikan dengan tangan kosong!" Vivie menyahut.
"Iya, aku juga melihatnya! Dia hanya diam dan tiba-tiba sudah ada ikan dalam pelukannya!" Bian menimpali.
"Iya, saya lihat juga!" Pak Yanto ikut bersaksi.
Verda mengulas senyumnya, ia tidak perlu berkoar-koar heboh membela Vedra. Ia tentu harus menunjukkan netralitas sesuai dengan kesepakatan ayahnya.
Semua orang punya mata yang masih sehat dalam menyaksikan duel dua orang pria yang sedang mempertaruhkan harga diri.
"Ini ambil!" Vedra menyerahkan ikan yang masih tersisa di embernya.
"Aku tidak butuh!" tolak Abim dengan tegas.
Abim kembali menceburkan diri di kolam diikuti Hengki.
Pak Daus menghampiri Vedra, sejujurnya ia tak percaya bahwa pria pesolek ini akan berhasil mendapatkan banyak ikan.
Yang lebih mencengangkan lagi, pria itu bahkan begitu cekatan membersihkan ikan dan mulai mengolahnya.
"Verda," Bu Eva menyenggol bahu Verda.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanya Verda.
"Suamimu itu terbiasa memasak ya?" tanya Bu Eva.
Verda menyeringai, ia tentu tak boleh sesumbar mengenai kemampuan memasak Vedra. Biarkan hasil masakan Vedra yang menjawab semuanya.
"Kenapa Ibu bertanya begitu?" Verda balik bertanya.
"Ibu lihat, sepertinya dia orang yang terbiasa di dapur," sahut Bu Eva.
"Oh ya?" Verda pura-pura terkejut.
"Sungguh berbeda sekali denganmu, kamu bahkan tidak bisa mengupas bawang, Verda," cibir Bu Eva.
"Ahaha, Ibu, bawang membuat mataku perih!" Verda merangkul gemas ibunya.
"Kemarin-kemarin katanya mengupas bawang bikin kukumu rusak, sekarang mata perih!" ledek Bu Eva.
"Hehe, kalau sudah ada orang lain yang bisa mengupas bawang, kenapa harus aku sih, Bu," Verda terkekeh.
Keluarga Verda jelas tak bisa berhenti mengarahkan pandangan mereka pada Vedra yang seakan sedang berjuang di acara kompetisi masak tingkat nasional yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi.
"Kak, Jehun kw itu pinter masak ya?" tanya Vivie.
"Kak Verda, apa serius suami Kakak adalah seorang model?" tanya Bian.
"No comment!" jawab Verda sambil mengulas senyum misterius.
Ya, Verda jelas sudah bisa memprediksi kemenangan Vedra, namun tentu saja lagi-lagi Verda harus menahan dirinya seperti menahan gairahnya yang saat ini sedang begitu menggebu gara-gara melihat keseksian pria itu. Ingin rasanya ia menerkam pria itu, namun tentu saja tidak bisa sekarang.
Pak Daus tak percaya apa yang sedang dilihat dengan mata kepala beliau. Pria pesolek yang menurut Pak Daus hanya bisa berdandan dan mencoba pakaian-pakaian aneh itu saat ini sedang memanjat pohon kelapa setinggi lebih dari dua puluh meter dengan mudah untuk mengambil buah kelapa.
"Ya Tuhan! Apa Jehun kw itu spiderman?!" seru Vivie.
"Wah, gila! Gila! Bagaimana dia bisa melakukannya?!" Bian berseru heboh.
Sebagai anak pemilik kebun kelapa, memanjat pohon kelapa jelas bukan hal yang sulit untuk Vedra, terlebih saat masih kecil kebun kelapa sudah menjadi arena bermainnya.
"Oh Man! Keren! Kau keren sekali!" Bian bersorak menyambut kembalinya Vedra.
"Mau air kelapa?" tanya Vedra.
"Mau! Mau!" sahut Vivie antusias.
Bian dan Vivie bersorak heboh melihat kepiawaian pria itu saat mengayunkan parang untuk mengupas buah kelapa.
"Gila! Bagaimana caramu melakukannya?!" Bian terpana.
"Seperti ini saja," sahut Vedra singkat.
"Kak Verda, Jehun kw ini sebenarnya siapa? Kok dia serba bisa begitu?" tanya Vivie.
__ADS_1
"Hmm, aku rasa sepertinya dia Superman! Haha," Verda tertawa.
...*****...
"Pak Abim, sebaiknya Anda terima saja ikan pemberian dari pria itu," saran Hengki pada bosnya.
"Apa? Menerima pemberian pria itu? Mau ditaruh di mana mukaku ini, Heng?" tanya Abim dengan perasaan gusar yang berkecamuk.
Abim sudah merasa kelelahan, sudah lebih dari satu jam ia berada dalam kolam, namun tak satu pun berhasil menangkap ikan meski Hengki sudah membantunya.
"Pak, sebentar lagi durasi dua jam akan habis. Daripada Anda membuang-buang waktu berada di kolam, lebih baik Anda terima ikan pemberian pria itu dan mulai menyiapkan masakan," usul Hengki.
"Kau mau aku didiskualifikasi, Heng?" tanya Abim sinis.
"Pak Abim, menurut saya Anda tidak akan didiskualifikasi karena tidak ada aturan yang Anda langgar selama Anda mendapatkan ikan dengan tangan kosong," Hengki menjelaskan.
"Hmm, benar juga, kalau begitu aku rasa aku masih punya waktu untuk sekadar menggoreng ikan. Cih, sungguh kompetisi yang merepotkan. Mengapa Pak Daus membuat kompetisi aneh seperti ini?" keluh Abim.
Abim segera keluar dari kolam dari menghampiri saingannya.
"Hei, Bung, kau bilang akan memberiku ikan?" kata Abim.
"Ya, silakan," sahut Vedra.
Abim segera mengambil dua ekor ikan yang masih tersisa dalam ember.
"Hengki, apa yang harus kulakukan dengan ikan ini?" tanya Abim.
"Bukannya tadi Anda bilang akan menggoreng ikan?" Hengki balik bertanya.
"Astaga, Hengki! Aku bahkan tidak pernah menggoreng ikan!" sahut Abim.
"Kalau begitu, Anda panggang saja," usul Hengki.
Vedra melirik sekilas ke arah Abim, terlihat pria itu kerepotan sendiri saat ikan yang berada di atas talenannya melompat-lompat.
Sial! Abim kembali mengumpat dalam hatinya.
Lagi-lagi ia merasa konyol, terjebak dalam kekonyolan yang benar-benar menguras emosinya. Mata Abim tertuju pada Verda yang saat ini sedang tertawa dengan pandangan yang tak teralih pada pria yang kini menjadi saingannya.
Seingat Abim, Verda tak pernah menatapnya seperti itu. Dulu Verda bahkan menghindar saat mereka saling bersitatap. Verda hanya menunduk sambil berlinangan air mata. Menangis dan memohon pengampunannya. Bocah bau kencur yang sama sekali tidak cantik dan tidak menarik.
Hingga bertahun-tahun kemudian ketika mereka bertemu lagi, Verda yang begitu memukau jelas membuat Abim merasa ingin memperbaiki segalanya, menebus rasa bersalahnya yang selama ini menghantuinya.
Pria itu tidak pantas untuk Verda! Aku yang lebih pantas! Geram Abim.
...*****...
"Ya, waktu habis!" Bian berseru sambil mengangkat gawai cerdasnya ke udara.
Menandakan kompetisi selama dua jam yang berlangsung penuh drama itu akhirnya berakhir juga.
__ADS_1
Dengan perasaan berdebar yang bergemuruh dalam dadanya, Abim benar-benar harus memenangkan kompetisi ini demi harga diri yang sedang dipertaruhkannya, dan demi menebus semua kesalahannya pada Verda.
...*****...